IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.130 Aku Akan Pergi


__ADS_3

Di sebuah lounge hotel ternama di Victoria, Tuan dan Nyonya Iswara sedang duduk memenuhi undangan makan malam oleh orang terhormat di negara ini.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Iswara, maafkan atas keterlambatan saya," sapa orang yang mengundang orang tua Ivona itu. "Silakan duduk."


Tuan dan Nyonya Iswara yang sebelumnya berdiri untuk menyambut orang terhormat itu langsung duduk.


"Kalian pasti bertanya-tanya tentang aku, kenapa aku mengundang kalian kemari?"


Tuan dan Nyonya Iswara memang bertanya-tanya sejak menerima undangan yang disampaikan oleh orang kepercayaan pria yang merupakan seorang ahli komputasi yang tersohor di Victoria itu. Kenapa orang penting seperti Tuan Greyson Walker ingin bertemu dengan mereka sementara mereka tidak memiliki bisnis yang bergerak di bidang yang sama dengan keahlian seorang Greyson Walker.


"Anda benar, Tuan. Sejujurnya kami merasa terhormat bisa bertemu langsung dengan orang terhormat seperti Anda, namun, kami juga ingin tahu ada perlu apa Anda sampai mengundang kami?" Tuan Iswara mengungkapkan tanya yang ia tahan sejak kemarin, saat undangan itu datang padanya dan juga istrinya.


Tuan Greyson tersenyum. Pria yang pernah menjabat sebagai direktur utama institut nasional ini adalah seorang ilmuwan yang disegani dan dihormati oleh orang-orang di bidangnya. "Maafkan aku jika telah mengganggu waktu kalian dan juga membuat kalian betanya-tanya. Aku hanya ingin memastikan apakah benar Ivona carminda adalah putri kalian?"


Tuan dan Nyonya Iswara saling tatap. saling bertanya kenapa Tuan Greyson menanyakan perihal Ivona.


"Tidak usah terkejut seperti itu, aku hanya ingin tahu saja. Apa benar gadis bernama Ivona adalah putri kandung kalian?"


Tuan Iswara menatap kepada istrinya sebelum menjawab, "Benar, Tuan. Ivona Carminda adalah putri kandung kami."


Senyum lega terlihat di wajah Tuan Gresyson, yang membuat Tuan Iswara masih bingung dengan tujuan dari ilmuwan ini.


"Aku punya tawaran menarik untukmu. Aku dengar perusahaan kalian sedang mengalami kesulitan keuangan dan kemudian dibantu oleh Alexander Alberic dengan syarat kalian harus menukar putri kalian," ujar Tuan Greyson tanpa basa-basi.


Tuan dan Nyonya Iswara semakin terkejut. Bagaimana hal ini bisa sampai bocor dan diketahui oleh orang asing seperti Greyson Walker.


"Kalian tidak perlu tahu dari mana aku mendaptakan informasi itu, yang harus kalian pikirkan sekarang adalah tawaranku yang sangat menarik untuk masa depan kalian." Terselip seringai di bibir Tuan Greyson walau tipis.


Tuan Iswara masih belum bisa menangkap maksud dari Tuan Greyson. Namun, belum sempat ia bertanya Tuan Greyson sudah lebih dulu berbicara, "Aku bisa memberikan dana kepada kalian untuk memulihkan perusahaan keluarga Iswara hingga kembali kuat, bahkan kau juga bisa mengembalikan uang yang telah diberikan oleh Alexander agar lepas dari perjanjian itu."


"Apa sebenarnya yang Anda inginkan, Tuan Greyson?" sela Tuan Iswara, tak sabar ingin tahu apa tujuan sebenarnya dari ilmuwan ini.


"Kau memang cerdas Tuan Iswara. Aku akan memberikan uang dalam jumlah yang besar untuk kalian dan sebagai imbalannya, biarkan Ivona bersamaku."


Tuan dan Nyonya Iswara semakin tercengang.

__ADS_1


"Tenang saja, aku hanya ingin menjadikannya muridku. Aku melihat bakat yang besar pada putri kalian dan aku akan menjadikannya orang yang sangat hebat dengan menurunkan semua ilmu komputasi yang aku miliki," terang Tuan Greyson.


Tuan dan Nyonya Iswara memang sudah tidak dapat lagi menyembunyikan rasa kagetnya. mereka kembali saling tatap, dan bertanya melalui pandangan.


Kenapa semua orang menginginkan Ivona. Dulu Alexander. Tuan Muda itu bahkan memberikan suntikan dana untuk perusahaan mereka tanpa dihitung hutang dan meminta Ivona sebagai imbalannya. Sekarang, seorang Greyson Walker, ilmuwan komputasi yang hebat ini juga menginginkan Ivona, bahkan akan menjadikan Ivona sebagai murid yang akan mewarisi ilmu komputasi dari sang ahli.


Tuan dan Nyonya Iswara sekaan tak percaya jika putri yang dulu mereka anggap remeh karena tidak bisa bersosialisasi dengan baik dan memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, kini justru malah diperebutkan banyak orang. Padahal baru beberapa bulan lalu, saat acara kelulusan G-school, Ivona membuat mereka tak percaya jika putri mereka lah yang meraih nilai tertinggi. Sebelumnya Ivona juga membuat kaget dengan kemampuan bermain musiknya.


Dan hari ini mereka dibuat terkejut lagi dengan permintaan Tuan Greyson yang bersedia memberikan uang dalam jumlah yang fantastis asal mereka bisa memberikan Ivona pada ilmuwan komputasi itu.


"Aku beri kalian waktu untuk berpikir, tapi tidak lama. Kalian harus segera memberikan jawaban. Kuharap saat itu jawaban kalian adalah persetujuan karena itu akan membuatku lebih gampang bekerja." Setelah mengucapkan Itu Tuan Greyson pergi meningalkan Tuan dan Nyonya Iswara dalam kebimbangan.


___________________


Setelah membicarakannya dengan Marcus dan juga Dom—wakil direktur institut komputer nasional—Ivona memutuskan untuk berangkat ke negara Marcus.


Itu pun setelah ia membicarkannya dengan Alexander malam itu. Setelah dari institut pusat nasional kala itu, Ivona langsung menuju Vila Alexander.


"Apa kau merindukanku?" goda Alexander yang baru saja tiba dan melihat Ivona sudah ada di kamarnya saat ia baru pulang dari kantor.


"Kau sudah pulang?" Ivona yang tengah rebahan di sofa membaca buku langsung bangun.


Ivona tersentak dengan apa yang Alexander lakukan. "Ka-kau sedang apa?" Ivona bingung dengan Alexander yang mendadak tidur di pangkuannya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau merindukanku dan pulang kemari?"


"Hentikan pertanyaan konyol itu, sekarang bangunlah. Kenapa kau tidur di sini semetara di sana ada ranjang." Ivona menunjuk ranjang yang ada di belakangnya.


"Kau mau menemaniku di ranjang?" Alexander menaik turunkan alisnya.


Ivona langsung mendengkus kesal. Pria ini selalu saja bercanda. "Minggirlah!" Ivona mengangkat kepala Alexander dari atas pahanya.


"Biarkan saja seperti ini, aku sangat lelah." Alexander menahan tangan Ivona.


Melihat mata sayu Alexander membuat Ivona tak tega. Ia biarkan saja kekasihnya itu berbaring di pangkuannya.

__ADS_1


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku," ujar Alexander setelah beberapa saat terdiam.


Alexander, pria ini selalu saja tepat menebak isi hati Ivona. Karena Alexander sudah bertanya, Ivona tak ingin lagi membuang waktu.


Ivona pun bercerita tentang ia yang sudah bekerja dengan institut yang dipimpin oleh Marcus sejak ia masuk ke G-school, dan sekarang ada sebuah proyek baru yang mengharuskan Ivona datang ke negara pria itu.


"Aku akan pergi ke sana."


"Jadi kau meminta ijinku?" Alexander mendongak agar bisa menatap mata sang kekasih.


Ivona mengangguk.


"Kau manis sekali." Alexander mencubit pipi Ivona tapi tak beralih dari posisinya.


"Ish ... kau ini apa-apaan! sakit!" Ivona mencebik kesal tapi Alexander justru tertawa.


"Lakukan saja jika itu baik menurutmu, aku akan mendukung potensi yang ada dalam dirimu asal kau bisa menjaga satu hal untukku." Alexander berubah serius kali ini. Pria itu bahkan bangun dari pangkuan Ivona. Kaki yang sebelumnya berselonjor kini dilipat di atas sofa. Ia menatap Ivona begitu dalam.


Ivona sampai bingung dengan apa yang akan Alexander katakan. "Memangnya hal apa yang harus aku jaga untukmu?" tanya Ivona penasaran.


Nampak raut serius di wajah Alexander, tidak ada senyum seperti sebelumnya. Alexander benar-benar serius. "Jaga hatimu hanya untuk ku," ujar Alexander.


Sontak langsung mendapat pukulan dari Ivona.


Pria itu tertawa melihat bibir Ivona yang mencibir. Sangat lucu.


Alexander menangkap dua tangan Ivona yang terus memukulnya karena kesal. Seperti sebelumnya, mata pria tampan itu langsung menyihir Ivona, membuat Ivona terdiam seketika. Perlahan wajahnya mulai mendekat, dengan fokus bibir merah muda milik sang kekasih.


Saat akan menyatukan bibirnya, Ivona dengan cepat langsung menghindar. Hingga wajah Alexander jatuh ke leher gadis itu. Alexander tertawa melihat Ivona yang begitu protektif menghindarinya.


Ivona langsung mendorong tubuh Alexander dan beranjak keluar kamar. "Aku akan masuk lagi kalau kau sudah keluar dari kamar ini!"


Alexander hanya tersenyum menanggapi, sembari melihat Ivona keluar dari kamarnya. Senyumnya memudar ketika dering ponselnya memanggil, memberitahu ada panggilan masuk. Alexander beranjak dari sofa dan mengambil ponsel di saku jasnya.


"Halo," sapa Alexander.

__ADS_1


"Tuan, saya mendapatkan informasi baru tentang Tuan Iswara," ujar seseorang di ujung telepon.


"Apa?"


__ADS_2