
“Saya Lembah Manah. Saya cuma pengembara yang sekadar menumpang lewat di desa ini!” sahut Lembah Manah.
“Ohh, masih muda sudah pergi mengembara. Sungguh pemberani kau ini anak muda!” seru nelayan itu. “Jadi begini—!”
Nelayan itu menceritakan tentang keberadaan siluman air di dalam danau yang telah mengganggu mereka selama seminggu terakhir. Dan juga belum menemukan solusi untuk menangkap siluman itu.
Siluman air itu hanya akan muncul pada malam hari untuk mencari mangsa. Namun, jika siang hari ada perahu nelayan yang menjala ikan, siluman air itu juga tak segan-segan menyerang perahu nelayan.
“Jadi begitu!” seru Lembah Manah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Paman, bolehkah saya membantu para paman ini memburu siluman air itu!”
“Benarkah anak muda!” sahut paman nelayan itu.
“Tapi apa kamu punya ilmu kanuragan untuk menghadapi siluman air itu!” kilah salah seorang nelayan yang duduk di hadapan nelayan yang pertama—seakan meragukan Lembah Manah.
“Alangkah baiknya kalau kita segera ke rumah kepala desa untuk meminta izin!” ucap seorang nelayan yang tampak berwibawa—sepertinya ketua perkumpulan nelayan itu.
Tak menunggu waktu lama, Lembah Manah diajak sekumpulan nelayan itu menuju kediaman kepala desa. Kepala desa dan para petinggi desa yang tengah berdiskusi di dalam paseban, segera menyambut kedatangan Lembah Manah dan para nelayan itu.
Menurut mereka, Lembah Manah mungkin berasal dari perguruan terkenal atau keluarga bangsawan yang sengaja menyembunyikan identitasnya. Dengan cepat Lembah Manah membungkukkan badannya di depan para pejabat desa.
“Selamat siang, Ki!” seru pemimpin nelayan itu. “Ini ada seorang pendekar yang ingin membantu kita memburu siluman air di dalam danau, Ki!”
“Aku Daroyokso menyambut kedatangan tamu dari jauh!” sapa Daroyokso selaku kepala Desa Seribu Embun merasa senang karena ada pendekar yang mau membantu memburu siluman air di Danau Wadas.
“Saya Lembah Manah, hanya seorang pengembara dari timur. Terima kasih atas sambutan Ki Daroyokso!” sahut Lembah Manah membungkukkan badannya.
“Lebih baik kita bicarakan masalah ini di dalam paseban!” Ki Daroyokso mempersilakan Lembah Manah dan beberapa nelayan untuk memasuki paseban di depan kediamannya.
Lembah Manah memasuki paseban dan diikuti para nelayan di belakangnya.
“Sekar! Kemarilah!” seru Ki Daroyokso memanggil putrinya yang bernama Sekar. “Nak Lembah, ini Sekar, putriku satu-satunya!”
__ADS_1
“Salam kenal nona muda, saya Lembah Manah!” sahut Lembah Manah seraya membungkukkan badannya.
Begitu Sekar memperhatikan Lembah Manah, gadis itu terkejut. Tak menduga jika salah satu warga Desa Kedhung Wuni telah singgah di desanya ini.
Salah satu alasan Sekar mengenal Lembah Manah adalah, Sekar merupakan murid dari Perguruan Pedang Putih. Gadis itu beberapa kali menjumpai Lembah Manah ketika dirinya menyampaikan pesan dari pemimpin perguruan kepada Ki Tunggul di Perguruan Jiwa Suci.
Sekar sering melihat Lembah Manah di luar pagar perguruan tengah memperhatikan para murid Perguruan Jiwa Suci latih tanding.
Perlu diketahui, selain Perguruan Jiwa Suci, Perguruan Pedang Putih adalah salah satu perguruan yang menyangga keamanan Kadipaten Purwaraja. Dan kali ini, Sekar pulang ke rumahnya karena ingin mengatasi siluman air yang tengah meresahkan warga di desanya.
“Bukankah kamu murid dari Ki Tunggul?”
“Jadi kalian sudah saling kenal!” ucap Ki Daroyokso sembari tertawa. “Baguslah kalau begitu hahaha!”
Sekar menceritakan pada Ki Daroyokso bahwa Lembah Manah adalah murid dari Perguruan Jiwa Suci yang dipimpin oleh Ki Tunggul. Namun, anggapan Sekar salah, Lembah Manah bukan murid Perguruan Jiwa Suci, melainkan mantan murid, karena telah dikeluarkan.
“Bu—bukan nona muda, emm, saya hanya memperhatikan para murid yang sedang latih tanding saja!” sahut Lembah Manah.
“Sekar ini murid Perguruan Pedang Putih!” ucap Ki Daroyokso menyela pembicaraan mereka berdua. “Dia pulang karena ingin mengatasi masalah siluman air ini!”
Sembari menyantap jamuan makan dari kepala desa, mereka saling berdiskusi mengenai siluman air yang telah meresahkan para nelayan. Ki Daroyokso bercerita bahwa, pihak desa telah menyewa beberapa pendekar, tetapi para pendekar itu tak mampu mengatasi siluman air itu.
Pada suatu kesempatan, para nelayan juga memasang jebakan untuk menangkap siluman air. Namun, selalu gagal, siluman air itu tak menampakkan wujudnya ketika mengetahui para nelayan itu memasang jebakan.
“Baiklah, Ki! Saya akan mencoba untuk melawan siluman air itu!” seru Lembah Manah.
“Sebelumnya, kami mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan nak Lembah untuk membantu kami!” sahut Ki Daroyokso. “Baiklah, kami akan menyiapkan perahu untuk nak Lembah memancing siluman air itu keluar!”
Lembah Manah menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usulan Ki Daroyokso.
Menjelang malam, mereka berkumpul pada salah satu dermaga yang biasa dijadikan para nelayan untuk menyandarkan perahu-perahunya.
__ADS_1
Dengan membawa obor, Lembah Manah menaiki salah satu perahu dan mendayung sendirian ke tengah danau. Biasanya siluman air itu akan beraksi pada malam hari.
“Ayah! Lembah Manah pasti bisa mengatasi siluman air itu!” seru Sekar berdiri di samping ayahnya pada tepi danau.
“Benarkah Sekar!” sahut Ki Daroyokso mengerutkan keningnya. “Semoga saja anak itu berhasil!”
Hingga sampai pada tengah danau, Lembah Manah menghentikan dayungnya dan duduk bersila dengan mata terpejam.
Ki Daroyokso dan para nelayan yang menyaksikan dari tepi danau tiba-tiba terkejut setelah air di sekitar perahu Lembah Manah mulai bergelombang. Semakin lama gelombang air itu membentuk pusaran yang membuat perahu Lembah Manah terisap di dalamnya.
“Kenapa Lembah Manah hanya diam saja!” seru Sekar sedikit khawatir.
Lembah Manah berdiam diri karena merasakan siluman air itu ternyata berwujud ikan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari seekor gajah. Ikan itu memiliki gigi yang tajam seperti gigi buaya, matanya menyala merah, dengan sirip-siripnya setajam pedang.
Perahu yang dinaiki Lembah Manah kembali mengapung ke permukaan danau, tetapi pemuda itu tak terlihat di atas perahu, hingga membuat semua yang berada di tepi danau tampak khawatir.
Para nelayan bergegas menaiki beberapa perahunya dan mendayung menuju perahu yang ditunggangi Lembah Manah.
Di dalam air tengah danau, Lembah Manah berusaha menahan mulut siluman ikan agar tetap menganga dan tidak menelan tubuhnya. Dengan menggigit kecil lidahnya, Lembah Manah menyelimuti tubuhnya dengan cairan hijau aneh pemberian Buto Ijo.
Itu salah satu strategi Lembah Manah untuk menahan benturan dari gigi siluman ikan yang sangat tajam. Dan juga agar tidak tergigit siluman ikan itu.
Meski siluman ikan itu mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi kekuatan Lembah Manah tak lebih buruk dari siluman ikan. Pemuda itu mengaktivasi ilmu kanuragan tingkat Madyo tahap akhir, jadi tak ragu lagi untuk melawan siluman ikan yang bertubuh besar.
Tak ingin berlama-lama lagi, Lembah Manah menggunakan Ajian Tapak Harimau dan menghantam mulut siluman ikan itu.
Dengan satu pukulan tangan kanan, Lembah Manah tak menyangka jika serangannya berhasil membuat tubuh siluman ikan itu lenyap tak tersisa.
Ketika tubuh siluman ikan itu hancur, Lembah Manah terkejut melihat batu yang kenyal sebesar kelereng menyala kekuningan.
Pemuda itu berpikir sejenak dan mengingat lebih dalam lagi, jika ekstrak penempaan tubuh bisa berupa batu mulia siluman.
__ADS_1