
Kali ini Lembah Manah membuyarkan konsentrasi lawannya dengan berpindah tempat secara cepat. Pemuda itu memanfaatkan tanah sebagai alas pijakan, lalu bergerak melesat diantara atap bangunan perguruan dan juga pepohonan sekitar luar perguruan.
Taraka kebingungan menebak gerakan Lembah Manah, pada satu kesempatan pria berpedang itu mencoba peruntungan menebaskan pedangnya. Namun, serangan Jurus Lalang Hitam milik Taraka hanya mengenai pohon beringin, ataupun pagar perguruan.
“Apa hanya ini kemampuanmu!” seru Taraka menolehkan kepalanya dan bersiap menebaskan pedangnya.
Namun, belum juga Taraka menebaskan pedangnya, satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada wajahnya. Lagi-lagi Lembah Manah lenyap dari hadapan Taraka.
Selang lima detik kemudian, Lembah Manah melesat dari arah depan. Pemuda itu memanfaatkan atap bangunan aula pembelajaran yang hancur sebagai pijakan. Karena kecepatan gerakannya, yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam berpindah-pindah tempat.
Ya, tentu saja, Lembah Manah telah membuka gerbang kedua dengan aktivasi ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir, agar serangannya lebih maksimal. Dan benar saja, satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada wajah Taraka, kali ini menyerang bagian dagu.
Taraka terlempar beberapa langkah ke belakang, pedang terlempar dari genggamannya dan mulutnya menyemburkan darah. Taraka terhenti melayang ketika tubuhnya menghantam pagar luar perguruan.
Namun, beberapa saat sebelum Taraka pingsan, pria itu mengambil sebuah benda silinder dari saku bajunya bagian dalam. Benda dengan panjang sekitar satu jengkal itu lebih mirip tongkat yang pendek. Ya, kembang api seperti suar meluncur ke arah langit sebagai tanda memanggil bantuan.
“Apa itu!” seru Lembah Manah terkejut.
“Waspadalah! Sepertinya musuh memanggil bala bantuan!” seru Ki Tunggul.
Para murid yang lain berkumpul menjadi satu di dekat aula pembelajaran yang sedikit mengalami kerusakan. Sementara itu, Wanapati dan Jayadipa yang mulai pulih, bersiap di belakang Lembah Manah.
“Tamatlah kalian!” seru Nariya dengan memegangi perutnya, rupanya pria tangan kosong itu mengamati pertarungan rekannya. “Jika dia sudah turun tangan, kalian tak akan selamat, hahaha!”
Setelah Nariya berkata demikian, muncul sosok pria tua dengan pakaian menyerupai jubah berwarna hitam dengan gambar kelelawar berwarna merah pada punggung jubah itu. Pria tua itu melayang tepat di atas perguruan dengan ketinggian hampir tiga kali pohon kelapa.
Kedatangan pria tua itu membawa tekanan tenaga dalam yang sangat kuat, hingga membuat para murid perguruan sedikit membungkukkan badannya ketika merasakan tekanan tenaga dalam itu.
“Apa! Tidak mungkin ada pendekar dengan tingkat Bantolo berada di tempat ini!” seru Ki Tunggul merasakan tenaga dalam pria tua itu.
__ADS_1
“Hahaha! Apa kalian takut!” sahut Nariya tertawa bangga dengan datangnya bantuan mereka. “Dialah Eyang Rahpati, salah satu petinggi kami, hahaha!”
Pria tua itu adalah salah satu petinggi Organisasi Lowo Abang yang didirikan oleh Ki Badra. Eyang Rahpati memiliki ilmu kanuragan tingkat Bantolo. Tidak ada pendekar level itu di Negeri Yava, apalagi di Kadipaten Purwaraja ini.
Lalu, dari mana datangnya Eyang Rahpati?
Banyak pertanyaan muncul dari benak seluruh penghuni perguruan. Hanya dengan merasakan tenaga dalamnya saja, mereka kesulitan untuk berdiri tegak.
“Baiklah jika kalian tidak mau memberikan kitab pusaka itu, akan aku binasakan semuanya, hahaha!” seru Eyang Rahpati menggerakkan tangan kanannya ke bawah mengarah perguruan, seakan mencengkeram sesuatu. “Aku tak peduli lagi dengan kitab pusaka itu!”
“Apa! Jangan Eyang, aku mohon jangan lakukan itu!” teriak Nariya ketakutan melihat salah satu petingginya yang hendak mengeluarkan satu jurusnya.
Dari cengkeraman tangan Eyang Rahpati keluar bola energi berwarna hitam dan bergerak perlahan menuju area perguruan. Pria tua itu berniat menghabisi seluruh isi perguruan hanya dengan sekali serangan saja, tanpa memedulikan Taraka dan Nariya yang masih berada di tempat itu.
“Tak bisa dibiarkan!” seru Lembah Manah mengepalkan tangan kanannya. “Gerbang kedua terbukalah!”
“Guru! Segera bawa teman-teman menghindar sebisa mungkin!” ucap Lembah Manah mendongakkan kepalanya melihat bola energi itu semakin membesar. “Aku akan berusaha meredam serangan itu!”
“Jangan Lembah, itu terlalu berbahaya!” Ki Tunggul khawatir mencoba mencegah perbuatan Lembah Manah. “Dia berada pada level tinggi di jalur kependekaran!”
“Tidak ada waktu lagi, guru!” bentak Lembah Manah yang menandakan pemuda itu serius dengan tindakannya. “Aku sudah berjanji untuk melindungi orang-orang di sekitarku, jadi jangan halangi aku, guru!”
Ki Tunggul tak mampu lagi berkata-kata, dengan gerakan cepatnya, pemimpin perguruan itu mengevakuasi semua murid yang berada di sekitar aula pembelajaran yang sedikit roboh.
Terlihat Wanapati dan Jayadipa digendong oleh pemimpin perguruan itu, karena kondisinya yang belum stabil.
Nata yang telah menguasai tubuhnya, berinisiatif untuk menyerobot tubuh Ni Luh dan Mbok Pani untuk keluar dari area perguruan.
“Tidak, Lembah. Lepaskan aku, Nata!” pinta Ni Luh kepada Nata.
__ADS_1
“Ini terlalu berbahaya, Ni Luh!” sahut Nata menenangkan Ni Luh. “Jangan sia-siakan pengorbanan Lembah Manah, kita harus segera menghindar!”
Dengan menghentakkan kaki kanannya ke tanah, Lembah Manah melesat cepat berniat menghalau serangan Eyang Rahpati. Karena saking cepatnya gerakan pemuda itu, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam saja.
Mata semua penghuni perguruan terbelalak seakan tak percaya dengan tindakan Lembah Manah.
Di satu sisi mereka terkejut dengan kekuatan pemuda itu, tetapi di sisi lain, mereka khawatir jika Lembah Manah tak akan selamat dari serangan bola energi yang mengandung tenaga dalam sangat besar itu.
Setelah bola energi itu bergerak sepuluh meter ke bawah dari tangan Eyang Rahpati, Lembah Manah menangkis serangan itu dengan tangan kirinya bagian luar.
Berhasil! Bola energi itu berbelok arah dan menghantam area belakang perguruan, tepatnya kebun tanaman obat.
“Tanganku terasa panas!” lirih pemuda itu yang sempat melihat tangan kirinya. “Apa! Tidak mungkin tanganku terluka!”
Lembah Manah belum menyadari jika lengan kirinya terluka akibat menahan serangan bola energi milik Eyang Rahpati. Namun, pemuda itu masih melesat ke atas hendak menyerang salah satu petinggi Lowo Abang itu.
“Apa! Tidak mungkin seranganku dihalau oleh bocah ingusan seperti dirinya!” seru Eyang Rahpati terkejut ketika serangannya mampu dihalau Lembah Manah dan lebih lagi, bola energi itu mengandung energi angin yang diserapnya dari alam sekitar.
“Dari mana kekuatan itu berasal!” Eyang Rahpati masih saja tertegun akan kekuatan Lembah Manah. “Sepertinya aku hanya merasakan ilmu kanuragan tingkat Madyo, tapi kenapa tiba-tiba levelnya naik begitu cepat!”
Menyadari lawannya menaikkan tingkatan ilmu kanuragannya menjadi tingkat Inggil dan masih melesat ke arah dirinya, Eyang Rahpati hendak mengeluarkan kembali bola energi, tetapi kali ini dengan tangan kirinya.
Terlambat! Ya, Eyang Rahpati terlambat untuk mengeluarkan bola energi dari tangan kirinya.
KRAK
Terdengar suara pergelangan tangan kiri Eyang Rahpati yang patah akibat ulah Lembah Manah. Benar, pemuda itu mengincar tangan kiri lawannya yang hendak kembali menyerangnya.
“Kurang ajar! Bocah sialan!” teriak Eyang Rahpati meringis kesakitan.
__ADS_1