KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Jurus


__ADS_3

Pemuda itu menceritakan tentang Ki Badra yang sudah memulai pergerakan. Pria tua bermata satu itu ingin sepenuhnya menguasai seluruh Negeri Yava. Itu terlihat dari ucapan Eyang Rahpati yang berambisi untuk menghancurkan kerajaan.


“Dengan kemampuanmu saat ini, aku yakin kau bisa menghentikan kekacauan yang akan terjadi, Lembah!” seru Begawan Narmada menaruh harapan besar kepada Lembah Manah. “Satu lagi pesanku, Lembah. Hargailah setiap kehidupan di muka bumi ini!”


Setelah banyak mendapat pelajaran dari Begawan Narmada. Kini ilmu kanuragan Lembah Manah berada pada tingkat Bantolo, sama dengan ilmu kanuragan Eyang Rahpati.


Tunggu! Bukankah tingkat ilmu kanuragan itu hanya ada tiga?


Setelah seorang pendekar melewati tingkat Inggil tahap akhir, ilmu kanuragan mereka akan menginjak pada tingkat Bantolo. Lalu menginjak tingkat Tawang, pada tingkatan berikutnya. Dan tingkat ilmu kanuragan terakhir, ada tingkat Resi.


“Baik kakek begawan. Lembah mohon undur diri. Terima kasih atas semua yang telah kakek begawan ajarkan kepada Lembah!” tutup Lembah Manah mencium punggung tangan kanan Begawan Narmada dan meninggalkan pondokan di Gunung Sundara itu.


Dengan menggunakan dua ajian sekaligus, Lembah Manah bergerak menuruni Gunung Sundara. Gerakan pemuda itu sangat cepat, hingga yang terlihat hanya sekelebatan cahaya hitam berpindah-pindah tempat.


***


Sementara itu di Perguruan Jiwa Suci, setelah penyerangan Eyang Rahpati, mereka masih saja berbenah diri. Puing aula pembelajaran telah disingkirkan dan berganti dengan bangunan yang telah diperbaiki.


Ni Luh juga terlihat lebih tenang dibandingkan hari pertama sejak hilangnya Lembah Manah dibawa cahaya putih. Ki Tunggul juga telah menjelaskan kepada gadis itu bahwa, Lembah Manah akan baik-baik saja berada ditangan Begawan Narmada.


Pagi ini, Ki Tunggul berencana untuk mengadakan uji tanding antar murid di halaman perguruan. Mengingat Eyang Rahpati belum berhasil merebut kitab pusaka dari tangannya, khawatir jika nanti salah satu petinggi Lowo Abang itu kembali mengincarnya.


“Mohon perhatian sebentar, ada satu hal yang akan aku sampaikan pada kalian,” seru Ki Tunggul yang tengah memberi materi di aula pembelajaran. “Kita harus banyak belajar dari kejadian kemarin. Bisa saja musuh mengirim pendekar yang lebih kuat dari Eyang Rahpati!”


Para murid yang mendengarnya terlihat sangat khawatir, karena tingkat kanuragan mereka masih berada jauh di bawah rata-rata untuk bisa disebut sebagai pendekar.


“Benarkah guru? Lalu apa rencana guru untuk melindungi pusaka milik perguruan?” Nata bertanya, seakan ingin tahu apa rencana gurunya tersebut.


“Aku ingin kalian uji tanding, kerahkan kemampuan terbaik kalian,” ucap Ki Tunggul penuh semangat.


Para tetua perguruan diajak menuju pelataran halaman untuk melakukan uji tanding bersama Ki Tunggul dan Sesepuh Anggada.

__ADS_1


Semua dikumpulkan, ada tujuh tetua yang memiliki ilmu kanuragan di atas rata-rata. Mereka diarahkan untuk duduk bersila berdampingan satu-satu dan sedikit menjauh agar tak terkena jurus yang tengah uji tanding.


Rata-rata murid Perguruan Jiwa Suci adalah korban dari kekerasan, kehilangan orang tuanya, atau pula korban para pendekar aliran hitam. Mereka dibawa ke perguruan oleh Ki Gendon dan dirawat hingga menjadi pendekar yang berjalan pada jalan kebaikan.


“Nata! Majulah dan lawan aku, tunjukkan ilmu kanuraganmu!” perintah Ki Tunggul.


“Apa! Tapi guru—!”


“Lawan aku, anggap aku sebagai musuhmu!” seru Ki Tunggul memotong perkataan Nata.


Nata berdiri dan maju ke depan untuk melawan gurunya. Pemuda itu memberi hormat dan melesat ke arah Ki Tunggul dengan pukulan kedua tangannya, bergantian kanan dan kiri.


Ki Tunggul dengan mudah menghindar dengan menggeserkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri tanpa mengeluarkan jurusnya.


“Ayo serang lebih serius, keluarkan ilmu kanuraganmu!” seru Ki Tunggul seraya mendaratkan satu pukulan tangan kanan di dada kanan bagian atas Nata.


Nata mulai menggunakan ilmu kanuragannya. Semula tampak biasa, tetapi lama-lama terlihat aneh. Mata milik Nata memutih, dengan otot keluar di sekitar pelipis kanan dan kirinya.


Pemuda itu dapat melihat aliran titik meridian milik gurunya, mulai dari perut bagian bawah, kepala, hingga ujung kaki. Semula belum ada yang menyadari jika Nata memiliki Mata Byakta. Namun, kali ini tidak ada yang ditutupi lagi.


Kini Ki Tunggul melesat ke arah Nata, mencoba mendaratkan pukulan dengan tangan kanannya. Namun beberapa langkah sebelum mencapai Nata, pemuda itu memutarkan tubuhnya dengan kecepatan penuh.


Terbentuklah energi tenaga dalam berbentuk bulat seperti bola berwarna putih. Nata berada di dalam bola tenaga dalam itu dan berputar dengan cepat, hingga membuat Ki Tunggul terlempar beberapa langkah dan terguling di pelataran halaman.


Ki Tunggul sengaja memancing Nata agar menggunakan jurusnya, karena dengan melihat mata milik Nata Ki Tunggul tahu kalau mata itu istimewa.


“Bagus Nata, sekarang terima ini!” seru Ki Tunggul yang kembali melesat ke arah Nata dengan kedua tangannya yang dialiri tenaga dalam.


Ki Tunggul kembali mendaratkan pukulan, tetapi saat jarak lima langkah sebelum mengenai Nata, pemuda itu melesat maju dengan mendaratkan beberapa pukulan.


Uniknya, pukulan Nata bukan dengan kepalan tangan, tetapi dengan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah yang mengincar aliran titik meridian gurunya.

__ADS_1


“Empat pukulan!” teriak Nata.


“Delapan pukulan, enam belas pukulan—“


“Tiga puluh dua pukulan—“


“Enam puluh empat pukulan— “


“Seratus dua puluh delapan pukulan!” teriak Nata yang diakhiri dengan telapak lima jarinya tepat mengenai dada kanan Ki Tunggul.


Nata menghajar habis gurunya dengan banyak pukulan yang menimbulkan asap pekat di pelataran halaman. Dan setelah asap itu menghilang, tampak Ki Tunggul masih berdiri tegak tanpa luka sedikit pun.


“Apa!” teriak semua tetua terkejut.


Rupanya, Ki Tunggul menggunakan Ajian Karang yang membuat tubuhnya menjadi keras dan tahan dari berbagai serangan apa pun.


“Bagus Nata, kau hebat. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” selidik Ki Tunggul penasaran.


“Iya guru, silakan,” jawab Nata sembari mengembalikan matanya ke wujud semula.


“Apakah kau berasal dari keturunan Trah Mirsa?” tanya Ki Tunggul.


“Benar guru, namaku Mirsa Natapraja,” jawab Nata tegas.


Ki Tunggul menjelaskan pada Nata dan semua tetua yang berada di pelataran halaman tersebut. Trah Mirsa mempunyai jurus yang turun temurun dari pendahulunya. Dan tiap-tiap keturunan memiliki satu jurus istimewa.


Nata mengaktivasi Mata Byakta miliknya, mata yang bisa melihat sejauh sepuluh kilometer dan juga mampu melihat aliran titik meridian pada tubuh seseorang. Lalu putaran berbentuk bola tenaga dalam yang berwarna putih adalah Wesaran, putaran tubuh dengan kecepatan tinggi ciri khas Trah Mirsa.


Dan satu jurus istimewa milik Nata adalah, saat dia melancarkan beberapa pukulan dari jarak jangkauan pukulannya sejauh lima langkah.


Nata seakan tak percaya bahwa dirinya telah mengaktivasi jurus istimewa dari pendahulunya. Dia juga sangat berterima kasih atas penjelasan dari Ki Tunggul tentang asal usul keluarga dan juga jurus miliknya.

__ADS_1


Nata kembali duduk diantara teman-temannya. Kini berganti tetua yang lain maju ke depan untuk melawan gurunya sendiri.


Ki Tunggul juga duduk bergabung dengan para tetua perguruan dan berganti sesepuh Anggada yang melakukan uji tanding.


__ADS_2