
Belum lama Ivona masuk ke ruang kepala sekolah, tapi gosip tentang dirinya sudah beredar dengan cepat. Bahkan terdengar oleh Vaya.
"Apa kau sudah tahu jika saudarimu itu telah memukul Yosua, dan sekarang sedang ada di ruang kepala sekolah untuk disidang," ucap seorang siswi memberi tahu Vaya.
"Kudengar Ivona bertingkah seperti orang gila dan melukai Yosua dengan membabi buta," timpal yang lainnya.
Mereka semua membuat cerita yang harusnya sekecil bola baseball berubah menjadi bola salju ketika diceritakan oleh orang yang berbeda. Setiap orang menambah cerita itu menjadi berlebih-lebihan dan menggelinding semakin besar.
"Aku yakin, kali ini anak pindahan itu tidak akan lolos dari ayah Yosua. Kalian tahu bukan, jika ayah Yosua adalah orang yang juga punya pengaruh di sekolah ini."
"Kurasa kau benar, mungkin ini adalah akhir dari Ivona menjadi siswi di G-school. Kasian sekali gadis itu, ini bahkan belum ada satu bulan dia memijakkan kaki di sekolah elite kita ini, tapi ia harus segera di depak dari tempat ini."
"Mungkin tempat ini memang tidak cocok untuk dirinya yang berasal dari keluarga miskin. Kalian tahu kan, kasta kita berbeda." Ucapan terkahir dari siswi ini mendapat sambutan tawa dari semua yang sedang bergosip. Mereka begitu bahagia menggunjing dan mencemooh teman mereka sendiri, dengan tawa bahagia yang seperti lelucon bagi mereka.
Vaya tersenyum miring menyaksikan bagaimana teman-temannya membicarakan Ivona dengan buruk. Terlintas ide licik di otaknya. Tatapannya pun menggambarkan kelicikan yang ia rancang dalam otak jahatnya. Vaya memilih untuk menjauh sebentar dari teman-temannya, ia mencari tempat yang sepi, di mana tidak ada orang yang akan melihat sifat busuknya.
Ia mengambil ponsel di sakunya, lalu menekan nomor Nyonya Iswara.
"Halo, Ma," sapa Vaya saat panggilan itu terhubung.
"Halo, Sayang, ada apa menghubungi Mama di jam sekolah seperti ini?" tanya Nyonya Iswara.
"Maafkan Vaya, Ma, jika berita ini tidak enak didengar oleh Mama, tapi bagaimanapun aku harus memberitahu Mama. Ini tentang Ivona, Ma."
__ADS_1
Diseberang sana, Nyonya Iswara terdengar sedikit kaget.
"Ivona membuat ulah lagi, Ma. Kali ini ia telah memukul seorang siswa di sini hingga terluka, dan saat ini Ivona sedang ada di ruang kepala sekolah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," terang Vaya.
Nyonya Iswara semakin kaget mendengar cerita Vaya.
"Mama ke sini, ya. Bagaimanapun Ivona adalah anak kandung Mama, ia pasti butuh dukungan dan perhatian dari Mama," pinta Vaya.
Gadis itu sungguh pandai bermain kata, dan juga watak. Ia sangat pintar mengambil hati keluarga Iswara dengan berpura-pura menjadi gadis baik yang perhatian. Namun, dibalik semua itu, Vaya punya tujuan tersendiri. Niat yang sebenarnya adalah membuat Nyonya Iswara datang ke sekolah dan melihat perbedaan sikap yang ada antara dirinya dengan Ivona. Di mana ia adalah gadis penurut penuh prestasi dan Ivona adalah gadis pembangkang dengan berbagai sensasi kenakalan. Dari situ, Vaya berharap Nyonya Iswara akan semakin membenci Ivona.
_____________
Di kediaman keluarga Iswara, Nyonya besar rumah itu menjadi murka setelah mendengar cerita lengkap Vaya. Ivona, putri kandungnya seolah tak henti-hentinya membuat ulah, yang membuatnya naik darah.
______________
Di ruang kepala sekolah, Jonathan masih saja bersikeras agar Ivona memilih salah satu hukuman yang ia tawarkan. Keluar dari sekolah ini atau berlutut di atas pecahan kaca.
Tidak ada raut takut sedikit pun di wajah Ivona mendengar ancaman ayah Yosua ini. Ia masih bisa bersikap tenang mengahadapi pria arogan seperti Yosua dan ayahnya.
"Kenapa kau diam, apa sekarang kau takut, ha?" sentak Yosua.
"Yosua, tenanglah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ujar Mr. Albert.
__ADS_1
"Benar Yosua, kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin," ucap Mr.Patrick menambahi. Meski wali kelas G itu tidak menyukai Ivona, tapi ia tidak bisa menampakkannya di depan kepala sekolah. Ia harus tetap menjaga citra dirinya sebagai guru yang netral.
Bukan Ivona yang ketakutan dengan sikap Yosua dan Jonathan, melainkan kepala sekolah dan juga wali kelas yang justru merasa kearogansian Yosua dan ayahnya akan membuat sistem keadilan di sekolah ini terkoyak.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika gadis gila ini tidak mendapatkan hukumannya. Dia sudah melukaiku dan membuat harga diriku terinjak-injak, dan Anda masih saja diam tidak menghukumnya," teriak Yosua.
"Aku pasti akan menghukum orang yang salah, tapi kita harus mendengarkan dulu kesaksian dari dua belah pihak. Sebagai kepala sekolah, aku tidak bisa memutuskan siapa yang salah hanya karena laporan satu pihak saja." Mr.Albert masih berusaha memberikan penjelasan pada anak muridnya ini.
"Aku tidak peduli dengan kesaksiannya, gadis gila ini telah melukaiku dan ia pantas untuk dihukum!" Yosua benar-benar keras kepala, ia tidak mengindahkan Kepala sekolahnya sama sekali.
Perdebatan itu terus berlangsung. Di mana Yosua dan ayahnya bersikeras untuk menghukum Ivona, dan kepala sekolah tetap kuat dengan pendiriannya dalam menegakkan keadilan. Ia tidak ingin salah langkah dan memutuskan hal yang salah. Semua warga sekolah yang ia pimpin berhak mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.
Tidak disangka, di saat perdebatan itu masih berlangsung, tiba-tiba Nyonya Iswara datang.
"Permisi," sapa Nyonya Iswara.
Semua mata tertuju pada wanita yang masih terlihat cantik meski tak lagi muda itu.
"Oh ... Nyonya Iswara, selamat siang. Mari, masuklah," jawab kepala sekolah ramah.
Wanita kelas atas itu berjalan memasuki ruang kepala sekolah yang sudah ramai dengan orang. Mungkin anak laki-laki berseragam itu adalah korban dari Ivona, sementara pria paruh baya bergaya perlente itu adalah ayah dari anak laki-laki tersebut. Nyonya Iswara menatap dingin pada Ivona saat matanya bersirobok dengan putri kandungnya itu.
Rasa murkanya akan berita yang ia dengar masih menguasai hatinya. Baginya Ivona adalah anak pembawa masalah. Ia semakin tidak suka saat melihat sikap Ivona yang justru terkesan masa bodoh.
__ADS_1
Sementara itu, direktur Jonathan merasa bingung akan kemunculan Nyonya Iswara. Untuk apa istri dari pengusaha Iswara itu hadir di ruangan ini. Tatapan wanita sosialita itu juga tertuju pada Ivona, gadis yang sudah mencelakai putranya. Siapa sebenarnya gadis gila ini?