
Lembah Manah berlalu begitu saja dan menuju kamarnya. Sementara Puspa Ayu hanya tersenyum memandangi Lembah Manah yang semakin lama semakin menjauh dari gubuk tempat mereka duduk.
“Kau memang berbeda dari yang lain!” lirih Puspa Ayu beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya.
Lembah Manah berjalan menuju kamarnya yang letaknya paling belakang dan sedikit menyendiri dari pondokan yang lainnya. Namun beberapa langkah sebelum pemuda itu memasuki pondokannya, dia dikejutkan dengan sosok hitam yang berdiri pada atap bangunan.
“Apa kau yang bernama Lembah Manah?” seru sosok hitam itu yang menggunakan cadar dan memakai caping penutup kepala lalu melompat, mendarat tepat di depan Lembah Manah.
Hanya mendengar suaranya saja, Lembah Manah tahu bahwa sosok hitam itu adalah salah satu dari pemuda yang ditampar Puspa Ayu sewaktu latih tanding di pelataran halaman perguruan siang tadi.
“I-iya, aku Lembah Manah!” sahut pemuda itu menyilangkan tangan kanan di depan dadanya dan membungkukkan badan. “Lembah Manah menyapa tetua Panji Giri!”
Sontak, sosok yang memakai pakaian serba hitam itu kaget sesaat. Bagaimana mungkin pemuda di depannya itu langsung mengenali dirinya? Pikir Panji Giri.
“Aku meminta kau menjauhi Puspa Ayu dan segera pergi dari tempat ini!” geram sosok hitam itu yang sebenarnya adalah Panji Giri. “Tempat ini bukan untukmu!”
“Bagaimana kalau aku tidak mau!” sahut Lembah Manah mengintimidasi Panji Giri.
Sebenarnya, setelah kegagalan misi ke Alas Mentaok dan menghilangnya Puspa Ayu, Panji Giri dan temannya—Darayana dihukum keluar dari perguruan, dan tak boleh kembali sebelum menemukan Puspa Ayu.
Namun, peringatan itu tak diindahkan oleh mereka berdua. Malah mereka berdua melakukan uji tanding dengan murid yang lain hingga mengakibatkan luka serius pada murid yang latih tanding dengannya. Itu adalah pelanggaran perguruan, karena sesama murid tak boleh saling melukai.
“Jadi itu jawabanmu!” seru Panji Giri mulai memasang kuda-kuda. “Berarti kau melawanku!”
Panji Giri menarik tombak yang diikatkan pada punggungnya, lalu hendak menyerang Lembah Manah yang masih berdiri tegap.
“Sebenarnya aku tak ingin bertarung!” sahut Lembah Manah mundur beberapa langkah. “Tapi tetua yang memulainya terlebih dulu!”
Pertarungan tak bisa dihindari, Panji Giri melesat ke arah Lembah Manah sembari menghunuskan tombaknya. Pemuda itu yakin, dengan kecepatannya, Lembah Manah tak mungkin menghindari serangannya.
Namun, perkiraan Panji Giri salah, Lembah Manah tak selemah yang dia bayangkan. Panji Giri merasakan ilmu kanuragan Lembah Manah berada pada tingkat Andhap tahap awal, tentu mudah saja untuk mengalahkan pemuda di depannya itu.
__ADS_1
Namun, anggapan Panji Giri salah besar, Lembah Manah sengaja menekan aktivasi tingkat ilmu kanuragannya agar tidak terlalu mencolok.
Mudah saja Lembah Manah menghindari tebasan Panji Giri.
Pemuda itu menggeser tubuhnya ke belakang, Lembah Manah mulai membuka Gerbang Kehidupan, terlihat dari tubuhnya yang diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam dan melesat ke arah Panji Giri.
Satu pukulan mendarat pada perut Panji Giri, tetapi pemuda pembawa tombak itu langsung bisa menguasai tubuhnya dan kembali menyerang Lembah Manah.
“Tombak Angin Timur!”
Satu cahaya putih terang melesat cepat ke arah Lembah Manah dari jarak sepuluh langkah. Namun, mudah saja pemuda itu menghindari serangan Panji Giri dengan gerakan salto ke belakang. Lagi-lagi Panji Giri melesat ke arah Lembah Manah.
“Hentikan!”
Tiba-tiba seorang pria menarik lengan kanan Panji Giri, lalu melemparkan pemuda itu beberapa langkah ke belakang dan hampir jatuh tersungkur.
“Cukup Panji Giri!” seru pria itu yang ternyata adalah Ki Jaladara. “Kau, aku hukum keluar dari Perguruan Tombak Putih!”
“Tidak ada kata tapi-tapian, kau sudah terlalu sering membuat onar!” ucap Ki Jaladara memotong perkataan Panji Giri. “Perbaiki sikapmu, baru kembalilah ke tempat ini!”
Panji Giri meraih tombaknya yang terlempar tak jauh darinya. Pemuda itu berjalan melewati samping kiri Lembah Manah dan berkata lirih, “aku akan membalas perbuatanmu!”
Panji Giri melompat ke atap pondokan Lembah Manah dan segera menghilang dari tempat itu.
“Terima kasih ketua!” seru Lembah Manah membungkukkan badannya.
Ki Jaladara mengikuti Lembah Manah ke dalam pondokannya. Mereka berdua saling bercengkerama mengenai Panji Giri. Sebenarnya, Panji Giri adalah pemuda yang pandai dan cepat memahami apa yang diajarkan oleh Jaladara.
Namun, entah apa yang membuat pemuda itu berubah sikap sejak kegagalan misi ke dalam Alas Mentaok. Yang pertama mungkin kehilangan Puspa Ayu, pemuda itu sangat terpukul dan merasa bersalah atas tertangkapnya Puspa Ayu oleh Durgabahu.
Bukannya menolong, tetapi pemuda itu malah kabur bersama seorang temannya. Hingga Panji Giri berambisi untuk lebih kuat lagi, dengan melakukan latih tanding bersama para murid perguruan.
__ADS_1
Dan yang kedua, kali ini Puspa Ayu telah kembali, tetapi bersama seorang pemuda yang telah menyelamatkan gadis itu. Hal itulah yang mungkin membuat Panji Giri semakin marah dan ingin menyingkirkan Lembah Manah.
Hingga malam semakin larut, Jaladara memohon diri untuk pamit kembali ke pondokannya, sesaat setelah meminta Lembah Manah untuk tetap tinggal beberapa hari lagi di Perguruan Tombak Putih.
***
Keesokan harinya, Lembah Manah berjalan-jalan di sekitar pelataran halaman. Terlihat beberapa murid tengah latih tanding dengan formasi duduk melingkar, mengelilingi dua murid yang sedang bertanding.
“Hei Lembah!” Tiba-tiba Puspa Ayu menepuk pundak kiri Lembah Manah dari belakang dan langsung berjalan di sisi pemuda itu. “Bolehkah aku menemanimu?”
Tanpa menunggu jawaban dari Lembah Manah, Puspa Ayu tampaknya juga akan tetap menemani pemuda itu berjalan-jalan.
“Puspa Ayu!” sahut Lembah Manah sedikit menggeser tubuhnya, karena masih teringat kejadian semalam yang membuat pemuda itu kaget. “Kenapa tak ikut latih tanding?”
“Aku bosan!” seru Puspa Ayu meraih lengan kiri Lembah Manah. “Mendingan jalan-jalan sama kamu!”
Mereka berdua berjalan ke bagian belakang perguruan, tepatnya pada sebuah taman dengan aneka bunga yang tengah bermekaran.
Hingga sampai pada ujung taman, terdapat sebuah bangunan yang digunakan untuk turnamen, atau acara-acara penting lainnya. Mereka dihadang oleh dua orang pemuda yang salah satunya merupakan tetua perguruan.
“Apakah saudara ini yang bernama Lembah Manah?” seru salah satu pemuda sembari tersenyum. “Aku mendengar, kau menyelamatkan nona muda Puspa Ayu dari makhluk aneh. Bolehkah aku menguji ilmu kanuraganmu!”
“Lembah Manah memberi hormat pada tetua!” sahut Lembah Manah menyilangkan tangan kanan di depan dada sembari menundukkan wajahnya. “Apa tidak menarik perhatian murid yang lain, jika latih tanding di halaman depan?”
“Aku punya tempat khusus untuk kita berlatih saudara Lembah!” ucap pemuda itu dan menunjukkan dimana tempat mereka untuk bertanding. “Mari silakan!”
Dua pemuda berjalan di depan, diikuti Lembah Manah dan Puspa Ayu mengekor di belakangnya. Tak lama berselang, mereka telah memasuki sebuah bangunan yang memang dibuat untuk latihan para murid perguruan.
“Mohon bimbingan dari tetua!” seru Lembah Manah membungkukkan badannya.
Pemuda di depannya langsung melesat menebaskan tombaknya, untuk memulai serangan jarak dekat. Mudah saja Lembah Manah menghindari serangan dengan bergeser ke samping kiri dan salto ke belakang.
__ADS_1
Cukup lama mereka saling beradu kekuatan jarak dekat, saling bertukar puluhan jurus, pukulan dan tendangan. Meski Lembah Manah hanya dengan tangan kosong, tetapi pemuda itu dapat menghindari setiap serangan lawannya.