
Tanpa basa-basi Ivona langsung menanyakan pada Marcus maksud dan tujuannya menelpon pria itu. "Hallo Marcus, apakah kau mengenal seseorang dari institut kedokteran, di bidang spesialis otak?"
"Hei, ada apa ini, Nona. Kau bahkan belum menanyakan kabarku tapi kau sudah mengajukan pertanyaan yang rumit," jawab Marcus di seberang sana.
"Nanti aku jawab pertanyaanmu, sekarang jawab saja apa yang aku tanyakan," ucap Ivona tegas, lebih terdengar seperti perintah yang mengancam.
"Baiklah-baiklah, iya, aku mengenalnya. Ada apa?"
"Kau masih menyimpan dokumen yang berisi pengetahuan medis yang pernah aku kirimkan padamu, bukan?" tanya Ivona, berharap Marcus tidak melupakannya.
Di seberang sana, Marcus terdiam sejenak. Mencoba mengingat dokumen mana yang di maksud oleh Ivona. "Ya, aku ingat, dan juga masih menyimpannya. Memangnya, kenapa?"
"Bagus, Aku ingin meminta tolong padamu untuk menyerahkan dokumen itu pada orang yang berada di institut kedokteran spesialis otak."
"Tapi untuk apa?" tanya Marcus.
"Di dalam dokumen itu aku menuliskan tentang cara pengembangan alat-alat medis untuk digunakan dalam ilmu kedokteran. Aku ingin orang di institut kedokteran spesialis otak membuat alat itu dan mengujinya, untuk membantu para pasien yang menderita tumor otak," terang Ivona.
"Benarkah?" pekik Marcus dengan nada tak percaya. "Aku tidak menyangka jika kau sehebat itu. Kau tidak hanya menguasai ilmu komputasi, tapi juga ilmu medis? Kau benar-benar Luar biasa, Girl."
Di kehidupan nyatanya, Ivona kecil sudah menyukai ilmu fisika dan komputasi, itu semua berkat ibunya. Ketika remaja, ia mengambil pelajaran teknik medis dan mengembangkan alat-alat medis yang digunakan di banyak rumah sakit. Ivona juga berharap jika ilmunya kali ini akan berguna juga bagi orang lain, terutama bagi
Tuan Besar Iswara atau Kakek dari pemilik asli tubuh Ivona.
Kakek pemilik tubuh asli menderita tumor otak, yang sudah lama menjalani pengobatan, namun belum terlihat hasil yang signifikan. Beliau adalah salah satu dari keluarga Iswara yang mendukung dan memiliki kasih sayang pada Ivona—si pemilik tubuh. Karena sekarang dirinya hidup sebagai pemilik tubuh, tentu saja dirinya harus mencari cara untuk bisa membayar kebaikan dari kakek pemilik tubuh asli.
"Kau tidak perlu terlalu banyak bicara, jika semua sudah selesai kau harus menghubungiku secepatnya, karena aku sangat membutuhkan kabar itu."
__ADS_1
"Tentu saja, Nona. Aku akan mengabarimu secepatnya jika alatnya sudah siap."
"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu," ucap Ivona sebelum mematikan panggilannya.
"Ya ... sama-sam ____" Terdengar sambungan telah di putus, sebelum Marcus menyelesaikan kalimatnya.
Di seberang sana, Marcus hanya bisa mendesah kesal. Gadis itu selalu bersikap seenaknya, ia bahkan tidak mengucapkan salam sebelum menutup teleponnya secara sepihak. Tapi dibalik rasa kesal Marcus, ada hal lain yang ia rasakan. Rasanya ia beruntung bisa mengajak Ivona bekerja sama, gadis itu ternyata lebih dari yang ia duga. Kemampuan yang dimiliki Ivona sungguh di luar prediksinya, sangat luar biasa.
Baru saja selesai menelepon, Ivona yang ingin kembali ke kelas bertemu dengan Roy. Roy yang awalnya ingin mencari Vaya, tanpa sengaja justru bertemu dengan Ivona. Roy melihat buku komputasi berbahasa Inggris di tangan Ivona, pria itu langsung menghentikan Ivona dengan mencibirnya, "Apakah gadis dengan kecerdasan di bawah rata-rata sepertimu bisa memahami apa isi dari buku yang ada di tanganmu?"
Bukan hanya mencibir, tapi muncul juga tatapan mengejek dari Roy.
Ivona yang tahu persis jika pria ini ingin membuat masalah dengannya langsung menghentikan langkahnya. Ivona tersenyum miring. "Apa menurutmu, hanya kau orang pintar di sekolah ini?"
Roy tersenyum percaya diri mendengar ucapan Ivona. "Sayangnya, memang hanya aku orang yang paling pintar dalam komputasi di sekolah ini," jawab Roy dengan percaya diri yang sangat tinggi.
Mendengar ucapan Ivona yang seakan meremehkannya, membuat Roy terbakar amarah. Ia tidak terima diragukan oleh gadis di bawah rata-rata seperti Ivona.
"Kenapa kau diam? apa kau tidak punya prestasi apa pun hingga kau tidak bisa menyebutkannya?" ucap Ivona semakin mengejek.
Roy menatap tajam Ivona, wajahnya yang merah seakan menunjukkan amarah yang berkobar karena hinaan Ivona. Gadis ini benar-benar berubah, Roy seperti melihat orang lain dalam diri Ivona. Ivona yang dikenalnya dulu begitu patuh dan mau melakukan apa pun untuknya, bahkan tidak pernah berani menjawab sepatah kata pun atas apa yang ia lakukan atau pun ucapkan, meski hal itu melukai perasaan Ivona. Namun, Ivona yang ini sering kali membuatnya naik pitam.
"Untuk apa kau tahu prestasiku, karena aku yakin kau juga tidak akan mengerti gelar yang aku dapat. Sudahlah, hentikan kepura-puraanmu itu. Untuk apa kau bersikap dingin padaku dan selalu menentangku, kalau ternyata kau sebenarnya begitu tergila-gila padaku."
"Cih!" decih Ivona.
Ucapan Roy benar-benar membuat Ivona muak dan hampir muntah. Tidak salah jika ia menjulukinya pria tidak tahu diri.
__ADS_1
"Sebaiknya kau jujur saja padaku tentang perasaanmu itu dan tidak perlu berpura-pura di depanku, dengan begitu mungkin aku akan menerimamu kembali," ucap Roy.
"Apa kau bilang?" tanya Ivona yang merasa semakin muak.
"Aku akan mempertimbangkan dirimu untuk kembali menjadi kekasihku, jika kau kembali jadi penurut seperti dulu."
Ivona terbahak-bahak mendengar tawaran Roy. Tentu saja tawa itu ditujukan untuk menghina dan menyadarkan Roy tentang sikapnya yang terlalu over confidence.
"Kau terlalu percaya diri untuk mengucapkannya, bukankah kemarin aku sudah mengatakan jika aku sudah memiliki kekasih yang di lihat dari sisi mana pun, kau dan kekasihku bagaikan bumi dan langit. Kau tidak akan pernah sebanding dengannya."
"Dan, tentu saja aku masih punya otak yang waras untuk tidak memilihmu dan meninggalkan kekasihku yang begitu sempurna," sambung Ivona.
Jiwa laki-laki Roy memberontak ketika dirinya dibandingkan dengan pria lain. Ia tidak terima dengan apa pun yang Ivona katakan. Bukan hanya wajahnya yang kini merah padam karena marah tapi juga tangannya mengepal kuat karena harus menahan emosi agar tidak memukul mulut gadis ini.
"Apa ... apa kau tidak bisa menerima kenyataan, kasihan sekali, Kau!" ejek Ivona yang melihat sorot amarah di mata Roy.
Tak ingin kalah dari Ivona, pria itu juga mengeluarkan kata-kata pedas untuk Ivona. "Mungkin aku tidak bisa menerima kenyataan untuk kalah karena memang aku memiliki kemampuan, tapi kau, kau berusaha menipu seluruh keluarga dengan sikap pura-puramu itu, pantas saja keluarga Iswara tidak menyukaimu."
Seakan diingatkan tentang perlakuan keluarganya sendiri yang tidak menyukainya, Ivona yang kesal langsung mengatakan, "Kurasa aku telah membuang-buang waktuku hanya untuk meladeni orang bodoh sepertimu."
"Apa kau bilang?" teriak Roy tidak terima.
"Aku bilang kemampuanmu tidaklah sebanding denganku, jadi jangan terlalu sering menggonggong untuk menunjukkan hal itu, karena kau akan malu sendiri," jawab Ivona ingin mengakhir perdebatan tidak berbobot ini.
Kali ini Roy sudah tidak bisa lagi menahan diri, saat Ivona menyamakan dirinya seperti anjing. Roy melayangkan tangannya, ingin menampar mulut Ivona, tapi dengan cepat tangan Roy ditangkap oleh Ivona. Seketika Roy memekik menahan sakit saat Ivona mencengkeram tangan Roy dengan kuat.
"Jangan coba-coba membuatku marah, karena kau akan menyesal!"
__ADS_1