KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pertandingan Besar (2)


__ADS_3

Baik Nastiti maupun Wulan, mereka berdua bersiaga memasang kuda-kuda.


Beberapa saat telah berlalu, tetapi Nastiti dan Wulan tampak belum ingin melakukan pertarungan.


“Apa kalian mau begini terus!” seru Patih Sobo Lepen mengagetkan mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, Wulan maju terlebih dulu. Tuan putri itu mendaratkan pukulan yang mengarah wajah Nastiti. Dengan mudah Nastiti menghindar ke samping kanan dengan menghentakkan kakinya ke lantai arena.


Nastiti membalas pukulan Wulan, cucu Raja Perwita Agung itu hendak menyerang wajah Wulan. Namun, Wulan menangkis dengan tangan kanannya sembari memperlebar jarak dari Nastiti dan memasang kuda-kuda.


Jual beli serangan terjadi selama beberapa saat, saling adu pukulan dan tendangan.


Nastiti melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Wulan. Wulan memasang kuda-kuda dan mengambil kipas baja dari saku bajunya bagian dalam.


Dengan sekali kibasan, belasan pisau pipih melesat ke arah Nastiti. Namun, Nastiti masih mampu menangkis setelah beberapa saat yang lalu menarik pedangnya.


Setelah pisau pipih terlempar keluar arena, Nastiti menebaskan pedangnya yang mengandung tenaga dalam. Sekelebat bayangan putih melesat cepat ke arah Wulan. Dengan memutarkan tubuhnya, tuan putri itu berhasil menghindari serangan Nastiti.


Keduanya tampak berimbang dan saling pandang seraya memasang kuda-kuda. Kembali Wulan mengibaskan kipasnya dari kanan ke kiri yang diikuti belasan pisau pipih melesat ke arah Nastiti. Dengan permainan pedangnya, Nastiti menangkis semua pisau pipih Wulan.


Belum juga Nastiti selesai menangkis pisau terakhir, Wulan kembali melepaskan satu pisau pipih ke arah Nastiti.


SRET


Satu pisau pipih mengenai lengan kanan Nastiti, yang membuat gadis itu melepas pedang dari genggamannya dan meringis kesakitan. Perlahan Nastiti bertekuk lutut, seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan.


“Manjur juga racun milik Lembah Manah!” lirih Wulan sembari menolehkan kepalanya ke arah Lembah Manah dan disambut senyuman pemuda itu.


Dengan langkah pelan, Wulan mendekati Nastiti dan mengarahkan kipas bajanya yang dilipat pada leher cucu Raja Perwita Agung itu.


Selang beberapa detik, Wulan mengarahkan pandangannya menuju Patih Sobo Lepen seakan meminta untuk menentukan siapa pemenangnya.


“Pemenangnya Wulan dari Kerajaan Sokapura!” teriak Patih Sobo Lepen yang diikuti teriakan dan tepuk tangan dari penonton yang mungkin rakyat Kerajaan Sokapura.


Wulan melambaikan tangannya ke arah penonton dan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Nastiti dibawa petugas medis untuk mendapat perawatan.

__ADS_1


“Anda hebat tuan putri, serangan Anda semakin tak terduga, diikuti gerakan yang mengejutkan!” puji Lembah Manah kepada Wulan.


“Terima kasih Lembah, ini juga berkat dirimu!” sahut Wulan tersenyum.


“Pertarungan berikutnya, nomor enam melawan nomor tujuh!” teriak Patih Sobo Lepen dari tengah arena.


Dua peserta perempuan memasuki arena pertarungan, dengan bersenjatakan pedang. Dari sudut kiri perempuan kira-kira berusia dua puluh tahun dengan pakaian serba ungu. Pada punggungnya ada motif gambar bunga teratai.


Sedangkan dari sudut kanan, gadis berusia tujuh belas tahun berpakaian serba putih dengan gambar motif bulan sabit dipunggungnya.


“Aku Lintang Sakethip dari Perguruan Bulan Sabit!” seru gadis yang berpakaian serba putih dengan motif bulan sabit dipunggungnya itu, yang ternyata adalah teman Sambara.


“Perkenalkan, aku Ranti Lemini dari Perguruan Teratai Putih!” sahut gadis yang berpakaian serba ungu.


“Mulai!” teriak Patih Sobo Lepen diikuti tepuk tangan dari penonton.


Lintang Sakethip melesat cepat, tanpa basa-basi lagi gadis itu menyerang dengan gagang pedangnya yang berbentuk mirip bulan sabit tepat mengenai dada kiri Ranti Lemini.


Gadis berpakaian ungu itu langsung terlempar keluar arena dengan darah keluar dari mulutnya.


“Cepat sekali gadis itu!” teriak salah satu penonton.


“Pemenangnya Lintang Sakethip dari Perguruan Bulan Sabit!” teriak Patih Sobo Lepen yang diikuti sorakan dari para penonton.


Di sela-sela riuhnya penonton, para pemimpin perguruan yang duduk berdekatan, saling bercerita tentang perguruan mereka.


Ada juga yang berbincang tentang muridnya bisa menjuarai pertandingan dalam kerajaan, hingga berbicara mengenai Lima Kitab Pusaka yang sebagian telah jatuh ke tangan Ki Badra, meski direbut para utusannya.


“Hanya tinggal milik Jiwa Suci yang masih tersimpan rapi!” seru salah satu pemimpin perguruan yang berambut putih.


“Aku khawatir Pertandingan Besar ini hanya pengalihan saja. Takutnya Badra menyerang Tunggul dan perguruannya!” sahut Eyang Balakosa yang berbincang dengan pemimpin yang berambut putih itu.


Biasanya firasat ataupun pendapat Eyang Balakosa selalu benar. Beberapa saat yang lalu, Eyang Balakosa juga memberi informasi kepada Lembah Manah mengenai keberadaan Keraton Agung Sejagat.


Dan informasi itu benar, Keraton Agung Sejagat berbasis di Pulau Menjangan. Entah kebetulan atau hanya pendapatnya saja, yang pasti kakek tua itu sangat pandai membaca situasi.

__ADS_1


“Pertarungan berikutnya nomor empat, melawan nomor dua belas!” teriak Patih Sobo Lepen.


Giandra memasuki arena pertandingan dengan melempar sebuah senyum kepada Lembah Manah yang dibalas dengan anggukan kepala si kacung kampret.


Di sudut lain pemuda berpakaian merah memasuki arena pertandingan dengan meringankan tubuhnya.


“Giandra, Perguruan Bambu Wulung!” seru Giandra singkat.


“Huh anak itu. Seperti biasanya, dingin dan tak banyak bicara!” umpat Ki Pethuk Cemeng dari kursinya.


“Mirip gurunya semasa muda hahaha!” ejek Eyang Balakosa yang duduk di dekatnya.


Di atas arena, pemuda berpakaian merah itu membungkukkan badan ke arah Giandra, dan berkata, “aku Panji Gobang dari Perguruan Batu Merah!”


“Mulai!” teriak Patih Sobo Lepen.


Panji Gobang melesat ke arah Giandra yang tengah memasang kuda-kuda. Dengan satu pukulan yang telah dialiri tenaga dalam, Panji Gobang meraih wajah Giandra. Namun, Giandra hanya terdiam menerima serangan Panji Gobang.


BUGH


Satu pukulan mendarat pada wajah Giandra, tetapi pemuda berbadan besar itu tak bergerak dari tempatnya.


Dengan menggenggam tangan Panji Gobang, Giandra mengalirkan energi petir pada tubuhnya. Panji Gobang terlempar beberapa langkah ke belakang dan tak mampu melanjutkan pertarungan karena pingsan.


“Pemenangnya Giandra dari Perguruan Bambu Wulung!” seru Patih Sobo Lepen.


Pertarungan berikutnya mempertemukan nomor tiga belas—Lingga dari Perguruan Bintang Selatan melawan nomor lima belas—Puspo Baskoro dari Perguruan Teratai Putih. Lingga memenangkan pertandingan dengan satu jurus saja—Semburan Naga Air yang membuat Puspo Baskoro terlempar keluar arena.


Peserta nomor sebelas—Barani dari Perguruan Pedang Putih dengan kecepatan Pukulan Tangan Seribu andalannya, menang atas peserta nomor empat belas—Bergas Lukito dari Perguruan Anggrek Hitam.


Dan pertarungan terakhir, mempertemukan peserta nomor tiga sekaligus cucu dari Patih Ragani—Roko Wulung dengan pukulan anehnya menang atas Sambara dari Perguruan Bulan Sabit.


Meski Sambara telah menggunakan mata spesialnya, tetapi pemuda itu terlempar keluar arena setelah terkena satu pukulan telak milik Roko Wulung.


Putaran pertama menyisakan delapan peserta, yang langsung diundi oleh para juri dan segera melaksanakan putaran kedua.

__ADS_1


Pada putaran kedua, para peserta duduk di bangku tanpa nomor undian. Kali ini dipanggil nama secara acak oleh pihak pengadil.


“Lembah Manah melawan Pangeran Tatar Pakujiwo!” teriak Patih Sobo Lepen diikuti sorakan dan tepuk tangan penonton.


__ADS_2