IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.91 Kotak Musik Ballerina


__ADS_3

Ivona kembali menatap hadiah di tangannya. Mencoba menebak apa isinya. Ia kemudian menatap Tommy kembali dan berkata, "Apa isinya?"


Tommy tersenyum. "Kau boleh membukanya agar tahu apa isinya."


Entah kenapa Ivona belum bisa menghilangkan rasa curiga pada kakak-kakaknya, meski ia sudah melihat sikap baik Tommy dan juga Thomas.


"Bukalah, agar kau tidak penasaran," suruh Tommy.


Setelah berpikir, Ivona pun membuka hadiah dari Tommy. Sebuah kotak musik ballerina berwarna pink terlihat mengagumkan bagi Ivona. Namun, dibalik keindahan kotak musik itu tersimpan cerita miris yang dialami Ivona.


Ivona teringat akan peristiwa yang dialami oleh si pemilik tubuh asli di dalam novel, ketika gadis itu masih kecil dan tinggal di panti asuhan. Ada donatur yang menyumbangkan mainan bekas untuk anak-anak panti. Ivona kecil yang melihat kotak musik ballerina untuk pertama kalinya, karena membantu pengurus panti memasukkan barang-barang sumbangan itu, langsung jatuh cinta pada benda itu. Ivona memberanikan diri untuk meminta kotak musik itu pada pengurus panti.


"Bibi, bolehkah aku mendapatkan mainan yang itu?" ucap Ivona kecil kala itu sembari menunjuk kotak musik yang ada di dalam kardus.


"Ambil saja, dan pergilah," jawab Bibi pengurus panti tanpa melihat barang apa yang diminta Ivona.


"Terima kasih, Bibi." Ivona kecil segera berlari keluar dari ruangan pengurus panti. Ia berlari memberi tahu teman-temannya jika ia mendapatkan mainan baru.


"Hei ... lihatlah, aku punya mainan baru," seru Ivona kecil pada teman-temannya.


"Lihatlah!" di depan teman-temannya yang sedang berkumpul, Ivona kecil memutar lagu pada kotak musik itu. Sebuah patung balerina menari indah diiringi musik yang mengalun merdu. Semua anak-anak di panti menatap takjub pada kotak yang menurut mereka begitu mengagumkan. Semua tertawa riang melihat patung ballerina itu berputar-putar, bahkan ada yang menirukan gerakan patung itu.


Saat anak-anak kecil itu larut dalam tawa dengan sang ballerina, tiba-tiba muncullah anak laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Ivona dan teman-temannya. Anak itu merebut paksa kotak musik itu dari tangan Ivona. Merasa benda itu adalah miliknya, Ivona kecil berusaha sekuat tenaga mempertahankan mainan itu. Postur tubuhnya yang kecil kalah dengan anak laki-laki yang merebut paksa mainannya.


"Berikan padaku, itu punyaku," ujar Ivona kecil mencoba meraih mainan di tangan anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu pun tertawa senang berhasil merebut mainan anak yang lebih kacil darinya, dengan meledek ia berkata, "Ayo ambil kalau kau bisa."


Anak itu mencoba mempermainkan Ivona, dengan mengangkat kotak musik itu tinggi-tinggi. Postur Ivona yang kecil dan pendek membuat ia kesusahan meraih mainan itu, Ivona bahkan sampai melonjak agar sampai pada mainan yang diambil. Namun apalah daya, tinggi tubuhnya tidak sebanding dengan anak nakal itu.


"Ayo, ambil," ucap anak laki-laki itu semakin senang melihat Ivona kecil kelelahan.


Ivona terjatuh saat mencoba meloncat lebih tinggi. Tawa anak laki-laki itu membahana, mencemooh kegagalan Ivona.


"Dasar pendek, karena kau tidak bisa mengambilnya kembali, mainan ini jadi milikku!" ujar anak laki-laki itu kemudian pergi.

__ADS_1


Ivona hampir menangis saat kehilangan mainan itu, tapi di saat itu juga tangan kanan Ivona menyentuh sebuah batu. Ia mengambilnya dan tanpa pikir panjang, Ivona memanggil anak itu.


"Hei ... kau!"


Anak itu menoleh, dan seketika menjerit kesakitan sembari memegangi dahinya yang telah mengucurkan darah. Ivona si anak kecil nan pendek telah melemparnya dengan batu. Anak laki-laki itu spontan melepaskan kotak musik yang ia rebut, yang langsung diambil oleh Ivona. Tak menghiraukan anak nakal itu, Ivona langsung pergi dengan mengajak teman-temannya. Mereka pun mencari tempat yang aman untuk bermain, mendengarkan musik dari kotak itu.


Tidak lama, panggilan untuknya yang datang dari pengurus panti membuat Ivona harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ulahnya yang telah melukai anak laki-laki itu membuat Ivona dihukum sekaligus dilarang bermain kotak musik itu lagi.


Perasaannya hancur saat ia kehilangan mainan juga kebebasan dalam waktu yang bersamaan. Pengurus panti mengurungnya di ruang gelap, di mana anak-anak nakal dihukum. Di ruangan gelap nan sempit itu, Ivona mengalami banyak hal yang menakutkan bagi seorang anak berusia enam tahun. Hal itulah yang membuat kepribadian Ivona berubah, takut membuat kesalahan adalah alasan Ivona lebih suka menyendiri. Kemudian terbentuklah sifat Ivona yang anti sosial.


Ditambah lagi, ketika ia mulai berada di kediaman Iswara. Peristiwa serupa kembali terjadi. Saat itu, Ivona menemukan sebuah kotak musik di gudang rumah Iswara. Awalnya ia takut memegang benda itu, tapi rasa penasaran untuk kembali mendengar alunan musik itu begitu kuat terasa. Dengan menahan rasa takutnya, ia mengambil benda itu dan membukanya, Ivona mulai menikmati alunan merdu dari kotak itu.


Senyumnya bahkan mengembang di sudut-sudut bibirnya. Baru saja Ivona memejamkan mata untuk menikmati alunan merdu itu, Vaya yang memergokinya ada di dalam gudang langsung merebut mainan itu. Sontak Ivona kaget dan membuka matanya.


"Apa kau menginginkan mainan ini?" tanya Vaya kala itu sembari mengacungkan mainan yang baru ia rebut.


Ivona terdiam, ia takut untuk menjawab.


"Orang sepertimu tidak pantas memiliki mainan mahal seperti ini, meski ini hanya mainan sampah bekas milikku. Kau tetap tidak pantas!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Vaya melenggang pergi, tapi sebelumnya ia dengan sengaja menjatuhkan kotak musik itu di bawah kakinya dan tanpa perasaan menginjaknya kuat-kuat agar hancur.


Ivona menghela napas dalam, mencoba menepis bayangan masa silam. Ia tak ingin lagi mengenang masa lalu yang menyedihkan itu, dengan segera ia menutup kembali kotak musik ballerina itu dan memasukkannya ke dalam kardus pembungkusnya.


"Kenapa, apa kau tidak suka?" tanya Tommy heran.


"Apa kau memberikan hadiah yang sama untuk Vaya?" Bukannya menjawab, Ivona justru melempar tanya.


"Apa?" Tommy, menaikkan alisnya, tapi sekejap kemudian paham akan maksud Ivona.


"Ah ... itu ya, a-aku memang pernah memberikan hadiah seperti ini pada Vaya, karena itu aku ingin memberimu juga," jawab Tommy salah tingkah.


Jawaban Tommy sudah cukup untuk membuat Ivona tak menghilangkan tatapan dinginnya pada kakak laki-lakinya ini.


"Ambillah, aku tidak butuh." Ivona mengembalikan hadiah itu ke tangan Tommy.


"Tu-tunggu, Iv. Kalau kau tidak suka, aku bisa membelikanmu hadiah yang lain. Apa pun yang kau mau." Tommy berusaha membujuk Ivona.

__ADS_1


"Aku tidak butuh apa pun," jawab Ivona, lalu pergi.


"Iv, tunggu, kau adik kandungku, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan." Tommy masih berusaha membujuk Ivona.


Saat ini, murid-murid yang berada di sekitar mereka mulai memperbincangkan soal status Vaya.


"Kau dengar tadi, Kak Tommy menyebut Ivona sebagai adik kandung. Apa maksudnya?"


"Apakah Vaya sebenarnya bukan putri kandung dari Keluarga Iswara?"


"Apa benar begitu?"


Para murid penggosip itu mulai beraksi. Mereka memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar info apa lagi yang bisa mereka dapat dan mereka jadikan bahan pergunjingan.


"Iv, tunggulah dulu!" Tommy mengejar Ivona dan berhasil menangkap lengan adiknya itu.


"Bagaimana kalau kita pergi makan saja, itu akan membuat perasaanmu lebih baik. Aku ingat sekali kalau kau sebenarnya punya selera makan yang besar tapi kau tidak memiliki kesempatan untuk itu," ujar Tommy.


Ivona yang terpaksa berhenti, menatap tajam pada Tommy. Kakaknya ini benar. Lamanya berada di panti asuhan membuat Ivona yang sering kekurangan makan, ingin sekali makan lebih banyak ketika berada di rumah keluarga Iswara, tapi karena peraturan rumah itu dan demi menjaga etika di meja makan, Ivona pun harus membatasi keinginan makannya yang besar.


"Ayolah, aku akan mengajakmu ke restoran mana pun yang kau suka," Tommy berusaha keras membujuk Ivona.


Thomas yang berada tidak jauh dari mereka pun ikut bicara, "Kak Tommy benar Iv, ayo kita pergi makan. Kita bisa bersenang-senang."


Tommy mendelik pada Thomas. "Aku tidak mengajakmu, kalau kau ingin pergi, pergi saja sendiri!"


"Kau bilang apa?" tanya Thomas heran.


"Aku bilang, aku hanya ingin pergi berdua dengan adikku, Ivona," tegas Tommy.


"Aku juga kakaknya, aku pun berhak pergi dengannya," protes Thomas.


"Aku tidak peduli dengan mu, kalau kau ingin pergi dengan Ivona tidak hari ini. Lain kali saja!"


"Kau tidak bisa seperti itu Tom, kita bisa pergi bersama," ujar Thomas.

__ADS_1


Vaya terpaku di tempat, menyaksikan dua kakaknya yang sedang memperebutkan Ivona. Ia seakan tidak bisa mempercayai semua ini, dua kakaknya bahkan tidak ingat jika ada dirinya juga di sana.


__ADS_2