KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keraton Agung Sejagat (4)


__ADS_3

Rupanya Kenanga, Kantil dan Cempaka bertarung dengan pria bertopeng bersenjatakan dua pedang.


Sedangkan Sekar dan Araka mendapat lawan juga pria bertopeng, tetapi pengguna satu pedang.


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Lembah Manah melesat terlebih dahulu ke arah Tiga Bunga Bersaudara yang semakin terpojok mengantisipasi serangan lawannya. Meski hanya seorang saja, tetapi pria bersenjata dua pedang itu lebih dominan mengatasi Kenanga, Kanthil dan Cempaka.


Kenanga terkena tendangan pada bagian perut, hingga membuatnya jatuh terguling dengan darah mengalir pada sudut bibirnya.


Kanthil mendapat pukulan pada bagian dagunya, hingga terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah muncrat dari mulutnya.


Sedangkan Cempaka menerima pukulan menggunakan pangkal gagang pedang pada bagian dada kirinya, hingga membuat gadis itu pingsan. Pria bertopeng dengan dua pedang itu berjalan pelan mendekat ke arah Kenanga sembari mengangkat pedangnya setinggi mungkin.


Namun, tiba-tiba pria bertopeng itu menoleh ke samping kirinya, karena menyadari ada yang bergerak mendekat ke arahnya.


Pria bertopeng itu mengurungkan niatnya untuk menyerang Kenanga dan beralih menebaskan pedangnya ke arah Lembah Manah yang bergerak ke arahnya diikuti cahaya merah melesat horizontal.


Pemuda itu menghindar ke samping kiri, lalu setelah mendapat satu pijakan, Lembah Manah menginjak tanah untuk melesat ke arah pria bertopeng.


“Apa, cepat seka—aahhkk!”


Perkataan pria bertopeng terhenti dan berubah menjadi teriakan ketika satu pukulan telapak tangan terbuka mengenai wajahnya dan membuat topeng itu pecah menjadi kepingan kecil. Pria itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah yang keluar dari mulutnya.


“Anak muda, jangan pikir kau bisa mengalahkanku!” seru pria itu sembari bangkit berdiri dengan pedang di kedua tangannya. “Aku akan membunuhmu!”


Pria itu memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap menengah, dan itu sangat berbeda jauh dengan Lembah Manah yang menekan tenaga dalamnya pada tingkat Andhap tahap akhir. Namun, dengan Tiga Gerbang Kehidupan, kecepatan pemuda itu tak bisa dianggap remeh.


“Coba saja kalau bisa!” sahut Lembah Manah mengintimidasi lawannya.


“Lembah Manah! Kaukah itu?” seru Kenanga menyadari kedatangan seorang pemuda berselimut tenaga dalam berwarna hitam itu telah menyelamatkan nyawanya.


“Emm, aku mendengar dari Eyang Guru, bahwa kalian mencari markas kerajaan baru!” sahut Lembah Manah menoleh ke arah Kenanga. “Tanpa sengaja malah bertemu di tempat ini!”


Saat pemuda itu tengah berbincang dengan Kenanga, satu tebasan mengeluarkan cahaya merah melesat cepat ke arahnya. Namun, pemuda itu masih bisa menghindari dengan bergerak ke samping kiri, lalu melesat ke arah pria pembawa dua pedang.

__ADS_1


Tepat satu langkah sebelum sampai ke tubuh lawannya, Lembah Manah dikejutkan dengan satu serangan menggunakan tenaga dalam yang lebih besar dari sebelumnya.


Lagi-lagi pemuda itu berhasil menggenggam pergelangan tangan lawannya dan mendaratkan satu tendangan ke arah perut pria yang topengnya telah pecah tersebut.


Ya, tendangan kaki kanan Lembah Manah membuat lawannya jatuh berguling, lalu pemuda itu menghilang dari hadapan lawannya dengan memanfaatkan semak belukar untuk mengatur strategi.


“Kemana perginya anak ini!” seru pria itu yang mencoba kembali berdiri.


“Aku datang!” seru Lembah Manah sesaat setelah memijak tanah sebagai alas untuk lompatan. Pemuda itu melesat dengan tubuh yang diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam.


Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat tepat mengenai dagu pria pembawa dua pedang, hingga membuatnya terlempar ke belakang dan lagi-lagi darah keluar dari mulut pria itu.


“Jika kau menyerah dan mengatakan siapa dirimu. Aku akan mengampunimu!” seru Lembah Manah dengan napas terengah-engah.


“Mana mungkin aku menyerah dari bocah sepertimu!” sahut pria pembawa dua pedang itu yang kembali berdiri dan memasang kuda-kuda.


‘Sial! Kuat sekali orang ini’, gumam Lembah Manah dalam hati.


Pada satu kesempatan, Lembah Manah melesat ke arah pria pembawa dua pedang, pemuda itu melihat pertahanan yang sedikit terbuka. Namun, saat Lembah Manah hampir mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka, pria pembawa dua pedang itu mengayunkan pedangnya seakan menebas tubuh Lembah Manah.


Dalam keadaan seperti ini, Lembah Manah menarik tangan kanannya, dan berganti tangan kirinya meraih pergelangan tangan kanan lawannya yang menggenggam pedang.


KRAK


Suara pergelangan tangan kanan yang patah membuat pria itu melepaskan pedangnya dan meringis kesakitan.


“Kurang ajar!” teriaknya.


BUK


Satu pukulan telapak tangan terbuka berhasil mendarat di dada kiri pria pembawa dua pedang. Namun, Lembah Manah lengah setelah mendaratkan pukulan dan terkena satu tendangan yang membuat pemuda itu jatuh terguling beberapa langkah ke belakang.


Melihat Lembah Manah terjatuh, Kenanga yang masih tertatih-tatih untuk berdiri memperhatikan pergerakan musuh yang sepertinya hendak menyerang dengan pedang di tangan kirinya.

__ADS_1


Pria itu melesat ke arah Lembah Manah dengan tangan kirinya yang menggenggam pedang.


“Lembah! Awas!” seru Kenanga membelalakkan matanya.


Namun, sebelum pria itu semakin dekat ke arah Lembah Manah, Wulan melesat dari semak-semak dan mengibaskan kipas baja miliknya diikuti pisau pipih yang melesat lebih cepat dari dugaan pria itu.


“Aahhkk!”


Tiga pisau pipih melesat menembus perut pria itu yang membuat nyawanya melayang dengan darah keluar dari lukanya.


Ya, Wulan tidak diam saja dan hanya bersembunyi di dalam hutan. Tuan putri itu mengintai dari balik semak-semak dan memperhatikan setiap pergerakan musuh.


Namun, Wulan masih saja terdiam memegangi perutnya. Tuan putri itu mual seakan ingin muntah, itu adalah pertama kalinya Wulan membunuh lawan dan melihat darah yang keluar dari luka yang dibuatnya.


Biasanya, gadis itu hanya memberikan racun pada pisau pipih, dan membuat lawannya tak bisa bergerak selama beberapa saat. Namun, ini pertarungan hidup dan mati, Wulan telah memodifikasi pisau pipihnya menjadi lebih ramping dan lebih panjang dari sebelumnya.


“Dulu aku juga begitu!” ucap Lembah Manah diikuti aura tenaga dalam yang perlahan hilang dari tubuhnya. “Aku mual dan seakan ingin muntah, bahkan tidak ada nafsu makan!”


“Benarkah?” sahut Wulan yang keadaannya mulai membaik.


“Maka dari itu aku hanya melumpuhkan dengan menghilangkan ilmu kanuragannya melalui Pukulan Tapak Harimau. Namun, di malam hari, pergerakanku harus lebih cepat dan membuka Tiga Gerbang Kehidupan!” tegas Lembah Manah memegangi perutnya dan berdiri.


“Emm, aku tak tega jika harus membunuh. Kita tidak tahu lawan yang kita bunuh mungkin memiliki keluarga yang mereka sayangi. Dan mereka menyerang kita mungkin karena tugas dari pimpinan busuk mereka!”


“Kau benar Lembah!”


Wulan berjalan mendekati Lembah Manah, tuan putri itu semakin kagum pada sosok pemuda di hadapannya. Dengan mata yang masih berair karena mual, Wulan berdiri di hadapan Lembah Manah dan hendak memeluk pemuda itu.


“Hei, hei! Apa yang tuan putri lakukan!” sahut Lembah Manah menolak pelukan Wulan dengan tersenyum. “Baju tuan putri penuh darah, Anda tampak kacau!”


Di sisi lain, Sekar dan Araka berhasil menekan lawannya dengan kerja sama yang solid. Araka fokus menyerang bagian atas, sementara Sekar berfokus menyerang bagian bawah lawannya.


Hingga pada satu kesempatan, Araka berhasil menebas perut lawannya hingga membuat lawannya tewas dengan luka yang tidak ringan.

__ADS_1


__ADS_2