
Suhu tubuhnya panas, tetapi menggigil kedinginan. Badannya lemas seperti tak punya tenaga, bahkan untuk berdiri saja dia tak sanggup. Sering batuk-batuk hingga mengeluarkan darah.
Orang tak dikenal itu juga memberi obat dengan harga yang mahal hingga harta ibu Rama terkuras, karena tidak ada orang yang bisa menyembuhkan penyakit ibu Rama.
Sedangkan ayah Rama telah tewas setahun yang lalu saat mengawal Raja Brahma Wijaya yang berkunjung ke Kadipaten Kabaman dan diserang gerombolan perampok. Ayah Rama adalah salah satu abdi dalem kerajaan.
“Maaf Bibi, emm, bolehkah saya memegang pergelangan tangan kiri Bibi!” seru Lembah Manah yang disambut uluran tangan ibu Rama.
“Boleh saya melihat leher Bibi!” ujar Lembah Manah lagi dibarengi dengan ibu Rama yang memperlihatkan lehernya yang berwarna kebiruan.
“Tidak salah lagi, ini adalah racun belenggu hitam,” lirih Lembah Manah memberitahu penyakit ibu Rama.
“Rama tolong ambilkan tempayan berisi air dan cawan berisi air putih!” pinta Lembah Manah kepada Rama yang berdiri di belakangnya.
“Baik kak, tunggu sebentar!” Rama berlari ke belakang mengambil apa yang diminta Lembah Manah.
Tak lama berselang Rama telah kembali dengan membawa apa yang diminta Lembah Manah.
“Bibi, tolong duduk sebentar membelakangi saya. Rama tolong taruh tempayan berisi air itu di depan ibu!” perintah Lembah Manah yang langsung dilaksanakan oleh Rama.
Ibu Rama duduk bersila di depan Lembah Manah, lalu pemuda itu mengarahkan jari tengah dan jari telunjuknya mengitari punggung ibu Rama dengan perlahan. Sedikit demi sedikit Lembah Manah menusuk-nusukkan dua jarinya pada punggung ibu Rama.
Dan sesekali, Lembah Manah menggunakan tenaga dalam yang mengalir di tangan kanannya. Ketika tusukan jari Lembah Manah sampai di bawah tengkuk leher ibu Rama, pemuda itu sedikit menghentakkan jarinya, ibu Rama memuntahkan darah merah kehitaman yang langsung memenuhi tempayan berisi air di depannya.
Lalu ibu Rama berkumur dengan air putih yang sudah disiapkan oleh Rama.
“Bibi minumlah! Ini adalah ramuan pemulihan tubuh!” pinta Lembah Manah seraya menyodorkan potongan ruas bambu yang diambil dari saku bajunya bagian dalam.
“Terima kasih nak Lembah!” lirih ibu Rama yang kembali berbaring di tempat tidurnya.
“Iya Bibi, sama-sama. Besok Bibi sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala!” seru Lembah Manah tersenyum.
Namun, senyumannya berubah menjadi kepanikan dan memegangi kepala dengan dua tangannya, lalu berkata, “oh, tidak! Aku harus anu, eh, pertandingan!”
“Lembah mohon pamit Bibi, Rama, dadah!” teriaknya sembari berlari keluar rumah Rama dan melambaikan tangan tanpa menoleh belakang.
__ADS_1
Lembah Manah berlari menggunakan kanuragannya sembari meringankan tubuh, pemuda itu bergegas menuju arena pertandingan.
***
Suasana di arena pertandingan semakin ramai karena banyaknya penonton yang berdatangan, hingga memenuhi sekitar luar area. Pertarungan berikutnya juga tidak terlalu seimbang, karena tingkat ilmu kanuragan kedua peserta yang berbeda selisih hingga tiga tingkat.
“Pertarungan ke lima, Kanthil dari Perguruan Tombak Putih melawan Barani dari Perguruan Pedang Putih!” seru Patih Ragas memanggil kedua peserta.
Kanthil dan Barani menuju arena pertarungan dari sudut yang berbeda. Keduanya membungkukkan badan tanda memberi hormat, lalu membungkuk pada sang raja.
Setelah pengadil memberi isyarat, pertarungan pun dimulai. Barani mengalirkan tenaga dalam di tangan kanannya, pemuda itu melesat cepat dan mendarat di belakang Kanthil.
Kanthil yang hendak mencabut pedangnya tiba-tiba terkena pukulan pada bagian punggungnya hingga terlempar sepuluh langkah keluar arena dengan darah keluar dari mulutnya.
Semula, semua penonton terdiam membelalakkan matanya atas apa yang terjadi. Barani melesat secepat kilat, tanpa Kanthil sadari, Barani sudah berada di belakangnya. Raja pun juga terkejut melihat jurus Barani.
“Ohh, cepat sekali pemuda itu!” seru raja berbicara pada dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga tingkat ilmu kanuragan mereka berbeda tiga tingkat, yang membuat Kanthil dengan mudah dikalahkan. Barani berada pada tingkat Madyo tahap awal, sedangkan Kanthil berada pada tingkat Andhap tahap awal.
“Hanya sekali serang dia menang, ini calon juara!” ucap salah satu penonton.
“Aku juga tak melihatnya berpindah di belakang gadis itu, gerakannya sangat cepat!” seru penonton yang lain.
“Barani, kamu hebat,” teriak penonton yang lainnya lagi.
Barani kembali ke tempat duduknya setelah memberi hormat pada sang raja dan juga melambaikan tangan ke arah penonton, dia pun disambut Rahmawati dengan senyuman.
“Pertarungan selanjutnya, yaitu pertarungan ke enam. Gantala dari Perguruan Bambu Wulung melawan Prajalana dari Desa Seribu Embun!” seru Patih Ragas memusatkan perhatian dari ramai penonton.
Gantala memasuki arena pertarungan dengan kedua tangan melambai ke penonton seolah dia akan menang dengan mudah. Berbeda dengan Prajalana yang tampak berjalan tenang. Kedua peserta pun membungkukkan kepala memberi hormat satu sama lain dan membungkukkan badan pada sang raja.
“Siap, mulai!” seru Patih Ragas.
Kedua peserta sama-sama membawa pedang. Prajalana dengan pedang tipis memiliki dua mata yang sangat tajam. Sedangkan Gantala lebih mirip sebuah golok, karena pedang itu lebar dan memiliki satu mata yang tajam.
__ADS_1
Gantala melesat ke arah Prajalana dengan menebaskan goloknya dari atas ke bawah. Prajalana menangkis memegangi gagang pedang dengan kedua tangannya, pemuda itu sedikit terdorong ke belakang akibat tebasan Gantala yang memang memiliki tubuh besar.
Prajalana melompat sembari salto ke belakang dan melemparkan pedang ke arah Gantala. Gantala yang gerakannya lambat tak mampu menghindari lesatan pedang Prajalana.
SRET
Kaki kanan bagian luar Gantala terkena pedang Prajalana. Darah menetes yang membuat Gantala meringis kesakitan.
“Aku menyerah,” ucap Gantala dengan membungkuk memegangi kaki kanannya.
“Apa yang kau lakukan Gantala!” gerutu Ki Pethuk Cemeng dari tempat duduknya.
“Apa!“ teriak salah satu penonton yang memang sering berkomentar sejak awal pertarungan.
“Bagaimana bisa, menang dengan satu lemparan pedang. Wah, ini hebat,” ucap penonton yang lainnya lagi.
“Pemenangnya Prajalana dari Desa Seribu Embun!” seru Patih Ragas diiringi teriakan dan tepuk tangan meriah dari penonton.
Raja ikut bertepuk tangan melihat aksi Prajalana. Gantala mendapat perawatan dari beberapa prajurit yang bertugas di pinggir arena pertarungan. Sedangkan Prajalana kembali ke tempat duduknya setelah memberi hormat kepada raja tanpa melambaikan tangan ke penonton.
“Pertarungan ke tujuh, Ni Luh Jayanti dari Perguruan Jiwa Suci melawan Gadis Bercadar!” seru Patih Ragas yang menyembunyikan identitas Wulan.
Wulan sengaja memakai penutup muka seperti cadar agar tak dikenali oleh siapapun, kecuali ayahnya yang menyaksikan dari singgasana tertinggi di dalam area pertarungan ini.
Kembali penonton bersorak dan bertepuk tangan.
“Wah, peserta berikutnya perempuan,” ucap seorang penonton.
“Gadis Bercadar, kamu pasti menang!” teriak penonton lainnya lagi yang sering berkomentar.
“Semoga kamu menang Ni Luh!” seru Wanapati memberi semangat pada temannya.
Ni Luh berjalan maju ke depan dengan mengacungkan jempol tangan kanannya pada Wanapati. Diikuti Wulan menuju arena dari sudut yang berlawanan dengan Ni Luh.
“Mulai!” seru Patih Ragas.
__ADS_1