
Puas menatap bentuk kecil perhatian dari Alexander, akhirnya Ivona duduk dan mengambil mangkok sup itu. Ia menyuap dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya. Entah kenapa pria itu membuatnya merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama berada didekatnya. Tak terasa setiap sendok yang ia masukkan ke mulutnya membuat ia menghabiskan satu mangkok penuh sup penghilang mabuk itu. Ivona bahkan menjilat bibirnya untuk merasakan kenikmatan terakhir dari sup yang diberikan Alexander.
Setelah meninggalkan sup buatannya bersama Nona Muda yang dibawa oleh Alexander, pelayan yang bernama Bibi Mina itu kembali ke dapur. Bibi Mina adalah pelayan yang sudah cukup lama mengabdi pada keluarga Alberic. Ia juga merupakan orang kepercayaan Nyonya besar Alberic untuk mengawasi Alexander di vila pribadi Tuan Muda itu.
Sejak pertama kali melihat Ivona, Bibi Mina memiliki pandangan tersendiri pada gadis itu. Ia bahkan menyukai Ivona sejak pertama kali melihatnya. Dari segi penampilan, Ivona sepertinya adalah gadis baik-baik, pun dengan cara berpakaiannya yang tidak berlebihan apa lagi terkesan seksi, Ivona justru menampilkan gaya berpakaian yang pas sesuai usianya. Bibi Mina bisa melihat, jika Ivona adalah gadis belia yang berusia belasan tahun. Sikap gadis itu juga ramah, termasuk kepadanya yang hanya seorang pelayan.
Bibi Mina merasa Ivona jauh lebih baik dibandingkan dengan para gadis yang dipilih oleh Nyonya besar Alberic. Ia bahkan tidak menyangka jika Tuan muda Alexander akan membawa gadis ini pulang ke Vila pribadinya. Tempat yang benar-benar dijaga oleh Tuan Muda itu agar tak terusik oleh makhluk pilihan Nyonya Besar.
Ini adalah sebuah berita besar yang harus segera ia laporkan pada Nyonya Besar Alberic.
________________
Keesokan harinya, di G-school.
Semua murid bersiap saat Mr.Patrick memasuki kelas mereka.
"Good morning class," sapa Mr. Patrick pada semua siswa dikelas G.
"Good morning, Sir," jawab seisi kelas serempak.
Sebelum memulai pelajaran, Mr. Patrick memindai setiap siswa yang hadir, apakah hari ini kelasnya penuh ataukah ada yang tidak masuk tanpa ijin. Ternyata masih ada bangku yang kosong, dan itu adalah milik anak pindahan itu. Mendapati hal itu membuat Mr.Patrick menahan amarahnya, lagi-lagi anak itu membuat ulah dengan datang terlambat. Bukan hanya itu yang membuat Mr. Patrick merasa kecewa, saat matanya menangkap sosok William, ia dibuat menjadi lebih marah. Pasalnya ia mendapati William hadir tapi tidak dengan berseragam seperti yang lainnya.
__ADS_1
Dengan menahan amarahnya, Mr. Patrick memanggil William, "William, come here and take your home work."
"Saya tidak membawanya, Pak," jawab william santai.
Mendengar pengakuan william Mr.Patrick tak lagi bisa menahan amarah. Di mulai dengan mengomel pada William yang tidak mentaati peraturan sekolah hingga mengungkit prestasi William. Meski demikian, William terlihat tak acuh akan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Mr.Patrick.
William justru sedang memikirkan mengapa orang yang ditunggunya masih belum tiba juga. Matanya Terus menatap ke arah pintu masuk, menunggu gadis yang biasa duduk di sebelahnya.
Angin berhembus melewati William, detik itu juga seseorang yang sedari tadi ditunggunya membuka pintu setelah beberapa kali mengetuknya. Ivona berdiri di depan pintu dengan malas. Sama seperti William, ia pun tak mengenakan seragam dan tidak juga membawa tas sekolah.
Ivona berangkat pagi dari Vila Alexander, sementara seragam dan juga tasnya ada di rumah keluarga Iswara. Jarak antara rumah keluarga Iswara dan Vila Alexander yang tak dekat membuat ia tidak bisa pagi-pagi pergi mengambilnya, sehingga ia datang tanpa memakai seragam dan juga membawa tas.
Melihat penampilan Ivona menambah kemurkaan pada diri Mr. Patrick. Sebelum Ivona masuk, Mr. Patrick sudah lebih dulu mencegahnya. "Siapa yang menyuruhmu masuk, dan pakaian apa itu yang kau kenakan untuk ke sekolah?" teriaknya saat melihat Ivona datang tanpa seragam dan tidak membawa tas. Seketika Ivona urung melangkah masuk.
"Aku yakin sebentar lagi dia akan dihukum," timpal Jessica.
"Dia memang pantas mendapatkannya," sambung Kelly tersenyum bahagian membayangkan jika benar Ivona dihukum.
Ternyata bukan hanya Kelly dan Jessica yang diam-diam membicarakan keburukan Ivona, tapi hampir seisi kelas berbisik tentang Ivona. Mereka bahkan memandang rendah Ivona karena latar belakang keluarganya yang tidak mampu menurut pengetahuan mereka, ditambah lagi prestasi akademik yang buruk dari gadis itu. Semua gosip itu masih memakan otak mereka.
"Maafkan saya, Pak, semalam saya menginap di rumah kerabat saya, jadi saya tidak bisa pulang dulu untuk mengambil seragam saya," jelas Ivona, meski sebenarnya ia malas menjelaskan.
__ADS_1
"Itu bukan sebuah alasan yang tepat untuk seorang murid jika masih ingin mematuhi aturan sekolah!" hardik Mr.Patrick.
"Apa kau juga tidak membawa Pekerjaan rumahmu?" tanya Mr.Patrick dengan menyentak.
Ivona diam, ia sedang malas untuk berdebat. Ia biarkan saja guru ini mengeluarkan semua kemarahannya. Ivona tak ingin membantah sedikit pun.
Melihat sikap diam Ivona, justru menambah kekesalan Mr.Patrick. "Bagus, kalian berdua memang benar-benar telah menguji kesabaranku," ujar Mr.Patrick.
"Kalau begitu, kau dan William harus merangkum buku fisika sebanyak tiga kali sebagai hukuman ketidakpatuhan kalian hari ini karena melanggar peraturan sekolah," sambung Mr.Patrick.
Guru yang sudah tidak lagi muda itu menarik napasnya beberapa kali untuk mengatur ritme jantungnya yang mendadak jadi lebih cepat karena amarah.
"Sekarang masuklah!" suruhnya dengan menahan emosi.
Dengan langkah perlahan Ivona pun masuk dan akan duduk di sebelah William seperti biasanya, tapi Mr.Patrick mencegahnya kembali.
"Kau ... murid pindahan, jangan duduk di sebelah William, kau cari tempat duduk untuk bergabung dengan teman yang membawa buku."
"Begitu juga dengan kau, William. Pindahlah ke bangku temanmu yang lain." Kali ini Mr.Patrick beralih menatap William.
Teman baik William langsung memanggil pria itu untuk bergabung, agar bisa berbagi buku bersama. "Kemarilah," seru Jeff memanggil William.
__ADS_1
Sementara Ivona, ia masih berdiri di depan kelas melihat siapa yang akan mengajaknya berbagi buku sedangkan ia tak mengenal siapa pun di sini. Matanya terus menatap seisi ruangan, di mana tak satu pun dari mereka menampilkan wajah bersahabat padanya.