KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Membujuk


__ADS_3

Tanpa sadar mereka sampai di Sungai Putih, sungai pembatas dua desa. Mereka membasuh muka dan sesekali bermain air di bantaran sungai yang tidak terlalu dalam.


Gapura perbatasan terlihat jelas di sisi timur, yang membuat mereka ingin segera melangkahkan kaki. Setelah melewati persawahan, mereka tiba di gapura perbatasan desa, antara Desa Lapan Aji dan Desa Kedhung Wuni—tempat mereka tinggal.


Burung pipit terbang ke sana-kemari seakan menyambut kepulangan mereka. Sawah penduduk yang mulai menguning, tengah siap di panen. Gapura perbatasan berdiri kokoh sama seperti saat mereka meninggalkan desa.


Sesekali penduduk desa menyapa ramah atas kepulangan mereka, bahkan ada yang terkejut ketika melihat Lembah Manah yang ternyata selamat dari Jurang Pengarip-Arip. Begitu cepat kabar itu terdengar hingga ke penjuru desa.


Memasuki desa, mereka disambut jalan berbatu dengan kanan kiri pohon besar yang membuat udara semakin asri. Sesekali terdengar kicauan burung kutilang yang tengah melakukan ritualnya, siang itu.


Selang dua jam setelah melewati perbatasan desa, mereka sampai di pertigaan pusat desa. Jika lurus, akan menuju rumah Lembah Manah yang berada di ujung timur desa. Dan jika berbelok ke kiri, tentu sampai Perguruan Jiwa Suci.


“Teman-teman, sepertinya kita harus berpisah di tempat ini. Sampai jumpa dan terima kasih!” seru Lembah Manah menghadap ke arah Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh seraya membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


“Ta—tapi, hey Lembah—!”


“Sudahlah Jayadipa, kita tak bisa menghalangi Lembah Manah!” sahut Wanapati memotong perkataan Jayadipa yang sepertinya tak ingin berpisah dengan Lembah Manah.


“Hey, jangan menangis, Ni Luh!” ucap Lembah Manah mendekati Ni Luh dan mengusap air mata gadis berambut panjang itu dengan kedua tangannya. “Kau kan gadis yang kuat!”


“Baiklah! Sepertinya hari semakin sore, sebaiknya kita segera pulang!” tutup Lembah Manah.


Wanapati dan Jayadipa mengambil jalan ke kiri, sementara Lembah Manah berjalan lurus ke timur untuk pulang ke rumahnya.


“Hey, Ni Luh. Mau sampai kapan kau berdiri di tempat ini!” seru Wanapati memperingatkan Ni Luh yang diam terpaku memandangi tubuh Lembah Manah. “Kau bisa mengunjunginya kapan saja, lagi pula Lembah Manah juga sering berkunjung ke perguruan!”


Ni Luh mengusap air matanya dan bergegas menyusul Wanapati dan Jayadipa ketika Lembah Manah tak terlihat lagi dari pandangannya.


***


Keesokan harinya berjalan seperti biasanya, Lembah Manah memberi makan ternak, membantu memetik cabai dan tentu saja mencari rumput untuk ternaknya.

__ADS_1


Sepulang dari mencari rumput di dekat Jurang Pengarip-Arip, Lembah Manah dikejutkan oleh kedatangan Ni Luh, ketika pemuda itu memberi makan ternaknya di samping rumah. Tanpa permisi, Ni Luh ikut memberi makan ternak milik Lembah Manah.


“Ehh, ada tamu rupanya!” seru Purwandari melihat Ni Luh ketika perempuan tua itu hendak memetik cabai di belakang rumahnya. “Lembah! Kenapa tidak diajak masuk?”


“Tidak apa-apa Bibi, di sini saja!” sahut Ni Luh.


“Ya sudah, Bibi ke belakang dulu!” Purwandari berlalu menuju kebun cabai dengan membawa keranjang yang digendong pada punggungnya.


Suasana begitu canggung, Lembah Manah tak tahu harus berkata apa terlebih dahulu. Sedangkan Ni Luh juga malu untuk memulai pembicaraan.


“Bagaimana kabarmu?”


Ucapan mereka berdua hampir bersamaan, hingga keduanya tertawa kecil atas kecanggungan itu. Ni Luh tertawa dengan menutupi bibir menggunakan telapak tangan kanannya. Sementara Lembah Manah tak berani menatap lawan bicaranya itu.


“Baiklah! Aku akan berbicara terlebih dulu!” ucap Ni Luh mencairkan suasana. “Bagaimana kabarmu Lembah?”


“Sebenarnya, emm, aku juga ingin bertanya seperti itu Ni Luh!” sahut Lembah Manah memberanikan diri menatap lawan bicaranya. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja! Ada perlu apa kamu datang ke tempatku?”


“Emm, sebaiknya kita duduk di teras saja Ni Luh!” Lembah Manah mengajak Ni Luh ke teras rumahnya dan diiyakan oleh gadis itu.


Ni Luh mengatakan kepada Lembah Manah tentang maksud kedatangannya. Gadis itu bercerita bahwa, Ki Tunggul meminta Lembah Manah untuk kembali menjadi bagian dari Perguruan Jiwa Suci.


Kenapa tiba-tiba Ki Tunggul mengajak Lembah Manah bergabung?


Tentu bukan tanpa alasan Ki Tunggul meminta Lembah Manah untuk bergabung dengan Perguruan Jiwa Suci. Pertama, dengan bergabungnya pemuda itu, kekuatan perguruan akan semakin bertambah, mengingat Lembah Manah sang juara pertandingan pendekar muda.


Dan yang kedua, tentu saja ingin bersaing dengan pamor Perguruan Pedang Putih untuk menyangga keamanan Kadipaten Purwaraja. Untuk itulah Lembah Manah diajak bergabung oleh Ki Tunggul.


Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Lembah Manah menyetujui permintaan Ni Luh sesaat setelah berdiskusi dengan ibunya.


“Jika itu sudah niatmu, aku tak bisa menghalangi, Lembah!” ucap Purwandari memandangi wajah Lembah Manah.

__ADS_1


“Kamu juga bisa berkunjung kapan saja ke rumahmu, Lembah!” sahut Ni Luh meyakinkan Lembah Manah.


“Jadi begini, cara guru Tunggul membujuk Lembah Manah!”


Tiba-tiba terdengar suara dari halaman rumah Lembah Manah yang tak lain itu adalah Wanapati yang datang bersama Jayadipa.


“Guru pandai juga ya, Wanapati. Meminta Ni Luh agar Lembah mau bergabung dengan perguruan, hahaha!” timpal Jayadipa sembari tertawa dan langsung bergabung di teras rumah Lembah Manah.


Purwandari menyodorkan beberapa ubi rebus dan juga teh hangat yang menambah suasana menjadi semakin akrab.


“Wah, jadi merepotkan Bibi!” seru Wanapati membelalakkan matanya. “Tapi saya juga mau semua kok Bi, hehehe!”


“Silakan, cuma ini yang Bibi punya!” sahut Purwandari tersenyum kecil.


“Ini juga lebih dari cukup kok Bi!” timpal Jayadipa yang langsung mengambil ubi rebus itu.


Hingga hari menjelang siang, mereka semakin asyik bercengkerama. Wanapati dan Jayadipa sepertinya juga sudah bisa menerima Lembah Manah. Bagaimana tidak? Pemuda itu telah membuktikan diri di pertandingan antar pendekar muda, bahwa dirinya layak bergabung dengan Perguruan Jiwa Suci.


***


Gapura desa terlihat jelas, ketika mereka berempat mulai memasuki pusat desa. Setelah melewati persawahan mereka tiba di pusat desa. Dan Perguruan Jiwa Suci, terletak di ujung utara pusat desa.


Burung kepodang terbang ke sana-kemari seakan menyambut kedatangan Lembah Manah di pusat desa ini. Sesekali penduduk desa menyapa ramah ketika berpapasan dengan mereka.


Selang satu jam setelah melewati pusat desa, akhirnya mereka sampai di perguruan. Sejenak langkah mereka terhenti di depan pintu gerbang. Wanapati dan Jayadipa berdiri paling depan, sedangkan Ni Luh di belakang dua laki-laki berbadan tegap tersebut.


Sementara Lembah Manah sedikit memperlebar jarak dengan ketiga temannya dan bersembunyi di balik pohon mahoni besar, untuk memberi kejutan kepada Ki Tunggul.


Terlihat Ki Tunggul dan Sesepuh Anggada tengah memberi materi di tengah halaman perguruan kepada para murid yang tak mengikuti pertandingan. Pria itu berdiri mengarah ke pintu gerbang perguruan, seketika diam membisu memandang ke arah ketiga muridnya yang berdiri di depan pintu gerbang.


“Wanapati, Jayadipa, Ni Luh. Benarkah itu kalian?” teriak Ki Tunggul terkejut. “Bagaimana dengan Lembah Manah?”

__ADS_1


__ADS_2