
“Guru!” teriak Lingga memasuki perguruan dengan membawa seikat kayu bakar yang dilempar hingga berceceran. Pemuda itu berlari tergopoh-gopoh mencari keberadaan gurunya.
“Gawat guru!” serunya lagi.
Ki Purbowono tengah memberi materi di aula pembelajaran hendak keluar mencari sumber suara.
“Ada apa Lingga!” sahut Ki Purbowono memancarkan kekhawatiran pada sorot matanya.
“Dua orang aneh, memintaku untuk memberikan Kitab Air secara paksa!” ucap Lingga panik.
Tampak dua orang yang Lingga maksud telah memasuki pintu gerbang perguruan. Seorang pria kurus tinggi, kira-kira berusia tiga puluh tahun, dengan membawa pedang.
Dan pria yang satunya lagi berbadan kekar, sepertinya usianya juga sama, dengan membawa senjata berupa golok. Keduanya memakai jubah hitam dengan gambar kelelawar berwarna merah pada punggungnya.
Ikat kepala yang mereka gunakan berwarna hitam dengan gambar kelelawar memiliki tiga garis horizontal di bawahnya.
“Cepat serahkan Kitab Air!” seru pria yang membawa golok.
“Siapa kali—!”
Ucapan Ki Purbowono terhenti ketika pria yang membawa golok dengan cepat telah berada di belakangnya dengan mengalungkan golok pada leher Ki Purbowono.
“Kalian ingin tahu siapa kami?” ucap pria yang membawa golok itu. “Cepat serahkan Kitab Air!”
Semua murid perguruan tertegun melihat kecepatan pria yang membawa golok tiba-tiba melesat dan memojokkan gurunya. Mereka saling pandang dan tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan pria yang membawa pedang masih terdiam dengan tatapan dinginnya.
“Aku Kamaraka dan dia Yugala, rekanku!” seru pria berbadan kekar yang membawa golok mengaku bernama Kamaraka. “Cepat serahkan Kitab Air!”
“Lingga! Cepat ambil yang mereka inginkan!” perintah Ki Purbowono yang melihat Lingga masih terdiam.
“Ta-tapi guru!” sahut Lingga gemetaran.
“Cepat!” bentak lagi Ki Purbowono.
Lingga dengan cepat memasuki sebuah bilik dalam perguruan, lalu keluar dengan membawa apa yang diinginkan Kamaraka. Dengan pelan Lingga memberikan Kitab Air kepada Yugala yang masih berdiri terdiam.
Beberapa saat kemudian, Kamaraka melepas Ki Purbowono dan hendak berlalu meninggalkan perguruan. Namun, satu langkah sebelum keluar dari pintu gerbang perguruan, Kamaraka dikejutkan oleh sebuah serangan yang menuju ke arahnya.
Benar saja, satu pukulan mengarah wajah Kamaraka, tetapi pria bertubuh kekar itu menangkis dengan goloknya yang membuat Lingga meringis, karena menghantam bagian lempengan golok milik Kamaraka.
Ki Purbowono adalah pemimpin Perguruan Bintang Selatan di Desa Banyu Asin yang masuk dalam wilayah Kerajaan Indra Pura. Letaknya di ujung selatan Negeri Yava, tepatnya di sebelah barat daya Kerajaan Sokapura.
Lingga, salah satu murid terbaik dari Ki Purbowono, pemuda itu masih berusia dua puluh tahun, tetapi sudah memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir, setengah langkah lagi mencapai tingkat Bantolo.
“Yugala, pergilah! Aku akan menyusulmu!” seru Kamaraka yang hanya dibalas dengan anggukan kepala Yugala. “Hoi anak muda! Apa kau cari mati!”
__ADS_1
Kamaraka melesat menebaskan goloknya, Lingga masih bisa menghindar dengan melompat ke samping kanan sembari melayangkan tendangan kaki kirinya yang mengenai perut Kamaraka. Pria berbadan kekar itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Pertarungan tak terhindarkan di depan pintu gerbang perguruan.
“Kurang ajar!” geram Kamaraka.
Satu tebasan mengandung energi tenaga dalam melesat dari golok Kamaraka ke arah Lingga. Pemuda berambut ikal itu menangkis hanya dengan mengibaskan tangan kanannya, diikuti cahaya hitam dari golok Kamaraka menghilang.
“Semburan Naga Air!”
Dengan memasang kuda-kuda, Lingga membuka mulutnya yang seketika keluar air membentuk tongkat memiliki ujung yang runcing sepanjang lima jengkal dengan diameter setengah jengkal, melesat cepat ke arah Kamaraka.
Menyadari dirinya tengah dalam bahaya, Kamaraka menangkis dengan tebasan goloknya yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hitam. Semburan air Lingga terpecah dan hilang tak berbekas. Namun, Kamaraka mundur beberapa langkah akibat serangan Lingga mengandung tenaga dalam yang besar.
Ki Purbowono tampak tersenyum melihat kehebatan salah satu murid terbaiknya. Sedangkan murid yang lain masih sedikit tegang, mengingat musuh dari temannya sangat beringas dalam melakukan serangan.
Kini Kamaraka melesat dengan golok yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hitam. Lingga hanya menghindari serangan Kamaraka dengan sedikit mundur ke belakang. Dalam beberapa waktu saja, mereka berdua telah bertukar beberapa jurus dan beradu pukulan serta tendangan.
Pada satu kesempatan, Kamaraka berhasil memojokkan Lingga dengan tebasan goloknya. Namun, dengan kegigihan Lingga, pemuda itu membuka mulut ketika golok Kamaraka hampir mengenai lehernya.
Kamaraka jatuh terguling terkena semburan air tepat pada dada kirinya. Sementara Lingga salto ke belakang dan memasang kuda-kuda.
“Aku akan membereskanmu, lalu mengejar kawanmu!” seru Lingga mengepalkan tangan kanannya.
“Hahaha, percuma anak muda!” sahut Kamaraka mendongakkan kepalanya. “Sebelum kau mengalahkanku, Yugala telah sampai markas!”
DYAR!
Semburan Naga Air Lingga berbenturan dengan golok milik Kamaraka. Namun, pria berbadan kekar itu tetap melesat dengan menebaskan goloknya meraih wajah Lingga, pemuda itu membungkuk dan melepaskan pukulan telapak tangan terbuka yang mengarah pada dada Kamaraka.
BUGH!
Kamaraka terlempar ke belakang dengan mengeluarkan darah dari mulutnya. Belum juga berdiri dengan sempurna, Lingga mengeluarkan Semburan Naga Air tepat mengenai dada Kamaraka.
Kembali pria berbadan kekar itu terlempar ke belakang dan terhenti setelah tubuhnya menghantam pohon besar di luar perguruan.
Tubuh Kamaraka tak bergerak, napasnya terhenti dan sepertinya pria berbadan kekar itu telah tewas.
“Guru, aku akan membentuk tim untuk mengejar Yugala!” seru Lingga meyakinkan Ki Purbowono.
“Jangan Lingga! Biarkan mereka membawa kitab itu!” sahut Ki Purbowono seraya mendongakkan kepalanya memandangi langit. “Mungkin sebentar lagi kita akan menghadapi kekacauan!”
Namun, perkataan Ki Purbowono tak diindahkan oleh Lingga, pemuda itu bertekad untuk merebut kembali kitab pusaka milik perguruannya. Lingga mengajak dua temannya Galih dan Galuh—pemuda kembar untuk mengejar Yugala yang bergerak ke arah utara.
Menyusuri hutan dan menuju pusat desa, mereka bertiga bergerak cepat dengan meringankan tubuhnya.
__ADS_1
***
“Paman! Apakah paman melihat pria membawa pedang yang diikatkan pada punggungnya?” tanya Lingga pada salah seorang warga yang melintas, sesaat setelah mereka sampai pusat desa.
“Apakah pria yang kalian cari memakai ikat kepala berwarna hitam!” sahut pria itu.
“Benar paman! Apakah paman melihatnya?” tanya Lingga lagi.
“Dia bergerak ke arah utara, kemungkinan masih sampai di Sungai Asin!” jawab pria itu seraya menunjukkan tangan kanannya.
“Baiklah! Terima kasih paman!”
Lingga, Galih dan Galuh mempercepat gerakannya, hingga sampai pada sebuah sungai, mereka bertiga melihat Yugala tengah membasuh muka.
“Kembalikan Kitab Air!” seru Lingga yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Yugala.
Tanpa basa-basi, Lingga melesat ke arah Yugala yang berdiri pada sebuah batu besar. Lingga menyemburkan air yang melaju cepat ke arah Yugala, tetapi Yugala menghindar dengan melompat ke samping kiri, hingga membuat batu tempat Yugala berdiri menjadi hancur karena serangannya.
“Lumayan juga!” lirih Yugala yang mengibaskan tangan kanannya diikuti cahaya hitam melesat cepat ke arah Lingga.
Lingga menghindar dengan melompat ke samping dan pohon di belakangnya hancur karena serangan Yugala. Galih dan Galuh juga menyerang Yugala, jurus mereka berdua sama dengan Lingga, menyemburkan air ke arah Yugala.
Sekali lagi, Yugala menghindar dengan mudah. Pria itu melompat ke samping kanan dan serangan si kembar itu mengenai batu tempat pijakan Yugala, hingga membuat batu itu hancur.
“Karena telah mendapatkan kitab ini, aku tak ingin menyakiti kalian!” seru Yugala terkesan meremehkan lawannya.
Namun, Lingga tak menghiraukan ucapan Yugala. Pemuda itu menyerang bersamaan dengan Galih dan Galuh.
Pertukaran serangan terjadi begitu cepat, pukulan dan tendangan saling beradu. Tiga melawan satu, tetapi Yugala mampu mengimbangi, hanya dengan menangkis tanpa melakukan serangan balik.
Pada satu kesempatan, Yugala melihat celah pertahanan terbuka pada tiga pemuda yang menyerangnya.
WUSH WUSH WUSH
Tiga pukulan mendarat pada tiga perut berbeda. Lingga, Galih, serta Galuh terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah.
“Jika aku menggunakan pedang. Mungkin saja kalian sudah tamat!” ucap Yugala dan berbalik badan hendak meninggalkan tiga pemuda yang telah terkapar itu. “Sekali lagi aku tegaskan, aku tak ingin menyakiti kalian!”
Yugala melangkahkan kakinya menuju tepi sungai. Dengan satu kibasan tangan kanannya, Yugala menghilang dalam kehampaan yang membuat tiga pemuda di belakangnya tak mampu berkedip.
“Sial! Aku gagal!” geram Lingga mengepalkan tangan kanannya.
“Mungkin benar perkataan guru!” sahut Galih.
“Sebentar lagi akan ada kekacauan di Negeri Yava!” timpal Galuh.
__ADS_1
Dengan memegangi perutnya, mereka bertiga kembali ke perguruan tanpa membawa Kitab Air yang sangat diharapkannya.