
Hingga menjelang malam, Ki Tunggul masih membicarakan tentang penyergapan ke istana. Mereka berencana berangkat dini hari, dalam tiga hari mereka akan sampai istana saat pagi dan memancing prajurit Garu Langit keluar dari istana.
“Itu saja yang bisa kusampaikan, semoga saja rencana kita berhasil!” ucap Ki Tunggul menutup pertemuan itu. “Kalian semua boleh kembali ke kamar kalian masing-masing. Untuk tuan putri, silakan menempati kamar Ni Luh!”
“Baik Ki, terima kasih, tapi aku masih ingin berbicara dengan Lembah!” pinta Wulan sembari tersenyum pada Ki Tunggul.
“Baiklah, aku mohon undur diri,” tutup Ki Tunggul.
Tinggallah Wulan dan Lembah Manah duduk berdua di gubuk dekat pintu gerbang perguruan. Dengan ditemani dua obor pada tiang penyangga gubuk, menambah suasana semakin tenang.
Wulan meminta maaf atas perbuatannya sewaktu bertarung dalam pertandingan di kerajaan, karena sebelumnya Wulan belum meminta maaf kepada Lembah Manah.
Namun semua itu hanya dianggap angin lalu oleh Lembah Manah. Pemuda itu sudah memaafkan apa yang diperbuat Wulan kepadanya.
“Lembah, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Wulan sembari mendekatkan duduknya di samping Lembah Manah.
“Apa itu tuan putri!” jawab pemuda itu.
“Apakah benar kamu dan Ni Luh mempunyai hubungan khusus?” selidik Wulan tentang hubungan Lembah Manah dan Ni Luh. “Aku melihat, kalian berdua begitu dekat dan tampaknya Ni Luh selalu memperhatikanmu?”
“Emm, anu tuan putri!”
Tiba-tiba Lembah Manah gugup untuk menjawab pertanyaan Wulan. Menoleh ke kanan dan ke kiri seraya menggaruk kepalanya yang mungkin sangat gatal.
Pemuda itu memang belum berpikir untuk menjalin asmara dengan lawan jenisnya. Namun, di sisi lain, ada perasaan nyaman ketika dia selalu dekat dengan Ni Luh.
“Lembah! Tuan putri! Kenapa kalian ada di sini!” Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu gerbang perguruan yang tak lain adalah Wanapati, disusul Ni Luh dan Jayadipa. Ya, mereka telah pulang dari pertemuannya dengan Layung Semirat di pesisir pantai selatan.
“Jangan-jangan! Hayo!”
“Anu, emm, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!” ucap Lembah Manah terbata-bata. “Kita berdua cuma, anu!”
“Aduh! Bagaimana ini!” lanjut pemuda itu gelagapan.
Semakin bingung pemuda itu untuk mencari jawaban, dan semakin gugup pula dia untuk berkata-kata.
“Iya, kita berduaan. Ya kan Lembah!” sahut Wulan dengan menggenggam tangan kiri Lembah Manah.
__ADS_1
“Apa!” jawab Wanapati dan Jayadipa bersamaan.
Ni Luh hanya berlalu di depan Lembah Manah dengan wajah yang sedikit geram dan hendak menuju kamarnya. Sedangkan Wanapati dan Jayadipa masih terpaku mendengar jawaban dari Wulan.
“Lembah! Kau ini, huh!” ucap Jayadipa dengan menggelengkan kepalanya.
Wanapati dan Jayadipa ikut duduk menemani Lembah Manah dan Wulan untuk meminta penjelasan dari mereka berdua.
Akhirnya, Wulan menjelaskan tentang kedatangannya ke perguruan, tetapi untuk masalah duduk berduaan, Wulan hanya menjawab dengan tersenyum dan lagi-lagi menggenggam lengan kiri Lembah Manah yang semakin membuat pemuda itu gemetaran.
Malam semakin larut, suara jangkrik menjadi pertanda bahwa makhluk siang harus segera beristirahat dan digantikan dengan kehidupan makhluk malam. Tak kecuali mereka berempat yang harus menyiapkan stamina untuk berangkat menuju istana beberapa saat lagi.
“Kau harus menjelaskan semua ini pada Ni Luh!” lirih Jayadipa pada telinga Lembah Manah dan berlalu menuju kamar mereka masing-masing.
***
Semua telah berkumpul di halaman perguruan meski masih dalam keadaan sedikit mengantuk karena hanya istirahat tak lebih dari lima jam.
“Lembah! Kau bergerak paling depan bersama tuan putri dan Nata. Mata Byakta milik Nata akan membantu kalian membuka jalan!” ucap Ki Tunggul menjelaskan.
“Baik guru!” jawab Lembah Manah membungkukkan badannya.
“Arta Bahana! Kau tetap tinggal di perguruan bersamaku!” tutup Ki Tunggul yang dijawab dengan anggukan kepala Arta Bahana.
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mungkin dalam tiga hari mereka akan sampai istana kerajaan. Melompat dari satu dahan pohon dan berpindah ke dahan pohon yang lainnya, sesekali berlari di jalan berbatu ciri khas pedesaan.
Setelah bergerak cukup jauh, sepertinya Wulan sedikit kelelahan karena penggunaan tenaga dalamnya.
“Tuan Putri, apa kau baik-baik saja!” ucap Lembah Manah yang melihat Wulan yang sepertinya kelelahan.
“Aku tidak apa-apa, Lembah!” sahut Wulan yang memaksakan diri.
“Kita istirahat sebentar!” seru Lembah Manah yang berhenti di hamparan rerumputan tepi hutan.
Raut wajah Ni Luh tampak memerah karena melihat kedekatan Lembah Manah dan Wulan. Kenapa tidak dia yang seharusnya diperlakukan seperti itu? Dasar Lembah Manah yang tak peka dengan perasaan perempuan.
Apa perkataan itu memang benar, jika perempuan menggunakan perasaan, sedangkan laki-laki lebih menggunakan logikanya? Ahh, membingungkan!
__ADS_1
Tiga hari berlalu dengan cepat, mereka telah sampai di luar istana dan bersembunyi dibalik pepohonan ataupun pot tanaman bunga. Karena hari masih gelap, jadi pergerakan mereka sedikit diuntungkan.
“Byakta!” ucap Nata yang melihat ada beberapa prajurit menjaga pintu gerbang.
Setelah bergerak beberapa saat, tibalah mereka di pintu gerbang istana yang tak dijaga oleh prajurit biasanya, melainkan prajurit bawahan Garu Langit.
“Istana telah diambil alih, jangan harap kalian bisa masuk seenaknya!” seru salah satu prajurit mendapati kedatangan Lembah Manah, Wulan dan Nata.
“Apa kau ingin mati!” teriak Lembah Manah yang langsung menyerang beberapa prajurit penjaga itu.
Dengan beberapa gerakan, pemuda itu menghabisi lima prajurit. Sedangkan teman-temannya hanya membelalakkan matanya melihat kecepatan Lembah Manah.
“Woi! Apa kalian mau menonton saja!” teriak Lembah Manah sembari menghajar beberapa prajurit.
“Jika kau saja sudah menghabisi prajurit itu, untuk apa susah-susah mengotori tangan kami!” seru Wanapati dengan nada mengejek Lembah Manah sembari tersenyum.
“Awas kau ya!” tutup Lembah Manah dengan mendaratkan pukulan di dagu prajurit penjaga terakhir.
Satu masalah beres, dan yang menghabisi lima belas prajurit penjaga itu adalah Lembah Manah sendiri yang hanya ditonton oleh teman-temannya.
Huh, dasar teman kurang ajar.
Hingga akhirnya mereka sampai di pelataran istana kerajaan. Mereka bersembunyi dari balik atap bangunan para petinggi kerajaan. Wulan, Lembah Manah dan Nata berada pada atap bangunan paling dekat dengan pelataran. Sementara rombongan Wanapati berada di belakangnya, hanya selisih tiga bangunan saja.
Lembah Manah berbalik menghampiri Wanapati dan berkata, “ayo kita lakukan sekarang!”
Dan hanya dijawab dengan senyuman teman-temannya.
Di dalam istana ada puluhan prajurit Garu Langit dan ada sepuluh pentolan mereka yang berada pada ilmu kanuragan tingkat Andhap tahap akhir, yang artinya tak berbeda jauh dengan rombongan Wanapati.
Sedangkan Garu Langit dan Condro Mowo berada pada kanuragan tingkat Inggil tahap awal.
Dua orang prajurit tengah patroli dan mendekat ke arah rombongan Lembah Manah, mereka sedikit membenamkan tubuhnya pada sela-sela atap bangunan yang membuat mereka tak terlihat oleh prajurit itu. Namun, tiba-tiba.
“Kapak Pembelah Langit!”
Wanapati melompat ke arah dua prajurit itu diikuti rombongannya yang membuat para prajurit lainnya mendekat ke sumber keributan. Mengetahui hal itu, Lembah Manah mengajak Wulan menuju penjara bawah tanah.
__ADS_1
“Dasar Wanapati! Selalu bertindak seenaknya!” umpat pemuda itu.