KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Sisi Kelam


__ADS_3

Benar-benar kerajaan itu sudah rusak, begitu juga moralnya. Di desanya saja, Lembah Manah bahkan tak kekurangan makanan. Selalu ada ubi atau buah-buahan yang dimakan setiap harinya.


Namun di dalam Kerajaan Indra Pura, jika seseorang tidak memiliki koin emas, makanan menjadi hal yang sangat mahal. Inilah salah satu kenyataan, sisi kelam kerajaan tetangga yang tidak diketahui banyak orang.


Anak-anak itu adalah anak yang diasuh oleh ibu berambut panjang. Kebanyakan dari mereka yatim piatu, ataupun lahir dari seorang ibu yang sengaja mencampakkan dan membuang mereka. Lalu, siapa yang salah? Lembah Manah tak tahu tentang itu.


Dan mungkin juga, para petinggi kerajaan saling berebut kekuasaan. Menurut kabar yang beredar, putra mahkota juga saling berebut takhta.


Yang di atas memikirkan kekuasaan, sedangkan yang di bawah, untuk makan saja kesulitan.


Segera pemuda itu menuju pedagang terdekat untuk membeli beberapa makanan, buah dan juga sekarung beras. Kedua tangannya membawa bungkusan besar, berharap anak-anak kecil itu menyukainya.


“Kakak membawa makanan!” seru Lembah Manah sesaat memasuki rumah reot milik ibu berambut panjang.


Anak-anak itu terlihat senang dengan kedatangan Lembah Manah. Mereka bisa makan hari ini, hingga beberapa hari ke depan.


Di sisi lain, mata ibu berambut panjang berkaca-kaca, air matanya turun membasahi pipinya yang mulai keriput. Sungguh tak menyangka ada seorang pemuda yang bukan berasal dari tempat ini, dengan sukarela membantunya.


Tanpa terasa hari menjelang malam, Lembah Manah memutuskan untuk bermalam di rumah reot ini. Pikirannya masih dirundung perasaan kalut melihat anak-anak ini tertidur saling berpelukan tanpa selimut. Pemuda itu masih belum bisa berpikir tentang Pertandingan Besar.


Lembah Manah membuat perapian kecil, untuk sekadar menghangatkan tubuh anak-anak itu. Meski rumah itu tidak terlalu besar, tetapi masih bisa untuk menampung beberapa orang di dalamnya.


“Anak muda, rumah ini terlalu kecil, tapi aku bisa mempersiapkan kamar untukmu di bilik sebelah!” seru ibu itu beranjak dari duduknya.


“Terima kasih bibi, panggil saja saya Lembah Manah!” sahut pemuda itu.


Lembah Manah tak mencicipi sedikit pun makanan yang dibawanya. Melihat anak-anak itu bisa makan saja, dia sudah merasa kenyang. Dan sekarang yang tersisa hanya, beras, jagung dan beberapa ubi-ubian.


Sembari mengorek bara perapian, Lembah Manah berbincang dengan ibu itu dan bertanya mengenai Indra Pura.


“Kenapa masih ada anak-anak terlantar di tengah bergelimangnya harta para pejabat istana, bibi?”


Ibu itu hanya tersenyum, mungkin Indra Pura adalah tempat yang mewah, kaya, dan bergelimang harta. Namun, di pusat kerajaan itu pula, ada sisi gelap yang tak dipublikasikan. Anak-anak itu adalah salah satu contoh hal biasa terjadi dan tak dihiraukan oleh pihak istana.


Para petinggi kerajaan mungkin saja menunggang kereta kuda dengan gagahnya. Namun, di sisi lain, ada banyak rakyat menderita.

__ADS_1


“Emm, kenapa bibi tidak berpindah dari tempat ini?” tanya Lembah Manah menggaruk dagunya.


“Aku lahir di tempat ini, besar di tempat ini dan mungkin saja akan mati di tempat ini!” sahut ibu itu memandangi wajah Lembah Manah. “Lagi pula, aku juga tak memiliki kepingan emas!”


“Lalu, sedang apa nak Lembah datang ke tempat ini?” tanya ibu itu penasaran.


Pemuda itu menceritakan maksud kedatangannya ke Indra Pura, hanya garis besarnya saja. Takutnya jika bercerita lebih jauh lagi, banyak yang menaruh curiga kepadanya.


“Jadi, kau ini seorang murid dari perguruan bela diri?” Ibu itu membelalakkan matanya seakan tak percaya.


Biasanya seorang anggota perguruan tak peduli dengan hal-hal kecil seperti yang dialami ibu itu. Mereka hanya memandang rendah penduduk biasa. Namun, berbeda dengan Lembah Manah yang membantu kesulitan ibu itu.


“Kau sangat beruntung nak Lembah!” lanjut ibu itu.


“Aku akan membantu bibi pindah dari tempat i—!”


“Tidak, nak Lembah. Biarkan kami di tempat ini!”


Ucapan ibu itu menyela perkataan Lembah Manah. “Kebaikanmu terlalu berlebihan hanya untuk orang sepertiku. Jadilah lebih kuat lagi dan ubahlah seluruh negeri ini!”


Malam itu juga Lembah Manah pergi dari rumah reot itu. Sebelum keluar rumah, pemuda itu meletakkan sekantong koin emas di samping ibu yang tengah terlelap. Mungkin tidak terlalu banyak, tetapi bisa untuk menyambung hidup ibu dan anak asuhnya.


Lembah Manah berjalan menuju istana sembari melihat-lihat gemerlapnya kehidupan malam di pusat kerajaan. Lentera dan obor menjadi penerang di sekitar tepi jalan.


Malam itu juga, masih ada pedagang yang menjajakan dagangannya. Tampak beberapa prajurit tengah meminum arak di temani wanita-wanita penghibur yang mengumbar kemolekan tubuhnya.


“Benar-benar bobrok kerajaan ini!” lirih Lembah Manah menggelengkan kepalanya.


Di sudut lain, ada beberapa prajurit yang tengah berjaga. Dari pembicaraannya, sepertinya tengah membahas tentang kondisi istana yang semakin memprihatinkan. Tampaknya prajurit itu lebih berwibawa ketimbang prajurit yang tengah menikmati arak sebelumnya.


“Aku tak menyangka, kelakuan raja seperti anak kecil!” seru salah satu prajurit. “Menurutku beliau sudah pikun!”


“Kita harus maklum. Di usia yang semakin tua, kelakuan seseorang akan kembali seperti anak kecil bukan?” timpal prajurit yang satunya lagi.


“Hari ini menjelekkan putranya yang pertama, tapi hari esoknya lagi, malah menjelekkan putranya yang kedua!” sahut prajurit yang pertama. “Sungguh aku tak habis pikir!”

__ADS_1


“Apalagi kedua putra mahkota saling berebut takhta. Ahh, ini membuatku pusing!” Salah satu prajurit memegangi kepala dengan kedua tangannya.


“Sudah-sudah, jangan terlalu keras. Nanti di dengar petinggi kerajaan. Bisa-bisa, kita di eksekusi!” tutup prajurit yang lainnya lagi.


Lembah Manah berlalu begitu saja dan berkata lirih, “kerajaan ini sudah hancur, tinggal menunggu waktu saja!”


***


Sementara itu, di dalam pondokannya, Patih Ragas berjalan mondar-mandir tak karuan. Sesekali mengurut keningnya, mengingat hingga malam ini Lembah Manah belum juga pulang.


Semenjak berpisah di gerbang perbatasan, Patih Ragas, Wanapati dan Wulan dijemput oleh pihak istana tanpa menunggu Lembah Manah terlebih dahulu.


“Kemana perginya anak itu!” keluh Patih Ragas menggaruk kepalanya yang mulai gatal.


Besok malam adalah malam dimana Pertandingan Besar dimulai. Tidak banyak waktu bagi Lembah Manah dan Wulan mempersiapkan diri untuk bertanding antar pendekar muda di seluruh Negeri Yava.


Berdiri salah, duduk apalagi. Tambah salah.


Begitulah yang dirasakan Patih Ragas saat ini. Di kamar sebelah, Wulan tengah melakukan meditasi tertutupnya, agar esok tubuhnya kembali bugar.


***


Setelah keluar dari rumah reot milik ibu pengasuh anak-anak, Lembah Manah bergegas menuju istana. Pemuda itu bertanya kepada beberapa prajurit penjaga mengenai pondokan Patih Ragas. Akhirnya Lembah Manah mendapat petunjuk untuk menuju pondokan rombongannya.


Semula, pemuda itu tidak yakin, karena istana ini sangat luas, takutnya malah tersesat. Jadi meminta salah satu prajurit yang berjaga itu untuk mengantarnya.


“Patih, Tuan Putri, Wanapati!” seru Lembah Manah mengetok pintu ketika sampai di depan pondokan Patih Ragas.


“Akhirnya kau sampai juga!” sahut Wanapati tersenyum setelah membukakan pintu.


Lembah Manah masuk ke dalam pondokan dan langsung istirahat di dalam kamarnya. Sementara itu, Wulan yang mendengar suara Lembah Manah dari pondokan sebelah, segera menuju pondokan Patih Ragas.


“Lembah, akhirnya kau sampai di tempat ini. Menyusahkan saja!” seru Wulan sedikit mendengus kesal.


“Sudahlah Tuan Putri, biarkan Lembah istirahat di dalam kamarnya!” sahut Patih Ragas.

__ADS_1


“Selalu saja membela Lembah Manah!” tutup Wulan kembali ke pondokannya.


__ADS_2