KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (8)


__ADS_3

Sementara itu, pagar tembok istana telah hancur pada beberapa sisi. Beberapa kelebatan cahaya berwarna putih berulang kali menghantam pagar tembok itu hingga membuat Ki Badra, Tirta Banyu dan para bawahannya mundur menuju istana.


Dari luar tembok istana, terlihat Darma Jaya dan Sayekti menebaskan pedangnya berusaha untuk meruntuhkan tembok setinggi lima depa itu. Meski telah dihalau oleh prajurit bawahan Tirta Banyu, tetapi Darma Jaya juga mempunyai beberapa pendekar bawahan yang gigih.


“Sial! Jika dibiarkan tembok ini akan runtuh!” seru Cakara—salah satu dari Lima Pendekar Pedang. “Cayapata! Sepertinya aku membutuhkanmu!”


Cakara membungkukkan badannya kepada Ki Badra dan berkata, “aku akan menghadapinya, Ki?”


Cakara melesat ke arah Darma Jaya yang berusaha memasuki area istana. Di belakang pemuda kurus itu, ada Cayapata yang juga melesat ke arah Sayekti.


Cakara mendarat pada puing reruntuhan tembok istana, pemuda kurus itu mencabut pedang dari sarangnya yang diikatkan pada punggungnya, lalu melemparkan pedang itu ke atas. Pedang itu berputar seperti gasing tepat satu depa di atas kepala Cakara.


“Cakara dengan Pedang Iblis Hitam!” seru Darma Jaya membelalakkan matanya ketika mengetahui pemuda kurus berdiri di depannya.


“Rupanya aku juga terkenal di tempat ini!” sahut Cakara terkesan meremehkan Darma Jaya.


Pedang yang berada di atas kepala Cakara tiba-tiba melesat ke arah Darma Jaya. Jika tidak menghindar ke samping kanan, tentu lengan kiri pemuda itu terkena sayatan Pedang Iblis Hitam.


Lagi-lagi datang serangan dari arah belakang, Darma Jaya melompat ketika pedang milik Cakara hampir mengenai paha kirinya. Bersamaan dengan itu, Darma Jaya menebaskan pedangnya, diikuti sekelebat cahaya putih melesat ke arah Cakara.


Darma Jaya berpikir, jika mengalahkan Cakara, tentu Pedang Iblis Hitam juga akan berhenti menyerangnya. Namun, perkiraan Darma Jaya salah, tiba-tiba saja, Pedang Iblis Hitam melesat ke arah pemiliknya dan menghalau serangannya.


“Apa! Bagaimana mungkin!” seru Darma Jaya membelalakkan matanya.


“Kau pasti terkejut bukan!” sahut Cakara dengan nada yang hampir tidak terdengar oleh Darma Jaya karena terhalang suara teriakan dari prajurit yang bertarung tak jauh dari tempatnya. “Pedang ini telah menyatu denganku!”


Di sisi lain, Sayekti menghadapi Cayapata yang membawa Pedang Bintang. Dalam beberapa jurus, Sayekti kesulitan untuk mendekati Cayapata, itu karena efek panas yang keluar dari pedang milik Cayapata.


Ya, Pedang Bintang mampu mengeluarkan aura panas dalam jarak beberapa depa. Namun, itu tidak berpengaruh kepada Cayapata, karena Pedang Bintang telah terikat dengan sang pemiliknya.


Satu tebasan mengandung aura panas melesat cepat ke arah Sayekti. Pemuda dari Perguruan Ular Putih itu mencoba untuk menghindar, tetapi semakin menuju ke arahnya, aura panas itu semakin bertambah panas.

__ADS_1


Luka bakar mendarat pada bahu kanan Sayekti, hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sayekti mencoba meredam rasa panas itu dengan tenaga dalam yang mengalir pada lukanya, tetapi masih saja, efek panas membuat pemuda itu kesulitan mengambil kuda-kuda.


“Kau tak akan mampu meredam panas dari pedangku!” ucap Cayapata merendahkan Sayekti. “Tamatlah kau!”


Setelah berkata demikian, Cayapata menebaskan pedangnya ke arah Sayekti, diikuti aura panas melesat cepat dan semakin membesar. Tidak ada pilihan lain, Sayekti mencoba menghalau serangan itu dengan menebaskan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam. Namun, tiba-tiba.


“Semburan Naga Air!”


Tepat sejengkal aura panas itu menyentuh tubuh Sayekti, tiba-tiba saja sebuah tongkat yang terbuat dari air melesat dan membuat aura panas itu terlempar, lalu menjadi uap berasap.


Lingga yang baru saja membereskan lima prajurit bawahan Tirta Banyu, melihat pertarungan Sayekti. Lalu pemuda itu datang menghalau dengan jurus andalannya—Semburan Naga Air.


“Terima kasih, pendekar!” ucap Sayekti membungkukkan badannya.


“Berhati-hatilah! Bantulah temanmu!” sahut Lingga meminta Sayekti untuk membantu Darma Jaya yang juga kesulitan menghadapi Cakara.


Lingga memasang kuda-kuda, sedetik kemudian, pemuda berambut ikal itu melesat ke arah Cayapata.


Lingga mendaratkan satu pukulan yang ditangkis dengan bagian tengah pedang milik Cayapata. Pemuda itu mundur beberapa langkah ketika tangannya merasakan panas.


“Sial! Aku sulit untuk mendekat!” geram Lingga memperhatikan kepalan tangan kanannya. “Aku punya rencana!"


"Aura air!” teriak Lingga, diikuti seluruh tubuhnya diselimuti oleh air yang tipis.


Pemuda itu menyerap energi alam berupa air yang tersimpan melimpah di bawah tanah area pertempuran itu.


Lingga melakukan gerakan aneh, tubuhnya berputar dengan tangan kanan ke depan dan tangan kirinya ke atas. Lalu, dengan satu isyarat, tangan kanannya mengepal, tiba-tiba segumpal air berkumpul di depannya.


Dalam sekali entakkan, gumpalan air sebesar kelapa itu melesat ke arah Cayapata. Cayapata menyambut serangan Lingga dengan menebaskan pedangnya, diikuti aura panas melesat ke arah gumpalan air milik Lingga.


CIS

__ADS_1


Suara aura panas bertemu dengan gumpalan air milik Lingga, menimbulkan uap berasap membubung tinggi.


Lingga melesat ke arah Cayapata dengan tubuh yang masih diselimuti aura air. Pemuda berambut ikal itu berhasil melancarkan beberapa jurusnya, yang hanya dihindari oleh Cayapata.


“Kenapa aura panas milikku tidak mempan pada pemuda ini!” lirih Cayapata sembari bergerak mundur menghalau serangan Lingga.


“Apa kau terkejut!” ucap Lingga seraya melancarkan jurusnya pada tubuh Cayapata. “Apa jadinya jika panas bertemu dengan air!”


Setelah berkata demikian, Lingga salto ke belakang untuk menjaga jarak dengan Cayapata. Kembali pemuda itu melakukan gerakan aneh, tetapi kali ini kedua tangannya ke atas tanpa berputar terlebih dahulu dengan kaki kiri lebih condong ke belakang.


Selang beberapa detik, dari dalam tanah tepat di belakang tubuh Lingga, muncul ratusan gumpalan air sebesar kelapa melayang semakin tinggi. Dengan gerakan ke depan, kedua tangan Lingga seakan mengisyaratkan ratusan gumpalan air itu melesat ke arah Cayapata.


Benar saja, ratusan gumpalan air itu melesat ke arah Cayapata. Menyadari dalam tekanan, Cayapata menebaskan pedangnya, diikuti aura panas melesat ke arah Lingga, yang semakin lama semakin membesar.


CIS CIS CIS


Terdengar suara gumpalan air yang menghalau aura panas milik Cayapata, hingga menimbulkan uap berasap yang menutupi tempat pertarungannya.


Kali ini, Lingga mengepalkan tangan kanannya dan digerakkan ke bawah dengan cepat, seperti membelah sesuatu di depannya.


Pada saat itu juga, gumpalan air yang tersisa perlahan membentuk seperti ujung mata tombak yang runcing. Lalu, gumpalan air yang berbentuk mata tombak itu, menghujani tubuh Cayapata yang masih tertutup asap akibat air dan aura panas yang beradu.


Tidak terlihat tubuh Cayapata, tetapi terdengar raungan kesakitan dari pria bertubuh gempal itu. Beberapa saat kemudian, asap itu menghilang dan hanya meninggalkan Pedang Bintang saja, sepertinya tubuh Cayapata juga melebur menjadi uap.


Sayekti dan Darma Jaya berusaha menghadapi Cakara yang seorang diri. Tidak! Cayapata tidak seorang diri, pria kurus itu mempunyai pedang yang selalu berada di dekatnya, dan selalu melindunginya.


Kali ini Sayekti mendekati Cakara, sementara Darma Jaya berjibaku dengan Pedang Iblis Hitam. Meski terlihat melayang, tetapi Darma Jaya kesulitan untuk menghalau pergerakan pedang itu.


Sayekti menebaskan pedangnya meraih tubuh Cakara. Sembari bergerak ke belakang, Cakara mampu menghindarinya dengan baik.


Kadang pria kurus itu menangkis pedang Sayekti hanya dengan dua ujung jarinya saja, bahkan hanya dengan tangan kiri.

__ADS_1


“Sial! Orang ini sangat licin!” lirih Sayekti sembari menyerang Cakara.


__ADS_2