
Terlambat! Ya, Tirta Banyu tak sempat menghindari dua serangan yang menjadi satu itu. Tubuh Tirta Banyu lenyap ditelah dua cahaya, hingga membuatnya terseret jauh dan menghantam sekumpulan prajurit bawahannya sendiri.
Tubuhnya mendarat pada sisi lain istana yang tidak menjadi medan perang. Tirta Banyu tewas dengan luka yang mengerikan, seluruh kulitnya seperti mengelupas, hingga kelihatan dagingnya saja.
“Jika tenaga dalammu sama denganku, tubuh Tirta Banyu pasti tak berbekas!” ejek Roko Wulung.
“Memangnya hanya kau saja yang punya tenaga dalam besar. Itu karena kontrol tenaga dalamku yang baik!” balas Sangga Buana, bersikukuh dirinya berperan paling besar dalam membunuh Tirta Banyu. “Jika tidak, seranganmu hanya mengenai angin!”
“Dasar bodoh! Jelas-jelas cahaya hitam yang lebih dominan, masih saja keras kepala!” maki Roko Wulung yang menurutnya Pukulan Natas Angin lebih baik dari jurus Sangga Buana
“Kamu yang burik! Itu karena cahaya putih mengontrol cahaya hitammu!” umpat Sangga Buana.
“Sudah-sudah! Apa pun itu, jurus kalian berdua sangat hebat!” Tiba-tiba Nastiti datang dari belakang, menengahi keributan dua pemuda itu, diikuti Wulan di belakangnya. “Kita harus segera membantu mereka!”
“Lalu, di mana Pangeran Kusumawijaya dan yang lain!” ucap Roko Wulung memperhatikan Nastiti hanya datang bersama Wulan.
“Mereka aman di bukit belakang istana!” sahut Wulan menunjuk bukit kecil di belakang istana.
Wulan dan Nastiti melesat terlebih dahulu ketika prajuritnya hampir terpukul mundur oleh bawahan Ki Badra yang tersisa. Ada sekitar dua puluh pendekar dengan berbagai macam senjata. Mudah saja Wulan dan Nastiti melumpuhkan kedua puluh pendekar bawahan Ki Badra tersebut.
Bahkan, mereka berdua membebaskan sebagian prajurit yang menyerah dan menjatuhkan senjatanya.
“Kenapa kau membebaskannya?” Nastiti mengerutkan keningnya mencoba memahami niat Wulan mengampuni lawannya. “Suatu saat mungkin mereka akan membalas dendam!”
“Tapi mungkin saja mereka akan membenahi hidupnya!” balas Wulan tersenyum, gadis itu mulai meniru Lembah Manah yang membebaskan lawan ketika telah menyerah.
***
Melihat ayahnya sendiri telah dikalahkan dan tewas, Tatar Pakujiwo semakin membabi-buta menyerang prajurit Sokapura. Di belakang pemuda itu, ada Panji Gobang yang selalu setia mendampingi.
__ADS_1
Tatar Pakujiwo hendak melesat ke arah Roko Wulung untuk melakukan perhitungan, tetapi gempuran prajurit Sokapura membuatnya semakin tenggelam dalam medan perang.
Meski tubuhnya berselimut tanah yang keras efek penggunaan jurusnya, tetapi malah membuat dirinya kesulitan untuk mendekati Roko Wulung.
“Kalian telah membunuh ayahku, kalian harus mati ditanganku!” geram Tatar Pakujiwo seraya mendaratkan pukulan pada prajurit Sokapura.
“Pangeran, lebih baik kita mundur. Ini tidak ada gunanya!” cegah Panji Gobang menahan tubuh Tatar Pakujiwo. “Kita rencanakan serangan berikutnya!”
Pada akhirnya, Tatar Pakujiwo dan Panji Gobang mundur dan menjauh dari medan perang. Dua pemuda itu berlindung dibalik benteng istana sebelah kanan.
***
Kanigara hendak melesat menyambut para prajurit Sokapura yang berpihak kepada Raja Brahma. Pria itu menyapukan pandangan dan mendapati Lembah Manah telah melumpuhkan anggota Lowo Abang yang tersisa.
“Apa kau mencariku!” ucap seorang pemuda yang memiliki mata aneh menghadang pergerakan Kanigara.
“Kau telah menghancurkan perguruan kami!” geram seorang gadis membawa pedang berbentuk seperti bulan sabit berdiri di belakang pemuda bermata putih itu. Mereka berdua adalah Sambara dan Lintang Sakethip.
Sambara melesat ke arah Kanigara dengan mendaratkan beberapa jurusnya. Kedua tangan pemuda itu diselimuti aura tenaga dalam berwarna putih. Namun, Kanigara hanya menangkis seraya bergerak mundur. Sambara melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Kanigara.
“Pedang Bulan Sabit!” Tiba-tiba Lintang Sakethip menebaskan pedangnya, diikuti cahaya putih melesat horizontal ke arah Kanigara.
“Jalmo Moro Jalmo Mati, Sato Moro Sato Mati!” teriak Kanigara menyambut serangan Lintang Sakethip, diikuti sekelebat cahaya hitam melesat cepat dari pedangnya.
DYAR
Terjadi ledakan akibat dua serangan beradu yang menimbulkan gelombang kejut bertekanan rendah, menerbangkan beberapa kerikil di sekitar pertarungan mereka. Kanigara masih berdiri memasang kuda-kuda, tetapi Lintang Sakethip mundur beberapa langkah akibat jurus lawannya.
Sambara melesat dan menghujani Kanigara dengan jurus tingkat tinggi yang dia miliki. Dari setiap pergerakannya, muncul kelebatan cahaya berwarna putih. Meski Sambara bertarung dengan tangan kosong, tetapi pemuda itu mampu memojokkan Kanigara yang bersenjata pedang.
__ADS_1
Jika Kanigara hendak menebas, Sambara menangkis pergelangan tangan Kanigara yang menggenggam pedang. Dan jika Sambara mendaratkan pukulan, Kanigara menghalau dengan bagian pedang yang tumpul, ataupun badan pedang yang lebar.
Sambara melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Kanigara. Kali ini Ranti Lemini yang melesat dengan mendaratkan beberapa tebasan pedang. Keduanya sangat mahir dalam menggunakan pedang, terlihat dari cara Kanigara menangkis serangan Ranti Lemini dengan gerakan yang pasti.
Tak hanya percikan api yang keluar dari dua pedang yang beradu, tetapi juga kelebatan cahaya menari-nari akibat singgungan dua ilmu kanuragan. Hitam milik Kanigara dan putih milik Ranti Lemini.
Pada satu kesempatan, Kanigara melihat celah pertahanan Lintang Sakethip yang lengah. Dengan cepat Kanigara menebaskan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam. Namun, satu jengkal sebelum mata pedang Kanigara mendarat pada perut Lintang Sakethip, Sambara menghalau pedang itu dengan Mata Kehidupan miliknya.
Sekelebat cahaya putih melesat cepat dan mengenai pedang Kanigara. Kanigara terhuyung ke belakang beberapa langkah, sedetik kemudian dirinya berhasil memasang kuda-kuda.
“Lintang! Berhati-hatilah!” ucap Sambara memperingatkan Lintang Sakethip.
Sambara melakukan gerakan aneh, pemuda itu berputar dua kali sembari melangkah ke belakang. Ketika berhenti, sekelebat cahaya berwarna putih keluar dari dua matanya melesat cepat ke arah Kanigara.
“Mata Kehidupan!” teriak pemuda itu.
Sambara telah sepenuhnya menguasai Mata Kehidupan miliknya. Setelah Kitab Bulan jatuh ke tangan Kanigara dan runtuhnya Perguruan Bulan Sabit, pemuda itu berlatih keras untuk mengasah kekuatan mata warisan dari pendahulunya tersebut.
Kanigara menangkis dengan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hitam dan menghancurkan serangan Sambara hingga tak berbekas. Kembali Sambara melepaskan serangannya beberapa kali, hingga Kanigara sedikit kewalahan dan bergerak mundur beberapa langkah.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Lintang Sakethip, gadis itu menebaskan pedangnya diikuti cahaya putih melesat cepat ke arah Kanigara.
Satu serangan mendarat pada perut Kanigara, ketika pria itu menangkis serangan Sambara. Luka yang pernah diberikan Lintang Sakethip kembali robek karena terkena Jurus Pedang Bulan Sabit.
Kanigara berdiri dengan pedang menopang tubuhnya, pria itu mencoba menghentikan pendarahan dengan tenaga dalamnya. Namun, Sambara tak membiarkan Kanigara bernapas lega, pemuda itu melesat cepat dan mendaratkan beberapa pukulan pada tubuh Kanigara.
Kanigara terhuyung mundur beberapa langkah, dan satu pukulan terakhir, Sambara daratkan pada dagu Kanigara, hingga pria berpedang itu terlempar ke belakang. Pedang terlepas dari genggaman Kanigara dan mulutnya mengeluarkan darah.
Ketika tubuh Kanigara melayang, Lintang Sakethip kembali melepaskan beberapa tebasan pedang ke arah Kanigara, diikuti cahaya putih berbentuk bulan sabit menghujani Kanigara, yang membuat tubuh Kanigara dipenuhi luka sayatan.
__ADS_1
Kanigara jatuh terseok dan tubuhnya terhenti setelah menghantam puing tembok pagar istana. Kanigara tewas dengan mata terbelalak.
“Orang sepertimu pantas mendapatkan yang lebih dari sekadar kematian!” umpat Sambara memandangi tubuh Kanigara.