IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.112 Akhirnya Aku Kembali


__ADS_3

Sampai Roll Royce hitam itu masuk ke pelataran vila, Ivona baru tersadar jika pria itu membawanya pulang ke vila bukan ke rumah keluarga Iswara. "Kenapa ke vila?"


"Kau akan tinggal di sini untuk sementara waktu," jawab Alexander datar.


"Tapi kenapa?"


"Karena aku menginginkannya." Alexander menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk dan segera membuka sabuk pengamannya.


"Tidak bisa begitu, aku ingin merawat kakek, kalau aku tinggal di vila bagaimana aku bisa merawat Kakek?" protes Ivona yang belum ingin keluar dari mobil. Ia harus tahu kenapa Alexander membawanya ke tempat ini.


"Kakekmu masih ada di rumah sakit. Kau sendiri sedang terluka, nanti kalau kau sudah sembuh aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang ke rumah keluarga Iswara, tapi untuk saat ini tinggallah di sini. Ini demi keamananmu."


Alexander khawatir jika Ivona tinggal di keluarga Iswara sementara Vaya masih bebas berkeliaran, itu akan membahayakan untuk Ivona. Setelah memikirkan dengan matang, Vila adalah tempat yang dirasa aman untuk Ivona menurut Alexander.


"Vaya masih belum tertangkap, aku tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkanmu tinggal di rumah keluarga Iswara, sedangkan Vaya begitu hafal dengan tempat itu." Alexander mencoba menjelaskan alasan keputusannya untuk mengajak Ivona tinggal di Vila.


Ivona mencerna penjelasan Alexander, dan masuk akal. Mengingat sifat Vaya yang tak mudah menyerah demi mewujudkan keinginannya, sangat besar kemungkinan jika gadis itu bertindak nekad dan mendatangi Ivona ke kediaman Iswara untuk menuntaskan balas dendamnya pada Ivona.


Ivona menatap Alexander yang bersikukuh memaksanya tinggal di vila. "Kau khawatir?"


Rasa itu memang tersirat jelas di wajah Alexander, tapi ia tak ingin membuka suara untuk mengakuinya. Pria itu lebih memilih untuk keluar dan menghindari pertanyaan Ivona. Alexander langsung membuka bagasi dan mengeluarkan barang-barang Ivona dari sana.


Hubungan mereka berdua memang begitu rumit untuk dijelaskan, karena itu Ivona tak ingin menambah kerumitan itu untuk menuntut Alexander mengakui kekhawatirannya. Ia pun memilih untuk turun menyusul Alexander.


Seperti baru pertama kali datang ke tempat ini, Ivona terpaku menatap bangunan yang sudah cukup lama menjadi tempat tinggalnya itu. "Akhirnya aku kembali," lirih Ivona.


"Kau akan selalu kembali ke tempat seharusnya kau berada." Tiba-tiba sjaa Alexander sudah berdiri tepat di belakang Ivona.


Ivona membalik tubuhnya, kini ia berhadapan langsung dengan Alexander. "Apa maksudmu?"


"Maksudku ... cepatlah masuk dan buka pintunya, karena aku sudah keberatan membawa semua barangmu."


Bibir Ivona mencibir dengan jawaban Alexander, tapi tak urung jua ia melangkah lebih dulu agar bisa membuka pintu untuk Alexander.


Namun, belum sampai langkahnya untuk membuka pintu, seseorang dari dalam sudah membukanya lebih dulu, keluar dan menghambur pada Ivona. "Ivona!" seru Tommy dari dalam vila Alexander, di belakangnya disusul Thomas.

__ADS_1


Tommy langsung memeluk adiknya itu. "Kau baik-baik saja, 'kan?"


Ivona mengangguk. Kemudian berganti Thomas yang memeluk Ivona. "Aku mengkhawatirkanmu, Iv," bisik Thomas saat memeluk adiknya.


Setelah mengurai pelukannya, Ivona menatap bingung pada dua kakaknya. Mereka tidak datang ke rumah sakit, tapi mereka malah datang ke vila Alexander.


"Iv, jangan berpikiran buruk tentang kakakmu ini," ujar Tommy yang menyadari kecurigaan Ivona.


"Kalau aku dan Thomas tidak bisa menjengukmu di rumah sakit, jangan salahkan kami tapi salahkan saja pria di belakangmu itu." Tommy menunjuk Alexander.


Sontak Ivona menoleh menatap Alexander, ingin bertanya apa maksud dari kakaknya itu. Alexander menolak berkata jujur, ia lebih memilih menghindar dengan mengangkat kedua bahunya seolah tidak tahu.


"Kau jangan percaya kepadanya, kalau bukan karena pria ini, kami tentu akan menjengukmu dan menjagamu di rumah sakit, tapi Alexander yang merencanakan semua ini. Dia tidak mengijinkan kami untuk menemuimu di rumah sakit, jadi kalau ada pihak yang harus disalahkan tentulah Alexander orangnya." Tommy mengadu.


"Apa itu benar?" Ivona kembali menoleh pada Alexander, tapi sama saja, pria itu tidak menjawab dan memilih masuk ke dalam vila.


Tentu saja semua benar. Bukan keluarga Iswara, khususnya Tommy dan Thomas tidak ingin menjenguk Ivona, ketika mendapat kabar Ivona diculik dan masuk rumah sakit, Tommy dan Thomas adalah anggota keluarga Iswara yang paling panik. Saat itu Tommy mendapatkan kabar dari pihak kepolisisan, tapi pihak polisi juga mengatakan jika Ivona sudah aman bersama Alexander. Ketika kakak kedua Ivona itu menghubungi Alexander dan meminta pria itu memberi tahu di mana Ivona dirawat, Alexander justru dengan sengaja melarang keluarga kandung Ivona itu untuk sekadar datang menjenguk.


Dengan alasan keselamatan Ivona ia tidak ingin memberitahu di mana Ivona dirawat. Alexander bahkan menutup identitas Ivona di rumah sakit agar tidak terlacak oleh siapa pun terutama Vaya. Dia bahkan menyakinkan dan berani memberi jaminan pada temannya itu—Tommy—bahwa Ivona akan akan baik-baik saja bersamanya. Kalau Alexander sudah berkehendak demikian, Tommy pun tak bisa melawan.


"Sudahlah, Iv, jangan kau pusingkan soal Alexander. Ayo kita masuk!" ajak Tommy saat Ivona tak mendapatkan jawaban dari Alexander.


Tommy begitu bersemangat untuk merangkul Ivona, hingga tanpa sengaja ia menekan luka di bagian lengan Ivona. Kontan saja Ivona memekik kesakitan. "Awwww!"


Sontak Tommy melepaskan tangannya, "Maaf ... maaf ... aku tidak sengaja."


Thomas yang ikut kaget pun mendekat. "Kau tidak apa-apa, Iv?" selidik Thomas.


"Hanya sedikit masih nyeri," ujar Ivona.


"Maafkan aku, Iv."


"Tidak apa, ayo kita masuk." Kali ini Tommy dan Thomas berjalan beriringan mengapit Ivona, tidak lagi merangkul seperti yang tadi diinginkan oleh Tommy.


Tiga bersaudara itu pun berbincang tanpa Alexander, pria itu lebih memilih masuk ke kamarnya dan memberikan waktu untuk Ivona bersama kakak-kakaknya. Entah apa yang mereka perbincangkan Alexander juga tidak tahu. Hingga hari sudah gelap, dan Alexander turun dati kamarnya, ia masih saja melihat dua pria itu berada di sana.

__ADS_1


Tanpa segan, Alexander mengusir Tommy dan Thomas. "Kalian lihat pintu keluar ada di sana, tapi kenapa kalian tidak pergi juga?" Alexander menunjuk pintu.


"Apa kau mengusir kami?" Tommy heran dengan sikap sahabatnya yang terlalu unik.


"Apa aku harus mempertegas kalimatku? kalau begitu, silakan kalian keluar dari rumahku, karena aku dan Ivona akan beristirahat!"


"Apa maksudmu kau dan Ivona beristirahat, jangan bilang kalau kau menggoda adikku dan kemudian membodohinya dengan rayuan manismu!" Tommy terlihat geram dengan ucapan Alexander.


Alexander tersenyum tipis. "Apa menurutmu, adikmu bisa digoda dan dibodohi?"


Tommy langsung melihat Ivona. Di sana Ivona mencebik kesal dengan tuduhan kakaknya. Menyadari ekspresi Ivona, Tommy percaya pada Alexander.


"Sudah pulang sana!" usir Alexander.


Tanpa menunggu pengusiran yang kedua, Thomas langsung berpamitan pada Ivona. "Jaga dirimu baik-baik, Iv."


Mereka berpelukan sebelum meninggalkan vila. Tommy yang sebenarnya tidak rela terpaksa harus berpamitan saat Thomas sudah meninggalkannya keluar.


Kini tinggal Ivona dan Alexander berdua di ruang tamu itu.


"Kenapa kau mengusir mereka?"


"Karena aku ingin berdua denganmu!" tegas Alexander.


Ivona langsung tertawa. "Apakah ini yang disebut Kakakku dengan menggoda?"


"Menurutmu?"


"Aku tidak tahu." Ivona malu untuk menjawab, dia pun memilih berlari dan naik ke kamar.


Terbiasa tidur di kamar Alexander membuat langkah Ivona seolah sudah terprogram untuk mengarah ke kamar pria itu. Hal yang Ivona lakukan saat masuk ke kamar Alexander adalah menghirup aroma pria itu kuat-kuat di kamar ini. Memenuhi seluruh rongga parunya dengan candu yang menenangkan.


"Aku merindukan kamar ini."


"Dan kamar ini merindukanmu," bisik Alexander menanggapi isi hati Ivona.

__ADS_1


"Kau?" Ivona terperangah dengan keberadaan Alexander yang berdiri tepat di belakangnya.


__ADS_2