KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Cambuk Api (2)


__ADS_3

Lembah Manah yang hendak melanjutkan perjalanannya menuju Kadipaten Kotaraja menemui jalan buntu ketika berjumpa dengan Sungai Sabayu. Pemuda itu berjalan ke arah hulu, untuk mencari tepian sungai yang berjarak dekat dengan seberangnya.


Namun, semakin ke arah utara, Sungai Sabayu malah semakin lebar antara jarak tepian timur dengan tepi seberang barat. Menurut warga sekitar, satu-satunya akses menuju ke seberang adalah menaiki perahu.


Pemuda itu menaiki perahu selama satu jam, karena perahu hanya di dayung oleh tiga orang saja. Hingga pemuda itu sampai di seberang barat Sungai Sabayu dan mendengar keributan antara kakek tua dan seorang pria membawa cambuk yang ternyata itu adalah Empu Tulak melawan muridnya sendiri, Lokadenta.


“Jangan anak muda! Biarkan Lokadenta pergi!” seru Empu Tulak menghalangi Lembah Manah yang siap memasang kuda-kuda. “Tolong bawa aku pulang!”


Saat Lembah Manah menoleh ke arah Empu Tulak, Lokadenta bergegas pergi dengan membawa cambuk pusaka.


“Kau akan celaka dengan cambuk itu Lokadenta!” kutuk Empu Tulak memandangi punggung Lokadenta hilang ditelan rimbunnya pepohonan.


Lokadenta pergi ke arah hulu sungai dan mengumpulkan anak buahnya hingga mengundang seluruh pendekar dan perguruan yang ada di Kadipaten Lembah Bunga untuk berkumpul di Dermaga Sungai Sabayu.


***


Pagi itu Lembah Manah mengganti kain yang melilit dada Empu Tulak. Terlihat kakek tua itu meringis menahan rasa panas dan perih efek dari cambuk pusaka itu. Sesekali Lembah Manah menyeka luka itu dengan air hangat, agar tidak lengket dengan kain yang melilitnya.


“Kakek empu, apa kakek baik-baik saja?” Lembah Manah bertanya sembari mengganti kain yang melilit dada Empu Tulak.


“Besok juga sembuh Lembah!” sahut Empu Tulak sesekali menahan rasa perih di dadanya.


Di depan teras rumahnya, Empu Tulak banyak bercerita tentang Lokadenta. Sebenarnya pria itu adalah orang yang baik, selalu menurut dengan Empu Tulak dan mudah memahami setiap ilmu yang diajarkan.


Namun, semuanya berubah ketika Lokadenta menyukai seorang gadis, putri dari petinggi Wilayah Bunga Hijau—tempat tinggal mereka. Lokadenta selalu direndahkan oleh putri petinggi wilayah itu karena dirinya hanya seorang pelayan pandai besi.


Hingga putri kepala desa itu menerima lamaran seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tinggi dan keduanya menikah. Itu yang membuat Lokadenta sakit hati.


Lokadenta ingin menjadi kuat, agar tak ada perempuan yang merendahkannya. Dengan Cambuk Api Naga Geni ditangannya, dia mungkin akan menjadi pendekar yang hebat. Namun, Lokadenta mendapat kekuatan dari cara yang salah.

__ADS_1


“Kakek empu, izinkan saya menghentikan Lokadenta!” seru Lembah Manah sembari menyantap ubi rebus dan meneguk teh hangat dari bumbung bambu.


“Aku sangat berharap kepadamu, Lembah!” sahut Empu Tulak.


***


Matahari telah berada tepat di atas kepala, hari ini adalah hari dimana para pendekar menentukan pilihannya. Apakah akan melawan Lokadenta? Atau, menjadi pengikut pria berkepala plontos itu.


Dengan beberapa bawahan yang telah dikumpulkan, dengan sekejap Lokadenta telah mengambil alih pimpinan Wilayah Bunga Hijau. Bahkan, memaksa para penduduk menyerahkan separuh hasil panen mereka.


“Jadi kalian semua sudah datang, hahaha!” teriak Lokadenta dari atas panggung tepi Sungai Sabayu. “Aku harap kalian mau bergabung denganku dan menguasai daerah Lembah Bunga ini, hahaha!”


Para pendekar itu hanya saling menatap, masih ragu untuk menentukan pilihannya. Namun, beberapa pendekar aliran hitam langsung mengambil suara untuk ikut bergabung dengan Lokadenta.


“Aku Karang Wilis, siap bergabung dengan Lokadenta!” seru salah satu pendekar aliran hitam yang membawa golok pada punggungnya.


Wilayah Bunga Merah adalah sebuah wilayah yang masih di bawah kekuasaan Kadipaten Lembah Bunga. Wilayah itu terletak di bagian utara yang sebagian besar berupa dataran tinggi. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, akan memakan waktu selama satu hari perjalanan.


Kadipaten Lembah Bunga sendiri terdiri dari empat wilayah. Wilayah utara yang berupa dataran tinggi disebut Bunga Merah. Wilayah barat yang sebagian besar daerah gersang disebut Bunga Kuning.


Di sisi selatan yang berbatasan dengan pantai diberi nama Bunga Biru. Dan paling timur—tempat Lokadenta menghimpun kekuatan diberi nama Bunga Hijau karena sebagian wilayahnya berupa sungai dan hutan rakyat.


Sementara ibukota kadipaten sendiri diberi nama sesuai dengan nama kadipaten itu—Lembah Bunga, kadipaten yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik.


“Aku tak akan menjadi pengikutmu, hoi Lokadenta!” seru seorang pendekar dari aliran putih yang membawa senjata pedang.


“Ohh, rupanya kau Surang Kandhi!” sahut Lokadenta menunjuk Surang Kandhi. “Baiklah, jika itu maumu. Kau harus mati!”


Setelah berkata demikian, Lokadenta mengayunkan cambuk pusaka ke arah Surang Kandhi yang masih berdiri di depan panggung. Semula Surang Kandhi berhasil menghindari setiap lecutan cambuk yang menyerangnya.

__ADS_1


Hingga pada satu kesempatan, Lokadenta kembali mengayunkan cambuk yang dialiri tenaga dalam hingga menyala pada bagian ujungnya dan menjilat bagian dada Surang Kandhi. Pria bersenjata pedang itu tewas seketika dengan luka robek terbakar.


Surang Kandhi adalah seorang pendekar dari aliran putih yang semasa hidupnya membantu pihak kadipaten. Bisa dibilang, Surang Kandhi adalah salah satu pelindung Kadipaten Lembah Bunga.


“Siapa lagi yang menentangku, akan bernasib seperti pria ini!” seru Lokadenta dari atas panggung menunjuk jasad Surang Kandhi dengan tangan kirinya. “Aku beri keringanan, jika kalian bisa menghindari lima jurusku, kalian aku bebaskan, hahaha!”


“Sungguh kejam kau Lokadenta!” Seorang pria paruh baya melompat naik ke atas panggung dengan kendi labu pada pinggangnya. “Aku akan menghentikanmu!”


“Ohh, Pemabuk Dari Gua Lawa, Kartala!” seru Lokadenta mengerutkan keningnya. “Jika kau bisa menghindari lima jurusku, pergilah dari tempat ini dan jangan campuri urusanku!”


Lokadenta mengayunkan cambuknya ke arah Kartala yang baru saja menaiki panggung. Dengan berguling ke samping kiri, Kartala menghindari satu ayunan cambuk Lokadenta. Kartala meneguk arak dari kendi labu miliknya, lalu melesat menyerang Lokadenta.


Dengan kuda-kuda ciri khas pemabuk yang sulit ditebak, Kartala membuat Lokadenta kesulitan, hingga mengayunkan cambuknya untuk yang kedua kali. Kartala melompat dan salto ke belakang menghindari ayunan cambuk Lokadenta.


“Itu kan jurus mabuk!” seru salah satu pendekar aliran putih terkejut melihat jurus Kartala.


Pada satu kesempatan, Kartala berhasil memojokkan Lokadenta. Pria pemabuk itu menggunakan kendi labu miliknya untuk menghantam wajah Lokadenta.


“Kurang ajar!” geram Lokadenta.


Kembali Lokadenta mengayunkan cambuknya, kali ini dengan dialiri tenaga dalamnya, hingga membuat ujung cambuk itu menyala api. Lagi-lagi Kartala dengan mudah menghindari ayunan cambuk Lokadenta dengan membungkukkan badannya.


“Tak salah dia dijuluki Pemabuk Dari Gua Lawa!” ucap salah satu pendekar yang membawa pedang.


Hingga Lokadenta mengayunkan cambuk yang kelima kalinya, Kartala tampak baik-baik saja tanpa luka sedikit pun. Tentu saja hal itu membuat Lokadenta semakin geram, pria berkepala plontos itu memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Wajahnya memerah, mungkin menahan malu karena tak mampu melukai seorang pria yang suka meminum arak. Hingga akhirnya Lokadenta melepaskan Kartala untuk pergi dari tempat itu.


“Kau, aku bebaskan, Kartala!” seru Lokadenta tanpa melihat ke arah pria pemabuk itu.

__ADS_1


__ADS_2