
Ivona menatap satu per satu dari tiga orang yang berhadapan dengannya. Ia sedang mencerna situasi, apakah benar ia sudah keluar dari dunia novel, ataukah mungkin ia masih terkurung di sana.
Ah ... kini Ivona yang merasa sudah gila. Dua tokoh dalam kehidupan novel muncul di kehidupan nyatanya. Alexander yang sekarang berganti nama menjadi Aldrich. Kemudian Evan, si bocah kecil yang tak lain adalah adik dari Alexander mendadak muncul dan mengaku anak dari Aldrich.
"Apa yang kau lihat?" ketus Aldrich yang tak suka dengan cara pandang Ivona pada dirinya dan keluarganya.
"Apa kalian nyata?"
Pertanyaan Ivona langsung membuat tawa Ibunya Aldrich meledak. "Nak, apa kau masih tidur?" tanya wanita itu menggoda.
Evan pun ikut tertawa dengan pertanyaan neneknya. "Mom, ini bukan mimpi," ujarnya pada Ivona.
"Mom? Memang siapa ibunya, kenapa memanggilku begitu, menikah saja belum tiba-tiba dipanggil ibu!" gerutu Ivona dalam hati.
"Hei ... apa sekarang kau tidur?" timpal Aldrich.
Ivona menoleh pada Aldrich. Pria ini telah membuatnya jadi gila dengan mimpi dan anggota keluarganya.
Setelah menghentikan tawanya, ibu Aldrich itu bertanya, "Siapa namamu?"
Ivona beralih pada wanita yang tengah mengajaknya berbicara. "Ivona," jawabnya lugas.
"Aku adalah Helena Ryder, ibu dari Aldrich." Helena memberikan kecupan jauh untuk putranya itu, membuat Aldrich langsung menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Membuat Evan tertawa gemas melihat ayahnya yang selalu diperlakukan bak anak kecil oleh neneknya. Dan, membuat Ivona merasa aneh dengan kelakuan keluarga ini.
"Ha-halo, Nyonya Helena," sapa Ivona canggung.
"Ini adalah Evan Ryder, cucuku, dia adalah putra pertama Aldrich." Helena meraih Evan dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala bocah itu.
"Hai, Evan." Ivona melambaikan tangan pada bocah tampan itu. "Kalau dia putra pertama, lalu di mana putra kedua dan seterusnya?" tanya Ivona.
Helena tersenyum. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Maaf jika aku telah menyinggung Anda, aku hanya sekadar ingin tahu."
"Tentu saja kau tidak menyinggungku, karena anak kedua Aldrich dan seterusnya ada pada mu."
Kening Ivona berkerut dalam.
"Kau jangan bingung begitu, tentu saja anak kedua dan seterusnya belum ada, karena nanti kau yang akan melahirkan mereka."
Mata Ivona membuka sempurna, seolah bola matanya hampir keluar. "Maaf, Nyonya, saya tidak mengerti maksud Anda."
__ADS_1
"Ish ...." Helena membuang napas kasar. "Nanti kalau kau dan Aldrich menikah, kau yang akan melahirkan anak kedua dan ketiga Aldrich, atau mungkin anak kesebelasnya." Helena kembali tertawa.
"Tunggu, Nyonya. Kurasa Anda salah paham. Saya dan Tuan Aldrich tidak ada hubungan apa pun. Kami hanya sebatas rekan kerja."
"Tidak dia bohong!" potong Aldrich cepat. "Yang benar dia adalah bawahanku."
"Apa?" pekik Helena dan Ivona bersamaan.
Bahkan mengaku rekan kerja pun dilarang.
"Wah ... wah ... wah ... apakah sekarang kedekatan hubungan antara bawahan dan atasan seperti yang aku lihat tadi? Jelaskan Aldrich, apa kau berlaku seperti tadi pada semua bawahanmu, kau memeluk mereka mesra, begitu? Kalau benar, aku harus memberimu pelajaran lagi, agar kau tahu cara menghargai wanita!"
"Dan kau!" Helena menunjuk Ivona. "Apa kau juga bersikap seberani itu pada semua atasanmu, hah!"
"Tidak ... tidak, Anda salah paham lagi. Aku bukan wanita murahan yang akan melakukan hal gila dengan atasannya." Ivona tak terima.
"Kalau kau bukan wanita murahan, kenapa kau mau saat Aldrich memelukmu. Kulihat kau tak menolak!"
Ivona tercengang dengan tuduhan Helena. Ia menatap Aldrich marah. "Anda harus menjelaskan semua pada Ibu Anda, Tuan."
"Bu ... semua tidak seperti apa yang Ibu sangka. Aku akan jelaskan semuanya."
Helena justru melipat tangan di depan dadanya.
Anak itu langsung menurut. Ia berdiri dan akan keluar.
"Tunggu," panggil Helena. "Kau!" Helena menunjuk Ivona. "Jaga cucuku baik-baik."
Apa maksudnya ini, dia memerintahku!
"Kenapa masih diam di situ!" sentak Helena.
"Bawa Evan keluar, belikan saja dia es krim." Aldrich ikut-ikut memerintah.
Sekarang Ivona harus mengikuti kata Aldrich. Agar kesalahpahaman ini segera berakhir. Ivona bangkit dan mengajak Evan untuk keluar.
"Kau mau makan es krim?" tanya Ivona setelah keluar ruangan Aldrich.
"Hemm." Evan mengangguk girang.
Ivona mengajak Evan keluar ke sebuah kedai es krim tak jauh dari kantornya. Diikuti oleh seorang bodyguard yang memang bertugas menjaga bocah itu.
__ADS_1
Ivona terus menatap Evan yang sekarang tengah menekuri semangkok gelato dengan saus stroberi. Ivona mengingat adegan ini. Persis seperti adegan yang ia lakoni dalam novel, menunggui anak bernama Evan makan es krim. Wajah bocah ini benar-benar serupa dengan dengan Evan yang ada dalam novel.
Apa ini kebetulan. Tetapi, kenapa bisa sama persis?
"Open your mouth," suara Evan menarik Ivona dari lamunannya.
"Ha?"
"Open your mouth." Evan menyorongkan sesendok es krim untuk Ivona. "Ini sangat lezat, kau harus mencobanya." Sekali lagi Evan menyuruh Ivona membuka mulut, dengan memperagakan mulutnya sendiri yang membuka.
Setelah menatap beberapa saat, Ivona membuka mulut juga dan Evan langsung memasukkan sendok yang penuh dengan gelato itu ke dalam mulut Ivona. Rasa dingin langsung membuat kaget lidah dan gigi Ivona, tapi kemudian ia bisa menikmati manis dan segar dari gelato yang bercampur saus stroberi.
"Enak?" tanya Evan.
Ivona mengangguk.
"Lain kali, aku akan ajak Mom ke tempat es krim favoritku. Nenek sering mengajakku ke sana."
Ivona tersenyum tipis. Ia kembali melihat Evan yang khidmat dengan gelato dan sendoknya.
"Di mana ibumu?"
Evan berhenti menyendok dan menatap Ivona.
"Maksudku, kau tidak mungkin anakku, kan. Karena aku belum pernah menikah jadi aku tidak mungkin punya anak. Apa ibumu meninggal?"
Evan menggeleng.
"Lalu?"
"Untuk apa kau ingin tahu tentang ibunya Evan?"
Ivona menoleh pada suara pria yang mulai akrab di telinganya. Pria itu langsung duduk di sebelah Evan. "Habiskan es krimmu, nenek sudah menunggumu di mobil."
Melihat es krim yang masih banyak tidak mungkin Evan menghabiskannya dalam waktu singkat. "Boleh aku bawa pulang?"
Aldrich mengibaskan tangannya, menyuruh Evan pergi.
"Yeaaa," teriak bocah itu girang. Ia menyerahkan mangkok gelato itu pada bodyguardnya dan menghampiri Ivona. "Aku pulang dulu, Mom," pamit Evan. Bocah itu langsung mengecup pipi Ivona, kemudian berlari keluar.
Sekarang tinggal Ivona dan Aldrich berdua. Pria itu kembali menatap aneh pada Ivona, sama seperti saat Evan dan neneknya belum datang ke kantor tadi. Risih diperhatikan seperti itu oleh Aldrich, Ivona berniat pergi. Ia mulai bangkit dari bangku yang ia duduki.
__ADS_1
"Menikahlah denganku." Sebuah suara yang sukses membuat Ivona tak jadi melangkah, dan kembali menatap Aldrich yang masih terduduk.
"Aku ingin kita menikah," ujar Aldrich sekali lagi.