
Mendengar nama ayahnya disebut, Lesmana hendak beranjak dari tempat duduknya untuk memperingatkan pria tua itu. Namun, tangan Lesmana digenggam oleh Samaruti. Ya, Samaruti mencegah perbuatan tuan mudanya itu sembari menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada yang boleh tahu siapa kita!” seru Samaruti sembari melihat sekelilingnya. “Ayo, habiskan makananmu. Kita segera pergi!”
Samaruti yang menjadi pengawal Lesmana, merogoh saku bajunya bagian dalam dan mengambil beberapa keping koin emas, lalu diletakkan di atas meja tempatnya makan.
“Ayo kita pergi!” lirih Samaruti sembari beranjak dari tempat duduknya.
Keduanya keluar dari kedai makan dan berjalan ke arah timur untuk menuju Perguruan Tombak Putih.
Dalam perjalanannya, mereka berdua tak jarang bertemu dengan sekelompok pendekar berpakaian hitam dengan gambar kalajengking merah pada bagian punggungnya.
Mereka bergegas memilih jalur yang lebih sepi daripada berurusan dengan kelompok pendekar aliran hitam itu. Karena tujuan mereka saat ini adalah meminta pertolongan pada Perguruan Tombak Putih.
Ketika memasuki Desa Gembong, mereka diperiksa oleh petugas penjaga perbatasan. Bukan tanpa alasan Desa Gembong dijaga oleh petugas, itu adalah salah satu antisipasi jika masih terdapat sisa-sisa anggota Kelompok Belati Merah.
Tanpa ragu Samaruti mengeluarkan sobekan pakaiannya yang bergambar mawar merah, dan menunjukkan kepada para penjaga itu.
Penjaga itu tertegun setelah melihat potongan baju bergambar mawar merah dan menatap ke beberapa penjaga yang lainnya untuk sesaat, lalu kembali menatap Lesmana dan Samaruti.
“Kalian! Bukankah Perguruan Mawar Merah sudah dibantai oleh Badraya?” tanya penjaga itu mengerutkan keningnya.
“Benar! Tapi kami kabur dari pembantaian itu, dan hendak meminta bantuan ke Perguruan Tombak Putih!” jawab Samaruti.
“Pihak desa juga antisipasi sisa anggota Kelompok Belati Merah!” seru salah satu penjaga lainnya. “Jadi penjagaan di perbatasan diperketat!”
“Silakan tuan muda!” ucap penjaga yang lainnya lagi mempersilakan mereka berdua memasuki Desa Gembong.
Selang beberapa waktu, Lesmana dan Samaruti telah memasuki pusat Desa Gembong. Karena hari beranjak siang, mereka berdua mampir sejenak di sebuah rumah makan. Tampak salah satu rumah makan sedikit lebih ramai dari beberapa rumah makan yang ada di sampingnya.
Mereka berdua memesan makanan lalu duduk di bangku yang paling ujung, dekat dengan jendela.
__ADS_1
“Kakang Samaruti, sepertinya Kalajengking Merah tidak berani memasuki desa ini!” seru Lesmana sesaat setelah pesanan mereka datang.
“Silakan tuan!” sela pelayan rumah makan yang dijawab anggukan kepala mereka berdua.
“Mungkin karena desa ini masih dalam naungan Perguruan Tombak Putih!” sahut Samaruti memperhatikan sekelilingnya yang ramai pengunjung. “Jadi mereka tak berani macam-macam!”
Tak jauh dari meja mereka berdua, tampak lima pendekar tengah menikmati makanannya di dalam satu meja yang tidak terlalu besar. Dilihat dari perkataan dan perilakunya, sepertinya mereka adalah pendekar dari aliran putih.
“Aku tak menyangka, Perguruan Mawar Merah telah dihancurkan oleh Kalajengking Merah!” ucap salah satu pendekar yang memakai ikat kepala berwarna putih tampak sedih sembari menggelengkan kepalanya. “Padahal Ki Mekoro memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni!”
“Benar kakang. Aku juga mendengar Kalajengking Merah telah menguasai Desa Tambak!” seru pendekar yang lainnya menimpali, pendekar itu juga memakai ikat kepala berwarna putih, tetapi sepertinya pendekar itu lebih muda dari pendekar yang pertama.
“Jika pihak Desa Gembong tidak memperketat penjagaan. Bukan tidak mungkin desa kita ini akan menjadi korban selanjutnya!” sahut pendekar yang lainnya lagi yang masih satu meja dalam perkumpulan itu.
“Masalah Belati Merah baru saja selesai. Ehh, timbul masalah baru lagi!” tutup pendekar ikat kepala putih yang pertama.
Rupanya berita tentang hancurnya Perguruan Mawar Merah sudah menyebar hingga Desa Gembong. Lesmana dan Samaruti tak menyangka, jika berita itu menyebar begitu cepat, padahal baru tiga hari mereka keluar dari Desa Tambak.
Setelah membayar makanan, mereka buru-buru meninggalkan rumah makan dan bergerak menuju timur. Namun, baru beberapa langkah mereka keluar dari rumah makan, mereka dikagetkan dengan kedatangan segerombolan orang yang hendak memasuki rumah makan.
“Hoi! Kalian berdua!” teriak seorang pria yang tampaknya pemimpin gerombolan itu. “Tunggu sebentar. Coba buka penutup kepala kalian!”
Samaruti dan Lesmana terhenti, karena mereka berdua merasa yang memakai caping penutup kepala. Perlahan Samaruti membalikkan badan, tetapi dengan penutup kepala yang masih terpakai.
“Sial! Kenapa Kalajengking Merah bisa sampai desa ini!” lirih Samaruti melihat tanda kecil bergambar kalajengking merah di dada sebelah kiri pemimpin itu. “Lari! Lesmana!”
“Ada apa kakang Samaruti!” Lesmana masih diam terpaku dan menunggu jawaban Samaruti.
“Lari! Lesmana, mereka kelompok Kalajengking Merah!” pinta Samaruti agar Lesmana segera berlari.
Namun, Lesmana tak mengindahkan peringatan Samaruti. Pemuda itu berbalik badan dan membuka caping penutup kepalanya.
__ADS_1
“Kalian!” seru pemimpin gerombolan itu mengenali Lesmana.
Dengan langkah pelan pemimpin gerombolan itu mendekati mereka berdua. Belum juga pemimpin gerombolan itu mendekat, Samaruti menyerang pemimpin gerombolan itu dengan satu tendangan tepat mendarat di perutnya.
Pemimpin gerombolan terlempar ke belakang dan hampir terjatuh. Namun, tubuhnya tertahan oleh beberapa bawahannya.
“Kurang ajar!” teriak pemimpin gerombolan. “Tangkap mereka berdua. Jangan sampai lolos!”
Keributan pun terjadi di depan rumah makan. Dengan sigap Samaruti berhasil melumpuhkan beberapa bawahan gerombolan Kalajengking Merah itu. Sementara Lesmana masih kesulitan menghadapi dua anggota Kalajengking merah. Namun, beberapa waktu kemudian, Lesmana berhasil mengalahkan dua orang itu.
Mendengar keributan di luar rumah makan, lima pendekar aliran putih yang tengah menyantap hidangannya beranjak dari mejanya dan melihat gerangan apa yang menimbulkan kegaduhan.
“Apa! Kalajengking Merah!” seru pendekar yang memakai ikat kepala putih. “Bantu dua pemuda itu!”
Karena melihat kalah jumlah, rombongan pendekar aliran putih itu membantu Samaruti dan Lesmana. Apalagi yang dihadapi mereka adalah Kalajengking Merah, salah satu aliran hitam yang harus ditumpas.
Denting pedang saling beradu, menimbulkan percikan api kecil, antara lima pendekar aliran putih itu melawan beberapa anggota Kalajengking Merah.
Kegaduhan di depan rumah makan mengundang para warga untuk menyaksikan pertarungan dari dua kubu itu. Ada yang merasa cemas ketika kubu aliran putih tertekan. Namun, para warga tersenyum ketika salah satu pendekar aliran putih melumpuhkan dua pendekar aliran hitam.
Lagi-lagi karena kalah jumlah, lima orang pendekar aliran putih hanya menyisakan dua orang saja. Pendekar dengan ikat kepala putih yang membawa pedang, dan satu pendekar yang membawa golok. Sedangkan ketiga temannya berhasil dilumpuhkan anggota. Kalajengking Merah.
Kini di kubu pendekar aliran putih semakin terpojok. Lesmana menerima satu tebasan pedang pada lengan kirinya, yang membuat pemuda itu meringis kesakitan. Meski bertarung dengan tangan kosong, Samaruti dan Lesmana berhasil melumpuhkan beberapa pendekar dari Kalajengking Merah.
“Anak muda! Kalian ini siapa sebenarnya?” ucap pendekar dengan ikat kepala putih sembari menangkis serangan pemimpin gerombolan itu. “Kenapa mereka menyerang kalian?”
“Saya Samaruti!” sahut Samaruti meraih pundak Lesmana untuk dipapah menjauhi kerumunan. “Dan ini tuan muda Lesmana, putra Ki Mekoro!”
“Apa! Jadi kalian selamat dari pembantaian itu?” Pendekar dengan ikat kepala putih itu perlahan semakin terpojok.
“Benar paman!” jawab Samaruti.
__ADS_1