IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.167 The Real Wedding (The End)


__ADS_3

Ivona tengah merias dirinya di sebuah ruangan di dalam gereja. Tempat yang disediakan khusus untuknya dan juga tim make up dari Helena. Ia menoleh kala mendengar suara pintu terbuka.


"Ayah," sambutnya pada Felix yang berjalan dengan memegang tongkat di tangan kirinya.


Ivona yang sedari tadi menunggu, kini berdiri menyambut sang ayah. Ia memeluk pria yang sudah beruban itu dengan perasaan rindu yang tak lagi tertahan.


"Aku merindukanmu," ujar Ivona dalam dekapan ayahnya.


Felix mengusap lembut punggung putrinya, kemudian mengurai pelukan itu dan menatap penuh senyum kebahagiaan melihat Ivona berbalut gaun putih. "Cantik ... kau sangat cantik, persis seperti mendiang ibumu," lirih Felix menatap Ivona.


"Aku akan menikah, Ayah."


Felix mengangguk dengan senyum di bibirnya.


"Aku akan meninggalkan ayah dan tinggal bersama dengan suamiku."


"Semua anak perempuan akan meninggalkan ayahnya dan ikut dengan suaminya, itulah perpisahaan yang paling membahagiakan bagi seorang ayah." Felix kembali memeluk Ivona dengan penuh kasih sayang.


"Nona Ivona, apa Anda sudah siap? Acara pemberkatan Anda akan segera dimulai," ujar salah seorang suruhan Helena.


Felix pun segera melepaskan pelukannya. "Kau sudah siap?" tanya Felix.


Ivona mengangguk yakin. Dibimbing oleh orang suruhan Helena, Felix menggandeng Ivona untuk mengantarkan putrinya itu ke altar pernikahan.


"Tanganmu dingin sekali," ujar Felix yang merasakan dinginnya tangan Ivona yang menggamitnya.


Ivona menoleh pada ayahnya sekilas. "Aku takut, Ayah."


"Apa yang kau takutkan?"


"Aku takut dengan luasnya samudera yang akan aku arungi dengan orang yang baru saja aku kenal. Apakah aku akan mampu berlayar bersama untuk sampai pada tujuanku dan melabuhkan bahteraku bersamanya?"


Sembari terus berjalan, Felix tersenyum pada putrinya. Ia memberikan sebuah wejangan pada putri tercintanya. "Sayang, pernikahan itu ibarat bahtera yang akan membawamu mengarungi luas dan dalamnya samudra kehidupan. Tidak ada lautan yang tak berombak, tidak ada samudra tanpa badai. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Selalu yakin dan percayalah dengan Nahkodamu, jadilah partner sekaligus kompas yang akan menopang kuatnya bahtera dalam menghadapi ombak dan badai, hingga kalian mampu membawa bahtera kalian pada pelabuhan kebahagiaan."


Kembali Ivona menoleh, sebuah pesan yang hampir sama dengan pesan Tuan Iswara di dalam novel ketika mengantarkannya menuju altar pernikahan. "Ayah ...."


"Pernikahan Ayah gagal, bukan karena bahtera kami tak kuat, tapi karena hilangnya rasa saling percaya. Ketahuilah, kepercayaan adalah pondasi yang kuat yang harus kalian bangun untuk menjalankan bahtera. Dengan Rasa saling percaya tak ada badai yang tak bisa kalian lalui."


Ivona bahkan belum sampai ke altar pernikahan, tapi air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Siap tumpah saat ini juga, tapi ia berusaha menahannya.

__ADS_1


Di depan sana, Aldrich tengah berdiri menunggu bersama seorang pendeta. Langkah Felix Howard semakin mantap melihat calon menantunya yang berdiri gagah menyambutnya.


Dengan penuh keyakinan, Felix menyerahkan tangan Ivona pada Aldrich. "Aku selalu menjaganya dari dia lahir hingga kau dapat menikmati kecantikannya hari ini. Aku memberinya cinta dan kasih sayang tulus seorang ayah pada putrinya, selalu berusaha membuatnya bahagia dengan segenap jiwa raga yang kupunya. Kini aku serahkan semua tanggung jawab itu padamu, jaga putriku seperti aku menjaganya. Jangan biarkan kesedihan berani mendekatinya, bimbing ia untuk menjadi istri yang baik untukmu. Marahi dia sewajarnya tapi jangan pernah memukulnya walau itu hanya sebuah tamparan di pipinya, karena sungguh aku tak akan pernah rela jika itu sampai kau lakukan. Saling perpegang teguhlah kalian pada cinta dan kepercayaan di antara kalian untuk membawa pernikahan ini pada keabadian."


"Ya, Ayah ... aku akan mejalankan semua amanatmu. Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan cintaku. Aku akan memperlakukannya bagai ratu di istanaku. Terima kasih telah menjaganya hingga detik ini, terima kasih telah membesarkan putri sebaik dan secantik Ivona."


Dengan ikhlas Felix melepas tangan Ivona di atas tangan Aldrich. Pria itu pun dengan gagah membawa Ivona ke hadapan pendeta untuk mengucap ikrar pernikahan. Setelah pendeta menanyakan kesiapan keduanya untuk melaksanakan pernikahan, Ivona dan Aldrich berdiri saling berhadapan. Ada pendeta ditengah-tengah mereka, yang membimbing mereka dalam mengucapkan ikrar pernikahan.


"Saya Aldrich Ryder, mengambil engkau Ivona Carminda menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita," ucap Aldrich penuh keyakinan.


Kini giliran Ivona menjawab, "Saya Ivona Carminda mengambil engkau Aldrich Ryder menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


Dengan diucapkannya ikrar suci pernikahan di hadapan pendeta, maka telah resmi sudah Ivona dan Aldrich menjadi pasangan suami-istri. Pendeta pun memberi isyarat agar Aldrich menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis Ivona, begitu pun sebaliknya.


Aldrich menatap Ivona dengan senyum tak lekang dari bibirnya. Tanpa malu, Aldrich meraih pinggang gadis yang kini telah sah berstatus istrinya tersebut. Membawanya lebih dekat dan mencium bibir istrinya di hadapan semua orang. Tangis haru mengiringi ciuman Aldrich untuk Ivona.


"Aku mencintaimu, hari ini, esok dan selamanya. Aku akan terus mencintaimu di setiap kehidupan kau dilahirkan," ujar Aldrich setelah melepas ciumannya. Hanya sebentar karena pria itu kembali menyesap manisnya bibir Ivona.


Aldrich seolah lupa jika ini hari pernikahannya bukan acara malam pertamanya. Ia seolah tak ingin melepaskan Ivona begitu saja, hingga seorang pengganggu datang dan mengacaukan hasratnya.


"Dad ... aku juga ingin mencium Mommy untuk memberi selamat," ujar Evan yang membuat Ivona tersadar dan melepaskan Aldrich.


"You want kiss me?" tanya Ivona, yang diangguki oleh Evan.


Ivona pun langsung berjongkok agar bocah itu bisa menciumnya. Ivona menunjuk pipinya untuk dicium putranya. Evan dan Ivona langsung berpelukan setelahnya, mereka begitu bahagia satu sama lain. Hanya Aldrich yang mencibir melihat kedekatan keduanya.


Felix dan Helena ikut mendekat untuk mengucapkan selamat atas bersatunya putra dan putri mereka. Semua kebahagiaan tergambar jelas pada setiap wajah yang hadir di sana.


Kala Ivona asyik dengan Evan, Aldrich sedikit menjauh dengan membawa ibunya. "Bu, aku ingin kau jauhkan bocah itu dari istriku. Aku tidak ingin dia menempel terus pada Ivona. Aku juga tidak mau dia mengikutiku sampai honeymoon."


"Aldrich, dia kan putramu," jawab Helena memelas.


"Hanya ibu yang memaksanya untuk jadi putraku, ibu ingin punya cucu dari Ivona dan aku bukan?"


Helena mengangguk.


"Kalau begitu jauhkan dia sekarang juga."


Meski berat, Helena memenuhi keinginan putra tunggalnya itu. Ia mendekati Evan dan mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Kita mau ke mana GarandMa?" tanya Evan polos.


"Makan dulu, Sayang."


"Oh ... ok, setelah ini aku ingin ikut Mommy dan Daddy. Aku dengar mereka akan melakukan perjalanan ke eropa, aku juga akan ikut dan menikmati salju di sana. Boleh, 'kan, GarandMa?"


"Ah ... i-itu, ya. Bo-boleh, tapi kita makan dulu, ya?" Helena menggandeng Evan untuk menjauh.


"Maafkan, Ibu, Aldrich ... ibu tak pernah bisa menolak keinginan Evan," batin Helena.


Dari tempatnya berdiri, Ivona terus memandang Evan yang perlahan menjauh.


"Siapa yang kau lihat?" bisik Aldrich mengagetkan Ivona.


"Oh ... anak itu, sekarang sudah ada aku di sini, aku tidak ingin kau menatap pria lain selain aku," ujar Aldrich dengan konyolnya.


Ivona mendelik. "Hei ... apa kau sudah gila, pria itu adalah putramu sendiri dan kau melarangku untuk melihatnya?"


Aldrich mengangguk yakin.


Ivona pun mendengkus kesal dengan sikap Aldrich dan berniat meninggalkannya sendiri di atas Altar.


"Kau mau ke mana?" Aldrich menarik Ivona dengan cepat. "Mulai sekarang kau tak akan bisa melangkahkan kakimu tanpa seijinku."


Ivona menatap lekat mata Aldrich di depannya, akhirnya ia mendapatkan takdirnya sendiri. Ia mendapatkan cintanya sendiri, sebagai dirinya. Ivona yang nyata. Meski wajah pria ini sama persis dengan Alexander, tapi ia yakin jika Aldrich adalah takdirnya. Sedangkan Alexander adalah takdir Ivona di dalam kisah novel.


"Kenapa sekarang kau melamun, apa sekarang kau memikirkan Alexander, hah?" Aldrich menarik pinggang Ivona dan membawanya mendekat.


"Mulai sekarang kau adalah milikku, apa pun yang ada padamu adalah milikku. Karena itu aku tidak ingin berbagi apa pun dengan pria lain termasuk isi otakmu. Kau hanya boleh memikirkan aku seorang."


"Dasar gila!" Ivona menginjak dengan keras kaki Aldrich dan meninggalkan pria itu dalam kesakitan.


"Hei ... tunggu, aku tidak akan mengampunimu!"


Ivona terus berjalan tanpa menoleh, ia melambaikan tangannya dan menikmati kemarahan Aldrich saat ini. Pernikahannya pasti tak akan mudah. Hidup dengan orang aneh seperti Aldrich, tapi ia yakin pernikahannya akan penuh warna bersama seorang Aldrich Ryder.


"Aku akan menghukummu, nanti malam!" teriak Aldrich dengan kencang hingga membuat tamu yang hadir terkesiap, tapi pria itu tak peduli.


Aldrich tersenyum menatap punggung Ivona yang menjauh. "Kau lihat, aku mengejarmu sampai kemari. Aku akan buktikan janjiku. Aku akan selalu hadir dan mencintaimu di setiap kehidupan kau dilahirkan."

__ADS_1


TAMAT ....


__ADS_2