
Hari beranjak petang, tidak ada pergerakan di atas bukit kecil itu setelah teriakan keras dan ledakan terjadi. Para pendekar aliran putih juga bersiaga, jikalau masih ada sisa-sisa musuh yang mencoba untuk kembali menyerang. Namun, tak ada lagi hal yang mencurigakan.
Dengan sisa tenaga, Patih Ragas dan Ki Jaladara mencoba untuk memeriksa bukit kecil tempat pertarungan Lembah Manah dan Eyang Angkoro Murko. Namun, keduanya tidak menemukan apa pun, selain Lima kitab Pusaka Negeri Yava yang tergeletak tak karuan.
Wulan menyusul Patih Ragas, diikuti Wanapati Jayadipa dan Nata di belakang tuan putri itu. Mereka menyisir di sekitar bukit kecil, dan juga tidak menemukan apa pun. Dengan jatuh terkulai lemas, Wulan menangis dan berteriak keras menyebut nama Lembah Manah.
Mereka berpencar di seluruh bukit kecil itu, berharap menemukan seseorang yang mereka cari. Pada salah satu sudut di puncak bukit yang telah gundul, Wanapati menemukan pedang yang menancap separuh di permukaan tanah.
Pedang yang dipakai Lembah Manah ketika pertarungan terakhirnya, yaitu Pedang Naga Maruta. Wanapati membiarkan pedang itu tertancap dan hanya menekuk lutut sembari meneteskan air matanya.
Jayadipa menghampiri Wanapati dan menepuk pundaknya, tangis kembali pecah ketika Jayadipa menyadari pedang itu milik Lembah Manah.
Nata bergerak sedikit maju beberapa langkah, pemuda itu melihat bercak cairan hijau berceceran, seperti cairan yang menyelimuti tubuh Lembah Manah. Nata tak kuasa menahan tangisnya, sembari duduk bersila, pemuda itu mencoba menyentuh cairan hijau sisa-sisa pertarungan Lembah Manah.
Saat itu juga semua dirundung kesedihan, banyak yang kehilangan sahabat mereka, dan juga tidak sedikit yang kehilangan anggota keluarga mereka.
***
Hari ini adalah hari ketiga setelah perang berlangsung. Ada banyak yang menjadi korban dari kedua belah pihak. Acara pemakaman digelar saat itu juga dengan dijadikan satu di dalam liang besar tepat di kaki bukit kecil belakang istana.
Wanapati mengusulkan agar di samping Pedang Naga Maruta, diberi papan yang bertuliskan Lembah Manah. Pemuda itu berniat membuat tugu peringatan untuk sahabatnya itu.
Bisa dikatakan, pemenang dari perang kali ini dari kubu pendekar aliran putih. Mengingat, mereka berhasil mengusir para bawahan Eyang Angkoro Murko.
Namun, mereka kehilangan seseorang yang mengorbankan nyawanya demi Sokapura dan Negeri Yava. Lembah Manah tahu pasti konsekuensinya jika menggunakan Gerbang Kematian.
Keesokan harinya, Ki Jaladara dan rombongannya, berniat untuk kembali ke Perguruan Tombak Putih. Bukan hanya dirinya saja, tetapi semua petinggi dari pendekar aliran putih, hendak kembali ke tempat asal mereka.
Pada awalnya, Raja Brahma sempat ragu, dirinya takut jika musuh bisa datang kembali dengan membawa bala bantuan. Namun, Ki Jaladara meyakinkan Raja Brahma bahwa para aliran hitam mendapat luka yang serius, dan tidak akan sembuh dalam waktu yang sebentar.
Akhirnya, Raja Brahma melepas para pendekar aliran putih di depan pintu gerbang istana yang hancur sebagian.
“Kami juga mohon pamit, Yang Mulia!” seru Wanapati diikuti Jayadipa dan Nata di belakang pemuda itu. Mata ketiga pemuda itu masih terlihat memerah dan sedikit bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
“Aku sangat berterima kasih kepada kalian, terutama—!”
Raja Brahma tidak melanjutkan perkataannya dan hanya menepuk pundak Wanapati seraya meneteskan air matanya.
__ADS_1
“Sampaikan salam kami kepada Tuan Putri!” tutup Wanapati dan berlalu meninggalkan Istana Sokapura. Pemuda itu sangat yakin, Wulan masih sangat terpukul atas hilangnya Lembah Manah ketika menghadapi Eyang Angkoro Murko.
Di sisi lain, pihak Kerajaan Indra Pura berkumpul pada salah satu sudut halaman istana. Mereka juga hendak pamit untuk kembali ke wilayah mereka. Ada banyak hal yang harus diurusi, menata pemerintahan baru, dan juga membangun istana yang hancur sebagian.
“Atas nama Indra Pura, aku mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Sokapura!” ucap Kusumawijaya membungkukkan badannya diikuti Nastiti di belakangnya.
“Pangeran terlalu sungkan!” sahut Raja Brahma tersenyum.
“Apa! Pangeran, sekarang beliau adalah raja di Indra Pura!” Tiba-tiba Patih Sobo Lepen berkata dan mengejutkan semua pihak Indra Pura.
“Apa kalian tidak ingin memiliki raja yang murah hati!” lanjut Patih Sobo Lepen memandangi rakyat dari Indra Pura. “Hidup Raja Kusumawijaya!”
Perkataan itu diikuti oleh seluruh rakyat dari Indra Pura yang berada di tempat itu.
Tepat di depan pintu gerbang istana, pihak Tanjung Pura juga hendak pamit untuk kembali ke wilayah mereka. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil setelah kejadian kemarin. Sepertinya Raja Kertanegara juga akan memperbaiki tatanan pemerintahannya.
“Sepertinya aku harus mencontoh Sokapura!” ucap Raja Kertanegara memeluk Raja Brahma. “Pihak Tanjung Pura mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Sokapura!”
“Pihak Tanjung Pura terlalu sungkan!” sahut Raja Brahma mendekati Raja Kertanegara dan pihak Tanjung Pura.
***
Di Indra Pura, Kusumawijaya naik takhta dan menjadi raja. Sudah sejak lama, penduduk Indra Pura merindukan sosok yang murah hati dan memedulikan rakyatnya. Tidak ada lagi pejabat yang korupsi dan memakan uang rakyat, semuanya dibersihkan oleh Kusumawijaya.
Dan yang paling mengejutkan adalah, Roko Wulung dan Sangga Buana diangkat menjadi patih di kerajaan.
Sementara di Kerajaan Tanjung Pura, Raja Kertanegara menerapkan tatanan baru yang memihak kepada rakyat kecil. Tidak ada lagi pajak yang tinggi mencekik rakyat dan juga sistem kerja paksa untuk kerajaan.
***
Pagi ini, tidak ada kegiatan apa pun di Perguruan Jiwa Suci yang masih berkabung atas hilangnya Lembah Manah.
Keadaan Ki Tunggul sudah sedikit pulih, ditambah lagi Kitab Tanah juga telah kembali ke perguruan.
Tiga Bunga Bersaudara mengunjungi perguruan. Mereka hendak menjenguk keadaan para muridnya yang ikut bertarung melawan Ki Badra.
Kenanga yang paling besar mencoba mendekati Wanapati yang duduk termenung di gubuk dekat pintu gerbang perguruan.
__ADS_1
“Jangan terlarut dalam kesedihan. Lembah Manah berkorban untuk kita, untuk seluruh Negeri Yava!” ucap Kenanga duduk di samping Wanapati.
Tak ada jawaban dari Wanapati, pemuda itu masih meneteskan air matanya. Namun, tanpa diduga, tiba-tiba Wanapati menyandarkan kepalanya pada bahu Kenanga hingga membuat wajah gadis itu memerah.
“Aku akan melanjutkan cita-cita Lembah Manah demi menjaga kedamaian di Negeri Yava ini!” tutup Wanapati perlahan memeluk Kenanga.
Kanthil, gadis kedua dari Tiga Bunga Bersaudara hendak mengunjungi makam Ni Luh. Namun, gadis yang selalu mengikat rambutnya itu malah menjumpai Jayadipa yang tengah berdoa di makam Ni Luh.
“Mereka serasi bukan!” ucap Kanthil berdiri di belakang Jayadipa. “Ni Luh berkorban untuk Lembah Manah yang sangat dicintainya. Dan Lembah Manah berkorban untuk kita semua!”
Jayadipa bangkit dan memegang kedua tangan Kanthil, hingga membuat gadis itu sedikit gemetaran.
“Kau benar, semoga saja kita bisa mempertahankan Sokapura dari orang-orang biadab!” sahut Jayadipa tersenyum.
Cempaka yang paling kecil, mengunjungi Nata yang tengah membantu Mbok Pani di dapur perguruan. Sepertinya, tugas Nata kali ini mempersiapkan makanan untuk para murid perguruan.
“Kau sangat cocok untuk menggantikan Lembah Manah!” seru Cempaka berdiri di depan pintu dapur.
“Ehh, ada tamu gadis cantik!” sahut Mbok Pani menghentikan kegiatannya. “Sini masuk, bantuin Simbok juga boleh!”
Cempaka memasuki dapur perguruan dan langsung duduk di samping Nata yang masih membersihkan beras.
“Mungkin saja tugas Lembah Manah aku yang akan mengerjakannya!” ucap Nata tersenyum.
***
“Bagaimana keadaannya, Nawang?” ucap seorang nenek tua yang tengah merebus beberapa ramuan di dalam kuali besar.
Tak jauh dari dapur tempatnya membuat ramuan, seorang pemuda terbujur lemah tak berdaya pada sebuah ranjang beralaskan tikar.
Nawang menemukan pemuda yang tubuhnya penuh dengan bercak noda cairan hijau, ketika pergi ke sungai. Gadis itu membawa sang pemuda ke rumahnya, karena dirinya sangat mencintai pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu.
“Ini sudah minggu keempat, tapi hanya bisa menggerakkan jarinya saja!” jawab Nawang—cucu perempuan dari nenek tua yang tengah merebus beberapa ramuan. “Sedangkan matanya enggan terbuka, Nek!”
“Lukanya sangat parah, Nawang!” sahut nenek tua itu memperhatikan pemuda yang terbujur memejamkan matanya. “Tulang kaki kanannya patah, lengan kanannya remuk. Nenek tidak yakin kalau anak ini akan sembuh!”
“Nawang yakin, Nek! Pasti sembuh!” Nawang meneteskan air matanya dan memeluk pemuda yang terbujur itu. “Nawang pernah diselamatkan olehnya, kini saatnya Nawang berbakti kepadanya!”
__ADS_1
“Aku ada di mana?” ucap sang pemuda yang perlahan membuka matanya. “Emm, tubuhku, rasanya sangat sakit!”
“Syukurlah, kau sudah sadar, Lembah!” sahut Nawang menangis haru dalam pelukan Lembah Manah yang terbaring lemah di kediaman Nyi Ampel.