KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (15)


__ADS_3

Gelombang kejut bertekanan tinggi melesat cepat dari dua tangan Ki Badra. Para petinggi aliran putih mencoba untuk membuat perisai dari tenaga dalam, tetapi sia-sia, serangan Ki Badra berhasil meluluhlantakkan mereka.


Teriakan demi teriakan menggema di atas langit Sokapura. Para pendekar aliran putih terlempar tak tentu arah. Ada yang jatuh di dekat puing reruntuhan tembok pagar istana, ada juga yang terlempar hampir seratus depa jauhnya. Yang jelas, mereka mendapat luka dalam yang cukup serius.


Pada awalnya, para pendekar muda peserta Pertandingan Besar hanya menonton dari jarak yang cukup jauh. Mereka hendak membantu para petinggi aliran putih, tetapi itu percuma saja, kehadiran mereka malah mengganggu pertarungan.


Patih Ragas dan Kartala mencoba serangan jarak dekat, sedangkan Ki Jaladara dan Ki Bayu Maruto menyerang dari jarak jauh. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas kepala Ki Badra, Empu Tulak mengayunkan cambuknya meraih Ki Badra.


Dengan tangan kiri yang diselimuti cahaya merah kekuningan, Ki Badra menangkis Cambuk Api milik Empu Tulak. Cambuk itu melilit pergelangan tangan Ki Badra, sedetik kemudian Empu Tulak terlempar beserta Cambuk Api miliknya.


Empu Tulak mendarat kasar pada puing reruntuhan tembok pagar istana. Patih Ragas terkena satu tendangan pada perutnya, hingga terlempar beberapa langkah jauhnya dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Kartala terkena satu pukulan di bagian dagu, yang membuatnya melayang semakin tinggi dan tubuhnya terjatuh di dekat pintu gerbang istana dengan darah mengalir di sudut bibir pria tua pemabuk itu.


Ki Jaladara terkena pangkal tombaknya sendiri pada bagian dada kirinya dan langsung memuntahkan darah, sesaat setelah jatuh terguling. Tombak miliknya terlempar jauh dan menancap pada salah satu puing reruntuhan tembok pagar istana.


Ki Bayu Maruto terpukul mundur dan terhuyung, tetapi langsung menguasai tubuhnya dan memasang kuda-kuda, setelah satu tendangan mendarat pada wajahnya.


Ki Rogojambang memukul tanah di depannya, diikuti gelombang kejut melesat ke arah Ki Badra. Tepat satu depa mengelilingi tubuh Ki Badra, muncul batu memanjang yang langsung membentuk kubah dan mengurung Ki Badra.


Ki Rogojambang melakukan gerakan aneh, kedua tangannya ke atas sembari melangkah ke belakang. Dua langkah berikutnya, Ki Rogojambang berhenti dan mengarahkan kedua tangannya ke bawah.


Kubah batu yang mengurung Ki Badra seketika amblas ke bawah dan menyatu dengan tanah, tepat di mana Ki Badra berdiri. Tidak ada bekas jasad Ki Badra di tempat itu dan sekitar medan perang.


Namun, beberapa saat kemudian, dari bawah tanah tempat Ki Badra berdiri, muncul percikan api. Semakin lama percikan api itu semakin membesar dan,


DYAR

__ADS_1


Ki Badra muncul dari dalam ledakan, meluncur ke atas, lalu mendarat pada permukaan tanah dan mengarahkan kepalan tangannya ke depan, menuju para pemimpin aliran putih. Dari kepalan tangan kanan Ki Badra muncul gelombang kejut bertekanan tinggi melesat cepat.


Gelombang serangan itu mengandung tenaga dalam yang besar berwarna hitam dan bergerak secara horizontal.


Ki Rogojambang membuat perisai dari kubah batu, sesaat setelah menghantam tanah di depannya. Ki Bayu Maruto membuat perisai dengan pusaran angin yang mengelilingi seluruh tubuhnya.


Kartala berlindung dari balik puing reruntuhan pagar tembok istana, yang letaknya paling jauh dari serangan Ki Badra. Empu Tulak melesat dan berlindung di atas menara pengintai yang sebagian telah hancur.


Ki Jaladara hanya memasang badan dan mengaliri seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam yang dia miliki. Sementara Patih Ragas, menyilangkan Pedang Pethit Sawa di depan badan, sembari sedikit membungkuk.


Setelah gelombang serangan menghantam mereka, tampak asap debu mengepul tinggi menutupi sebagian medan perang.


Butuh beberapa saat, angin meniup asap debu itu agar segera lenyap. Terlihat, pintu gerbang istana terbakar di beberapa sisi, atap rumah petinggi kerajaan jatuh berhamburan. Ditambah lagi, puing reruntuhan pagar tembok istana semakin luluh lantak.


Patih Ragas terlempar lima puluh langkah dan mendarat di kaki bukit kecil dekat istana. Tubuhnya penuh dengan luka seperti sayatan pedang, dari sudut bibirnya mengalir darah segar.


Ki Jaladara menderita luka robek di dada kirinya, pakaiannya juga terkoyak di beberapa bagian. Ayah Puspa Ayu itu berusaha menghentikan pendarahan luka dengan tenaga dalamnya, sembari duduk bersila.


Empu Tulak tertimpa menara pengintai yang roboh. Salah satu tiang menara itu mendarat di lengan kirinya, hingga membuat pria pembuat senjata itu meringis kesakitan.


Kartala terkubur di dalam puing reruntuhan pagar tembok istana. Sepertinya tidak ada pergerakan dari pria tua pemabuk itu yang memejamkan mata.


Ki Bayu Maruto terlempar jauh hingga mendarat pada tembok rumah petinggi kerajaan. Tubuhnya tertimpa atap bangunan yang terbuat dari kayu keras.


Hanya Ki Rogojambang yang berhasil selamat dari serangan Ki Badra. Kubah batu yang dibuatnya adalah salah satu pertahanan terbaik dari serangan apa pun. Namun, efek getarannya membuat Pemimpin Perguruan Anggrek Hitam itu merasakan sedikit sesak di bagian dadanya.


Selang beberapa saat, Kubah Batu itu lenyap ditelan bumi dan Ki Rogojambang berdiri memasang kuda-kuda.

__ADS_1


Ki Badra tak membiarkan lawannya bernapas lega. Kembali tangan kanannya ditarik ke belakang, diikuti cahaya merah kekuningan menyelimuti kepalan tangannya. Sedetik kemudian, kepalan tangannya mengarah ke depan menuju Ki Rogojambang.


Muncul bola api sebesar genggaman orang dewasa melesat cepat ke arah Ki Rogojambang. Saking cepatnya, yang terlihat hanya kelebatan cahaya berwarna merah melesat di udara membelah angin di depannya.


Ketika waktu benar-benar tidak memungkinkan, Ki Rogojambang yang tengah terbatuk hanya menyilangkan tangan di depan tubuhnya sembari sedikit menunduk.


Namun, tepat satu depa sebelum bola api meraih tubuh Ki Rogojambang, sekelebat bayangan hitam melesat dan menghancurkan serangan bola api Ki Badra, hingga hancur tak berbekas.


“Lembah Manah!” seru Ki Rogojambang mendapati bayangan hitam itu Lembah Manah.


“Kami generasi muda akan menghadapi mereka, Ki!”


Setelah Lembah Manah berkata demikian, sebagian para pendekar muda peserta Pertandingan Besar mendarat di samping Ki Rogojambang. Mereka menyadari, jika mereka bergabung, kekuatan mereka mungkin saja akan setara dengan dua lawan terakhir yang mereka hadapi.


Roko Wulung berdiri paling depan, menatap Ki Badra. Di belakang pemuda itu, ada sang rival—Sangga Buana dengan Tongkat Wesi Putih.


Wanapati dan Nata berdiri di belakang Lembah Manah memasang kuda-kuda. Mata milik Nata telah memutih dengan otot yang keluar di sekitar pelipisnya, pertanda Mata Byakta miliknya telah bersiaga.


Dan terakhir, ada Duo Si Cepat, Giandra yang telah menyelimuti tubuhnya dengan energi petir yang siap menjilat apa pun di dekatnya. Barani yang memiliki Pukulan Tangan Seribu juga berdiri menjaga jarak dengan Giandra.


“Meski kalian menggabungkan kekuatan, aku tak akan kalah, hahaha!” teriak Ki Badra mendongakkan kepalanya.


Di sisi lain, Nastiti, Wulan, Ranti Lemini dan Lintang Sakethip telah menjauh dari medan perang. Para gadis itu menyusul Raja Brahma dan para petinggi tiga kerajaan ke bukit kecil yang sedikit jauh dari istana.


Sementara para pendekar aliran putih, bergabung dengan Eyang Balakosa yang berada di barisan belakang medan perang.


“Jika kita ikut bertarung, kita hanya akan mengganggu dan memecahkan konsentrasi mereka!” ucap Sambara memperingatkan para pendekar aliran putih.

__ADS_1


__ADS_2