
Banyak dari para siswa yang menatap iri pada Vaya saat ini. Kedatangan dua kakak sekaligus untuk memberinya kejutan adalah sesuatu yang manis yang di dapatkan oleh seorang adik. Padahal mereka tidak tahu apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, sebuah perdebatan antara dua kakak laki-laki tentang Ivona, dan bukan Vaya.
"Kak Tommy, Kak Thomas?" sela Vaya di antara perdebatan Kakaknya.
Kedua pria itu kontan melihat ke arah Vaya yang berdiri di antara Tommy dan Thomas.
"Apa kalian benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Vaya lirih. Mata Vaya bahkan sudah berkaca-kaca menyaksikan kedua Kakaknya yang begitu perhatian pada Ivona. Perhatian yang dulu hanya untuk dirinya kini harus beralih untuk Ivona—si gadis gila. Kalau harus dibilang tidak rela, Vaya memang tidak rela.
Tommy yang pertama menatap Vaya dengan serius. "Aku tidak melupakanmu, aku hanya ingin kau kembali ke asalmu yang sebenarnya. Di mana di sana ada orang-orang yang memiliki darah yang sama denganmu, aku sangat yakin jika mereka pasti akan merindukan darah daging keluarga mereka."
Ucapan Tommy seperti pengusiran untuknya. Sebuah penolakan akan kehadiran Vaya dalam keluarga Iswara. "Tapi aku tidak ingin bersama mereka, aku hanya ingin bersama kalian. Bagiku kalian semua adalah keluargaku, bukan orang lain."
"Terserah apa yang kau inginkan, karena bagiku kau bukan lagi adikku. Aku sudah menemukan adik kandungku sendiri." Setelah mengucapkan kalimat itu Tommy melenggang pergi melewati Vaya begitu saja, seolah Vaya adalah benda tembus pandang yang bisa ia lewati tanpa terlihat.
Thomas tidak menyangka jika Tommy akan bersikap begitu dingin pada Vaya. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang dulu. Thomas hanya bisa menatap kesedihan Vaya yang tergambar jelas di wajahnya, dan menatap Tommy yang mulai memasuki area loby sekolah. Thomas bahkan bisa melihat Ivona yang berjalan keluar yang langsung dihampiri oleh Tommy.
"Ivona," panggil Tommy.
Ivona yang sebelumnya memilih tidak peduli dengan kedatangan Tommy, kini harus menghentikan langkahnya saat kakaknya itu memanggilnya.
"Hai, apa kabarmu?" tanya Tommy canggung saat berhadapan dengan Ivona.
"Baik," jawab Ivona malas.
"Sudah lama kita tidak bertemu, kulihat kau bertambah cantik dan bahagia," ujar Tommy basa-basi.
Ivona masih menatap canggung pada Tommy yang menurutnya berlebihan. Sikap pria ini benar-benar aneh sangat berbeda dari yang ia baca di dalam novel.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?"
__ADS_1
"Batere ponselku mati," bohong Ivona.
"Benarkah?" Sedetik kemudian Tommy tertawa. "Tidak mengapa, karena hal itu aku jadi berpikir untuk memberimu kejutan dengan datang langsung ke sekolah ini untuk menjemputmu."
Ivona kaget. "Menjemput?"
"Iya, menjemputmu. Kita akan pulang bersama-sama."
"Aku tidak tinggal lagi di rumah kelurga Iswara," jelas Ivona.
Tommy tertawa, tentu saja Tommy tahu akan hal itu, sebab yang meminta Alexander untuk memberikan Ivona tumpangan tempat tinggal tak lain adalah dirinya sendiri.
"Aku tahu."
Ivona mengernyit heran.
"Thomas memberi tahuku," ujar Tommy berbohong. "Lihatlah, di sana juga ada Thomas." Tommy menunjuk di mana Thomas dan Vaya tengah berdiri.
Saat ini, Vaya pun tengah menatap ke arah Ivona. Hati Vaya dipenuhi kebencian dan amarah, melihat perbincangan antara Tommy dengan Ivona. Terlebih saat mengingat kenapa Tommy mau mencari Ivona ke sekolah.
Ivona lagi, aku rasa aku harus segera menyingkirkan mu dari kehidupanku. Kau benar-benar racun yang menyebabkan sikap seluruh anggota keluarga berubah. Aku tidak akan membiarkanmu menyingkirkan aku lebih dulu.
Di sana, bukan hanya Vaya dan Thomas yang menyaksikan interaksi Tommy dan Ivona. Ada banyak siswa dan siswi yang lain juga. Melihat sikap Tommy pada Ivona, membuat mereka semua langsung terpaku dan tidak tahan untuk mulai bergosip.
"Apa yang sebenarnya dilakukan Kak Tommy?"
"Aku juga tidak tahu, tapi kenapa dia justru mendatangi Ivona. Bukankah Vaya itu adik kesayangannya?"
"Mungkinkah sekarang Vaya tersingkir oleh Ivona. Anak pindahan itu sudah merebut Kak Tommy dari Vaya?"
__ADS_1
"Bisa jadi. Kalau yang dilihat dari sini, Kak Tommy sepertinya tak acuh pada Vaya. Lihat saja sorot matanya yang tadi saat melihat Vaya dengan yang sekarang saat bertemu Ivona. Sangat berbeda."
"Kau benar sekali, nampaknya Kak Tommy juga lebih bahagia saat bertemu Ivona."
"Memang apa yang sebenarnya terjadi, apakah Kak Tommy tidak lagi menyayangi Vaya."
"Kira-kira hadiah yang dibawa Kak Tommy untuk siapa, ya, Vaya atau Ivona?"
"Entahlah, tapi kita bisa melihat jika nanti hadiah itu sudah diberikan."
Masih banyak lagi suara-suara sumbang tentang hubungan Vaya dan kakaknya setelah mereka melihat kejadian yang baru saja terjadi. Mereka juga masih menunggu kepada siapa hadiah yang dibawa Tommy akan diberikan.
"Kami ingin kau pulang, Iv," ujar Tommy. "Kau adalah adik kami, kau yang lebih berhak tinggal di rumah keluarga Iswara, bukan orang lain. Please ... pulanglah bersama kami," bujuk Tommy.
Ivona masih belum bisa memutuskan karena merasa curiga dengan sikap Tommy juga Thomas. Mereka berdua seharusnya sangat membenci dirinya bahkan ikut andil dalam penderitaan Ivona si pemilik tubuh. Akan tetapi, dalam kehidupannya saat ini sikap Tommy dan Thomas tidak menunjukkan hal itu, tidak sesuai dengan novel yang ia baca.
Ah ... Ivona jadi sedikit bingung dengan alur cerita yang banyak berubah. Apakah kehadirannya dari dunia nyata membuat alur cerita ini berubah?
"Bagaimana, Iv ... apa kau mau pulang bersama kami?" tawar Tommy, lagi. Saat menunggu jawaban dari Ivona, Tommy teringat akan hadiah yang ia bawa.
"Oh ... ya, aku sampai lupa jika aku membawakan sesuatu untukmu sebagai hadiah." Tommy memberikan hadiah yang dipegangnya pada Ivona dan menatap Ivona dengan sangat gembira. Berharap adiknya itu menyukainya.
"Kau boleh membukanya sekarang kalau kau mau," ujarnya setelah Ivona menerima bingkisan itu.
Respon Ivona justru tidak sesuai harapan Tommy, gadis itu nampak biasa saja setelah menerima hadiah yang disiapkan khusus untuknya. Bahkan tidak ada senyum sedikit pun yang tergambar di bibir adiknya itu apa lagi ucapan terima kasih.
"Kenapa, apa kau tidak suka?" tanya Tommy saat melihat tatapan curiga Ivona pada hadiah yang ia berikan.
Ivona menatap Tommy dan berkata, " Tidak, aku hanya heran saja, dalam rangka apa kau memberiku hadiah?"
__ADS_1
Tommy tertawa mendengar pertanyaan Ivona yang ia anggap polos, dan Ivona masih menatap dingin pada Tommy. "Adikku Sayang, tidak butuh alasan bagi seorang Kakak untuk memberikan hadiah pada adiknya. Aku hanya ingin memberimu hadiah saja, semoga kau menyukainya," jawab Tommy.
Tommy masih belum menemukan raut bahagia Ivona meski ia telah menjelaskannya. Tatapan Ivona masih sama dinginnya dan penuh dengan kecurigaan. Tommy bisa mengerti dengan reaksi yang ditunjukkan Ivona, semua pasti karena sikapnya dan juga saudara lainnya di masa lalu kepada Ivona. Yang membuat gadis itu menjadi lebih waspada.