KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Serangan Mendadak (3)


__ADS_3

Lembah Manah dikurung tujuh pendekar bawahan Agni Ageng yang memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir. Dengan gerbang kedua, Lembah Manah bergerak cepat dan melumpuhkan tujuh pendekar itu dengan luka dalam yang cukup parah.


Lembah Manah menyerang bagian vital tubuh lawannya. Meski tak sampai membunuhnya, tetapi kerusakan organ bagian dalam lebih mengerikan daripada mati dengan satu tebasan pedang, ataupun terkena tusukan tombak.


Karena dengan rusaknya organ dalam, pendekar itu akan merasakan sakit yang teramat sangat. Dengan teriakan kesakitan yang sangat keras, bisa membuat pendekar yang lainnya semakin menurun mental bertarungnya.


“Boleh juga kau anak muda!” seru pendekar pembawa pedang itu. “Tapi apakah kau bisa menerima sera—aahhkk!”


Teriakan kesakitan membuat lawannya yang lain menjadi ciut nyalinya, karena melihat pendekar itu belum selesai berbicara, Lembah Manah telah memukul bagian dada sebelah kirinya. Pendekar itu terlempar ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah, sepertinya pendekar itu pingsan.


BOOM


Datang satu serangan lagi.


Bola api milik Agni Ageng menghantam tembok pagar istana, hingga hancur pada sebagian kecil. Patih Ragas hendak mencegahnya, tetapi terlambat karena patih berbadan kekar itu dikepung tiga pendekar level Inggil tahap menengah.


Denting pedang beradu, Patih Ragas melawan tiga pendekar itu dengan gerakan mundur ke belakang. Karena tenaga dalam ketiga lawannya begitu besar, membuat patih berbadan kekar itu sedikit kewalahan.


Agni Ageng sedikit mengambil napas di belakang tiga pendekar bawahannya. Pada satu kesempatan, Agni Ageng melihat celah pertahanan Patih Ragas yang terbuka. Dengan satu kibasan, pedangnya mengeluarkan satu bola api seukuran genggaman orang dewasa.


Patih Ragas menggeser tubuhnya ke samping kiri, tetapi bola api menyerempet bahu kanannya. Patih Ragas terlempar ke belakang dan tubuhnya berhenti setelah beberapa kali jatuh terguling.


Pedangnya terlepas dari genggaman tak jauh darinya, Patih Ragas jatuh terlentang. Belum juga menguasai tubuhnya, tiba-tiba Agni Ageng melayang sepuluh langkah tepat di atas Patih. Satu tebasan pedang mengeluarkan bola api melesat cepat ke arah Patih Ragas.


Namun, satu langkah sebelum bola api itu hampir mengenai tubuh Patih Ragas, sekelebat bayangan hitam menyambar tubuh Patih Ragas, lalu meletakkan tubuh patih itu di tempat yang sedikit lebih aman.


“Lembah” seru Patih Ragas membelalakkan matanya. “Terima kasih, hampir saja aku terkena serangannya!”


“Apa Anda baik-baik saja, patih?” sahut Lembah Manah mengarahkan pandangan ke sekelilingnya. “Tetaplah fokus menghadapi perempuan itu!”


Beberapa saat kemudian, Lembah Manah melesat ke arah Ni Luh yang tengah di keroyok tiga pendekar membawa pedang. Dengan membuka gerbang kedua, kecepatan pergerakan Lembah Manah tak bisa dilihat oleh mata biasa.


Ni Luh terkena satu jurus dari lawannya. Meski telah menggunakan Tarian Bunga Ilalang, gadis itu menerima satu tendangan lawan pada bagian perutnya. Dengan kecepatannya, Lembah Manah menyerobot tubuh Ni Luh dan membawanya ke tempat yang lebih aman—di atas menara pengintai.

__ADS_1


“Minumlah Ni Luh!” seru Lembah Manah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam. “Ini adalah ramuan pemulihan tubuh!”


“Terima kasih, Lembah!” sahut Ni Luh yang masih memandangi wajah Lembah Manah yang telah berlalu mendekati ketiga pendekar yang menjadi lawan Ni Luh sebelumnya.


Dengan sekali serang, tiga pendekar itu jatuh terkapar dan hilang kesadaran.


***


Kembali Patih Ragas melesat ke arah Agni Ageng. Setelah mengambil pedangnya, patih berbadan kekar itu menyerang Agni Ageng dengan beberapa jurusnya. Namun, kelincahan gerakan Agni Ageng membuat Patih Ragas kesulitan membuat luka pada tubuh perempuan langsing itu.


“Bagaimanapun juga, aku akan membalas perbuatanmu, patih!” seru Agni Ageng sembari menyerang Patih Ragas dengan gerakan memutar.


SRET


Bahu kiri Patih Ragas terkena satu sayatan yang membuatnya mundur ke belakang beberapa langkah.


“Sial! Pergerakannya sangat lincah!” lirih Patih Ragas.


Di sisi lain, Wulan kesulitan menghadapi tiga pendekar aliran hitam bawahan Agni Ageng. Mungkin karena tingkat ilmu kanuragannya yang lebih rendah, membuat tuan putri itu terdesak.


Beruntung setelah menyelamatkan Ni Luh, Lembah Manah melesat ke arah tuan putri itu dan menghabisi tiga pendekar yang menjadi lawan Wulan dengan menyerang bagian organ vitalnya.


Lembah Manah melesat ke arah yang lain, sepertinya pemuda itu hanya menjadi peran pembantu dalam pertarungan kali ini. Namun, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu dan datang di saat yang sangat tepat, karena kecepatannya di atas rata-rata.


***


“Awas di belakangmu!” teriak Nastiti yang melihat seorang pendekar aliran hitam hendak menebas tubuh Sangga Buana.


Roko Wulung bermaksud menghentikan pendekar yang akan menebas Sangga Buana, tetapi sepertinya sudah terlambat karena jarak dirinya dengan Sangga Buana sedikit berjauhan.


Namun, sekelebat bayangan hitam menyambar tubuh Sangga Buana dan melepaskan tubuh pemuda pembawa tongkat itu di dekat Nastiti.


“Bukankah kau—!”

__ADS_1


“Ya, aku Lembah Manah!” sahut pemuda itu memotong perkataan Sangga Buana yang matanya masih terbelalak.


Roko Wulung melesat ke arah pendekar pembawa pedang itu dan melepaskan satu Pukulan Natas Angin dengan tangan kanannya. Tubuh pendekar pedang itu terlempar beberapa langkah dan terjatuh di samping mayat pendekar aliran hitam lainnya.


“Kalian jangan terpisah!” seru Lembah Manah mengingatkan para pendekar perempuan. “Tuan Putri dan kalian—Lintang, Ranti!”


Lembah Manah menoleh ke arah Roko Wulung dan kembali berkata, “tetaplah bersama Putri Nastiti, Sangga Buana dan Roko Wulung!”


“Kau mau kemana?” tanya Nastiti.


“Aku akan memeriksa ke tempat yang lain!” sahut Lembah Manah dan lagi-lagi menoleh ke arah Roko Wulung  “Aku percaya padamu hoi pendekar tangan kosong!”


Roko Wulung hanya mengangguk pertanda mengiyakan perintah Lembah Manah.


Dalam beberapa saat saja, Lembah Manah sudah menunjukkan keakraban dengan peserta pertandingan yang lain. Mungkin karena situasi genting, membuat semuanya harus bersatu untuk mengalahkan musuh.


Banyak dari kedua belah pihak yang meregang nyawa, entah prajurit kerajaan ataupun pendekar bawahan Agni Ageng dan Bayu Amerta.


Dengan dua pendekar pedang saja, bisa membuat istana luluh lantak, bagaimana jika kelima pendekar pedang itu bergabung? Mungkin akan berbeda cerita.


Terlihat Lingga dengan mudah melumpuhkan beberapa pendekar aliran hitam bawahan Bayu Amerta. Dengan Jurus Semburan Naga Air, pemuda itu memadatkan air dari dalam mulutnya menjadi seperti tongkat yang menghantam tubuh lawannya.


***


Di dalam ruang perawatan, para peserta yang mendapat penanganan tim medis sepertinya telah pulih karena diberi ramuan pemulihan dan beberapa ekstrak penempaan tubuh. Mereka beranjak keluar dan mendapati arena pertandingan hancur sebagian. Mereka lari keluar dan melihat peperangan tengah berlangsung.


“Apa yang terjadi!” geram Tatar Pakujiwo.


“Pangeran, sepertinya dua pendekar membawa pedang itu telah mengacaukan tempat ini!” sahut Sambara.


Tatar Pakujiwo menyapukan pandangannya ke arah istana dan mendapati para petinggi kerajaan di dalam bangunan besar itu.


“Aku akan melindungi istana!” ucap Tatar Pakujiwo berlalu menuju istana.

__ADS_1


__ADS_2