
Pada sebuah puncak bukit yang tidak begitu luas, beberapa pemuda tengah menyiapkan tempat untuk melangsungkan ritual.
Sepuluh gadis dengan tangan terikat ke belakang tanpa busana ditidurkan pada tempat ritual itu. Rata-rata usia gadis itu tidak lebih dari dua puluh tahun, dan yang jelas masih belum ternoda alias masih perawan.
Lalu sepuluh pemuda mendekati para gadis, dengan memilih satu per satu, seperti memilih pasangannya.
“Amiri, maafkan kakak!” lirih Amara menangis ketika tangan salah satu pemuda itu membelai rambutnya.
Seorang pria tua yang merupakan pemimpin kelompok itu mengangkat tangan kanannya, lalu berkata, “sebentar lagi ilmu kanuragan kita akan meningkat pesat, hahaha!”
“Hentikan!”
Teriak seorang pemuda yang tiba-tiba melompat dari dahan pohon besar.
“Aku tak menyangka, kau tega dengan cucumu sendiri!” ucap sosok yang menghentikan ritual itu.
Sontak perkataan itu membuat pemimpin Kelompok Girisi terkejut. Dia tak menyangka ada orang yang mengetahui rahasianya. Ya, Lembah Manah tidak pergi begitu saja, pemuda itu masih percaya dengan ucapan Amiri.
Lembah Manah bersembunyi pada sebuah bukit untuk mengamati jika ada pergerakan dari penduduk desa yang mencurigakan. Namun, pemuda itu malah tak sengaja menemukan sepuluh gadis yang disekap pada sebuah bangunan tua yang menjadi markas Kelompok Girisi.
Lembah Manah tak mengira, jika bukit tempatnya bersembunyi adalah tempat ritual sekaligus markas dari kelompok yang menculik para gadis desa.
Dengan gerakan cepat, Lembah Manah berhasil melumpuhkan sembilan pemuda anggota kelompok itu, lalu mengambil pakaian para gadis untuk menutupi tubuh gadis itu terlebih dahulu sebelum melawan pemimpin Kelompok Girisi.
“Aku akan menghentikan perbuatanmu!” geram Lembah Manah.
“Kurang ajar!” seru kakek Amiri yang tak lain adalah pemimpin kelompok itu.
Pemimpin itu melesat ke arah Lembah Manah dengan satu pukulan meraih wajah Lembah Manah. Pemuda itu berhasil menghindar dengan mudah dan melompat ke belakang. Lembah Manah memasang kuda-kuda dan mengaktifkan Ajian Tapak Harimau.
Dengan satu lompatan, pemimpin Kelompok Girisi mengincar tubuh Lembah Manah dengan pukulan tangan kanannya. Lagi-lagi Lembah Manah hanya menghindar dengan bergeser ke samping kanan.
“Keparat!” umpat pemimpin kelompok itu yang kembali melesat ke arah Lembah Manah.
__ADS_1
Melihat ada celah yang terbuka, Lembah Manah menundukkan badannya, lalu melayangkan satu pukulan telapak tangan terbuka yang mendarat di dada sebelah kiri pemimpin kelompok itu.
Pemimpin kelompok itu jatuh tersungkur dengan darah keluar dari mulutnya. Belum sempat pemimpin kelompok itu berdiri menguasai tubuhnya, Lembah Manah meraih tangan kanan pemimpin kelompok itu dan memuntirnya ke belakang.
KRAK
Suara pergelangan tangan yang patah membuat pemimpin kelompok itu meringis kesakitan. Lembah Manah meninggalkan pemimpin kelompok itu dan menghampiri seorang gadis yang wajahnya mirip dengan Amiri, dialah Amara.
Dengan memejamkan matanya, Lembah Manah melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Amara. Tangannya gemetaran, lagi-lagi pemuda itu sangat dekat dengan seorang gadis. Apalagi tanpa sehelai kain yang membalut tubuh gadis itu. Lembah Manah memberikan pakaian milik Amara dan meminta gadis itu untuk membebaskan gadis yang lain.
“Apa yang terjadi!” ucap seorang pemuda yang tiba-tiba datang dan mendekati para anggota Kelompok Girisi, hendak memeriksanya.
Araka datang bersama beberapa murid Perguruan Pedang Putih dan langsung meringkus para anggota kelompok itu dengan mengikat tangannya ke belakang.
“Amara!” seru Araka mendekati Amara yang tengah duduk bersama Lembah Manah. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?”
Araka memperhatikan Lembah Manah tampak tidak senang dengan pemuda itu dan berkata, “kau lagi, kenapa berada di tempat ini?”
“Aku hanya kebetulan menumpang lewat!” sahut Lembah Manah menghentikan perkataan Amara. “Aku mohon pamit!”
Lembah Manah berlalu begitu saja dan hendak mencari penginapan di pusat desa terdekat. Sementara itu, para anggota Kelompok Girisi diringkus oleh Araka dan para bawahannya untuk dibawa ke pusat kadipaten dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sepertinya tugas kali ini telah selesai tanpa adanya korban dari para gadis yang menjadi tumbal ritual aneh Kelompok Girisi.
***
Sementara itu, di sebelah selatan Desa Buntu, hujan turun di siang hari. Desa kecil itu berpenduduk tak lebih dari seratus orang. Tidak terlalu deras, tetapi bisa sedikit membasahi tanah yang berdebu, karena cuaca tiga hari ini sangat panas.
Suasana desa tampak sunyi, para penduduk ada yang sebagian masih di ladang dan sebagian lagi ada yang memilih berdiam di rumah.
Desa Tritis, ya desa itu adalah desa kecil yang berada paling ujung barat daya Kadipaten Purwaraja. Desa ini sangat terpencil, tidak ada pasar desa dan jauh dari keramaian seperti desa pada umumnya.
Namun penduduk di desa ini hidup serba kecukupan, bisa di katakan sebagai desa yang kaya dan dilindungi oleh Perguruan Pedang Putih.
__ADS_1
Desa ini diapit oleh dua bukit dan mempunyai lembah yang sangat indah, dengan padang rumputnya yang luas diselingi pepohonan lamtoro dan semak-semak yang bergerombol.
Lembah itu bernama Lembah Kidang. Kenapa diberi nama demikian? Karena dulunya di tempat ini sering terlihat kidang berkerumun untuk mencari makan atau sekedar keluar dari hutan.
Di tengah lembah terdapat sungai kecil yang membelah dari ujung bukit menuju tepian desa. Sungai dengan air yang sangat jernih, sering dijadikan tempat minum oleh kidang yang keluar dari hutan. Hingga kini, tempat itu masih sering dijadikan persinggahan kidang-kidang itu
***
Terdengar suara gaduh dari salah satu rumah warga yang letaknya paling ujung. Pak Jaya tampak berusaha menahan barang berharga miliknya dari dua orang tak dikenal memakai pakaian hitam yang mencoba menguras hartanya.
“Kembalikan! Dasar keparat!” seru Pak Jaya mencoba mengejar dua orang itu.
Dari dalam rumah, Ibu Rawi menangis mendekati putranya—Alang yang terjatuh di lantai yang masih berupa tanah, lalu digendongnya sembari mengejar sang suami.
“Sudah pak! Jangan dikejar!” pinta Ibu Rawi kepada suaminya.
Pak Jaya masih saja berusaha merebut bungkusan kain yang dibawa bandit itu sembari berontak memukul-mukulkan tangannya di dada bandit itu. Namun, para bandit tak menghiraukan erangan dari Pak Jaya.
Kedua orang bandit itu menamakan dirinya Berandal Suro Menggolo. Mereka sering merampas harta milik warga, berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lainnya. Dan yang paling mengejutkan adalah, ketika mereka menjalankan aksinya, selalu pada saat turun hujan.
Satu pria bersenjata golok yang diikatkan pada punggungnya bernama Gajira. Dan pria satunya yang membawa pedang diikatkan pada pinggangnya bernama Gemala.
Mereka berdua adalah kakak beradik, yang sedari kecil dianggap bocah pembawa sial. Hingga beranjak dewasa, kedua pria itu selalu membenci orang kaya. Tak heran jika kelakuannya begitu bengis, karena dendam sedari kecil dibawa hingga dewasa.
Ciri khas dari mereka adalah berewok pada Gemala, sedangkan sang adik—Gajira, berkumis tetapi tidak memiliki berewok.
“Sudahlah pak tua, serahkan saja hartamu, hahaha!” teriak Gemala mendongakkan kepalanya.
Pak Jaya masih berusaha melindungi hartanya, hingga ditarik keluar rumah oleh Gemala. Pria tua itu tergeletak di pelataran rumah, memohon agar hartanya dikembalikan.
Sementara Gajira hanya berdiri, membawa hasil rampasan di tangan kiri. Tak lama kemudian, tangan kanan Gajira mengepal mengarah ke atas, lalu menggerakkannya ke bawah dengan cepat. Dan seketika itu juga Pak Jaya tewas.
"Tidak!" teriak Ibu Rawi menyaksikan suaminya tewas.
__ADS_1