
Mereka membungkuk kepada raja, lalu membungkukkan badan untuk saling memberi hormat, mereka berdua masih terdiam di tempatnya masing-masing. Mereka berjarak sepuluh langkah dan masih saling bertatap muka satu sama lain.
“Sudah lebih dari beberapa waktu, apa kalian berdua mau begini terus?” seru Patih Ragas mengejutkan mereka berdua.
Wulan maju terlebih dulu, tuan putri itu melesat mengarahkan pukulan tangan kanannya. Ni Luh menangkis juga dengan tangan kanannya sembari mundur beberapa langkah.
Saat kaki Wulan mendarat, gadis itu melancarkan tendangan dengan kaki kanannya. Namun, masih bisa ditangkis Ni Luh dengan kedua tangan yang menyilang di depan tubuhnya.
Ni Luh berinisiatif maju, melesat melancarkan pukulannya ke bagian wajah Wulan bergantian tangan kanan dan kiri, tetapi Wulan mampu menangkisnya, juga dengan tangan kanan dan kiri sembari melangkah ke belakang.
Kini berganti Wulan menyerang, tangannya mengarah ke bagian wajah Ni Luh bergantian kanan dan kiri. Kembali Ni Luh juga bisa menangkis dengan tangan kanan dan kirinya disertai gerakan mundur beberapa langkah.
“Semoga kau menang, putriku,” lirih Raja Brahma Wijaya dari singgasananya.
“Pertarungan yang sangat bagus,” ucap salah satu penonton.
“Ayo Gadis Bercadar, kamu pasti menang,” teriak penonton lainnya lagi yang sering berkomentar.
Keduanya tampak berimbang setelah jual-beli tendangan dan pukulan. Meski hanya dengan gerakan dasar bela diri, tetapi keduanya sama-sama menguasainya dengan baik.
Cukup lama Wulan dan Ni Luh saling bertukar serangan, beradu pukulan dan tendangan yang membuat pertarungan mereka berbeda dari kebanyakan peserta yang lainnya.
Ni Luh membaca pola serangan Wulan dengan baik. Begitu juga Wulan, tuan putri itu mampu membaca serangan Ni Luh sama baiknya.
“Bagaimana aku mengalahkannya,” lirih Wulan menatap Ni Luh.
“Dia hebat juga,” ucap Ni Luh.
Kembali mereka saling pandang dalam jarak sepuluh langkah dengan mengambil kuda-kuda. Wulan mengeluarkan sebuah kipas yang mungkin itu senjatanya. Ni Luh yang melihat lawannya menggunakan senjata, gadis itu mencabut pedang dari sarangnya.
Wulan melesat ke arah Ni Luh dengan mengibaskan kipas kecilnya, Ni Luh menangkis dengan pedangnya. Gadis itu kaget, kipas milik Wulan sepertinya terbuat dari pelat baja yang sengaja dirancang untuk menjadi senjata Wulan.
Ni Luh mulai menggunakan jurusnya—Tarian Bunga Ilalang, dengan memutar, meliukkan tubuhnya menyerang Wulan. Kini Wulan tak bisa membaca pola serangan Ni Luh, hingga kesulitan dan mundur beberapa langkah karena menangkis serangan Ni Luh.
__ADS_1
Tenaga mereka mulai terkuras setelah beberapa saat bertarung. Kini Wulan menggunakan jurusnya, mengibaskan kipas ke arah Ni Luh dari jarak sepuluh langkah. Dari kipas itu keluar beberapa pelat baja pipih seperti pisau tanpa gagang yang melesat dengan cepat.
Ni Luh kaget dan menangkis dengan pedangnya, untuk beberapa saat gadis itu berhasil menangkis pisau pipih milik Wulan dengan memutarkan pedang di depannya.
SRET
Nahas bagi Ni Luh, gadis itu terkena sedikit goresan pada bagian lengan kirinya setelah Wulan melempar pelat baja pipih terakhirnya. Ni Luh terlambat menghindar dan diikuti dengan senyuman Wulan.
“Bagus, sebentar lagi racun itu menyebar. Kau akan lumpuh beberapa saat!” seru Wulan tersenyum dari balik cadarnya.
“Apa! Jadi—!” Ni Luh tak mampu melanjutkan perkataannya karena tubuhnya mulai terasa kaku.
Racun milik Wulan mulai menyebar pada tubuh Ni Luh, gadis itu berlutut memegangi lengan kirinya yang terluka dengan tangan kanannya setelah melepaskan pedang dari genggamannya.
Wulan mendekati Ni Luh dan mengarahkan kipasnya yang jika dilipat menjadi seperti pisau ke leher Ni Luh. Ni Luh hanya pasrah memejamkan matanya.
“Pemenangnya Gadis Bercadar!” teriak Patih Ragas diiringi teriakan dan tepuk tangan dari penonton.
“Jadi! Dia memakai racun!” lirih Ki Pethuk Cemeng yang memperhatikan Wulan dari bangku peserta pertandingan.
“Pertarungan ke delapan, pertarungan terakhir putaran pertama. Suropati dari Desa Tritis melawan Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas.
Suropati meringankan tubuhnya ketika memasuki arena pertandingan, diiringi teriakan dan tepuk tangan penonton yang menyebut namanya. Di sisi lain Lembah Manah belum juga terlihat di sekitar arena pertandingan.
“Saudara Lembah Manah, silakan maju ke arena,” lanjut Patih Ragas.
Semua penonton terdiam, suasana arena hening. Jayadipa dan Wanapati saling tatap, mereka tak mengira jika pemuda yang telah meninggal, juga ikut serta dalam pertandingan antar pendekar muda.
Jayadipa dan Wanapati berinisiatif untuk mendekati sang pengadil, dan memberitahukan bahwa Lembah Manah telah tewas karena jatuh ke dalam jurang. Karena mereka berdua juga tahu mengenai kabar yang beredar di desanya.
Patih Ragas berjalan ke arah panitia dan berdiskusi sejenak mengenai peserta atas nama Lembah Manah.
“Tetapi, menurut panitia, ada seorang pemuda yang mendaftarkan diri dengan nama tersebut!” seru Patih Ragas kepada Jayadipa sesaat setelah berdiskusi dengan panitia.
__ADS_1
“Apa!” Jayadipa membelalakkan matanya. “Apakah nama yang sama? Menurut saya, hanya ada satu pemuda yang bernama Lembah Manah di desa kami!”
Penonton masih saja tak mengerti apa yang sedang terjadi. Raja pun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu dimana pemuda yang bernama Lembah Manah itu berada.
“Wah, ada apa ini!” ucap salah satu penonton.
“Mohon maaf, saya memberitahukan bahwa saudara Lembah Manah telah meninggal sebulan yang lalu. Dia terjatuh ke dalam jurang dan jasadnya belum ditemukan hingga sekarang!”
Akhirnya Patih Ragas menjelaskan kepada seluruh penonton pertandingan.
Seluruh penonton menunjukkan ekspresi wajah terkejut, tak mengira jika salah satu peserta ada yang telah meninggal. Raja pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Baiklah, karena saudara Lembah Manah tidak bisa mengikuti pertandingan ini. Jadi Suropati akan menjadi peme—!”
“Tunggu—!”
Belum selesai Patih Ragas melanjutkan perkataannya, tiba-tiba seseorang pemuda melompat pagar arena setinggi tiga depa dan terbang di atas penonton lalu mendarat ke arena pertandingan tepat di belakang Patih Ragas.
“Aku yang bernama Lembah Manah!” ucap seorang pemuda itu yang tak lain adalah Lembah Manah.
Suara yang tak asing bagi Jayadipa dan sudah lama tak terdengar, kini terdengar lagi. Jayadipa menoleh ke belakang lalu berdiri menghadap suara orang itu.
“Lembah! Benarkah kau Lembah Manah!” seru Jayadipa terkejut membelalakkan matanya.
“Ya, ini aku Lembah Manah!” jawab Lembah Manah tegas.
Jayadipa memeluk Lembah Manah setelah berlari dari samping sang pengadil pertarungan, diikuti teriakan dan tepuk tangan dari penonton yang menyambut datangnya peserta terakhir pertandingan antar pendekar muda.
Berbagai pertanyaan dilontarkan dari mulut Jayadipa dan juga Wanapati yang ingin mengetahui kisah Lembah Manah, hingga bisa selamat dari Jurang Pengarip-Arip yang sangat dalam dan terkenal mistis.
“Emm, sudah, sudah, nanti aku ceritakan semuanya. Sekarang biarkan aku bertarung dulu!” ucap Lembah Manah menghentikan keterkejutan dua temannya.
“Hahaha, apa aku tak salah dengar, bukankah kau tak memiliki ilmu kanuragan!” sahut Wanapati sembari tertawa dan memukul kepala Lembah Manah.
__ADS_1
“Aduh, kita lihat saja!” tutup Lembah Manah memegangi kepalanya.