IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.146 Masa Lalu Vaya


__ADS_3

Ivona sudah bersiap, ia menggamit tangan ayahnya yang akan mengantarkannya menuju altar pernikahan. Di depan altar sudah ada pria rupawan serupa dewa tengah menunggunya dengan senyum bahagia.


Melihat senyum kebahagiaan di bibir Ivona membuat Vaya yang berada dalam tampilan Valia semakin tersiksa. Ia tidak suka kalau pada akhirnya Ivonalah yang harus bahagia. Ia benci jika ia yang harus jadi pecundang. Vaya mengepalkan tangannya, menahan geram melihat senyum setiap orang yang hadir di sana.


Ia marah kenapa ibunya tak melakukan apa yang ia minta. Diam-diam, Vaya menarik Nyonya Iswara menjauh dari tempat berlangsungnya acara. Ia menarik wanita yang ia sebut ibu itu dengan kasar, dan melemparnya ke dinding hingga Nyonya Iswara memekik sakit.


"Vaya, apa yang kau lakukan padaku?"


"Mama bertanya tentang apa yang aku lakukan. Coba tanya pada diri Mama sendiri, apa yang telah Mama lakukan untuk menghancurkan rencanaku!" teriak Vaya.


Nyonya Iswara mengingat kembali kejadian tadi, saat Ivona hampir meminum teh beracun yang dibawanya. Ia memang yang membuat teh khusus untuk Ivona, tapi ketika akan membawanya Vaya mendadak muncul dan mencampurkan racun ke dalam teh buatannya. Anak itu memaksanya untuk berjanji menyingkirkan Ivona. Hal yang tidak bisa Nyonya Iswara tolak. Dengan langkah ragu ia membawa racun untuk sang putri.


Namun, ketika Ivona hendak meneguk teh itu, nuraninya melarang. Ia yang telah memberikan kehidupan dengan melahirkan Ivona, tapi ia tidak rela jika ia juga yang harus menjadi penyebab kematian sang putri. Meski banyak luka yang ia torehkan untuk putri kandungnya itu, nuraninya sebagai ibu melarangnya untuk mengambil kehidupan Ivona dengan cara yang kejam.


Nyonya Iswara menampik cangkir di tangan Ivona hingga terjatuh.


"Ibu!" pekik Ivona. "Ada apa, Bu?"


"Kau tidak boleh meminumnya, Sayang. A-aku, aku lupa memberinya gula."


"Gula?"


"Iya, akan sangat tidak enak jika minum teh yang hambar. Ibu akan buatkan kau teh yang baru dan memanggil pelayan untuk membersihkan semua ini." Segera Nyonya Iswara kembali membawa pergi water teapot itu keluar dari kamar Ivona.


Ivona merasa aneh tapi sang perias memaksanya untuk kembali bersiap karena wajahnya belum selesai dirias.

__ADS_1


Nyonya Iswara pergi dengan perasaan lega dan takut. Lega karena akhirnya ia memutuskan hal yang benar untuk tidak meracuni Ivona, dan takut jika Vaya semakin marah padanya. Terbukti jika Vaya kini marah dan membencinya.


"Kenapa, Ma ... apa sekarang Ivona jauh lebih penting dari pada aku? Apa Mama sudah mulai melupakan aku dan memilih Ivona?" teriak Vaya di depan muka Nyonya Iswara.


Teriakan Vaya membuat Nyonya Iswara kembali dari kejadian water teapot tadi.


"Apa Mama tahu penderitaanku selama ini. Apa Mama tahu betapa sulitnya hidup yang aku jalani setelah aku diusir dari keluarga Iswara. Aku merasakan semua sakit itu sendiri, Ma." Vaya menitihkan air mata.


Ia mengingat kembali kenangan saat itu, malam di mana ia diusir dan mulai tidak punya arah. Dengan pemikirannya yang sempit ia mengajak Roy bekerja sama untuk menyingkirkan Ivona. Ia pikir dengan begitu ia akan kembali lagi mendapatkan tempat di hati semua orang. Nyatanya ia salah, kebodohannya telah mengantarkan ia menjadi seorang buronan.


Malam itu, ketika ia menyiksa Ivona di rumah sakit jiwa, ia merasakan kesenangan karena akhirnya kisah Ivona akan berakhir di tangannya. Semua berubah, ketika Roy memintanya keluar padahal ia ingin sekali melihat Ivona tersiksa dan menderita sebelum ajal menjemput gadis gila itu.


Roy justru mengunci pintunya dari dalam dan ia tak bisa melihat apa yang Roy lakukan pada Ivona. Ia berusaha mengintip dan mengetuk pintu agar Roy membukanya, tapi tak ada tanggapan dari Roy sedikit pun. Lama ia menunggu dan tak bisa melihat apa yang Roy lakukan, ia justru mendengar suara derap langkah beriringan menuju ke tempat di mana ia dan Roy mengurung Ivona.


Vaya segera bersembunyi karena takut. Ternyata yang datang adalah Alexander dan polisi. Tak ingin tertangkap, ia pun kabur tanpa Roy. Ia berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tempat pertama yang ia tuju adalah rumah ayah kandungnya— kepala rumah sakit jiwa.


Kekalutan membuatnya tak fokus pada jalan yang ia lewati hingga sebuah mobil menabraknya dan membuatnya tak sadarkan diri. Pemilik mobil itu membawa Vaya ke rumahnya.


Keesokan paginya ketika ia tersadar ia baru tahu yang menabraknya adalah dokter Austin. Dokter itu juga ingat tentang Vaya yang berasal dari keluarga Iswara. Saat dokter Austin ingin mengantar Vaya pulang, gadis itu menolak. Ia justru meminta perlindungan pada dokter Austin.


Ia menceritakan semua masalahnya pada dokter gila itu. Dokter Austin tak melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan kepanikan Vaya. Ia menawari Vaya sebuah bantuan dengan syarat.


Setelah mendengar persyaratan dokter Austin, Vaya pun setuju. Sejak itulah ia harus menjadi pemuas na*su si tua bangka Greyson demi mendapatkan kucuran dana yang besar untuk penelitian dokter Austin, sebagai imbalannya dokter Austin membuatkan sebuah topeng silikon yang bisa membuat wajah baru untuk Vaya dan memalsukannya sebagai keponakan dari Sergio Leandre yang merupakan salah satu teman baik dokter Austin.


Dari situlah Vaya ingin membalas semua sakit hatinya pada Ivona. Ia belum puas jika gadis gila itu belum pergi selamanya dari hidupnya. Dengan wajah barunya ia pernah berusaha menggoda Alexander, untuk bisa menjauhkan pria itu dari Ivona, tapi ia gagal. Kini ia tidak rela jika harus melihat Ivona bahagia dengan sosok sempurna seperti Alexander.

__ADS_1


"Apa Mama tahu bagaimana hancurnya Vaya ketika harus menyerahkan diri pada tua bangka itu?" Vaya semakin meraung menceritakan masa lalu yang pahit itu.


"Kenapa tidak ada keadilan untuk Vaya, Ma. Kenapa semua orang membenci Vaya, bahkan sekarang pun Mama lebih memilih Ivona dari pada Vaya. Di mana janji Mama dulu, yang katanya tak akan pernah meninggalkan Vaya."


Tubun Nyonya Iswara lemas seketika mendengar betapa sulit dan kejamnya hidup yang Vaya jalani. Ia merasakan sakit yang Vaya rasakan. Perlahan, ibu itu mendekati Vaya yang masih berderai air mata. Ia merangkul putri yang telah lama menghilang.


"Vaya, maafkan Mama, Sayang," lirihnya mendekap Vaya. Vaya terus menangis dalam dekapan sang ibu.


"Ma ...."


"Ia, Sayang."


"Mama mau, 'kan, membantu Vaya untuk terakhir kali. Vaya janji setelah ini Vaya tidak akan lagi meminta apa pun dari Mama."


"Katakan Sayang."


Vaya mengurai dekapan sang Mama. Vaya mengambil sebuah senjata dari balik bajunya dan meletakkannya di tangan Nyonya Iswara.


"Singkirkan Ivona dari hidup Vaya."


Mata Nyonya Iswara terbuka lebar. Ia menatap nyalang pada senjata di tangannya. Ia tak percaya dengan permintaan Vaya.


"Lakukan, Ma. Demi Vaya." Suara Vaya terus mempengaruhi Nyonya Iswara.


"Buat Vaya menjadi satu-satunya putri Mama seperti dulu. Seperti sebelum Ivona datang dan mengacaukan keluarga kita. Ayo, Ma."

__ADS_1


Nyonya Iswara menatap Vaya. Melihat betapa sedih dan terlukanya Vaya.


"Ayo, Ma. Lakukan!"


__ADS_2