IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.65 Perdebatan


__ADS_3

Ivona baru saja kembali dari menelepon, dengan raut bahagia ia ikut bergabung dengan keluarga Iswara dan Alexander serta Jack yang masih ada di sana. "Kakek, aku punya berita bagus untuk Kakek," seru Ivona girang.


"Aku sudah menemukan dokter terbaik untuk menyembuhkan Kakek," jelas Ivona.


Kakek Iswara mengerutkan dahinya, belum paham benar maksud Ivona.


"Apa maksudmu, Ivona?" tanya Tuan Iswara.


"Iya, aku sudah menemukan dokter terbaik untuk menyembuhkan Kakek," ucap Ivona mengulang kalimat sebelumnya.


"Kau tidak perlu repot-repot mencari dokter, Ivona, karena ayahmu sudah menemukan dokter yang tepat untuk menangani penyakit kakek," potong Nyonya Iswara.


"Tapi, Bu ... dokter yang aku kenal ini adalah dokter terbaik dan dia ahli dalam menangani kasus seperti Kakek."


"Aku bilang tidak perlu, dokter Austin yang akan menangani kasus kakekmu, tidak ada dokter sebaik dokter Austin," tegas Nyonya Iswara.


Ivona tercengang dengan penolakan ini. "Bagaimana Ibu bisa bilang kalau dokter Austin yang terbaik sementara Ibu tidak tahu rekam jejak profesi dokter Austin," bantah Ivona.


"Kami tahu, dia adalah dokter yang terkenal jadi kami percaya dengan kemampuan yang dimilikinya," kekeuh Nyonya Iswara.


Ivona meragukan dokter Austin bukan tanpa alasan. Sebelumnya, saat ia mendengar nama dokter itu disebut-sebut akan menjadi dokter yang menangani kakek Iswara, Ivona langsung mencari Informasi apa pun tentang dokter Austin. Ternyata, dokter Austin tidak sehebat yang dibicarakan oleh Ayah dan Ibunya.


Dokter Austin adalah seorang dokter bedah syaraf yang sudah kehilangan ijin praktiknya beberapa tahun silam karena kasus malapraktik yang dilakukannya terhadap seorang pasiennya. Kasus ini sempat terangkat ke publik, namun hanya sebentar karena dokter Austin telah bersedia bekerja sama untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tidak dipungkiri jika dokter Austin pernah menjadi ahli di bidangnya kala itu, tapi setelah kasus itu menimpanya ia menghilang bak ditelan bumi.


Baru beberapa waktu ini, dokter itu muncul kembali secara diam-diam. Ia mendekati para orang kaya untuk mencari support dana demi penelitian ilegal yang ia lakukan. Ivona merasa, jika ayah dan ibunya sudah termakan bujuk rayu dokter Austin dengan iming-iming akan menyembuhkan kakek Iswara. Tentu saja Ivona tidak akan rela mempertaruhkan nyawa kakeknya di tangan orang yang tidak kompeten.


"Bu, harusnya Ibu dan Ayah mencari tahu dulu siapa itu dokter Austin. Bagaimana rekam jejaknya dan apa saja kontribusinya dalam profesi yang ia sandang," ujar Ivona mengingatkan.


"Siapa kau berani meragukan Mama dan Papaku!" hardik Vaya.


"Kau bahkan tidak tahu apa pun tentang dokter Austin, jadi jangan banyak bicara, apa lagi meragukannya!" imbuh Vaya.

__ADS_1


"Vaya benar, kau bahkan tidak tahu siapa itu dokter Austin jadi bagaimana bisa kau mengatakan jika dokter Austin bukanlah dokter terbaik. Kau harusnya tahu, kalau dokter Austin adalah spesialis otak yang sangat terkenal di kota ini," imbuh Nyonya Iswara untuk semakin menyudutkan Ivona.


"Iya, itu dulu sebelum ia menjadikan pasiennya kelinci percobaan demi ambisinya menciptakan sebuah monster. Dia itu dokter psikopat, asal Ibu tahu itu, dokter Aus_____"


"Tidak ada yang boleh meragukan kemampuan dokter terbaik yang aku pilih, termasuk juga dirimu, Ivona!" potong Tuan Iswara cepat.


"Ayah, aku hanya ingin yang terbaik untuk Kakek. Aku punya kenalan dokter yang bisa dijamin kredibilitasnya, dia adalah dok_____"


"Aku bilang kau jangan ikut campur urusan penyakit Kakek!" tegas Tuan Iswara.


Ivona merasa kesal dengan ketiga orang di depannya. Mereka semua bahkan belum tahu siapa dokter yang dipilih oleh Ivona, tapi mereka langsung menyerang Ivona bersama-sama dan tidak ingin tahu apa pun tentang penjelasan Ivona.


"Kau dengar Ivona, kau tidak punya hak untuk meragukan dokter Austin," ucap Vaya seolah menyiram minyak dalam kobaran api yang membara. Ia terlihat begitu menikmati saat Tuan dan Nyonya Iswara secara bersama-sama menyerang Ivona.


"Diam, kalian semua!" teriak Kakek Iswara dengan marah. "Berhenti berdebat untuk hal yang kalian tidak bisa memutuskannya. Aku yang akan memutuskan dengan siapa aku akan berobat!"


Semua orang langsung terdiam dan tidak berani bicara. Kakek terlihat sangat murka melihat perdebatan antara Ivona dengan Tuan dan Nyonya Iswara serta Vaya.


Dengan berlari Norman yang mendengar panggilan untuknya langsung menghampiri Tuan Besarnya. "Iya, Tuan," jawab Norman.


"Ambilkan catatan diagnosa dari dokter yang ada di kamarku," titah Kakek pada Norman.


Sembari menunggu Norman mengambil catatan rekam medis milik Kakek, pria tua itu menatap satu persatu anggota keluarganya yang hadir di ruang keluarga itu. Dalam batinnya ia menangis pilu, melihat kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Terlebih saat menatap Ivona, ia seakan tidak rela jika harus pergi lebih cepat dari dunia ini dan meninggalkan Ivona sendiri. Melihat perlakuan anak serta menantunya yang selalu pilih kasih dan tidak adil pada Ivona. Ia khawatir jika Ivona akan hidup menderita sepeninggalnya.


"Ini, Tuan." Norman memberikan berkas rekam medis yang ia ambil dari kamar Tuan Besar Iswara.


Kakek langsung memberikan berkas itu pada Ivona. Ivona segera membuka dan membaca berkas tersebut. Melihat raut serius di wajah Ivona, membuat Kakek sedikit takut. Ia masih ingin panjang umur agar bisa melihat Ivona menikah.


"Bagaimana?" tanya Kakek.


"Kenapa Kakek bertanya pada gadis ini, jangankan membaca laporan medis, mengerjakan tugas sekolah saja ia tidak bisa," ejek Vaya.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Vaya, Ayah. Bagaimana Ayah bisa percaya pada Ivona yang nilai sekolahnya saja di bawah rata-rata," timpal Nyonya Iswara.


Alexander yang menyaksikan sendiri perlakuan keluarga Iswara, sudah bisa menebak kalau Ivona ditindas dan diperlakukan tidak adil. Tidak ada kasih sayang untuk gadis ini dari keluarganya, yang tidak ia sangka jika situasi keluarga Iswara lebih parah dari yang dibayangkan oleh Alexander.


"Tunggu sebentar, Kek," jawab Ivona. "Bolehkan aku menggunakan ruang kerja Kakek sebentar, aku ingin memakai komputer milik Kakek.


"Tentu."


Ivona pun pergi ke ruang kerja Kakek Iswara dan menggunakan komputer Kakek untuk mengirim berkas laporan medis pada dokter Spencer.


Untung saja, dokter Spencer dengan cepat menanggapi. Ia langsung menelepon Ivona.


"Halo, dokter," jawab Ivona cepat.


"Halo, Ivona. Aku sudah membaca laporan medis milik Kakekmu, kurasa ini bukanlah operasi yang sulit, tapi tetap harus segera dilaksanakan. Kapan Kakekmu siap untuk melakukan operasi itu?" ujar dokter Spencer.


"Bagaimana jika Minggu depan, dokter?" jawab Ivona.


"Minggu depan?"


"Ya dokter, bukankah lebih cepat akan lebih baik?"


"Kau benar, baiklah di mana kita akan melaksanakan operasi itu. Akankah kau membawa Kakekmu kemari?" tanya dokter Spencer.


"Tidak dokter, demi menjaga kondisi Kakekku bisakah kita melakukannya di sini saja. Bagaimana dengan Royal Hospital?"


"Baiklah, itu ide yang bagus. Aku akan ke sana setelah kau membicarakannya dengan keluargamu," jawab dokter Spencer.


"Terima kasih, dokter," ucap Ivona sebelum mengakhiri panggilan itu.


Ivona tersenyum bahagia, akhirnya ada secercah harapan untuk kesembuhan Kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2