
Gajira langsung menyerang Araka dengan satu tebasan goloknya yang telah dialiri tenaga dalam. Awalnya, Araka mampu menangkis golok Gajira, tetapi lama-kelamaan, golok Gajira hampir mengenai bahu kiri Araka.
Dengan satu kali hentakan kaki kanannya, Araka mengembalikan serangan Gajira. Kini berbalik, Araka menebaskan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam ke arah Gajira.
Dengan mudah Gajira mampu menghindar, membungkuk lalu menebaskan goloknya ke arah Araka. Hampir saja Araka terkena tebasan golok pada bagian perutnya, jika tidak membungkukkan badannya.
Tak tinggal diam, Narendra dan Pataksi bersamaan melawan Gemala. Gemala sedikit kerepotan dengan dua lawannya dan menebaskan pedangnya dari kanan ke kiri, mengarah dua lawan sekaligus. Narendra dan Pataksi menghindar dengan melompat ke belakang.
Pada satu kesempatan, Narendra dan Pataksi bersamaan menggunakan pedangnya. Namun, tenaga dalam Gemala lebih besar dari dua pemuda itu. Pria dengan berewok itu mampu mengimbangi lawannya dan berbalik unggul.
“Sial! Kuat sekali orang ini!” geram Narendra menyilangkan pedang di depan tubuhnya.
“Kurang ajar! Sepertinya aku telah meremehkannya!” seru Pataksi menggenggam pedangnya.
Keduanya melesat bersamaan dan menebaskan pedangnya. Lagi-lagi Gemala menangkis dua pedang sekaligus, lalu tangan kirinya menghantam perut Narendra, sedangkan kaki kanannya menendang perut Pataksi.
Kedua pemuda itu terlempar beberapa langkah ke belakang dan terjatuh dengan mulut mengeluarkan darah. Rupanya dua pemuda itu bukan lawan yang sepadan untuk Gemala.
Gemala mendekat ke arah dua pemuda itu dan hendak mengakhiri pertarungan dengan satu tebasan pedangnya.
“Sayang sekali kalian harus mati mu—aahhkk!”
Perkataan Gemala terhenti dan berganti dengan teriakan kesakitan ketika sekelebat bayangan biru melesat menghantam tubuh pria dengan berewok itu. Ya, tentu saja Lembah Manah menggunakan Ajian Tapak Harimau aktivasi kanuragan tingkat Madyo tahap awal untuk menghalau tindakan Gemala.
“Kurang ajar! Siapa kau ini!” geram Gemala sesaat setelah tubuhnya menabrak pohon besar karena dilemparkan oleh Lembah Manah.
“Aku!” sahut Lembah Manah berdiri tak jauh dari Gemala yang belum menguasai tubuhnya. “Aku adalah Lembah Manah!”
Setelah berkata demikian, Lembah Manah menarik tangan kanannya ke belakang, lalu seluruh tubuhnya diselimuti cahaya biru terang. Dengan sekali pukulan telapak tangan terbuka, Lembah Manah mengarahkan pada dagu Gemala yang hendak berdiri.
Terlambat! Ya, Gemala terlambat menghindari serangan Lembah Manah. Pria dengan berewok itu terkena satu pukulan telak milik Lembah Manah dan terlempar ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya, lalu pingsan sedetik kemudian.
__ADS_1
Melihat satu lawannya telah tumbang oleh serangan Lembah Manah, Araka sedikit terkejut dan berhenti bertarung untuk beberapa saat.
Namun, Gajira memanfaatkan kelalaian Araka, satu pukulan mendarat pada wajah pemuda itu hingga membuatnya jatuh tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah.
“Keparat!” umpat Araka kembali bangkit dari keterpurukannya.
Pemuda itu mengambil ancang-ancang, menyilangkan pedang di depan wajahnya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya ke belakang. Gajira melesat kembali menyerang, menebaskan goloknya dari kanan ke kiri meraih perut Araka.
Lagi-lagi pemuda itu mampu menghindari serangan Gajira dengan melompat dan memutar tubuhnya sembari menebaskan pedang ke arah pundak kanan Gajira.
SRET
Gajira terkena satu sayatan pedang, meringis kesakitan dengan darah menetes perlahan. Gajira berdiri memegang golok yang kini berpindah di tangan kirinya. Tanpa ancang-ancang, Gajira melesat menyerang Araka dan menebaskan goloknya meraih bagian perut pemuda itu.
Beberapa langkah sebelum mata pedang Gajira mengenai perut Araka, Araka menghindar dengan memutarkan tubuh ke arah kanan.
Namun, Gajira telah mempelajari gerakan Araka, pria berkumis itu berhenti beberapa detik dan menghantam dada Araka dengan pangkal gagang goloknya.
Araka terlempar beberapa langkah ke belakang. Serangan Gajira mengandung tenaga dalam yang begitu besar, hingga membuat pemuda itu mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Dengan bergerak ke belakang, Araka bersandar pada sebuah pohon dan memegangi dada kirinya.
“Pukulan Tapak Harimau!”
Perkataan Gajira berubah menjadi teriakan kesakitan saat tubuhnya terkena satu jurus milik Lembah Manah. Ya, sebelum Gajira menebaskan goloknya, Lembah Manah mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada dada kiri Gajira.
Pria pembawa golok itu terlempar beberapa langkah ke samping kanan dan tubuhnya berhenti melayang ketika menghantam pohon besar.
“Kurang ajar!” umpat Gajira kembali berdiri. “Jangan ikut campur urusanku!”
“Kalian telah meresahkan warga desa!” seru Lembah Manah memasang kuda-kuda. “Sayang sekali, aku harus mencampuri urusanmu!”
Lembah Manah melesat cepat ke arah Gajira, sesaat setelah pria membawa golok itu berdiri menguasai tubuhnya. Dengan melepaskan satu pukulan, Lembah Manah meraih wajah Gajira.
__ADS_1
Namun, Gajira menghindar dengan melompat ke belakang dan memperlebar jarak dengan Lembah Manah. Walaupun Lembah Manah bertubuh tidak terlalu besar, tetapi kecepatan gerakannya mampu membuat Gajira kewalahan.
Itu karena stamina Lembah Manah yang lebih unggul dibandingkan dengan Gajira. Dengan memanfaatkan kelincahan tubuhnya, Lembah Manah terus menekan Gajira yang berbadan kekar dan cenderung gerakannya lambat.
Cukup lama dua orang itu jual-beli serangan, saling bertukar jurus dan beradu pukulan juga tendangan. Meski bertarung dengan tangan kosong, tetapi Lembah Manah mampu menghindari dan menahan setiap tebasan golok Gajira.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah berhasil mengeluarkan Ajian Tapak Harimau miliknya, ketika melihat celah pertahanan Gajira yang terbuka. Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat tepat pada dada kiri Gajira.
Gajira terhuyung ke belakang melepaskan goloknya dan terjatuh ketika tubuhnya tertahan pohon besar di belakangnya. Seketika Gajira roboh tak berdaya, dengan darah keluar dari mulutnya.
Dengan disaksikan beberapa warga dan para petinggi desa, Berandal Suro Menggolo berhasil dikalahkan. Mereka tak berdaya menghadapi Lembah Manah seorang diri, meski sebelumnya telah menghadapi tiga murid dari Perguruan Pedang Putih.
Kini tinggal mencari keberadaan Mara yang masih tertahan di dalam portal alam gaib yang dibuat oleh Gajira. Mara dapat melihat semua orang yang ada disekitarnya, tetapi tak seorang pun yang dapat melihat keberadaan Mara.
"Bapak! Bapak! Bapak!”
Terdengar suara Mara memanggil Ki Darmo, tetapi tak terlihat wujudnya.
"Iya nak, kamu dimana Mara!” jawab Ki Darmo cemas.
Lembah Manah melihat sisa-sisa biji jagung milik Mara, pemuda itu memperkirakan kalau portal alam gaib itu berada tepat di tengah-tengah pohon lamtoro kembar. Lembah Manah berdiri tepat di tengah pohon lamtoro itu, dengan tubuh sedikit ke belakang.
Lembah Manah menggunakan Gerbang Kegelapan untuk melindungi kedua tangannya dan perlahan mulai meraba-raba untuk mencari dimana portal gaib itu.
Maju sedikit demi sedikit, beberapa langkah kemudian akhirnya pemuda itu seperti menyentuh angin yang bertekanan, lalu terbukalah portal gaib itu.
Lembah Manah memasuki portal gaib itu, terlihat Mara sedang duduk dengan kedua tangan terikat. Buru-buru Lembah Manah melepaskan ikatan dan menggendong Mara keluar dari ruangan portal gaib tersebut.
Portal itu masih tetap terbuka untuk beberapa saat, lalu kembali tertutup saat Lembah Manah keluar dari portal gaib itu.
Mara terlihat baik-baik saja, tanpa terluka sedikit pun. Bahkan sedikit tersenyum melihat ayahnya menghampirinya. Lembah Manah melepaskan gendongan dan menyerahkan Mara pada Ki Darmo.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja kan Mara?” seru Ki Darmo memeluk Mara.
“Iya bapak. Mara baik-baik saja!” sahut Mara menyambut pelukan Ki Darmo.