KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perguruan Bulan Sabit


__ADS_3

Dua orang tiba-tiba berdiri di depan pintu gerbang sebuah perguruan ketika para murid tengah uji tanding di pelataran halaman.


Mereka mengaku bernama Indurasmi dan Kanigara yang merupakan sedikit dari anak buah Ki Badra yang mencoba mengambil lima kitab pusaka dari lima perguruan yang tersebar di Negeri Yava.


“Serahkan Kitab Bulan kepada kami!” ancam Kanigara dengan suara berat.


“Siapa kalian berani-beraninya memasuki perguruan tanpa izin,” sahut Ki Rangga Sabekti, selaku ketua Perguruan Bulan Sabit.


“Kakak, benarkah itu kau! Kakak Indurasmi!” teriak Sambara yang melihat salah satu dari dua orang itu adalah kakaknya—Indurasmi.


“Apa! Kakak. Oh, jadi itu adikmu Indurasmi, hahaha. Apa bocah itu yang kau takutkan!” Kanigara berbicara keras sembari tertawa.


“Kakak, kau benar-benar telah mencoreng nama baik Trah Socha!” umpat Sambara yang tengah menatap Indurasmi di depan pintu gerbang perguruan.


Pertarungan tak terhindarkan, semula Indurasmi tak tega menghadapi semua murid perguruan. Namun, karena Kanigara sudah maju lebih dulu dan menghabisi lima murid perguruan, mau tak mau Indurasmi maju menghadapi Sambara.


“Maafkan aku Sambara. Ini juga demi kebaikan Trah Socha!” ucap Indurasmi yang mulai memasang kuda-kuda.


Dua puluh murid perguruan telah dihabisi oleh Kanigara hanya dalam beberapa saat saja. Kini hanya tinggal Ki Rangga Sabekti, Sambara dan satu murid perempuan, Lintang Sakethip.


“Guru, biar kami berdua yang menghadapi mereka!” ucap Sambara tanpa menunggu jawaban dari gurunya langsung menyerang Indurasmi.


Sambara melawan Indurasmi, sedangkan Lintang Sakethip melawan Kanigara.


Sambara maju dan melayangkan tebasan pedang dengan tangan kanannya, Indurasmi hanya menghindari setiap tebasan Sambara tanpa menyerang sedikit pun. Indurasmi masih belum tega jika terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya.


“Lawan aku, jangan hanya menghindar!” seru Sambara yang terus melakukan tebasan dengan jurusnya.


Di sisi lain, Lintang Sakethip sepertinya kesulitan menghadapi Kanigara. Meski telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi Kanigara tampak tenang mengantisipasi jurus gadis berambut panjang itu.


Hingga Lintang Sakethip melihat ada celah, tebasan pedangnya sedikit mengenai lengan kiri Kanigara yang lengah saat menghindari jurus milik gadis itu.


“Tidak mungkin! Tidak mungkin aku kalah dengan bocah perempuan ini!” seru Kanigara mendongakkan kepalanya.


Kembali ke pertarungan Sambara, setiap serangannya tak ada yang melukai Indurasmi, mengenai pun tidak. Hingga akhirnya Sambara menggunakan jurus istimewanya.

__ADS_1


“Mata Kehidupan!” teriak Sambara yang mengubah matanya menjadi putih.


“Apa! Kau telah berhasil mengaktivasi jurus Trah Socha!” ucap Indurasmi kaget.


Setiap Sambara berkedip, sinar putih keluar dari matanya dan mengarah ke Indurasmi. Indurasmi yang berdiri dari jarak sepuluh langkah hanya menghindari serangan sang adik.


Pemuda itu melompat sembari salto ke belakang, kadang kala melompat ke dahan pohon yang jika serangannya meleset, dahan pohon itu hancur karena terkena sinar putih dari mata Sambara.


Hingga akhirnya Sambara kehabisan tenaga dalam karena terlalu lama menggunakan Mata Kehidupan, lalu dimanfaatkan oleh Indurasmi. Indurasmi melesat cepat ke arah Sambara lalu merebut pedang di tangan kanannya dan mengarahkan ke leher sang adik.


“Bunuhlah aku kakak, tapi jangan harap kau bisa mengambil Kitab Bulan dari perguruan kami!” lirih Sambara yang mengubah matanya menjadi kembali normal.


Indurasmi yang tertegun melihat wajah Sambara sedikit lengah dan pedang di tangan kanannya berhasil direbut Sambara.


SRET


Satu tusukan mendarat tepat di perut Indurasmi, hingga membuat pemuda itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Namun apa yang terjadi? Indurasmi malah tersenyum sembari memandangi wajah Sambara, dan membelai dengan tangan kanannya.


“Kau telah tumbuh dewasa Sambara. Tetaplah di jalan yang benar, jangan seperti kakakmu ini!” ucap Indurasmi terbata-bata.


“Aku tidak akan menyakitimu dan tidak akan mengambil Kitab Bulan. Biarkan pria gila itu yang menyelesaikan tugas bodoh dari Ki Badra!” lanjut Indurasmi sembari menunjuk Kanigara dengan tangan kirinya.


“Kakak, apa yang kau bicarakan?” sahut Sambara kebingungan.


“Aku mengikuti Ki Badra dengan kesepakatan agar dia tak mengganggu atau membunuhmu dan menyisakan dua Trah Socha di Negeri Yava ini, yaitu kau dan aku. Namun, apa yang terjadi, dia malah mengirimku ke tempat ini untuk menghabisi seisi perguruan!” Indurasmi mulai terduduk di tanah dengan batuk yang mengeluarkan darah.


“Jadi—!”


Sambara yang mulai mengerti maksud Indurasmi tak mampu melanjutkan perkataannya dan mulai meneteskan air mata.


“Ya, benar Sambara. Aku melindungi satu Trah Socha dari kebiadaban Ki Badra!”


“Kakak!” tangisan Sambara semakin menjadi dan memeluk Indurasmi.


“Tak perlu menangis Sambara, kau bukan anak manja. Ini sudah takdir antara kau dan aku. Sedari kecil, kau selalu ingin menjadi lebih kuat untuk melampauiku. Dan sekarang impianmu telah terwujud!”

__ADS_1


“Tidak, bukan itu yang kuinginkan kak!”


“Tetaplah di jalan yang benar Sambara adikku. Kau harus tetap hidup agar Trah Socha tidak hanya tinggal cerita!”


“Kakak!” teriak keras Sambara dengan air mata yang semakin menjadi.


Indurasmi mengembuskan napas terakhirnya dalam pelukan Sambara. Tubuh Indurasmi terkulai dengan darah yang keluar dari mulut dan dari luka tusukannya. Dipeluknya tubuh Indurasmi dengan erat, seakan tak ingin kehilangan satu-satunya saudara yang dia miliki.


Namun setelah mendengar perkataan sang kakak, Sambara kini mengerti bahwa Indurasmi memilih meninggalkannya untuk melindungi dirinya dari rencana Ki Badra.


Sementara itu pertarungan Lintang Sakethip dan Kanigara semakin lama semakin sengit, kini Lintang Sakethip dibantu oleh Ki Rangga Sabekti. Dengan permainan pedang guru dan murid itu, Kanigara terdesak dan mulai menggunakan jurusnya.


“Jalmo Moro Jalmo Mati! Sato Moro, Sato Mati!” ucap Kanigara sembari menebaskan pedangnya.


Tebasan pedang Kanigara mengeluarkan aura hitam yang melesat tepat mengenai dada Ki Rangga Sabekti hingga terlempar tujuh langkah jauhnya. Menyadari sang guru terkena satu jurus, Lintang Sakethip juga mulai menggunakan jurusnya.


“Pedang Bulan Sabit!” teriak gadis itu yang disusul dengan cahaya berwarna putih berbentuk bulan sabit melesat horizontal dari tebasan pedangnya.


SRET


Berhasil! Tebasan Lintang Sakethip melukai perut bagian luar Kanigara, hingga mengeluarkan darah dan membuat pria kekar itu terhuyung ke belakang.


“Sambara! Lindungi guru, hoi, Sambara!” teriak Lintang Sakethip yang melihat Sambara masih menangis memeluk jasad Indurasmi.


Perlahan Sambara melepaskan jasad Indurasmi dan mendekat ke arah Ki Rangga Sabekti. Lintang Sakethip melesat ke arah Kanigara dengan bersiap menebaskan pedangnya.


Kanigara yang tengah meringis kesakitan berusaha menangkis tebasan lawannya hanya dengan menyilangkan pedang di depan tubuhnya yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hitam.


SRING


Pedang Lintang Sakethip terlempar sejauh sepuluh langkah dan di lehernya telah melingkar pedang milik Kanigara.


“Gadis manis menyerahlah!” ucap Kanigara dengan suara beratnya.


“Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyerah!” sahut Lintang Sakethip berusaha berontak.

__ADS_1


“Hoi Rangga Sabekti! Serahkan Kitab Bulan, maka gadis ini akan selamat!” gertak Kanigara menatap Ki Rangga Sabekti yang terkulai lemah.


“Jangan guru, lebih baik aku mati daripada kitab itu jatuh ke tangan pria busuk seperti dirinya!” teriak Lintang Sakethip.


__ADS_2