KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Eksekusi


__ADS_3

Sementara itu di dalam istana Kerajaan Indra Pura. Ada Kanigara, Sarira, Kagendra, Yugala dan juga para anggota Organisasi Lowo Abang, memenjarakan Raja Perwita Agung dan juga para petinggi kerajaan di dalam penjara bawah tanah.


Mereka memisahkan raja tertua itu dari para raja yang lainnya karena mereka tahu. Mungkin umur Raja Perwita Agung sudah tidak panjang lagi.


Setelah Pertandingan Besar, Indra Pura berhasil diambil alih oleh para bawahan Ki Badra. Rakyat menderita dengan ditetapkannya pajak yang tinggi. Hasil panen sebagian disetorkan kepada pihak kerajaan.


Para Adipati dan kepala desa yang patuh, akan semakin beringas dan menindas rakyat, dengan menerima upah dari pemerintah pusat. Sementara para adipati dan kepala desa yang menentang kebijakan Ki Badra, mereka dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah. Bahkan ada yang dihukum mati.


“Kita akan bergabung dengan pemimpin ke Sokapura!” ucap Sarira disela-sela pertemuannya dengan para anggota Ki Badra. “Dengan perpindahan tubuh, tak perlu waktu lama kita akan sampai dengan cepat!”


Setelah berkata demikian, perkumpulan itu menggunakan jurus perpindahan tubuh untuk berkumpul menjadi satu dengan pemimpinnya di Sokapura. Mereka meninggalkan beberapa pendekar aliran hitam untuk menduduki istana yang hancur sebagian.


***


Seminggu telah berlalu, akhirnya Lembah Manah dan Wulan sampai di Kadipaten Lembah Bunga. Pertama-tama terlebih dahulu mereka akan mengunjungi kediaman Empu Tulak. Lembah Manah tahu pasti, jika kakek empulah sebagai sesepuh para pendekar di kadipaten ini.


Sesampainya di kediaman Empu Tulak, mereka berdua mendapati rumah yang sepi. Tidak ada kakek empu yang biasanya berada di antara tungku-tungku pemanas, atau pun di teras kediamannya.


Ketika mereka hendak beranjak, tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang bocah yang kira-kira berusia sepuluh tahun. Bocah itu memberitahukan bahwa, para pendekar baru saja berangkat menuju Kadipaten Kotaraja dengan persenjataan yang lengkap.


“Aku tak menyangka, kakek empu sangat memedulikan Sokapura!” lirih Lembah Manah dan berlalu mengajak Wulan untuk segera menyusul rombongan pendekar dari Kadipaten Lembah Bunga.


***


Beberapa hari berlalu, hari ini adalah hari eksekusi para petinggi tiga kerajaan. Di halaman Istana Sokapura, telah berdiri panggung setinggi bahu orang dewasa dan bisa menampung seratus orang lebih.

__ADS_1


Di depan panggung itu, telah bersiap ratusan prajurit Sokapura yang memilih patuh kepada Ki Badra. Ada juga beberapa pendekar aliran hitam yang direkrut oleh Pangeran Tirta Banyu. Untuk saat ini, tidak ada yang melihat Raja Brahma ataupun para petinggi yang lainnya.


Ki Badra dan juga Tirta Banyu berdiri di panggung tersebut untuk membuktikan bahwa, siapa yang melawannya akan berakhir di tiang gantungan. Ya, eksekusi para petinggi tiga kerajaan dan para pengikut setianya adalah hukuman gantung.


Dua tiang sebesar badan orang dewasa berdiri kokoh dengan kayu melintang di bagian atas, untuk tali gantungan. Di belakang tiang gantung eksekusi, ada beberapa algojo yang memakai penutup muka seperti kain yang hanya terlihat kedua matanya saja.


“Raja Brahma!” teriak seorang pria tua menangis, berharap mendapat pertolongan dari pemimpin Kerajaan Sokapura itu. Namun, apa daya, Raja Brahma juga belum terlihat di halaman istana.


“Diam!” bentak salah satu prajurit menampar wajah pria tua itu. “Apa kau mau mati!”


“Tidak! Jangan bunuh aku!” sahut pria tua.


“Berhentilah merengek!” tutup prajurit itu.


Tak lama berselang, para petinggi Organisasi Lowo Abang berdiri di belakang Ki Badra. Tampak Rambak Selah telah pulih dari luka yang dia dapat dari Lembah Manah. Dengan menyerap berbagai ekstrak penempaan tubuh, pria tua itu lolos dari maut.


Di samping Rambak Selah, terlihat Eyang Rahpati mengelus tangan kirinya. Rupanya pria tua itu telah sembuh dari serangan Lembah Manah sewaktu berusaha merebut Kitab Tanah di Perguruan Jiwa Suci.


Bukan tanpa alasan Eyang Rahpati mampu memulihkan tangan kirinya dengan cepat. Tentu saja dengan bantuan dari Ki Badra dan juga banyak menyerap ekstrak penempaan tubuh.


Terlihat Lima Pendekar Pedang juga berdiri di atas panggung bagian paling belakang. Setelah pertemuan di Pulau Iblis, mereka menyatakan siap bergabung dengan Ki Badra. Tentu dengan alasan yang sangat menguntungkan bagi mereka berlima.


Dan yang terakhir, ada anggota Organisasi Lowo Abang yang telah berhasil merebut empat Kitab Pusaka berdiri di samping Lima Pendekar Pedang.


Meski mereka telah banyak kehilangan anggota, tetapi tetap saja mereka adalah pendekar yang patut diperhitungkan. Mengingat mereka memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba langit menjadi gelap, mendung datang diiringi angin yang berembus kencang. Hanya dengan memejamkan mata saja, Ki Badra tahu bahwa ada seorang pendekar yang datang, tetapi tak menampakkan wujudnya.


Para prajurit dan rakyat biasa yang berada di tempat itu membungkukkan badan karena merasakan tekanan tenaga dalam yang begitu kuat. Bagi para bawahan Ki Badra, mereka hanya tersenyum merasakan kedatangan seseorang itu.


“Dia sudah datang!” seru Ki Badra kepada Tirta Banyu yang berdiri di sampingnya. “Aku yakin, tidak ada yang bisa mengalahkannya di Negeri Yava ini!”


“Benarkah!” Tirta Banyu membelalakkan matanya. “Sebentar lagi impian kita akan tercapai, Ki!”


“Kau mendapat kehormatan untuk menyambut kedatangan Eyang Angkoro Murko dengan mengeksekusi adikmu sendiri, hahaha!” tutup Ki Badra tertawa keras.


Setelah berbisik kepada Cakara, Tirta Banyu maju beberapa langkah mendekati tiang gantung untuk eksekusi lalu berkata lirih, “sungguh malang nasibmu, Kusumawijaya!”


Cakara memanggil salah satu prajurit dan berbicara di telinga prajurit itu. Sang prajurit mengangguk pelan, pertanda tahu apa yang harus dia laksanakan.


Selang beberapa saat, prajurit yang diperintah Cakara datang membawa salah satu bawahan Raja Brahma. Dia adalah seorang pria yang memberi informasi kepada Raja Brahma mengenai kedatangan para pendekar aliran putih ketika eksekusi berlangsung.


Pria itu tertangkap oleh salah satu prajurit yang berjaga, ketika keluar dari penjara bawah tanah. Dengan tangan terikat ke belakang dan tubuh penuh luka lecutan cambuk, pria itu ditarik paksa oleh sang prajurit untuk menuju tiang gantung.


Salah satu algojo maju ke depan menyiapkan kursi setinggi pinggang orang dewasa dan memastikan tali yang mereka gunakan kuat untuk menahan beban seberat pria bawahan Raja Brahma itu.


“Jangan, jangan bunuh aku. Tolong, Yang Mulia!” Jerit ketakutan itu menggema di seluruh Istana Sokapura membuat rakyat di belakang prajurit bergidik ngeri. Ada yang menutup matanya, dan ada juga yang menutup mata dengan kedua telapak tangannya.


Sang algojo berdiri pada sebuah kursi di samping pria itu untuk mengalungkan tali eksekusi. Setelah pria itu berdiri di kursi dengan tali yang telah melingkar di lehernya, sang algojo turun dari kursinya dan menendang kursi pria bawahan Raja Brahma dengan kaki kanannya.


Semua yang di atas panggung tertawa terbahak-bahak melihat bawahan Raja Brahma menggeliat kesakitan merasakan akhir ajalnya. Mereka sangat menikmati eksekusi itu dan juga penderitaan pria bawahan Raja Brahma.

__ADS_1


Pada saat itu juga, rakyat Sokapura menjerit ketakutan menyaksikan eksekusi yang mungkin baru kali ini dilaksanakan di dalam kerajaannya. Seorang ibu menutup mata anaknya dengan tangan kanannya, karena melihat kengerian itu.


“Hahaha, siapa pun yang menentangku, akan berakhir seperti dirinya!” seru Ki Badra memperingatkan rakyat Sokapura dengan menunjuk jasad bawahan Raja Brahma yang matanya terbelalak dengan lidah keluar.


__ADS_2