KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Tawanan


__ADS_3

Tak sampai di situ, ketika Durgabahu terlempar ke belakang, Lembah Manah menangkap pergelangan tangan kiri makhluk aneh itu.


KRAK


Satu pergelangan tangan dipatahkan oleh pemuda itu, hingga membuat Durgabahu meringis kesakitan.


“Ampun pendekar!” Kali ini Durgabahu sudah tak berdaya dan hanya duduk bersandar pada sebuah pohon besar.


“Masih mau melawan?” Lembah Manah berpura-pura mengangkat tangan kanannya.


“Tidak pendekar, saya memohon ampun!” pinta Durgabahu memelas. “Maafkan atas kelancanganku!”


Lembah Manah berdiri tepat di depan Durgabahu yang sudah tidak berdaya. Lalu pemuda itu duduk pada akar pohon yang menyembul keluar dari tanah karena saking besarnya pohon itu. Lembah Manah mencoba berbincang-bincang dengan makhluk itu.


Pada salah satu topik pembicaraan, Durgabahu mengaku telah menculik para warga yang memasuki Alas Mentaok itu. Menurut makhluk itu, warga desa yang datang ke hutan hanya akan merusak dan memburu habis hasil hutan yang menurut Durgabahu sangat berharga baginya.


“Itulah alasanku kenapa menangkap para warga desa!” Durgabahu mengakui perbuatannya.


“Lalu kau apakan warga desa itu?” desak Lembah Manah.


“Aku tahan di gua dekat sungai. Aku juga merawat mereka!” sahut Durgabahu  menundukkan kepalanya. “Meski aku hanya memberi makan seadanya, tetapi aku tak berani menyentuh mereka, karena dunia kita berbeda!”


“Maafkan aku!” Tiba-tiba Lembah Manah meminta maaf kepada Durgabahu yang membuat makhluk itu terkejut. “Kau menjaga hutan ini dari keserakahan manusia, tapi aku malah melumpuhkanmu!”


“Tidak apa-apa pendekar. Nantinya luka ini juga sembuh dengan sendirinya!” ucap Durgabahu meringis kesakitan.


“Baiklah! Aku akan membebaskan tawananmu!” Lembah Manah bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Durgabahu. “Selanjutnya, peringatkan saja jika ada warga desa yang sembrono memasuki hutan ini!”


Durgabahu menganggukkan kepalanya dan menatap Lembah Manah yang berlalu meninggalkannya.


Lembah Manah melanjutkan perjalanan untuk mencari para tawanan Durgabahu. Masih dengan semak belukar yang menutupi jalan untuk menuju sebuah gua di tepi sungai yang membelah Alas Mentaok.

__ADS_1


Sesekali pemuda itu menoleh ke belakang ke arah Durgabahu yang terbaring tak berdaya. Seolah-olah dia merasa bersalah, telah membuat makhluk itu sekarat, tetapi itulah pertarungan, ada yang kalah dan juga ada yang menang.


Cukup lama pemuda itu menyibakkan semak belukar yang menghalangi jalannya. Menyusuri pepohonan pakis yang tumbuh setinggi dua meteran itu.


Hingga tiba pada sebuah aliran sungai, Lembah Manah menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Tidak ada yang aneh dari bantaran sungai yang ditemuinya, hanya semak belukar yang tumbuh pada tebing seberang sungai itu.


“Dimana makhluk itu menyembunyikan para warga desa?” lirih Lembah Manah berkacak pinggang.


Namun, pandangan pemuda itu tertuju pada sebuah gua di bagian hulu sungai yang di depannya berserakan kulit buah-buahan. Kemungkinan kulit buah itu dibuang dari dalam gua yang berisi para tahanan Durgabahu.


Lembah Manah melesat dengan melompat pada batu besar tepi sungai dan langsung mendarat di depan gua. Di bagian depan sisi kiri gua itu ada pohon rambutan besar yang tengah berbuah, tak menunggu lama pemuda itu memetik beberapa tangkai buah rambutan.


“Anak muda tolong kami, tolong bebaskan kami!” Terdengar suara dari dalam gua yang tertutup batu besar pada bagian mulut gua itu.


Tampak seorang pria tua tengah mengintip dari sisi gua yang tidak tertutup oleh batu dan hanya menyisakan sedikit celah. Lembah Manah melempar beberapa tangkai buah rambutan yang baru saja dipetiknya ke dalam gua melalui celah sempit itu.


“Ini milikku!” seru pria tua yang menangkap buah rambutan itu.


“Milikku hoi!” sahut seorang pemuda merebut buah rambutan dari pria tua yang pertama menangkap buah itu.


“Pantas saja Durgabahu menangkap kalian!” ucap Lembah Manah yang membuat keributan di dalam gua terhenti. “Kalian terlalu tamak. Dalam posisi terpojok, emm, bukannya saling membantu, malah mementingkan perut sendiri!”


Perkataan Lembah Manah membuat para tahanan itu menundukkan kepalanya.


“Tenang saja, aku akan membebaskan kalian!” seru Lembah Manah yang disambut dengan senyuman para tawanan itu di dalam gua. “Tapi setelah aku membebaskan kalian, apakah kalian mau mengubah sikap kalian?”


“Aku berjanji pendekar, aku akan mengambil madu secukupnya saja. Dan menyisakan untuk regenerasi!” sahut seorang pemuda yang mengakui kesalahannya karena menguras habis madu di dalam Alas Mentaok.


“Aku juga berjanji tidak akan menebang kayu sembarangan. Dan akan melakukan reboisasi!” kilah seorang pria tua yang mengaku menebang pohon sembarangan.


“Aku tidak perlu janji dari manusia tamak seperti kalian!” seru Lembah Manah lagi-lagi membuat para tawanan Durgabahu terdiam. “Emm, tapi buktikanlah kalau kalian itu makhluk bermoral!”

__ADS_1


“Mundurlah ke belakang!”


Setelah berkata demikian, Lembah Manah menggunakan Gerbang Kegelapan untuk menyingkirkan batu besar di mulut gua tempat tawanan Durgabahu disekap.


Dengan mudah pemuda itu menggeser batu besar ke sisi kiri mulut gua. Tampak beberapa tawanan berlari keluar dari dalam gua dengan menunjukkan senyumannya.


“Terima kasih pendekar. Kami tidak bisa membalas kebaikan pendekar!” seru salah satu dari tawanan itu.


“Tidak perlu berterima kasih padaku. Balaslah kebaikanku dengan berbuat baik kepada sesama!” sahut Lembah Manah menjawab dengan acuh, karena setelah mendengar cerita dari Durgabahu, pemuda itu justru merasa bersalah kepada makhluk penjaga keseimbangan Alas Mentaok itu.


“Aku tidak bisa mengantar kalian pulang. Jadi temukanlah jalan keluar sendiri, tenang saja, Durgabahu tidak berani mengganggu kalian!” tutup Lembah Manah.


“Sekali lagi, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan pendekar!” sahut salah seorang pria tua tawanan Durgabahu.


Setelah semua tawanan keluar dari gua itu Lembah Manah hendak meninggalkan gua dan mencari jalan keluar dari Alas Mentaok.


Namun, belum sempat melangkahkan kakinya, Lembah Manah mendengar suara tangisan dari dalam gua yang sedikit menggema. Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempat itu dan mendekati sumber suara tangisan.


Dengan pandangan yang samar-samar karena cahaya tidak memasuki gua, Lembah Manah mendekati sosok yang tengah menangis itu.


Begitu terkejutnya Lembah Manah ketika mendapati seorang perempuan berusia sekitar tujuh belas tahun duduk dengan menyandarkan dagu pada lututnya yang dilipat.


“Nona muda, kenapa kau menangis. Emm, bukankah seharusnya kau senang telah terbebas dari Durgabahu?” selidik Lembah Manah pada gadis itu yang tampaknya menyembunyikan sesuatu.


“Percuma saja aku keluar dari tempat ini. Aku tidak tahu jalan keluar, aku juga takut!” kilah gadis itu sembari menghentikan tangisnya. “Pendekar, maukah kau mengantarku pulang ke Desa Kabangun?”


Lembah Manah mengerutkan keningnya, pemuda itu tidak tahu dimana desa itu berada. Lalu kembali bertanya pada gadis itu, “emm, maaf nona muda, saya tidak tahu dimana Desa Kabangun berada?”


“Desa itu masuk wilayah Kadipaten Kabaman!” sahut gadis itu menatap Lembah Manah. “Letaknya sebelah barat Alas Mentaok ini!”


“Oh, baiklah. Aku akan mengantarmu pulang nona muda!” ucap Lembah Manah melemparkan senyum. “Panggil saja Lembah Manah, emm, bolehkah saya tahu siapa nama nona muda ini?”

__ADS_1


“Namaku Puspa, Puspa Ayu!” Gadis itu tiba-tiba memeluk Lembah Manah.


“Ehh, lepaskan no—nona, eh, Puspa!” Lembah Manah berusaha melepaskan pelukan Puspa Ayu. “Untuk sementara, sebaiknya kita tinggal di gua ini terlebih dahulu karena hari mendekati petang!”


__ADS_2