IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.79 Kekacauan 3


__ADS_3

Dalam rapat yang masih berlangsung, seorang anak buah ahli IT tiba-tiba meminta ijin untuk ikut dalam rapat mendesak kali ini. "Tolong, ijinkan aku masuk sebentar saja, aku punya informasi baru untuk kasus yang sedang terjadi saat ini," mohonnya pada orang yang berdiri di depan pintu ruang rapat.


"Maaf, saya tidak bisa mengijinkan Anda masuk tanpa ID card, kecuali Bapak direktur sendiri yang memberi ijin," jawab petugas yang menjaga rapat itu.


"Tapi aku punya informasi yang penting untuk rapat kali ini," jelasnya pada penjaga.


Dalam kebingungannya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus ini, Petinggi perusahaan itu melihat keribuatan yang terjadi di depan ruang rapat. Ia memanggil asistennya untuk melihat. "Coba kau lihat, ada apa di luar!"


"Baik, Tuan," jawab sang asisten.


Setelah membuka pintu ruang rapat, asisten direktur itu bertanya pada penjaga tentang apa yang terjadi.


"Baiklah, aku akan memberitahukannya pada Pak direktur," ujar asisten itu setelah mendengar penjelasan dari penjaga tadi.


"Tunggulah di sini." Kali ini bicara pada anak buah ahli IT.


Anak buah ahli IT itu mengangguk dan dengan sabar menunggu di luar. Sementara itu asisten direktur kembali masuk dan membisikkan apa yang tadi ia dengar dari penjaga.


Direktur itu mengangguk-angguk, mendengar asistennya menjelaskan. "Baiklah, suruh ia masuk ke ruangan ini!"


Langsung saja, asisten itu keluar dan mengajak anak buah ahli IT itu untuk masuk dan mengatakan apa yang ia ketahui tentang kasus yang tengah terjadi ini. Asisten itu juga menyuruh anak buah ahli IT itu untuk ikut duduk bersama anggota rapat yang lain.


"Katakan, apa yang sudah kau temukan tentang kasus ini," ujar direktur itu yang merupakan petinggi perusahaan.


Orang yang nampak meragukan dari penampilannya itu langsung berdiri. Semua ahli IT yang hadir di sana memasang wajah meremehkan pada salah satu anak buah dari rekan mereka.


Sebelum berbicara, orang itu berdehem untuk mengurangi kegugupannya. "Selamat siang semuanya, perkenalkan namaku adalah Mouse Hanry, aku adalah ______"


Orang itu belum menyelesaikan perkenalannya saat sang direktur mengangkat tangan kanannya agar pria bernama Mouse itu menghentikan acara perkenalan dirinya. Lagi pula saat ini, semua yang hadir di sana tengah tertawa, tentu saja menertawakan anak buah ahli IT itu. Bagaimana tidak tertawa, nama orang itu adalah Mouse, yang berarti tikus. Yah ... hal itulah yang membuat mereka merasa geli dan ingin tertawa, nama orang itu, Mouse.


"Jangan bertele-tele, katakan saja apa yang sudah kau temukan agar kami bisa segera mencari solusinya," ujar direktur itu.


"Ba-baiklah." Anak buah ahli IT itu menatap atasannya yang justru menyembunyikan wajahnya di antara telapak tangan. Dia sadar, selalu saja orang menganggap remeh dirinya hanya karena penampilan dan nama yang mereka anggap aneh. Namun kali ini, ia harus membuktikan kemampuannya di bidang IT.


Semua orang kembali menatapnya, tentu saja masih dengan menahan tawa mereka.


"Be-begini semuanya, a-aku sudah mengamati kekacauan cyber yang terjadi hari ini, dan aku menemukan penyebab kekacauan itu," jelasnya dengan terbata karena gugup.

__ADS_1


"Jadi apa yang kau temukan?" tanya seorang ahli IT yang tak sabar mendengar penjelasan Mouse.


"Jangan buang-buang waktu kami hanya untuk mendengar candaanmu," ujar yang lainnya.


Mouse semakin gugup dengan desakan mereka. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara di depan forum.


"Kalian bisa diam terlebih dahulu, agar anak ini bisa menjelaskan temuannya," sela direktur itu.


Seketika mereka terdiam.


"Lanjutkan penjelasanmu dengan singkat dan jelas," ujar direktur.


"Ba-baiklah." Mouse kembali menatap atasannya, berharap dukungan dari orang itu, tapi tak ia dapatkan.


Mouse kembali fokus pada anggota rapat dan direktur. "Setelah aku amati, semua kekacauan ini bermula dari unggahan seseorang tentang seorang anak yang diberitakan sebagai anak haram. Setelah itu banyak hujatan untuk anak itu. Tak lama setelahnya akun-akun yang mengunggah berita itu dan juga yang berkomentar buruk tentang anak itu langsung bermasalah, dan timbullah kekacauan ini," terang Mouse.


Semua ahli IT dan anggota rapat yang hadir awalnya tidak percaya, dan meragukan pernyataan Mouse, tapi setelah salah satu dari mereka mencari berita yang beredar barulah ia percaya. "Lihatlah." Orang itu memperlihatkan laptopnya kepada teman di dekatnya yang menjadi bukti kebenaran dari kata-kata Mouse.


"Jadi, siapa yang membuat kekacauan ini? Apakah anak itu sendiri?" tanya direktur.


Mereka semua berbisik, mempertanyakan kebenaran pernyataan Mouse. Bagaimana mungkin seorang anak biasa mampu membayar seorang hacker profesional, yang tentu saja memiliki bayaran yang mahal untuk jasanya.


"Kurasa, itu tidak benar. Aku bahkan tidak yakin jika anak itu bisa menemukan seorang hacker hebat seperti saat ini. Bukankah identitas seorang hacker biasanya tersembunyi dan hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang mengetahuinya, jadi tidak mungkin jika hacker itu disuruh oleh anak yang sedang diperbincangkan," sanggah salah satu ahli IT di rapat itu.


"Aku tidak peduli dengan urusan orang biasa apalagi hanya berita tentang anak haram, yang aku inginkan adalah kalian temukan siapa yang sudah membuat kekacauan ini terjadi," ujar direktur.


"Aku juga setuju dengan Anda, Tuan. Aku yakin pelakunya pasti salah satu dari beberapa anggota di kantor pusat institut komputer nasional. Bukankah mereka punya orang-orang terbaik di bidang IT?" ujar ahli IT lainnya.


Semua ahli IT di sana mengangguk setuju dengan dugaan rekan mereka ini. Hal ini lebih masuk akal dari pada pernyataan Mouse tadi.


Direktur memikirkan kemungkinan yang diutarakan oleh salah satu ahli IT miliknya, jika benar kekacauan ini disebabkan oleh salah seorang dari pusat institut komputer nasional, sudah dipastikan mereka hanya bisa menjadi penonton saja. Sebab, perusahaan mereka tidak bisa menyinggung orang-orang itu jika memang benar hal ini adalah perbuatan mereka di pusat institut komputer nasional.


_________________


Di kantor Alexander.


"Apa hidupmu masih terasa membosankan setelah bersamaku?"

__ADS_1


"Apa?" tanya Ivona dengan ekspresi bingung.


Alexander akhirnya tertawa. "Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius," ujarnya kemudian.


Ivona menghela napas lega setelah mendengar pernyataan Alexander, tapi tetap saja jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, dan yang terpikir oleh Ivona adalah keluar sejenak dari ruangan Alexander, mengambil jarak dari pria itu akan lebih baik untuknya.


"Maaf, aku permisi sebentar," pamit Ivona pada Alexander. Ia pun memilih keluar ke koridor.


Ivona teringat soal kekacauan yang baru ia buat di dunia maya, dan akhirnya memutuskan untuk menelepon Marcus.


"Halo, kau sedang ada di mana?" tanya Ivona saat panggilannya sudah terhubung.


"Halo, kabarku baik," jawab Marcus sengaja melenceng dari pertanyaan Ivona. Sekadar mengingatkan gadis itu, agar bertanya kabar lebih dulu sebelum mengutarakan tujuannya.


"Marcus, sedang tidak ingin bercanda."


"Aku juga tidak bercanda, Nona. Aku memberitahu kabarku jika sampai detik ini kau meneleponku, aku masih sehat. Aku hanya ingin kau tahu itu."


"Baiklah-baiklah, aku senang kau baik-baik saja. Sekarang katakan sedang ada di mana, kau?"


"Seperti biasa, aku masih berada di institut komputer. Ada perlu dengan ku?"


Ivona sedikit ragu, tapi ia harus menceritakan ini pada Marcus, sebab hanya pria itu yang bisa dipercaya untuk membantunya. "Marcus, dengarkan aku baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya, Ok." Ivona berbicara setengah berbisik, ia tidak ingin ada yang tahu apa yang akan ia bicarakan pada Marcus.


"Baiklah, Nona, katakan saja."


"Begini, Marcus, aku sudah meng-hack website banyak orang di sini, dan hal itu menimbulkan kekacauan bagi penggunanya. Kurasa sebentar lagi akan ada orang yang mencari identitasku, aku ingin kau membantuku menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mau ada yang mengenaliku. Kau paham maksud ku, bukan?"


Di seberang sana, Marcus terperangah dengan pengakuan Ivona, meski ia tidak meragukan kemampuan Ivona dalam bidang ini. Namun, yang menjadi tanya dalam hatinya adalah untuk apa Ivona sampai meretas banyak akun?


"Tapi, Iv, untuk apa kau melakukan semua itu?"


"Alasanku tidaklah penting bagimu, yang harus kau lakukan bantu aku membereskan kekacauan ini dan sembunyikan identitasku."


Di sana, Marcus hanya bisa mengangguk. Hal yang tidak bisa dilihat oleh Ivona, tapi ia paham maksud gadis itu. Ia harus membantu Ivona menyelesaikan masalah ini dan menyembunyikan identitas pelaku, yaitu Ivona. Bagaimanapun, Ivona memiliki bakat yang sangat ia butuhkan di institutnya, dan ia tidak ingin Ivona sampai tertangkap.


Di negara Marcus, orang berbakat seperti Ivona akan dipentingkan dan dilindungi negara, tapi di tempat Ivona mungkin akan lain cerita. Maka dari itu Marcus juga tak berdaya, terpaksa ia harus membantu Ivona menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2