IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.121 Kau Di Mana?


__ADS_3

Nyonya Alberic menahan geram melihat sikap putranya yang menunjukkan kepanikan. Ia berdiri bersedekap menghampiri Alexander.


"Siapa yang kau cari?"


"Mom, jangan memaksaku berbuat kasar, aku sedang tidak ingin bercanda!"


"Memangnya sejak kapan kau suka bercanda, aku bahkan sudah lupa bagaimana kau tersenyum," cibir Nyonya Alberic.


"Mom!"


Nyonya Alberic mendengkus kesal, kemudian pergi meninggalkan Alexander.


"Mom, katakan dulu di mana kau menyembunyikan Ivona!" teriak Alexander, hingga suara itu menggema di ruang tamu.


Nyonya Alberic tak peduli sama sekali dengan permintaan putranya itu, ia terus melangkah menaiki tangga. Meninggalkan sang putra yang tentunya sangat kesal dengan dirinya.


Melihat ibunya tidak peduli sama sekali, Alexander bergegas mencari sendiri Ivona di istana Alberic itu. "Iv ... Ivona, kau di mana?" teriak Alexander menuju bagian belakang rumah besar itu. Ia terus memanggil nama Ivona hingga para pelayan yang ia jumpai di rumah itu heran karena tidak ada yang bernama Ivona di sana.


"Iv ... Ivona!" Alexander berlari menaiki tangga. Ia menuju sisi kanan rumah itu namun tak ada sahutan sama sekali, bahkan ruangan di sana nampak sepi. Alexander kembali berlari, menuju sisi kiri rumah itu sembari terus meneriakkan nama Ivona. Kembali tidak ada sahutan. Ketika melewati kamar adiknya, Alexander mendengar suara-suara yang tak biasa. Ada tawa dari dalam kamar adiknya itu. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alexander langsung membuka kamar Evan.


Alexander terkejut melihat Ivona dan Evan sedang bermain bersama Max. Mereka nampak akrab dan bahagia. "Iv?"


Evan dan Ivona secara bersamaan menoleh pada Alexander yang berdiri di depan pintu. Mereka berdua yang sedari tadi berlutut untuk bermain bersama Max langsung berdiri.


Melihat Ivona baik-baik saja, Alexander menarik napas lega. Semua tidak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya, ketika mendapatkan kabar dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Ivona. Saat kabar tentang Ivona yang dijemput oleh orang-orang kepercayaan ibunya, Alexander langsung panik. Ia takut ibunya bertindak di luar nalar pada Ivona.


"Kau baik-baik saja?"


Ivona mengangguk meski bingung dengan maksud yang sebenarnya dari pertanyaan Alexander. Tidak ada alasan bagi Ivona untuk tidak baik-baik saja.


Alexander berjalan menghampiri Ivona dan langsung memeluk gadis itu. "Aku mengkhawatirkanmu," bisik Alexander.


Ivona semakin bingung. Alexander khawatir pada dirinya? Khawatir untuk apa?


"Memangnya apa yang kau pikirkan, hingga kau begitu khawatir?" suara ibunya membuat Alexander melepaskan Ivona dari rengkuhannya. Ibunya ini sudah seperti cenayang saja, ia bahkan tahu apa yang Alexander pikirkan dan rasakan.


"Apa kau takut aku akan menyakiti gadismu?" sambung Nyonya Alberic.

__ADS_1


"Mom!" protes Alexander tentang penyebutan kata 'gadismu'.


"Buktikan padaku jika dia layak, dan aku akan membiarkan kalian hidup tenang, atau biarkan aku yang mengatur masa depanmu," ujar Nyonya Alberic sebelum pergi.


Ivona menatap Alexander dengan mengernyitkan dahi. "Apa maksud ibumu?"


Alexander mendesah kesal dengan ucapan ibunya. "Lupakan saja, ibuku memang suka melantur," jawab Alexander asal.


"Kau benar baik-baik saja, bukan?" Pria itu bermaksud mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja Kak Ivona baik-baik saja, aku dan Max selalu menjaganya."


Alexander menatap sinis pada Evan—sang adik. "Aku tidak mengajakmu bicara!"


"Meski kakak tidak suka, aku tetap akan menjaga Kak Ivona!"


Alexander memutar bola matanya malas menanggapi ucapan Evan. "Ayo kita pergi!" Ia pun menggandeng tangan Ivona dan membawa gadis itu keluar dari kamar Evan.


"Dasar aneh!" umpat Evan melihat kelakuan kakaknya sendiri. Max yang berada di samping Evan ikut menggonggong seolah menyetujui apa yang Evan katakan tentang Alexander.


"Kau setuju dengan ku 'kan, Max?"


Evan tersenyum sendiri dengan pemikirannya.


____________________


Satu Bulan Berlalu


Hari-hari berlalu sejak Ivona bertamu di rumah keluarga Alberic. Saat itu Alexander langsung mengantarnya pulang ke rumah keluarga Iswara.


Sejak hari itu, Ivona sudah tidak lagi bertemu dengan Alexander. Dulu, sepulang dari mansion Alberic, pria itu pernah berpesan, "Aku mungkin akan sangat sibuk jadi kita akan jarang bertemu, atau bisa juga tidak bertemu sama sekali. Kau bisa fokus merawat kakekmu dan juga ujian kelulusanmu."


Begitu pesan Alexander dulu. Pria itu bahkan memeluknya dan mengecup pucuk kepala Ivona sebagai salam perpisahan.


Sekarang sudah satu bulan berlalu, tetapi tidak ada satu pesan pun yang masuk mengabarkan tentang pria itu. Ivona ingin menepis semua tanya dalam hatinya tentang keberadaan pria itu. Namun tidak bisa. Semakin hari, Ivona semakin penasaran di mana Alexander sebenarnya berada. Kenapa pria itu tidak menghubunginya.


Ivona sempat berkunjung ke vila, tetapi pria itu tidak ada di sana, di kantor pun tidak ada, begitu juga di rumah orang tuanya. Setiap hari Ivona dilanda gelisah mengenai keberadaan Alexander.

__ADS_1


"Kau, di mana?" ujar Ivona dengan pandangan lurus menembus kaca jendela.


"Iv ...," panggil Thomas yang baru saja membuka pintu kamar Ivona. Ia melihat adiknya sedang duduk di samping jendela memegang buku dengan kaki menyiku.


"Apa yang sedang kau lakukan?" sambungnya saat Ivona menoleh.


Ivona mengangkat buku di tangannya.


"Apa aku mengganggu?"


Ivona menggeleng.


"Boleh aku masuk?"


Ivona sedang malas sekali bersuara, akhirnya ia memilih untuk mengangguk saja.


"Aku ingin bicara padamu," ujar Thomas setelah duduk di bangku belajar Ivona dan membawanya ke dekat jendela di mana Ivona duduk.


"Aku akan pergi untuk beberapa waktu, karena aku ada pekerjaan di luar negeri. Kau tidak apa-apa bukan jika aku tinggal sendiri di rumah ini?"


Saat ini memang hanya ada Thomas dan Ivona serta kakek dan kedua orang tua Ivona yang tinggal di rumah itu. Tommy dan Rio sudah pergi ke luar negeri untuk pekerjaan mereka masing-masing.


"Aku akan mengusahakan untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaanku agar bisa cepat pulang," sambung Thomas. Jujur saja Thomas masih ragu meninggalkan Ivona sendiri. Meski Vaya sudah tidak ada lagi bersama mereka, tapi Thomas belum tenang karena Vaya belum ditemukan.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Baiklah, kau membuatku merasa tenang untuk pergi bekerja. Jika kau merasa tidak aman berada di sini, pergilah ke vila Alexander."


Ivona mengangguk saja. Ia tidak berniat sama sekali bercerita tentang kepergian Alexander yang sudah satu bulan.


"Kalau begitu, lanjutkan saja belajarmu." Thomas pun pergi dari kamar Ivona, meninggalkan gadis itu kembali pada sepi.


Ivona menatap buku di tangannya, ia teringat akan ujian kelulusan yang tidak akan lama lagi. Ternyata sudah cukup lama Ivona berada dalam dunia khayalan ini. Ia bahkan sudah banyak merubah isi dari cerita dalam novel.


Semakin hari, semakin ia merindukan kehidupan nyatanya. Masih kah ia bisa kembali. Namun, ia tidak tahu bagaimana ia bisa kembali ke dunia asalnya.


Dering ponsel membuat Ivona terlonjak. Nada suara khusus yang ia dengar dari ponselnya membuatnya melupakan tentang keinginannya kembali ke dunia nyata. Semangat dalam hatinya membuncah untuk segera mengangkat panggilan dari orang sangat ia nantikan kabarnya.

__ADS_1


"Halo, kau di mana?" seru Ivona tak sabar.


__ADS_2