KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Mengumpulkan Kekuatan


__ADS_3

Di istana Kerajaan Tanjung Pura, Cakara dan dua pendekar pedang lainnya—Samudro Aji dan Cayapata menduduki istana setelah Raja Kertanegara berhasil dikalahkan dan dibawa ke Sokapura.


“Hanya tinggal satu Kitab Pusaka yang masih berada di Perguruan Jiwa Suci!” seru Cakara di dalam satu ruangan yang digunakan sebagai tempat mereka melakukan pertemuan. “Pimpinan pasti mampu merebutnya. Dan kita akan menguasai Negeri Yava!”


“Tapi, aku sedikit khawatir dengan kemunculan bocah petarung tangan kosong yang menguasai Tiga Gerbang Kehidupan!” sahut Kagendra mengingat lagi pertarungannya dengan Lembah Manah ketika merebut Kitab Bunga di Perguruan Anggrek Hitam.


Meski hanya sekali melihat jurus milik Lembah Manah, tetapi Kagendra langsung paham jika jurus yang digunakan Lembah Manah adalah Tiga Gerbang Kehidupan.


“Hadyan tewas ditangan pemuda itu!” lanjut Kagendra.


“Apa!” Semua yang ada di tempat itu terkejut mendengar perkataan Kagendra.


Sesaat setelah mereka berdiskusi tentang Lembah Manah, Cakara mengajak para anggota Organisasi Lowo Abang untuk berkumpul di Istana Sokapura. Dengan ilmu perpindahan tubuh, mudah saja bagi mereka mencapai tempat tujuan dan hanya meninggalkan beberapa pendekar aliran hitam di Istana Kerajaan Tanjung Pura.


***


Di dalam penjara bawah tanah Kerajaan Sokapura, para petinggi kerajaan dijadikan satu dalam satu ruangan jeruji besi. Kedua kaki mereka dirantai, dengan tubuh penuh luka cambuk dari para bawahan Ki Badra.


“Yang Mulia!” seru salah satu prajurit mendatangi Raja Brahma.


“Kau—!” Perkataan Raja Brahma terhenti ketika salah satu prajurit itu meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri sebagai isyarat untuk tidak berbicara terlalu banyak.


“Para pendekar dari aliran putih akan datang saat hari eksekusi!” Prajurit itu berbicara pelan sembari mendekat dengan jeruji besi. “Meski hamba patuh pada Ki Badra, tetapi hamba setia kepada Anda, Yang Mulia Raja!”


Raja Brahma membelalakkan matanya, beliau berpikir kenapa para pendekar itu malah mendatangi kerajaan? Bukankah hanya akan mengantarkan nyawa saja?


“Terima kasih telah memedulikanku!” ucap Raja Brahma yang hanya dijawab dengan anggukan kepala dari prajurit itu dan berlalu meninggalkan penjara bawah tanah.


***


“Lembah Manah menghadap!” seru pemuda itu membungkukkan badannya ketika memasuki pintu gerbang Perguruan Pedang Putih diikuti Wulan di belakangnya.

__ADS_1


“Lembah Manah, Tuan Putri!” Araka dan Sekar yang tengah berjaga di dekat gubuk samping pintu gerbang mempersilakan Lembah Manah untuk masuk dan bertemu dengan pemimpin perguruan.


Terlihat Eyang Balakosa tengah berdiskusi bersama para tetua perguruan di sebuah paseban tak jauh dari pintu gerbang.


Setelah dipersilakan memasuki perguruan, Lembah Manah menyampaikan maksud kedatangannya. Ya, pemuda itu memberitahukan bahwa, para petinggi dari tiga kerajaan akan dieksekusi dalam sepuluh hari lagi.


Sontak, perkataan Lembah Manah membuat semua yang hadir dalam perkumpulan itu membelalakkan matanya. Ada yang hanya bergeming satu sama lain dan ada juga yang menggelengkan kepalanya.


Mereka tak menyangka jika kerajaan telah diambil alih oleh Ki Badra dalam waktu beberapa hari saja setelah Pertandingan Besar berlangsung.


Lembah Manah juga menyampaikan jika dirinya hendak meminta bantuan kepada pihak Perguruan Pedang Putih untuk bersama-sama menyerang istana kerajaan yang tengah dikuasai oleh Ki Badra.


“Aku tak mengira, Badra akan bertindak sejauh ini!” seru Eyang Balakosa mengelus jenggotnya. “Tapi, selama Kitab Tanah masih berada di genggaman Tunggul, Badra tak mungkin bisa menguasai tiga kerajaan ini!”


“Sekar, Araka!” lanjut Eyang Balakosa memanggil dua muridnya. “Kita akan merebut kembali kerajaan dari Badra!”


“Baik guru!” sahut Araka dan Sekar bersamaan.


***


Rupanya pihak Tombak Putih telah mengetahui jika Ki Badra berhasil merebut tiga kerajaan. Berita itu mereka dapatkan dari salah satu telik sandi Kelompok Tali Putih yang berpatroli di ujung barat Kadipaten Kabaman.


“Kadaka, Puspa Ayu dan kalian, Tiga Bunga Bersaudara. Tampaknya kita semakin dekat dengan peperangan!” seru Ki Jaladara memasang wajah penuh kekhawatiran. “Kita akan berjuang untuk kerajaan!”


Setelah berkata demikian, Ki Jaladara memasuki pondokannya dan mengambil sesuatu dari dalam lemari yang jarang dibuka olehnya. Peti itu berwarna hitam dan diletakkannya pada sebuah meja yang tidak terlalu besar.


“Ayah! Aku terpaksa menggunakan Tombak Putih ini demi kerajaan dan juga seluruh Negeri Yava!” Ki Jaladara mengambil sebuah tombak dari peti yang panjang itu.


Sudah lebih dari tiga puluh tahun dirinya tak menggunakan tombak pusaka peninggalan dari ayahnya, sekaligus pendiri perguruan.


Namun, kali ini, ayah dari Puspa Ayu itu hendak menggunakan kembali tombak sepanjang dua depa berwarna putih itu dalam peperangan yang mungkin saja terjadi beberapa hari lagi.

__ADS_1


***


Dalam perjalanan memasuki Kadipaten Kabaman, Lembah Manah dikejutkan dengan sekumpulan penjaga perbatasan. Tidak seperti biasanya, perbatasan kadipaten dijaga ketat oleh beberapa pendekar.


“Bukankah kau Lembah Manah!” seru salah satu pendekar penjaga perbatasan itu mendapati Lembah Manah hendak melintas.


Lalu pendekar itu menoleh ke arah Wulan dan membungkukkan badannya, “Tuan Putri!” Yang hanya dijawab dengan senyuman Wulan.


“Pihak Tombak Putih tengah menghimpun kekuatan bersama ketua kami!” sahut pendekar penjaga lainnya yang memakai ikat kepala berwarna putih memberitahu Lembah Manah dan Wulan. “Kami akan selalu berada di belakang Anda, Tuan Putri!”


Lembah Manah hanya menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Wulan, lalu berkata, “pihak Tombak Putih sudah tahu semua. Sebaiknya kita menuju Kadipaten Lembah Bunga!”


“Penjagaan di perbatasan juga diperketat untuk antisipasi pergerakan Ki Badra!” sahut penjaga yang lainnya.


Lembah Manah dan Wulan berlalu begitu saja meninggalkan perbatasan. Keduanya melesat cepat ke arah barat dengan memanfaatkan dahan pohon sebagai pijakan. Sesekali mereka berbaur dengan warga desa yang dilewatinya.


Bukan tanpa alasan Lembah Manah bergerak cepat. Mereka takut terlambat jika nanti eksekusi petinggi kerajaan telah berlangsung dan mereka terlambat sampai di istana kerajaan.


***


Di Kadipaten Lembah Bunga, berita jatuhnya kerajaan ke tangan Ki Badra juga telah menyebar ke seluruh penjuru. Empu Tulak selaku sesepuh dari perkumpulan pendekar di kadipaten itu mengumpulkan semua pendekar di kediamannya.


Terlihat kakek tua itu berdiri di depan rumahnya bersama sahabat lamanya—Kartala.


“Baru kali ini aku akan memberi kalian senjata secara cuma-cuma!” ucap Empu Tulak menggelengkan kepalanya. “Ini semua untuk satu tujuan. Kita rebut Sokapura!”


Sayekti dari Perguruan Ular Putih tampak tidak sabar untuk menyerang istana. Pria bersenjata pedang itu masih teringat ketika orang tuanya dibantai oleh salah satu bawahan Ki Badra yang bernama Lokadenta.


Pranayuda dan Pramasala juga turut bergabung dengan salah satu tetua mereka—Sayekti. Mereka berdua ingin menyelamatkan Raja Brahma yang menurut mereka sangat bijaksana dan memperhatikan setiap rakyatnya.


Darma Jaya bersama beberapa bawahannya juga sangat bersemangat untuk melakukan serangan balasan demi Kerajaan Sokapura dan Negeri Yava.

__ADS_1


Empu Tulak telah mempersiapkan berbagai macam senjata. Kali ini, kakek tua itu membuat penemuan baru yang sama sekali belum pernah dia buat—meriam peledak. Dengan ditarik kereta kuda, bukan menjadi masalah untuk mengangkut senjata itu menuju istana.


Semua pendekar dari Kadipaten Lembah Bunga berkumpul di depan rumah Empu Tulak. Mereka hendak bersiap menuju istana kerajaan untuk melakukan serangan balasan kepada Ki Badra dan juga menyelamatkan para petinggi kerajaan yang kemungkinan akan di eksekusi.


__ADS_2