
Lembah Manah dan Nata melompat keluar dari halaman istana. Mereka hendak menuju luar tembok pagar, agar tidak menimbulkan kerusakan lebih parah di sekitar istana.
Berbeda dengan para pendekar dari aliran putih yang bergerak mendekati pintu gerbang dan bertarung melawan bawahan Ki Badra yang tersisa.
Ki Jaladara, Puspa Ayu diikuti Kadaka, lalu Tiga Bunga Bersaudara dan juga Kelompok Tali Putih bersama Janabadra, hendak menuju halaman istana bagian kanan yang sepertinya mudah ditembus. Namun, pergerakan mereka tak semulus yang diharapkan, dua puluh bawahan Ki Badra menghadang pergerakan mereka.
Semula, mereka kewalahan menghadapi pendekar bawahan Ki Badra yang mempunyai ilmu kanuragan tingkat Madyo tahap akhir. Namun, semakin lama mereka berhasil menguasai keadaan dan berbalik unggul.
Dengan senjata tombak, mereka berhasil membunuh lawan tanpa ampun. Perguruan Tombak Putih memegang prinsip mereka, bahwa setiap kejahatan harus dimusnahkan.
Sekar dan Araka juga turut memojokkan pendekar bawahan Ki Badra. Sepertinya kerja sama mereka berdua semakin solid, membuktikan bahwa Perguruan Pedang Putih memiliki pendekar yang mumpuni.
Sedangkan Wulan, Ranti Lemini dan juga Lintang Sakethip, bergabung bersama Nastiti yang perlahan memojokkan pendekar bawahan Ki Badra. Tak jauh dari empat gadis itu, ada dua pemuda yang selalu berselisih paham.
Ya, Roko Wulung dan Sangga Buana menjadi momok yang mengerikan bagi pendekar bawahan Ki Badra. Meski selalu dibumbui dengan pertikaian kecil, tetapi duet mereka menjadi salah satu yang paling mengerikan.
Pada satu kesempatan, sebuah tombak meluncur deras ke arah Sangga Buana yang masih disibukkan dengan lima bawahan Ki Badra. Roko Wulung hendak menghalau tombak itu, tetapi jarak dengan Sangga Buana terpaut sepuluh langkah jauhnya.
“Menghindar, bodoh!” maki Roko Wulung mendapati Sangga Buana mendaratkan pukulan dengan tongkatnya pada salah satu lawannya.
Ketika waktu benar-benar sempit dan jarak tombak itu hanya tinggal satu depa saja, tiba-tiba sebuah energi berwarna hitam menghalau tombak itu dan berbelok arah mengenai prajurit yang lain. Beruntung Pukulan Natas Angin milik Roko Wulung berhasil menyelamatkan Sangga Buana.
“Aku tidak butuh bantuanmu, burik!” umpat Sangga Buana seraya mendaratkan tebasan tongkat pada satu musuh terakhirnya.
“Siapa yang mau menolong, aku hanya melawan prajurit itu!” balas Roko Wulung menunjuk salah satu prajurit terkena tombak yang telah dibelokkan Roko Wulung.
“Ahh! Kau ini, alasan! Dasar burik!” umpat Sangga Buana menghujat Roko Wulung.
“Siapa yang burik. Kau ini yang bodoh!” tutup Roko Wulung lalu melesat mendekati tembok pagar istana, diikuti Sangga Buana di belakangnya yang masih mengumpat tak jelas.
Roko Wulung tersenyum ketika mendapati Lembah Manah melumpuhkan beberapa bawahan Ki Badra. Dirinya semakin bersemangat dan hendak mengalahkan lebih banyak lagi lawan-lawannya.
__ADS_1
Di belakang pemuda itu, Sangga Buana memikul tongkatnya dengan tangan kanan. Beberapa saat kemudian, senyum mereka berubah ketika Tirta Banyu berdiri di depan pintu gerbang istana.
“Kau telah mempermalukan Indra Pura, pangeran!” geram Roko Wulung menatap Tirta Banyu.
“Kalian tidak menuruti perintahku, maka kalian harus mati!” balas Tirta Banyu menghunuskan pedangnya ke depan.
Roko Wulung memulai terlebih dahulu dengan satu pukulan meraih kepala Tirta Banyu, yang masih bisa dihindari oleh ayah dari Tatar Pakujiwo tersebut. Serangan kedua, Roko Wulung mengincar bagian bawah Tirta Banyu dengan tendangannya.
Namun, Tirta Banyu menghindar dengan melompat ke awang-awang. Tanpa disadari Tirta Banyu, Sangga Buana telah berada di belakangnya dengan melepaskan satu tebasan tongkatnya. Dalam posisi seperti ini, mau tak mau Tirta Banyu menangkis dengan pedangnya.
TENG
Tongkat milik Sangga Buana berhasil ditangkis oleh pedang Tirta Banyu. Keduanya pun mendarat di permukaan tanah sembari melakukan pertukaran jurus. Dua serangan beradu menimbulkan percikan api kecil yang keluar dari pedang dan tongkat.
Memang dalam segi olah kanuragan, Kusumawijaya kalah jauh dibandingkan dengan kakaknya sendiri. Tirta Banyu memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir, selangkah lagi dirinya menginjak pada level Bantolo.
Pada satu kesempatan, Sangga Buana mundur beberapa langkah untuk memperlebar jarak dengan Tirta Banyu. Saat itu juga, Roko Wulung melepaskan Pukulan Natas Angin tepat mengenai perut Tirta Banyu, hingga membuatnya terlempar dan menabrak tembok pagar istana.
Datang lagi satu tendangan dari Roko Wulung meraih perut Tirta Banyu, Roko wulung memang bukan tipe yang suka mengulur waktu dan hendak mengakhiri pertarungan.
Tirta Banyu terlempar ke samping, jatuh dengan kasar, berguling dan tubuhnya terhenti setelah menabrak puing reruntuhan tembok pagar istana. Pedang dalam genggamannya terlempar entah ke mana.
Dadanya terasa sesak untuk bernapas, perut terasa panas. Tirta Banyu kembali bangkit dan mengambil kuda-kuda.
“Sial! Beraninya keroyokan!” umpat Tirta Banyu memaki dua pemuda yang dia hadapi.
“Orang sepertimu memang pantas mendapatkannya!” Tiba-tiba Sangga Buana telah berada di samping Tirta Banyu mengayunkan tongkatnya secara horizontal.
BUGH
Satu tebasan mendarat pada wajah Tirta Banyu, membuat darah muncrat keluar dari dalam mulut pangeran Indra Pura itu. Belum juga menguasai tubuhnya, datang lagi satu serangan mendarat pada dagu Tirta Banyu, hingga membuatnya terlempar beberapa langkah ke belakang dan mendarat pada tumpukan mayat prajurit bawahannya sendiri.
__ADS_1
Habis sudah Tirta Banyu dihajar oleh cucu dari patihnya di kerajaan. Luka dari Sangga Buana diperparah oleh pukulan Roko Wulung.
“Hahaha, akhirnya aku bisa membuatnya mengeluarkan darah!” ucap Roko Wulung membusungkan dadanya.
“Hoi burik! Tongkatku ini yang membuat darahnya mengalir dari kepala!” ejek Sangga Buana menghunuskan tongkatnya.
“Dasar bodoh, pukulanku lebih dulu membuatnya mengeluarkan darah. Mau bertaruh! Ha!” Roko Wulung masih saja bersikukuh bahwa dirinyalah yang paling benar.
“Dasar Burik! Apa kau punya kepingan koin emas. Ahh, paling uangmu habis di kedai arak, hahaha!” tutup Sangga Buana memalingkan wajahnya ke arah Tirta Banyu yang mulai menguasai tubuhnya.
Mendengar hal itu, Roko Wulung kalah beradu argumen dan memilih untuk diam. Memang, pemuda itu selalu menghabiskan uangnya, hanya untuk membeli arak terbaik yang dia kumpulkan dari berbagai tempat yang disinggahi.
Kebiasaan itulah yang membuat Roko Wulung tak memiliki tabungan kepingan koin emas, meskipun telah mendapatkannya sebagai bayaran di kerajaan.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali beradu argumen, saling ejek, dan mencaci satu sama lain. Namun, itu tidak berlangsung lama, mengingat Tirta Banyu belum juga menyerah dan berdiri memasang kuda-kuda.
“Hoi bodoh, apa kau siap!” ucap Roko Wulung memperingatkan Sangga Buana.
“Aku siap kapan saja! Burik!” sahut Sangga Buana menghunuskan tongkatnya.
“Jika kita selamat, setelah perang ini aku akan menghajarmu. Dasar bodoh!” umpat Roko Wulung.
Perlahan Roko Wulung menarik tangan kanannya ke belakang, diikuti cahaya hitam pekat menyelimuti kepalan tangannya.
Pada saat yang bersamaan, tongkat milik Sangga Buana bercahaya putih, karena dialiri oleh tenaga dalamnya yang besar. Berbanding terbalik dengan milik Roko Wulung yang berwarna hitam.
Selang beberapa detik, keduanya bersamaan menyerang Tirta Banyu yang mulai kepayahan. Dua cahaya menari-nari dan melesat cepat tampak begitu indah, tetapi memiliki efek serangan yang mengerikan.
Ketika dua cahaya itu bergerak cepat, menciptakan cekungan memanjang pada permukaan tanah di bawahnya.
“Tunggu! Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik!” ucap Tirta Banyu memegangi kepalanya, mencoba untuk bernegosiasi dengan dua pemuda di depannya.
__ADS_1