KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Lorong (3)


__ADS_3

“Pendekar, izinkan aku untuk ikut denganmu. Bawa aku keluar dari tempat ini, aku mohon!” pinta Nawang dengan melepaskan sandaran kepalanya dari bahu Lembah Manah.


“Ba—ba, baiklah kalau itu maumu, Nawang!”


Mereka berjalan di antara Pohon Mahoni Merah Kembar. Saat berdiri di depan pohon itu, tubuh mereka seperti terisap portal diantara kedua pohon besar tersebut.


Mereka berhasil keluar dari Lorong Alam Kapisan dan langsung memasuki lorong alam yang kedua.


Sementara itu di rumah Lembah Manah...


Sore itu rumah Purwandari terlihat sepi tanpa adanya Lembah Manah yang biasanya jika sore tiba, dia selalu memberi makan ternak lalu membantu memelihara tanaman cabai miliknya.


Purwandari termenung di teras rumahnya, pandangannya kosong menatap ke arah hutan di depan pelataran halaman rumahnya.


“Anak itu, kalau ada di sini, pekerjaanku jadi ringan, tapi baru sehari tanpa kehadirannya, aku merasa pekerjaanku terlalu berat!” lirih Purwandari.


Wanita tua itu sangat khawatir akan keadaan Lembah Manah, Purwandari jelas merasa sangat sedih jika putranya benar-benar tak kembali.


“Sebaiknya aku segera beres-beres, hari menjelang petang!” ucap Purwandari beranjak dari duduknya.


***


Setelah keluar dari Lorong Kapisan, Lembah Manah dan Nawang secara otomatis memasuki lorong alam yang kedua. Di lorong yang kedua ini, suasana berbeda dari lorong yang pertama.


Jika Lorong Kapisan seluruh alamnya berwarna merah, maka di lorong yang kedua ini seisinya berwarna hijau.


Mereka melangkahkan kaki tanpa rasa takut atau khawatir akan penunggu lorong yang kedua itu. Lembah Manah berjalan di sebelah kanan Nawang, sementara Ki Gendon masih mengekor di belakang mereka berdua sembari melayang.


“Lembah, apa kau tidak merasa aneh?” tanya Nawang yang tengah berjalan dengan memegangi tangan kiri Lembah Manah.


“Emm, aneh kenapa Nawang?” Lembah Manah malah balik bertanya kepada Nawang. “Anu Nawang, bisa lepaskan tanganku, hehehe!”


“Oh, maaf Lembah, sepertinya ada yang sedang mengawasi kita!” seru Nawang melepaskan tangan Lembah Manah, tetapi tubuhnya masih berdekatan.


Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di depan mereka.

__ADS_1


“Hahaha, siapa kalian berani masuk ke Alam Kapindo!” teriak bayangan hitam itu tanpa menampakkan wujudnya.


Ternyata lorong yang kedua itu bernama Lorong Kapindo. Nawang terlihat ketakutan, gadis itu semakin erat mencengkeram tangan kiri Lembah Manah.


“Ini teman saya, namanya Nawang. Dan saya Lembah Manah. Kami berdua hendak menumpang lewat di lorong ini!” sahut Lembah Manah menolehkan kepala ke sekelilingnya.


“Tak ada yang bisa selamat dariku, menyerahlah aku akan menghisap darahmu, hahaha!” teriak bayangan hitam itu mulai menampakkan wujudnya dari jauh dan berpindah dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya.


Sosok hitam itu berdiri pada salah satu dahan pohon yang besar. Kini terlihat jelas makhluk berwarna hijau lumut, dengan pakaian sobek-sobek. Wajahnya hitam dengan kulit seluruh tubuhnya keriput, seperti telah lama berendam di dalam air.


Matanya memancarkan sinar berwarna merah, memiliki rambut panjang dan ada empat gigi taring yang terlihat keluar dari mulutnya. Diketahui makhluk itu bernama Lampor.


“Aku Lampor, aku akan membunuh kalian, hahaha!” seru makhluk itu terbang ke arah mereka berdua.


“Emm, Nawang bersembunyilah di belakang pohon besar itu!” seru Lembah Manah seraya mendorong pelan tubuh Nawang.


Lembah Manah menghindari sergapan Lampor yang terbang ke arahnya. Pemuda itu berputar ke kanan dan mengambil kuda-kuda sembari mengepalkan tangan kanannya ke depan, bersiap menerima serangan Lampor.


Setelah serangan pertama tak mengenai tubuh mangsanya, Lampor mendaratkan tubuhnya dan berbalik badan menyerang Lembah Manah dengan satu pukulan.


Beberapa saat mereka bertarung saling jual-beli pukulan. Lembah Manah mengalirkan tenaga dalam yang berwarna biru pada kedua tangannya. Tak mau kalah, Lampor juga mengaliri tenaga dalam berwarna hijau di kedua tangannya.


Dengan menggunakan Ajian Tapak Harimau, Lembah Manah melesat ke arah Lampor mendaratkan satu pukulan pada bagian perut makhluk aneh itu.


Lampor tetap bertahan, makhluk itu kembali mengaliri tenaga dalam berwarna hijau pada kedua tangannya yang sempat lenyap menahan serangan Lembah Manah.


“Aku tak menyangka makhluk ini punya ilmu kanuragan yang hebat!” lirih Lembah Manah berbicara sendiri.


Kini berganti Lampor melesat dan mengarahkan pukulan ke bagian perut Lembah Manah. Makhluk aneh itu yakin serangannya tepat mengenai lawannya. Namun, dugaan Lampor salah, Lembah Manah berhasil menghindar dengan menggeser tubuhnya ke samping kiri.


Sembari menghindar, tubuh Lembah Manah berputar dan mengarahkan pukulan tepat mengenai wajah Lampor.


BRUK!


Lampor terjatuh memegangi pipi kanannya.

__ADS_1


“Kurang ajar!” seru Lampor sembari bangkit berdiri lagi.


Lembah Manah menoleh ke arah Ki Gendon, pemuda itu hendak meminta saran dari gurunya dengan isyarat menengadahkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, sembari mengangkat kedua pundaknya.


Ki Gendon mendekat dan berbisik kepada Lembah Manah, lalu menyarankan untuk menggunakan Gerbang Kehidupan.


“Aku tak menyangka makhluk ini kuat juga!” lirih Lembah Manah berbicara kepada Ki Gendon tanpa diketahui oleh Nawang.


Lampor mengarahkan pukulan meraih perut Lembah Manah, lagi-lagi pemuda itu menghindar berputar ke kanan. Sembari memperlebar jarak dengan Lampor, Lembah Manah mengaktifkan Gerbang Kehidupan.


“Gerbang kedua terbukalah!”


Lembah Manah mencoba menggunakan Tiga Gerbang Kehidupan, pemuda itu membuka gerbang kedua—Gerbang Kehidupan. Ajian yang memaksimalkan kekuatan kedua tangan dan kakinya. Kini seluruh tubuhnya diselimuti cahaya berwarna hitam.


Lembah Manah maju terlebih dahulu, melesat menghampiri Lampor yang telah siap menerima serangan. Pukulan Lembah Manah dua kali lebih cepat dari sebelumnya, pemuda itu menggunakan kedua tangannya untuk menyerang Lampor, bergantian kanan dan kiri.


Lampor terhuyung ke belakang, menahan pukulan Lembah Manah yang tak di duga lebih cepat dari sebelumnya.


BRUK!


Lampor terkena pukulan di perutnya dan lagi-lagi terhuyung ke belakang. Melihat Lampor lengah, Lembah Manah mempercepat pukulannya bergantian tangan kanan dan kiri.


Hingga satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, Lembah Manah mendaratkan tepat di dagu Lampor.


Darah muncrat keluar dari mulut Lampor, makhluk itu terlempar beberapa langkah ke belakang dan tubuhnya terhenti setelah menabrak pohon besar.


“Bunuh aku pendekar, aku mengaku kalah!” seru Lampor yang jatuh terlentang di bawah pohon besar itu.


“Tidak, aku tidak akan membunuhmu, sebelum kau memberitahu jalan keluar Lorong Kapindo ini!” jawab Lembah Manah melangkah mendekati Lampor.


“Carilah batu berwarna merah seperti mataku, lalu tekan batu itu. Kau akan menemukan jalan keluar setelah batu itu menjadi portal penghubung ke lorong alam yang ketiga!” ucap Lampor menjelaskan pada Lembah Manah.


“Emm, minumlah, Lampor. Ini adalah ramuan pemulihan tubuh. Kau akan kembali pulih setelah duduk bersila untuk beberapa waktu!” timpal Lembah Manah dengan memberikan ramuan pemulihan tubuh yang diambil dari saku bajunya bagian dalam.


Nawang tersenyum lega dan berjalan mendekati Lembah Manah, lalu berdiri di sampingnya. Gadis itu memastikan jika teman barunya itu baik-baik saja setelah pertarungan yang membuatnya sangat khawatir.

__ADS_1


Dipandanginya seluruh tubuh Lembah Manah, dari ujung rambut hingga ujung kaki, kalau-kalau ada yang terluka. Namun, Nawang tidak menemukan luka sedikit pun pada tubuh Lembah Manah.


__ADS_2