
Semua tertawa atas tingkah konyol Lembah Manah dan Wanapati yang selalu menghangatkan suasana. Meski baru beberapa saat kembali berkumpul, tetapi keakraban mereka sudah seperti sahabat lama.
“Nak Wanapati, tinggallah di sini beberapa hari lagi bersama teman-teman kalian,” ucap Ki Demang memecah keheningan disela-sela acara makan.
“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih Ki Demang. Tapi sepertinya, saya dan teman-teman ingin segera pulang ke perguruan dan melapor pada guru kami,” jawab Wanapati berhenti mengunyah makanannya.
“Ohh, jadi begitu. Lalu, bagaimana dengan kalian, Kenanga, Kanthil dan Cempaka?” tanya Ki Demang kepada tiga murid Perguruan Tombak Putih itu.
“Kami juga ingin segera pulang ke perguruan kami Ki Demang. Karena sudah lama kami meninggalkan perguruan, kami takut guru kami akan marah” jawab Kenanga.
“Begitu ya. Baiklah jika kalian ingin pulang ke perguruan kalian, saya atas nama kepala desa mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua atas kesalahpahaman ini,” ujar Ki Demang.
“Tapi karena hari sudah mulai sore. Saya harap kalian tidak menolak permintaanku untuk menginap semalam lagi di kediamanku,” lanjut Ki Demang.
Semua mengangguk setuju atas tawaran yang diberikan Ki Demang. Namun tidak untuk Nawang, gadis itu hanya tersenyum dan mendekatkan tubuhnya pada Lembah Manah, tanpa memperhatikan perbincangan Ki Demang.
“Hei, bukankah kau Nawang cucu dari Nyi Ampel?” tanya Ki Demang mengingat-ingat wajah Nawang.
“Iya benar Ki Demang, saya Nawang cucu dari Nyi Ampel yang tinggal tak jauh dari pasar desa!” jawab Nawang.
“Apakah kalian berdua ini sepasang kekasih. Kok duduknya berdekatan dan sepertinya kalian cocok?” tanya Ki Demang pada Nawang yang melihat gadis itu mendekatkan duduknya pada Lembah Manah.
Nawang tak bisa menjawab, gadis itu hanya tersenyum dengan muka yang sedikit memerah karena malu atas pertanyaan Ki Demang. Sedangkan Lembah Manah kaget hingga batuk karena mulutnya penuh dengan makanan.
Sementara Ni Luh mukanya merah padam memeras ujung bajunya sendiri menahan marah karena sebenarnya dia yang seharusnya duduk di samping Lembah Manah.
“Hoi Wanapati, tahukah kau, sebentar lagi akan ada yang marah,” seru Jayadipa menanggapi pertanyaan Ki Demang.
“Benarkah, oh aku takut!” sahut Wanapati dengan wajah menggoda Ni Luh.
“Ih, kalian berdua sama saja,” geram Ni Luh memukul pelan pundak Jayadipa dan Wanapati yang duduk di samping kanan dan kirinya.
__ADS_1
Semua tertawa mendengar gurauan yang dibuat Wanapati dan Jayadipa. Tak kecuali Dian yang kini mulai menampakkan senyum manisnya, meski masih diselimuti rasa bersalah.
***
Pagi telah tiba, matahari mulai menampakkan dirinya dari timur sesekali terhalang oleh rimbunnya pepohonan di depan kediaman Ki Demang. Lembah Manah beserta rombongan hendak pamit untuk pulang ke desa.
Namun, berbeda dengan Nawang, setelah peristiwa penculikan Andini, gadis itu diangkat sebagai pengawal pribadi Andini. Dengan kesepakatan, Nawang boleh mengunjungi neneknya setiap saat tanpa mengabaikan perintah untuk menjaga sekaligus melatih Andini sedikit ilmu kanuragan.
Dian Lasmini—adik dari istri Ki Demang kembali ke desanya, Desa Kedhung Kayang, dengan diantar oleh beberapa abdi dalem. Sementara tiga murid Perguruan Tombak Putih—Kenanga, Kanthil dan Cempaka memilih untuk kembali ke perguruannya dan meminta maaf kepada sang guru.
“Kami mohon pamit Ki Demang,” ucap Wanapati kepada Ki Demang.
“Hati-hati di jalan, terima kasih atas bantuan kalian. Rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian,” sahut Ki Demang.
“Hati-hati kak Lembah, kak Wanapati, kak Jayadipa dan kak Ni Luh yang cantik,” seru Andini melambaikan tangan.
“Wah, kalau Ni Luh diberi sebutan ‘kakak cantik’!” gerutu Wanapati yang disambut dengan tawa oleh semua yang berdiri di depan kediaman Ki Demang.
“Hati-hati Lembah!” ucap Nawang dengan menggenggam tangan kanan Lembah Manah seakan enggan untuk berpisah.
“Ehem, ehem, sebentar lagi akan ada perang lagi, Jayadipa. Kau tahu itu,” ledek Wanapati melihat reaksi Ni Luh yang wajahnya merah padam menahan marah dengan memeras ujung bajunya sendiri.
“Ohh, aku takut Wanapati,” sahut Jayadipa sembari berlari memutari Ni Luh.
“Ih, kalian ini!” geram Ni Luh yang mencoba mengejar Wanapati dan Jayadipa.
Lagi-lagi mereka dibuat tertawa oleh gurauan Wanapati dan Jayadipa sebelum berpisah di depan pintu gerbang kediaman Ki Demang.
Lambaian tangan Andini mengiringi perpisahan mereka. Lembah Manah dan rombongan berjalan ke timur menuju Desa Kedhung Wuni, sedangkan rombongan Kenanga berjalan ke barat, untuk pulang ke perguruan mereka.
Perlahan, Lembah Manah dan rombongan menjauh dari kediaman Ki Demang, melewati jalan bebatuan dengan kanan kirinya pohon besar yang membuat suasana menjadi asri.
__ADS_1
Sesekali mereka bertemu dan saling sapa dengan penduduk setempat yang hendak menjalankan aktivitasnya. Entah pergi ke ladang, pergi ke sawah, ataupun menuju pasar desa yang selalu ramai setiap paginya.
Jalan berbatu mulai menyempit yang menandakan sebentar lagi mereka sampai di area persawahan dan ladang penduduk. Tak sedikit warga yang beraktivitas di ladang mereka. Jagung, ketela, hingga sayuran menjadi hasil utama dari Desa Lapan Aji yang kemudian disisihkan untuk dijual ke Desa Kedhung Kayang, seperti perjanjian Ki Demang dengan Ki Bondan.
“Jayadipa, apa yang kau harapkan dari perguruan kita?” tanya Wanapati pada Jayadipa memecah keheningan.
“Apa maksudmu, Wanapati. Kenapa bertanya seperti itu?” balas Jayadipa berbalik bertanya kepada Wanapati.
“Yang pasti kita harus menyebarkan kebaikan di seluruh negeri ini. Tidak ada permusuhan, hanya ada kedamaian dan saling mengerti satu sama lain serta melindungi yang lemah,” sahut Ni Luh menyela pembicaraan kedua temannya.
“Kau benar Ni Luh. Bukan hanya mencari nama atau ketenaran. Perguruan Jiwa Suci berjalan pada ajaran kebaikan seperti yang selalu guru Gendon ajarkan,” imbuh Wanapati.
Jayadipa dan Ni Luh berjalan di belakang, sementara Lembah Manah menjauh dan sibuk mengejar Wanapati. Sembari menikmati pemandangan hamparan sawah, Jayadipa berbincang dengan Ni Luh.
“Ni Luh, bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucap Jayadipa sedikit serius.
“Apa itu Jayadipa?” sahut Ni Luh mengerutkan keningnya. “Kau ingin bertanya apa?”
“Bagaimana perasaanmu dengan Lembah Manah?” selidik Jayadipa kepada Ni Luh.
Sontak pertanyaan Jayadipa membuat Ni Luh kaget untuk sesaat dan wajahnya memerah, lalu menghentikan langkahnya.
“Aku tahu, sedari kecil kalian berdua selalu bersama. Bahkan saat Lembah terjatuh di Jurang Pengarip-Arip, sekarat di pertandingan, hingga pura-pura terkena racun Ki Jalmo, kaulah yang sangat mengkhawatirkannya. Sampai-sampai kau selalu mendatangi jurang itu, meski tanpa sepengetahuan orang lain. Tapi aku selalu memperhatikanmu Ni Luh?” lanjut Jayadipa.
“Meski Lembah telah dikeluarkan dari perguruan, bukankah kau sering datang ke rumah bocah konyol itu?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu Jayadipa?” balas Ni Luh mukanya memerah. “Memang sejak lama aku menyukai Lembah. Tapi apakah harus perempuan yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu?”
“Aku tahu kalau si konyol itu kurang peka dengan perempuan. Tapi menurutku dia juga belum memikirkan tentang menjalin hubungan dengan perempuan!” sahut Jayadipa tersenyum. “Tenang saja Ni Luh, aku akan membantumu!”
“Benarkah Jayadipa, terima kasih!” tutup Ni Luh dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Hoi, kalian berdua terlalu lambat. Ayo, aku sudah tak sabar ingin pulang!” teriak Wanapati.