
“Saya turut prihatin atas apa yang menimpa suami bibi!” seru Lembah Manah membungkukkan badannya. “Lalu, bagaimana dengan Berandal Suro Menggolo itu, Bi?”
“Sepertinya mereka masih berkeliaran di desa ini, nak Lembah!” sahut Ibu Rawi mengalihkan pandangannya ke arah rintik hujan yang menetes dari ujung atap rumahnya.
Namun, tiba-tiba seorang pria kira-kira berusia lima puluh tahun datang dengan pakaiannya yang basah karena diguyur air hujan mendekati Ibu Rawi dan berkata, “mereka kembali beraksi. Kali ini rumah Ki Darmo menjadi sasaran. Dan Mara diculik, kamu cepat sembunyi!”
Pria itu berlalu begitu saja dan berpindah ke rumah di samping Ibu Rawi untuk memberitahukan berita tersebut ke rumah-rumah yang lainnya.
Perkataan pria itu membuat Lembah Manah terkejut, pemuda itu berdiri dan hendak menyusul pria tua itu, tetapi dicegah oleh Ibu Rawi.
“Jangan nak Lembah, itu terlalu berbahaya. Mereka sangat kejam dan juga punya ilmu kanuragan yang tinggi!” cegah Ibu Rawi.
Namun, perkataan Ibu Rawi tak diindahkan oleh Lembah Manah, pemuda itu berlari mengejar pria tua itu dan berkata, “maaf Bibi, Lembah harus melihat kejadian ini. Terima kasih atas tumpangannya!”
***
Di tempat lain, Araka dan kedua temannya kembali ke Desa Tritis, mereka menjumpai Pak Daryoko dan para petinggi desa tengah berkumpul di rumah Ki Darmo, yang baru saja di sambangi Berandal Suro Menggolo.
Ki Darmo menceritakan apa yang baru saja menimpanya. Pria paruh baya itu juga bercerita kalau Berandal Suro Menggolo membawa Mara sebagai tawanan.
Saat itu juga Pak Daryoko meminta bantuan kepada Araka dan kedua temannya untuk mencari Mara dan tentu saja markas Berandal Suro Menggolo. Ki Darmo menunjukkan kemana berandal itu pergi, melewati samping rumahnya dan menuju pertengahan desa.
“Mereka berjalan ke tengah desa!” ucap Ki Darmo sembari memegang hidungnya yang bengkak.
Sesampainya di tengah desa, pria yang menyampaikan berita kepada Ibu Rawi berjalan bersama Lembah Manah dan hendak menuju kediaman Ki Darmo. Namun, mereka berdua malah berjumpa dengan rombongan Ki Darmo yang tengah mengejar Berandal Suro Menggolo.
“Siapa anak muda ini, Ki Kerto?” ucap Ki Daryoko ketika melihat Lembah Manah berjalan bersama Ki Kerto—pria tua yang menyampaikan berita kepada Ibu Rawi.
__ADS_1
“Ini Lembah Manah!” jawab Ki Kerto. “Nak Lembah ini mau membantu kita menangkap Berandal Suro Menggolo!”
“Kau—!” ucapan Araka terhenti, karena terkejut melihat Lembah Manah. “Bukankah kau yang waktu itu di Desa Buntu!”
“I-iya benar!” jawab Lembah Manah singkat.
“Cih! Pemuda berilmu kanuragan rendah, sok mau membantu!” seru Araka memandang rendah Lembah Manah, karena hanya merasakan ilmu kanuragan tingkat Andhap tahap awal pada tubuh Lembah Manah. Dan itu sengaja Lembah Manah lakukan dengan menekan aktivasi ilmu kanuragannya pada tingkat Andhap.
Selama ini Amara juga tak berani bercerita kepada Araka terkait Lembah Manah yang telah menyelamatkannya sewaktu ditahan oleh Kelompok Girisi. Karena gadis itu takut jika Araka malah mencari masalah dengan Lembah Manah dan berbuat di luar batas.
Mereka bergabung dan melanjutkan pengejaran. Tak lama berselang, Ki Darmo yang berjalan paling depan melihat ada beberapa biji jagung yang berceceran di tengah jalan. Ki Darmo teringat, itu adalah biji jagung milik putranya, Mara.
“Ini, i-ini biji jagung yang ditanam Mara!” seru Ki Darmo memunguti biji jagung itu. “Benar, ini biji jagung milik Mara!”
Mereka mengikuti petunjuk itu, biji jagung yang sengaja di tabur Mara di jalanan. Menyusuri pertengahan desa, hingga biji jagung itu habis di sekitar Lembah Kidang—tepat di bawah pohon lamtoro kembar.
"Aku tahu kalian akan datang menjemput anak ini, tapi kalian tidak akan tahu dimana aku berada, hahaha!” seru Gajira tanpa menampakkan wujudnya. "Aku meminta tebusan berapa pun itu dan letakkan tepat di tengah-tengah pohon lamtoro kembar ini!”
Ki Darmo yang sebelumnya meminjam beberapa keping koin emas dari Ki Daryoko bersiap untuk meletakkan bungkusan itu di tengah pohon lamtoro kembar, sesuai apa yang Gajira inginkan.
Araka dan kedua temannya bersiap untuk menyergap, jikalau para berandal itu menampakkan wujudnya. Berbeda dengan Lembah Manah yang masih berdiri dengan tenang di belakang rombongan itu.
"Keluarlah, aku sudah memenuhi apa yang kau inginkan dan kembalikan putraku!” seru Ki Darmo sembari meletakkan bungkusan yang berisi kepingan koin emas itu.
Namun, yang keluar dari portal gaib itu bukan Gajira dan Gemala, melainkan lima bawahan Berandal Suro Menggolo. Sementara Gajira, Gemala dan Mara masih berada di dalam portal alam gaib itu.
“Ketua, kita sudah mendapat tebusan. Apa yang harus kita lakukan?” seru salah satu bawahan Berandal Suro Menggolo itu.
__ADS_1
“Habisi mereka!” seru Gajira tanpa menampakkan wujudnya yang menyadari bahwa hujan mulai reda. Ya, jika tidak ada hujan, mereka berdua tidak bisa menggunakan jurus anehnya.
Tanpa berpikir panjang, Araka melesat ke arah bawahan Berandal Suro Menggolo. Bersama dua bawahannya, pemuda itu menyerang tiga bawahan sekaligus.
Tak mau kalah, Lembah Manah melesat menghadapi dua bawahan sekaligus.
Pertarungan tak terhindarkan antara dua kubu di depan pohon lamtoro kembar.
Dengan melancarkan satu pukulan tangan kanan, Araka melesat menyerang salah satu bawahan Gajira. Namun, bawahan itu menghindar dengan mudah yang membuat Araka mundur beberapa langkah.
Narendra dan Pataksi melesat ke arah lawannya masing-masing, mereka berdua hendak kembali mengambil bungkusan koin emas yang diletakkan Ki Darmo.
Narendra dan Pataksi serempak melancarkan pukulan meraih wajah kedua lawannya, gerakan keduanya tampak selaras hingga membuat lawannya kesulitan menghindar. Namun, kedua bawahan itu hanya menangkis serangan dua pemuda bawahan Araka.
Araka menarik pedang dari sarungnya yang diikat dipunggungnya, pemuda itu menebas dengan mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya. Namun, dengan mudah bawahan Gajira menangkis, juga menggunakan pedangnya sembari melompat ke belakang.
Rombongan warga desa memilih menjauh dari pertarungan itu, takut terkena jurus yang meleset, atau terkena dampak pertarungan.
Kali ini bawahan Gajira menebaskan pedangnya dari atas ke bawah mengarah pada tubuh Araka. Awalnya, pemuda itu dapat menangkis serangan itu. Namun, serangan bawahan Gajira kali ini berbeda, pria itu mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya.
Meski kesulitan, Araka mengembalikan serangan bawahan Gajira dengan menghentakkan pedangnya. Kini pedang Araka juga dialiri tenaga dalam, pemuda itu mencoba memanfaatkan momentum, berputar ke kanan sembari menebaskan pedangnya.
Satu tebasan mendarat pada perut bawahan Gajira dan membuatnya tewas seketika. Narendra dan Pataksi juga telah melumpuhkan lawan-lawannya. Lawan Narendra terkena tebasan pedang pada dadanya, sedangkan lawan Pataksi terkena tebasan pedang pada lehernya.
Sementara itu, mudah saja Lembah Manah mengalahkan dua bawahan Gajira dengan luka patah tulang, tanpa luka yang mengeluarkan darah.
“Kurang ajar!” teriak Gajira keluar dari portal alam gaib diikuti Gemala di belakangnya.
__ADS_1