KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Bergabung


__ADS_3

“Lembah menolak guru!” sahut Wanapati.


“Lagian guru mengeluarkan Lembah Manah!” timpal Jayadipa.


Namun, berbeda dengan Ni Luh, gadis itu tertawa kecil dengan memalingkan wajah ke arah yang lain karena kelakuan dua temannya itu.


Tak menunggu lama mereka memasuki halaman perguruan, melangkah pelan menerima sambutan Ki Tunggul yang juga berjalan ke arah mereka diikuti semua murid yang berdiri menatap mereka. Diciumnya punggung telapak tangan kanan Ki Tunggul, dimulai Wanapati dan Jayadipa.


Saat Ni Luh mencium tangan Ki Tunggul, Lembah Manah muncul dari balik pagar anyaman bambu dan langsung memasuki halaman perguruan. Ki Tunggul dan semua murid perguruan terkejut.


Namun, berbeda dengan Wanapati dan Jayadipa. Kedua pemuda usil itu tertawa melihat reaksi Ki Tunggul yang seakan tak percaya melihat kedatangan Lembah Manah.


“Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Benarkah itu kau Lembah?” ucap Ki Tunggul dengan mata berkaca-kaca.


Lembah Manah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu berlari memeluk Ki Tunggul. Dipeluknya erat guru yang selalu menyayanginya itu. Para murid yang lain pun saling bersalaman menyambut kepulangan mereka.


“Bagaimana bisa kau—!” ucap Ki Tunggul tak mampu melanjutkan perkataannya kepada Lembah Manah.


“Emm ceritanya panjang guru,” sahut Lembah Manah tersenyum.


Dilepasnya pelukan Ki Tunggul, Lembah Manah menyalami temannya satu per satu. Berbagai reaksi dari teman-temannya menjadi penyambut bergabungnya kembali Lembah Manah di perguruan.


Nata yang biasanya bersikap jahil kepada Lembah Manah, kini berubah menjadi lebih akrab dan bisa menerima Lembah Manah. Dipeluknya Nata sembari memejamkan mata, pertanda persahabatan mereka kembali bersemi setelah sekian lama mereka tak lagi berkumpul bersama.


Hingga semua murid selesai bersalaman, Ki Tunggul mengajak muridnya memasuki aula pembelajaran untuk melanjutkan materi yang akan dia berikan.


Namun, saat semua murid berjalan menuju aula, Lembah Manah berjalan ke arah dapur untuk mengambil sapu lidi yang telah lama ditinggalkannya. Ya, pemuda itu ingin kembali menyapu halaman seperti beberapa waktu yang lalu.


“Kau mau kemana Lembah?” tanya Ki Tunggul yang melihat Lembah Manah menjauh dari aula pembelajaran.


“Anu guru, saya mau menyapu halaman!” jawab pemuda itu.


Semua murid tertawa melihat tingkah Lembah Manah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Kami semua ingin mendengar ceritamu. Jadi ikutlah ke aula!” sahut Ki Tunggul.


“Emm, benarkah. Kalau begitu baik guru!” tutup Lembah Manah membuntuti Ki Tunggul menuju aula pembelajaran.


Lembah Manah memasuki aula pembelajaran paling belakang setelah semua memasukinya. Pemuda itu duduk paling belakang bersebelahan dengan Wanapati.


Tiap-tiap satu meja, ada dua kursi untuk tempat duduk bersebelahan. Hanya Ni Luh yang duduk sendiri di depan meja Ki Tunggul.


“Sebelumnya, selamat datang kembali Lembah Manah. Selamat juga karena kau bisa keluar dari Jurang Pengarip-arip!” ucap Ki Tunggul yang membuat semua murid tertawa.


“Wanapati, aku mendengar juara pertandingan berasal dari desa ini. Lalu siapakah dia?” tanya Ki Tunggul penasaran.


“Lembah guru, Lembah Manah yang memenangkan pertandingan di ibukota kerajaan!” jawab Wanapati tegas.


“Apa!”


Semua terkejut mendengar jawaban Wanapati, semua juga tahu jika Lembah Manah tak mempunyai ilmu kanuragan apa pun. Bagaimana bisa menjuarai pertandingan pendekar muda di kerajaan, kalau tidak memiliki ilmu kanuragan?


Jayadipa berdiri dari tempat duduknya, pemuda itu memanggil Tombak Kyai Pleret agar semua yakin jika itu adalah hadiah pertandingan yang diberikan kepadanya.


Ki Tunggul takjub melihat pusaka yang sangat langka, dan juga sulit untuk didapatkan. Seakan tak percaya, beliau menyentuh lalu memegang tombak pusaka itu. Diperhatikannya dari ujung hingga pangkal tombak sepanjang dua depa itu.


“Tapi bagaimana mungkin Lembah menjuarai pertandingan, sedangkan dia tak punya ilmu kanuragan?” seru Sesepuh Anggada.


“Awalnya kami bertiga juga kebingungan guru, tapi begitulah kenyataannya, Lembah melibas habis semua peserta pertandingan. Bahkan dia dapat kenalan baru, putri Raja Brahma,” sela Wanapati sembari tersenyum dan melihat ke arah Ni Luh.


“Apa!” jawab seisi aula bersamaan.


“Lembah bisakah kau ceritakan semuanya. Sedari kau terjatuh ke jurang hingga kau menjuarai pertandingan!” perintah Ki Tunggul kepada Lembah Manah.


Lembah Manah menceritakan semuanya pada Ki Tunggul dan murid yang lainnya dengan berdiri di depan aula. Pemuda itu masih saja menyembunyikan pertemuannya dengan Ki Gendon dan juga Naga Maruta.


Lembah Manah hanya bercerita jika dia bisa mengaktivasi ilmu kanuragan saat terjatuh ke dalam Jurang Pengarip-arip.

__ADS_1


“Aku merasa tulang belakangku patah, emm, tetapi seluruh tubuhku merasakan energi yang sangat besar dan merasa hangat!” seru Lembah Manah terpaksa berbohong dan didengarkan oleh seisi aula pembelajaran.


“Aku mencoba melepaskan tenaga dalam pada tangan kananku, tanpa sengaja tepat mengenai sebuah portal pintu keluar dari dasar jurang!” lanjut pemuda itu.


“Lalu, apa yang terjadi setelah kau memasuki portal itu?” tanya Ki Tunggul penasaran.


“Emm, tubuhku terisap ke dalam portal. Dan ketika keluar, aku berada di gapura batas desa. Lalu berangkat menuju kerajaan untuk mengikuti pertandingan!” tambahnya lagi dengan wajah serius.


“Jadi begitu ceritanya,” ucap Ki Tunggul menganggukkan kepalanya.


“Lembah, aku sengaja mengajakmu bergabung kembali karena beberapa tahun terakhir ini pamor perguruan tengah menurun!” lanjut Ki Tunggul sembari duduk di kursinya. “Dengan bergabungnya kau Lembah, semoga saja perguruan kita bisa melindungi kadipaten ini!”


Meski pamor Perguruan Jiwa Suci masih di bawah Perguruan Pedang Putih, tetapi Ki Tunggul yakin dengan bergabungnya Lembah Manah, kekuatan mereka akan bangkit kembali.


Ki Tunggul juga telah meminta maaf kepada Lembah Manah perihal pemuda itu dikeluarkan dari perguruan. Sementara Lembah Manah bisa menerima dengan lapang dada dan menganggap peristiwa yang lalu menjadi sebuah pelajaran bagi semuanya.


Lembah Manah menceritakan semua pertarungannya saat bertanding, tentang lawannya yang tangguh, tentang lawannya yang berbuat curang, hingga dia menjadi juara dan mengunci satu tempat untuk mengikuti Pertandingan Besar yang diadakan di Kerajaan Indra Pura beberapa bulan lagi.


“Aku benar-benar tak menyangka, Lembah. Kau telah mengaktivasi ilmu kanuraganmu!”


“Ini semua juga berkat ajaran guru,” sahut Lembah Manah membungkukkan badannya.


Hingga hari menjelang sore, Lembah manah kembali ke kamarnya. Pemuda itu mengeluarkan Batu Panca Warna dari saku bajunya bagian dalam. Dipandanginya batu yang mengkilap dengan lima warna itu, lalu diletakkannya di atas meja.


Lembah Manah duduk pada kursi di belakang meja dan mengarahkan tenaga dalamnya pada Batu Panca Warna itu. Lalu batu itu terserap melebur menjadi satu memasuki tangan Lembah Manah.


Awalnya, tidak ada reaksi pada tubuh Lembah Manah, tetapi beberapa saat kemudian, tubuhnya bergejolak.


Ada suara retakan pada tulang belakangnya, hingga membuatnya meringis kesakitan. Namun, rasa sakit itu hanya bertahan selama dua puluh detik saja, hingga tubuhnya lebih bertenaga dari sebelumnya.


“Hoi bocah gendeng!”


Terdengar suara dari relung kepala Lembah Manah yang membuatnya tertegun beberapa saat.

__ADS_1


“Sekarang kau memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir. Pergunakanlah dengan sebaik mungkin!”


Setelah suara itu menghilang, tubuh Lembah Manah jatuh terkulai di lantai kamarnya. Sepertinya pemuda itu pingsan, setelah menyerap Batu Panca Warna.


__ADS_2