KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Rambak Selah


__ADS_3

Bagaimana jika cahaya hitam itu tiba-tiba menyerang dirinya?


Ketika Rambak Selah masih diliputi banyak pertanyaan dalam benaknya, Patih Ragas memberi serangan mendadak dengan pedang terhunus ke depan. Namun, Rambak Selah menggunakan tubuh salah satu anak buahnya sebagai tameng.


Pedang menembus perut anak buah Rambak Selah yang merebut Wulan dari Wanapati, hingga membuat pria itu tak bisa berkata-kata. Jika bisa berbicara untuk terakhir kalinya, mungkin pria itu akan meminta maaf kepada Patih Ragas, tetapi sedetik kemudian Patih Ragas mencabut pedangnya dan membuat pria itu tewas.


“Kau memang pantas mendapatkannya!” lirih Patih Ragas memandangi tubuh pria bercadar itu.


Sementara itu di sudut lain, Lembah Manah muncul dari balik rimbunnya pepohonan. Pemuda itu memanfaatkan batang pohon sebagai alas pijakan dan melesat menyerang sosok pakaian hitam yang membawa panah bawahan Rambak Selah.


Lima lawan mudah dilumpuhkan dengan berbagai macam cedera patah tulang. Sedetik kemudian, pemuda itu kembali lenyap dari pandangan bawahan Rambak Selah, dengan gerakan cepat tanpa ada yang bisa melihat menggunakan mata biasa.


“Itu bukan manusia! Itu hantu!” seru salah satu bawahan Rambak Selah yang membawa panah. Namun, setelah berkata demikian sosok hitam itu terkena satu serangan Lembah Manah yang membuatnya meringis kesakitan.


Teriakan demi teriakan terdengar jelas oleh para bawahan Rambak Selah yang membuat mentalnya menjadi menciut.


Itu adalah poin keunggulan Lembah Manah, menjatuhkan mental lawan dengan luka yang dibuatnya. Lalu, menyerang lawan yang mentalnya menurun dengan serangan kejutan, hingga membuat lawannya cedera cukup parah.


“Kurang ajar!” geram salah satu bawahan Rambak Selah yang sepertinya mentalnya lebih kuat dari yang lainnya  “Bertarunglah secara jan—aahhkk!”


Perkataan bawahan Rambak Selah terhenti dan berubah menjadi jerit kesakitan setelah pergelangan tangan kanannya dipatahkan oleh Lembah Manah. Tanpa disadari oleh lawannya, pemuda itu datang dari sudut yang lain, dan menghilang ke arah sudut yang lainnya lagi.


“Tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian!” teriak Lembah Manah dari kehampaan tanpa menampakkan wujudnya yang membuat para bawahan Rambak Selah semakin ketakutan.


“Menyerahlah dan bertobat. Keluarga kalian menunggu di rumah!” sambung pemuda itu.


Namun, peringatan Lembah Manah tak diindahkan oleh para bawahan Rambak Selah. Sepuluh orang yang tersisa menarik busur panah dan melepaskan ke segala arah. Tentu anak panah itu melesat tak karuan dan hanya menyasar ke segala arah karena mereka ketakutan.

__ADS_1


Sungguh mental mereka sudah dijatuhkan oleh pemuda yang belum genap berusia dua puluh tahun.


“Rupanya kalian keras kepala juga!” Lagi-lagi terdengar teriakan tanpa menampakkan wujudnya.


Sementara itu, meski Rambak Selah telah melihat sekelebat bayangan hitam membawa pergi Wulan dan melumpuhkan para anggotanya, tetapi pria tua itu tak bisa berbuat apa-apa lagi selain melawan Patih Ragas.


“Aku peringatkan untuk yang terakhir kali!” geram Rambak Selah mengancam Patih Ragas. “Serahkan pedang pusaka itu!”


“Hahaha! Berani sekali kau mengancamku!” sahut Patih Ragas dengan tersenyum kecil. “Aku telah melihat banyak pertarungan, jadi jangan salahkan aku jika menolak perintahmu!”


Senyum Rambak Selah perlahan berubah menjadi wajah yang muram. Tangan kanan Rambak Selah mengarah ke depan memberi isyarat para bawahannya yang tersisa untuk menyerang Patih Ragas.


“Rebut Pedang Pethit Sawa itu!” teriak Rambak Selah diikuti para bawahannya yang tersisa melesat ke arah Patih Ragas.


Pertarungan tak terhindarkan, Patih Ragas mengayunkan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam untuk menyambut serangan para bawahan Rambak Selah. Beberapa nyawa melayang karena Pedang Pethit Sawa, beberapa lagi menyerang patih berbadan kekar itu seolah tak takut mati.


Atap penginapan hancur berhamburan akibat serangan yang meleset dari Patih Ragas. Namun, beberapa saat kemudian, patih itu berhasil mengirim lima bawahan Rambak Selah ke alam baka dengan luka sayatan yang mengerikan.


Satu tebasan pedang diikuti cahaya biru terang melesat cepat, membuat lima bawahan Rambak Selah meregang nyawa.


“Tenaga dalammu memang besar, patih!” seru Rambak Selah dari kejauhan. “Tapi apakah tubuhmu masih mampu bertahan setelah menghirup bom asap buatanku?”


“Hahaha! Itu bukan masalah bagiku!” sahut Patih Ragas sembari menebaskan pedangnya pada bawahan Rambak Selah.


“Sungguh keras kepala!” lirih Rambak Selah seraya mengeluarkan sebuah besi bulat dari saku bajunya bagian dalam.


Digenggamnya besi bulat berwarna hitam itu, lalu memanjang menjadi sebuah tongkat yang mengandung aura kegelapan. Pada setiap ujung tongkat itu, ada ukiran naga berwarna merah yang mungkin asal-usul dari tongkat itu.

__ADS_1


Rambak Selah melesat menghunjamkan tongkatnya secara vertikal dari atas ke bawah meraih Patih Ragas. Hampir saja Patih Ragas terkena tebasan pada bagian kepalanya, jika tidak menjadikan Pedang Pethit Sawa sebagai pertahanannya.


Meskipun begitu, tetap saja Patih Ragas terhuyung beberapa langkah ke belakang akibat tenaga dalam Rambak Selah yang juga sama besarnya.


Patih Ragas tampak terkejut melihat tongkat milik Rambak Selah. Dari yang dirasakannya, tongkat milik Rambak Selah itu adalah sebuah pusaka yang mungkin lebih kuat dari Pedang Pethit Sawa yang kini jadi miliknya.


Walaupun kesulitan, Patih Ragas telah beradaptasi dengan pedang baru miliknya. Setelah kasus Keraton Agung Sejagat, patih berbadan kekar itu terus melatih jurus berpedangnya menggunakan Pedang Pethit Sawa.


“Tongkat Naga Merah!” seru Rambak Selah menyunggingkan senyum sinis dan berdiri di belakang para bawahannya. “Aku telah mempersiapkannya untuk melawanmu, patih!”


“Hahaha, memangnya kenapa, jika tongkat itu lebih baik dari pedang ini!” sahut Patih Ragas masih dengan santainya. “Yang menentukan kemenangan adalah pemiliknya!”


“Pedang Pethit Sawa!”


Setelah berkata demikian, Patih Ragas melesat cepat menghabisi para bawahan Rambak Selah yang tersisa. Dan satu serangan terakhir, dia tujukan pada Rambak Selah yang masih berdiri di belakang para bawahannya yang telah jatuh berhamburan.


Rambak Selah terlempar beberapa langkah ke belakang dengan luka gores pada lengan kirinya. Meski telah menangkis serangan Patih Ragas dengan mengaliri tenaga dalam pada tongkatnya, tetapi serangan Patih Ragas memadukan tenaga dalam dan kecepatannya dalam satu tebasan pedang, yang membuat serangannya lebih mematikan.


“Kurang ajar!” geram Rambak Selah.


Setelah menggunakan jurus tingkat tinggi itu, Patih Ragas mengatur napasnya yang terengah-engah. Patih berbadan kekar itu sepertinya terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, hingga membuat dirinya kelelahan.


“Sekarang giliranku, patih!” ucap Rambak Selah mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.


Cahaya kemerahan menyelimuti tongkat itu, lalu dengan satu hujaman seperti menebas sesuatu di depannya, cahaya kemerahan itu melesat vertikal ke arah Patih Ragas.


Meski patih berbadan kekar itu telah menangkis dengan pedangnya, tetapi karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, dan masih beradaptasi dengan Pedang Pethit Sawa, Patih Ragas terkena satu serangan Rambak Selah.

__ADS_1


Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang, dan menciptakan cerukan panjang pada tanah tempatnya terjatuh dengan mulut mengeluarkan seteguk darah. Pakaiannya terkoyak pada bagian dada kiri, hingga membuat napasnya terasa sesak dan panas.


"Kurang ajar! Orang ini begitu kuat!" geram Patih Ragas.


__ADS_2