
Sementara itu di Perguruan Jiwa Suci...
Pagi ini Ki Tunggul memerintahkan murid perguruan untuk bersama-sama membersihkan halaman dan sekitarnya, karena tak ada lagi yang membersihkan setelah Lembah Manah menyelesaikan hukumannya.
Tidak ada gurauan atau teriakan dari para murid seperti ketika meledek Lembah Manah sewaktu dihukum Ki Tunggul. Hanya suara sapu lidi yang bergesekan dengan daun kering menjadi pengisi keheningan.
“Mohon perhatian sebentar muridku!” ucap Ki Tunggul memecah keheningan, diikuti para murid menghentikan semua kegiatannya dan mengarahkan pandangannya kepada Ki Tunggul.
“Ya guru, ada apa!” sahut Wanapati yang berada di dekat Ki Tunggul.
“Setelah selesai kegiatan ini, kalian masuk ke aula pembelajaran. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan!”
“Kami mengerti guru!”
Tak lama berselang, semua murid telah menyelesaikan tugasnya. Lalu mereka kembali menuju aula pembelajaran untuk menerima pengarahan dari Ki Tunggul.
“Aku akan memberi kalian pusaka peninggalan almarhum ayahku!” seru Ki Tunggul setelah para muridnya kembali ke aula pembelajaran.
“Maksud guru?” Wanapati kebingungan dengan menoleh ke arah dua temannya, Jayadipa dan Nata yang tak jauh dari tempat duduknya.
“Sebentar lagi, pertandingan antar pendekar muda di kerajaan akan segera berlangsung!” ucap Ki Tunggul yang mengejutkan muridnya. “Jadi aku akan memberi kalian pusaka peninggalan ayahku untuk bekal kalian menghadapi pertandingan itu!”
“Jika ada pusaka yang berjodoh dengan kalian, kalian layak mewakili perguruan ini ke pertandingan itu!”
“Wanapati, Jayadipa, Nata, tolong kalian geser lemari itu!” ucap Ki Tunggul seraya mengacungkan jarinya ke sebuah lemari di pojok belakang aula pembelajaran.
“Baik guru!”
Sesaat setelah lemari tergeser, terlihat semacam pintu yang terkunci untuk menuju kamar bawah tanah. Pintu itu tidak terlalu lebar, hanya satu meter saja.
“Apa ini guru!” Wanapati terkejut setelah melihat pintu itu.
“Coba kau buka pintu itu dengan menggeser tuas pintu ke kanan!” perintah Ki Tunggul yang langsung dilaksanakan oleh Wanapati.
__ADS_1
Pintu itu terbuka, tampak beberapa anak tangga mengarah ke lorong bawah yang terlihat gelap.
“Nata, bisakah kau mengambil obor ke dapur sebentar,” perintah Ki Tunggul kepada Nata.
“Baik guru!" Segera Nata menuju dapur mengambil dua obor yang telah menyala.
Mereka memasuki pintu itu, menuruni anak tangga dengan diterangi obor. Ki Tunggul masuk terlebih dahulu, lalu meletakkan obor pada dinding kamar bawah tanah yang terbuat dari papan kayu jati.
Setelah mereka semua memasuki kamar itu, Ki Tunggul mengambil beberapa kotak yang terlihat usang yang disimpan pada sebuah lemari tua. Dibukanya satu per satu kotak usang itu, ada sekitar lima belas kotak dengan berbagai macam ukuran, dan diletakkan pada sebuah meja yang memanjang.
“Wanapati, Jayadipa, Nata, kalian maju terlebih dahulu. Pilih salah satu pusaka yang sekiranya ada ketertarikan dengan kalian!” perintah Ki Tunggul pada ketiga murid yang pertama.
Wanapati mendekati pusaka itu satu per satu, melangkah pelan agar terjadi satu kontak dengannya. Pemuda itu terkejut saat sampai pada kotak yang ke lima. Sebuah kapak bergetar seperti ada ketertarikan antara mereka berdua.
“Guru, kapak ini bergetar!” ucap Wanapati kaget.
“Itu tandanya berjodoh denganmu, itu adalah Kapak Pembelah Langit, ambillah!” perintah Ki Tunggul.
Seketika kapak itu berhenti bergetar saat Wanapati mengambil dengan tangan kanannya. Sembari tersenyum, dipandanginya kapak itu dengan teliti, kapak dengan satu mata yang tipis dan tajam. Panjang gagang kapak itu kurang lebih dua jengkal dengan ukiran berbentuk awan.
“Sekarang kau Jayadipa, majulah!” perintah Ki Tunggul.
Jayadipa melangkah pelan di depan pusaka-pusaka itu, hingga kotak yang terakhir, tak ada satupun pusaka yang bergetar. Dengan kepala tertunduk pemuda itu kembali ke belakang berkumpul dengan temannya.
“Sayang sekali, tak ada yang berjodoh denganmu Jayadipa!” ucap Sesepuh Anggada.
“Mungkin akan ada pusaka di lain tempat yang akan berjodoh denganmu!” sahut Ki Tunggul.
Hingga semua murid maju ke depan, tidak ada pusaka yang berjodoh dengan para murid perguruan.
Kini giliran Ni Luh yang terakhir maju ke depan untuk mengambil pusaka yang sekiranya ada ketertarikan dengan gadis itu.
Kotak pertama, tidak ada kontak dengan Ni Luh. Begitu juga seterusnya hingga kotak ke delapan. Barulah pada kotak ke sembilan, sebuah pedang bergetar ketika Ni Luh berdiri di depan kotak itu.
__ADS_1
“Ambillah, Ni Luh! Itu adalah Pedang Bunga Ilalang!” seru Ki Tunggul yang langsung diiyakan oleh Ni Luh.
Ni Luh mengambil pedang itu, perlahan dengan kedua tangannya dan pedang itupun berhenti bergetar di dalam genggaman gadis itu.
Pedang yang tidak terlalu panjang, tetapi memiliki dua sisi yang tajam, dan akan semakin tajam bila dialiri oleh tenaga dalam pengguna pedang itu.
Ki Tunggul meminta muridnya untuk menuju arena pelatihan setelah pemberian pusaka itu selesai. Wanapati dan Ni Luh merasa lebih bersemangat karena mendapat pusaka warisan dari mendiang guru mereka.
Wanapati dan Ni Luh berlatih untuk menggunakan kapak dan pedang mereka. Ni Luh terlebih dahulu meminta untuk dilatih, sementara murid yang lainnya duduk bersila pada tepi arena pelatihan.
“Wanapati kau berlatihlah pada kayu itu, kalau bisa pecahkan menjadi serpihan kecil!” perintah Ki Tunggul kepada Wanapati dengan menunjuk sebatang kayu yang ditancapkan pada tanah.
“Baik guru,” jawab Wanapati sembari melangkah menuju salah satu sudut arena yang terdapat kayu keras itu.
Ki Tunggul pun kini mencoba melatih Ni Luh.
“Ni Luh, akan ku ajari kau Jurus Tarian Bunga Ilalang!” ucap Ki Tunggul memasang kuda-kuda.
Tarian Bunga Ilalang, mungkin sangat cocok untuk seorang gadis seperti Ni Luh. Jurus ini bertumpu pada kelincahan bermain pedang, dan jika melapisi pedang dengan tenaga dalam milik pengguna, maka tebasan yang dihasilkan akan sangat berbahaya.
Tidak ada teknik khusus untuk jurus ini, hanya variasi gerakan lembut dan memaksimalkan tenaga dalam. Jurus ini hanya untuk pertarungan jarak dekat dan menengah, karena efek tebasannya hanya mencapai sepuluh langkah.
Ni Luh berlatih mengikuti gerakan yang diajarkan Ki Tunggul. Sementara Wanapati berlatih menggunakan kayu berdiri yang ditanam pada salah satu sudut arena latihan. Tidak terlalu besar, tetapi sangat keras, untuk mengukur seberapa tajam Kapak Pembelah Langitnya.
Beberapa saat berlalu, kayu berhasil dihancurkan. Wanapati mengalirkan tenaga dalam pada kapaknya lalu menebas kayu keras itu menjadi serpihan kecil.
Sementara Ni Luh berhasil memojokkan Ki Tunggul saat mereka tengah beradu kekuatan. Dengan gerakan memutar ke kanan sembari menjulurkan pedang ke depan, Ni Luh mengarahkan tepat pada leher Ki Tunggul yang sebelumnya sudah terjatuh.
Semua murid bertepuk tangan, melihat kemampuan mereka berdua yang berkembang sangat cepat. Meski baru saja diajarkan, tetapi sudah membuat Ki Tunggul kewalahan dan kesulitan melawan muridnya sendiri.
“Selamat, kalian berdua telah berkembang dengan cepat,” puji Ki Tunggul pada kedua muridnya.
“Terima kasih guru,” jawab Wanapati dan Ni Luh yang tengah berdiri di hadapan gurunya.
__ADS_1
“Tapi kalian harus melatihnya setiap hari, karena kita tak tahu kekuatan lawan yang akan kalian hadapi dalam pertandingan nanti!” ucap Ki Tunggul memperingatkan kedua muridnya.