IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.125 Aku Rindu Aroma Candu


__ADS_3

Valia terbahak-bahak melihat ekspresi Alexander dan Ivona yang sama-sama kaget dengan permintaannya untuk di antar ke vila Alexander.


"Kalian kenapa, apa permintaanku terlalu mengejutkan kalian?" Valia masih saja tertawa.


"Aku hanya bercanda, mana mungkin aku tinggal di vila Alexander sementara di sana sudah ada Nona Alberic. Antarkan saja aku ke hotel," pinta Valia.


Meski tidak jelas kepada siapa sebutan Nona Alberic itu disematkan, tapi mendengar keinginan Valia untuk diantar ke hotel membuat Ivona menarik napas lega. Ia bahkan tidak bisa membayangkan jika Valia benar-benar tinggal di sana, entah kenapa terselip rasa tidak rela ada wanita lain di vila milik Alexander itu. Apa lagi jika ada wanita lain yang menempati kamar Alexander, rasanya ia tidak ingin berbagi candu dengan wanita lain. Yah ... kamar Alexander, aroma khas pria itu adalah candu bagi Ivona.


Alexander meminta dua wanita itu untuk segera masuk. Valia tahu benar di mana posisinya, ia pun memilih duduk di belakang kursi kemudi. Sementara Ivona yang akan mengikuti Valia langsung dicegah oleh Alexander dengan membukakan pintu samping kemudi untuk Ivona.


Dalam perjalanan Valia bercerita bagaimana ia bisa ikut Alexander ke acara kelulusan Ivona. Rupanya wanita itu adalah keponakan dari Rodrigo Leandre, rekan bisnis dari Alexander. Wanita itu ikut Alexander ke Victoria karena ditugaskan oleh pamannya untuk mengikuti proyek kerja sama yang baru mereka sepakati.


Dari bandara, Alexander tidak sempat mengantar Valia ke penginapan karena ia harus segera menghadiri acara kelulusan Ivona. Ia tak sabar bertemu Ivona setelah sekian lama mencoba menghilang. Valia juga tidak mau saat Alexander menawarkan anak buahnya yang akan mengantar Valia ke penginapan. Wanita itu lebih memilih ikut dari pada harus diantar oleh anak buah Alexander.


Sekarang Ivona mengerti kenapa ada Valia bersama Alexander. Ivona bukan tipe yang mudah akrab dengan orang baru, sebab itu ia hanya menanggapi sedikit sekali kata dari cerita Valia, selebihnya hanya senyum yang tersungging di bibirnya.


"Sampai jumpa." Valia melambaikan tangannya pada Ivona dan Alexander ketika Alexander sudah mengantarnya ke hotel. Wanita itu segera menyeret kopernya untuk chek in. Ia berencana tinggal untuk beberapa hari ke depan sebelum ia mendapatkan tempat tinggal yang tepat di negara ini. Sebenarnya, Alexander punya banyak properti yang bisa Valia gunakan, tapi wanita itu belum melihatnya jadi belum setuju untuk menempati salah satu properti milik Alexander.


Alexander kembali menjalankan mobilnya. Ia melirik Ivona yang duduk di sampingnya. Mobil terus melaju. Awalnya Ivona tidak ingin bertanya karena ia pikir Alexander akan membawanya ke vila. Ivona sudah berpikir tentang aroma khas kamar itu, ia tidak sabar menenangkan syaraf-syarafnya dengan aromaterapi yang masuk melalui indera penciumannya.


Ah ... membayangkannya saja sudah membuat Ivona melayang. Tidur di atas kasur empuk milik Alexander dengan wangi menenangkan pria itu.


Tetapi mobil yang dikemudikan Alexander ini bahkan tidak melewati jalan menuju vila. Kecepatannya pun lebih dari biasanya.


"Kita mau ke mana?" tanya Ivona pada akhirnya.


"Philip Island." Alexander menoleh sekilas pada Ivona.


"Apa?" pekik Ivona.


"Untuk apa kita ke sana?"


"Merayakan kelulusanmu," jawab Alexander lugas.


"Tapi aku belum meminta ijin pada Kakek dan memberitahu ke mana kita akan pergi."

__ADS_1


"Percayalah padaku, mereka tidak akan mengkhawatirkanmu selama kau bersamaku."


"Benarkah?" tanya Ivona seakan tak percaya.


"Kau sudah siap?"


"Maksudmu?"


"Siap untuk perjalanan kita."


Meski ragu, Ivona mengangguk saja.


"Alright, let's start our journey now, Miss." seloroh Alexander. Di saat bersamaan Alexander lebih memacu kecepatan mobilnya. Awalnya Ivona sedikit kaget, tapi semakin lama, ia menikmati cara Alexander mengemudi. Kecepatan yang terus dipacu meningkatkan adrenalin dalam tubuhnya.


Alexander bak pembalap profesional, ia mengemudi dengan sangat lihai. Meski tidak ada obrolan di antara mereka tapi tatapan sesekali Alexander kepada Ivona membuat gadis itu merasa cukup.


Philip Island adalah sebuah tempat yang cukup jauh dari Victoria. Jarak tempuhnya sekitar kurang lebih empat jam. Selama itu, Ivona tak merasakan bosan sama sekali. Justru Adrenalinnya semakin terpacu kala Alexander menambah kecepatan mobil yang ia tumpangi.


Dini hari barulah mereka tiba di pulau itu. Alexander menghentikan mobilnya di tepi pantai, ia ingin mengajak Ivona berjalan-jalan sebagai hadiah. Deburan ombak yang bergulung-gulung menghantam bibir pantai membuat Ivona tak kuasa untuk tidak turun dan menikmati keindahan itu.


Tanpa menoleh Ivona mengangguk. "Bagaimana kau terpikir tentang tempat ini? Ini indah sekali."


"Aku tidak tahu hadiah apa yang cocok untukmu, kupikir karena kita belum pernah jalan-jalan berdua jadi aku ingin mengajakmu jalan-jalan, dan tempat ini adalah tempat yang kurasa cocok untuk kita."


Ivona membalik tubuhnya, kini ia berdiri berhadap-hadapan dengan Alexander. Mata Ivona tak lepas dari manik indah milik Alexander. Pria itu masih sama memesonanya dengan saat pertama kali Ivona melihatnya.


Yang membedakan dulu dan sekarang adalah, tatapan Alexander. Sekarang, tatapan pria serupa dewa itu mampu menggetarkan hati Ivona.


"Terima kasih, terima kasih untuk hadiah yang indah ini."


"Aku tidak ingin ucapan terima kasihmu."


Tentu ucapan Alexander membuat Ivona kaget.


"Aku ingin kau membalas perasaanku."

__ADS_1


Ivona semakin tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Alasan kenapa selama aku pergi, aku tidak pernah menghubungimu karena aku ingin tahu perasaanku yang sesungguhnya padamu, Iv. Ku kira selama ini aku yang kurasakan hanya biasa saja, sekedar ketertarikan karena aku sudah lama memilih untuk tidak dekat dengan wanita. Nyatanya aku salah. Saat kita jauh, aku begitu tersiksa rindu."


Ivona masih terus menatap manik indah Alexander.


"Aku mencintaimu, Ivona ... aku mencintaimu," ungkap Alexander. "Mau kah kau menjalani sisa umurmu untuk menemaniku?"


Ivona bertambah syok. Apa yang baru saja Alexander ucapkan?


Apakah pria ini melamarnya?


Tapi, bagaimana bisa?


"Ya, Ivona Carminda aku sedang memintamu untuk jadi pendampingku. Mau kah kau menerimaku?"


Ya ... Tuhan, pria ini kembali bisa menebak isi hatinya.


"A-Alexander ... a-aku ...." Ivona tidak tahu harus menjawab seperti apa. Ia bingung, kaget, takut sekaligus bahagia di waktu yang bersamaan.


"Jangan tolak aku karena aku tidak menerima semua itu."


Entah apa yang mendasari Ivona untuk tiba-tiba mengangguk. Gadis itu dengan mudah menerima lamaran Alexander.


Setelah lamarannya diterima, Alexander langsung meraup tubuh Ivona dalam dekapannya. "Aku mencintaimu, Iv ... aku mencintaimu," bisik Alexander lembut di telinga Ivona.


"Aku juga mencintaimu," jawab Ivona dalam hati.


Ivona tidak lagi peduli dengan kalimat cinta yang Alexander ucapkan. Saat ini, dalam pelukan Alexander, Ivona ingin memuaskan indera penciumannya. Menghirup sebanyak mungkin candu dari tubuh pria itu. Memuaskan syaraf-syarafnya dengan aroma yang selalu ia rindukan.


Ketika Ivona masih terlena dalam buai khas Alexander, pria itu justru mengurai rengkuhannya. Ia memaksa Ivona mendongak dengan mengangkat dagu gadis yang dicintainya.


Bibir ranum Ivona yang selama ini menggoda imannya, membuat Alexander tak dapat lagi menahannya. Dengan lembut ia pagut bibir merah muda itu. Tak ada penolakan dari Ivona, ia biarkan saja Alexander menjadi orang pertama yang menyentuhnya.


Alexander mengakhirinya dengan menyatukan hidung mereka. "Aku mencintaimu ... aku mencintaimu ... aku mencintaimu, Ivona," lirihnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2