
Thomas marah pada Tuan dan Nyonya Iswara. Ia yakin Ivona menolak pulang pastilah karena ulah mereka tempo hari yang telah menjual Ivona pada Greyson Walker.
"Semua tidak akan seperti ini jika Ayah dan Ibu bisa bersikap lebih baik pada Ivona. Dia putri kandung kalian, tapi kenapa kalian tega menjualnya demi uang!" sentak Thomas di ruang tamu keluarga Iswara.
Ada Tommy, Rio dan juga Kakek Iswara. Mereka semua menyaksikan kedua orang tua Ivona itu tertunduk.
"Terutama Ibu!" Thomas menatap nyalang pada Nyonya Iswara. "Lupakan Vaya, dia itu parasit dalam keluarga kita. Jangan selalu mengingatnya dan membuat Ibu melupakan Ivona. Buka mata Ibu lebar-lebar, lihatlah kebusukan Vaya. Dia dengan sadar mengorbankan keluarga kita, dia juga telah berani berbuat kejahatan dengan menculik Ivona. Dan sekarang, di mana ia. Dia kabur!"
Nyonya Iswara terus menunduk, apa yang Thomas ucapkan semuanya benar meski ia belum bisa menerima jika Vaya berbuat demikian.
"Sekarang Ayah dan Ibu harus memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Kalian harus meminta maaf pada Ivona!" tegas Thomas.
Tommy dan Rio tak bisa mencegah keinginan adik mereka. Kakek Iswara pun sama, ia hanya bisa menyaksikan putra dan menantunya menghadapi persidangan Thomas.
"Aku ingin keluarga kita utuh, aku ingin Ivona berada di tengah-tengah kita sebagai keluarga, bukan orang asing."
_________________
Hari ini, Ivona menyusul Alexander ke kantor. Semua atas keinginan pria itu. Ia berjalan dengan sangat bahagia menuju ruangan sang kekasih. Eh ... bukan, pria itu sekarang bukan sekedar kekasih tapi calon suaminya.
Ivona jadi malu jika harus mengingat malam itu, saat Alexander mengutarakan keinginannya untuk menikahinya. Ivona yang malam itu tak bisa berkata-kata apa lagi menggerakkan kepalanya untuk mengangguk, membuat Alexander jadi gemas sendiri.
"Iv, kenapa kau tak menjawab?" tanya Alexander malam itu.
Bukan Ivona tak ingin menjawab tapi tubuhnya begitu kaku untuk bergerak. Lidahnya begitu kelu untuk berucap.
Pria itu terus menunggu jawaban dari Ivona entah dari sebuah kata 'ya' atau sebuah anggukan yang berarti persetujuan. Namun, setelah sekian detik menunggu dan tak ada respon dari Ivona. Alexander mengambil inisiatif sendiri. Tiba-tiba pria itu mengecup bibir merah muda Ivona.
"Diammu aku anggap persetujuan," ujar Alexander karena Ivona tak menolak ciumannya.
Sejak itulah, status mereka naik satu peringkat menjadi calon suami-istri. Ivona tidak akan pernah melupakan kejadian itu.
"Hai, Ivona ... kau ingin bertemu Alexander?" sapa Valia yang berpapasan dengannya sekaligus membuatnya menghilangkan bayangan kejadian semalam.
Ivona tersenyum canggung. "Iya."
"Kau datang di waktu yang tepat, kami baru saja selesai meeting."
"Benarkah?"
Valia mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu akau akan segera menemuinya, terima kasih informasinya." Ivona mendadak memeluk Valia. Hal yang jarang ia lakukan pada siapa pun karena ia bukan tipe yang sok akrab. Mungkin perasaan bahagianya membuat ia ingin berbagi kebahagiaan juga pada orang lain yang membuatnya reflek memeluk Valia.
Anehnya, saat Ivona memeluk Valia, wanita itu justru memekik kemudian meringis kesakitan.
"Ma-maaf, apa aku terlalu kuat memelukmu?" Ivona merasa bersalah.
"Ti-tidak, ma-maksudku sedikit." Valia memperlihatkan jari telunjuk dan jari jempol yang membentuk huruf 'C'.
"Maafkan aku jika aku menyakitimu."
"Tidak apa."
"Kau sudah datang?" Suara Alexander membuat Ivona menoleh. "Kenapa tidak masuk?" sambungnya.
"Aku bertemu Valia, jadi kami mengobrol sebentar."
Alexander hanya mengangguk pelan. "Baiklah, kita ke ruanganku sekarang. Aku punya kejutan untukmu."
Ivona melirik Valia yang memperhatikan dirinya dan Alexander.
Sadar jika Ivona memperhatikannya, Valia pun pamit. "Baiklah, Iv ... kita ngobrol lagi lain kali."
Valia pun pergi. Rasa sakit karena Ivona masih begitu terasa di lengannya, ditambah lagi raut bahagia Ivona membuatnya semakin merasakan sakit dua kali lipat. Alexander berbicara soal kejutan, sebelumnya ia mendengar percakapan Alexander dengan Rico—asisten pria itu—yang diminta untuk mencari toko perhiasan. Apakah Alexander dan Ivona akan menapaki hubungan yang serius?
Rasa marahnya membawa Valia ke toilet. Ia melampiaskan kekesalannya di sana. "Aargh!" teriak Valia marah sembari mengacak rambutnya sendiri.
Orang yang berada dalam bilik toilet langsung keluar mendengar teriakan Valia. Ia takut jika ada orang mengamuk dalam toilet.
"Lihat apa!" sentak Valia saat wanita itu mencoba menatap Valia yang berantakan.
Valia membuka blazer yang menutupi lengannya. Ia melihat ke dalam cermin, warna kebiruan yang membuatnya sakit saat Ivona memeluknya tadi. Melihat luka itu, membuat Valia semakin tidak rela jika Ivona bahagia. Ia telah menjadi wanita yang kotor dan sekarang ia harus melihat Ivona bahagia dengan pria yang ia inginkan.
Penolakan Alexander kala itu tak akan bisa ia lupakan begitu saja. Ia sudah bersumpah akan membuat Alexander membayarnya dengan lebih pedih. Valia kembali menatap dirinya dalam cermin, wajahnya masih berantakan, luka lebam di lengannya masih bisa ia lihat dengan jelas, pun dengan goresan-goresan duri yang saat itu menyayat kulitnya.
"Valia?" Ivona berjalan mendekati wanita itu. "Lenganmu?"
Valia langsung mengambil kembali blazer-nya dan mengenakannya untuk menutupi luka-luka di lengannya yang mulus.
"Tidak apa-apa, aku terjatuh di kamar mandi kemarin, karena itu ada luka lebam di sana," bohong Valia. "Bukankah tadi kau akan ke ruangan Alexander?"
"Ya, tadinya begitu, tapi karena aku merasa ingin ke toilet makanya aku kemari. Tidak disangka bertemu kau lagi di sini."
__ADS_1
Valia berpura-pura tersenyum. "Oh ... begitu, kalau begitu aku duluan, ya." Valia menyugar rambutnya kemudian pergi dari toilet.
Sikap aneh Valia dan luka yang ada di lengan Valia membuat Ivona berpikir sesuatu tentang wanita itu. Kalau boleh menyebut, Ivona mencurigai sikap tak wajar Valia.
"Permisi, apa kau akan menggunakan toiletnya?" Seorang wanita yang baru masuk bertanya karena Ivona berdiri tepat di depan pintu masuk bilik toilet.
"Ah ... tidak." Ivona segera menyingkir. Ia tidak jadi menggunakan toilet dan bergegas pergi dari sana.
Ivona langsung menyusul Alexander di ruangannya. "Permisi," ucapnya sebelum masuk.
"Kemarilah, Iv." Alexander menepuk sisi kosong di sampingnya.
Ivona pun segera duduk di sebelah Alexander. Ada seorang wanita cantik yang kini berhadapan dengan mereka.
"Selamat siang, Nona." Sapa wanita itu dengan senyum ramahnya.
Ivona mengangguk sopan.
"Perkenalkan, nama saya adalah Julia Mendes, saya adalah pemilik dari Beauty Jewelry."
Beauty Jewelry? Apa maksud ini semua?
Ivona nampak kaget.
Alexander yang tahu tentang kekagetan Ivona langsung memegang dua bahu kekasihnya itu. "Aku ingin memesan cincin untuk kita," jelasnya.
"Untuk?" Ivona masih bingung.
"Untuk pernikahan kita."
"Kau serius?" Ivona membelalakkan mata.
"Aku tidak suka bercanda tentang hubunganku denganmu." Alexander menatap serius pada Ivona.
Julia yang menyaksikan pasangan ini jadi malu sendiri. Dari sorot mata Alexander tergambar jelas cinta yang begitu besar untuk kekasihnya ini.
"Aku serius," ujar Alexander meyakinkan. "Aku ingin kau memilih sendiri cincin yang kau inginkan untuk hari bahagia kita."
Ivona tak percaya, jika semua akan secepat ini. Ia pikir, masih akan ada beberapa tahun lagi untuk mewujudkan pernikahan ini. Tetapi baru semalam Alexander mengatakan ingin menikahinya dan hari ini ia sudah ingin memesan cincin.
"Silakan dilihat, Nona, kami memiliki beberapa model yang indah tapi jika Nona ingin bentuk dan gaya yang berbeda kami siap melayani." Julia begitu luwes mempromosikan dagangannya.
__ADS_1
Ivona melihat berbagai model yang ditawarkan Julia. Semua indah. Membuat Ivona jadi bingung memilihnya.