
Pernah pada suatu ketika, Kartala sangat ingin membeli arak, karena kehabisan uang, pria tua itu meminjam kepada Empu Tulak. Hingga utang yang menumpuk, Kartala membayarnya dengan menjadi pelayan dalam membantu pembuatan senjata Empu Tulak.
Namun, cerita itu tak sampai menyebar ke dunia persilatan. Jika sampai semua pendekar tahu, tentunya Kartala sangat malu karena kelakuannya. Untung saja, Empu Tulak menutup rapat-rapat salah satu rahasia Kartala sampai sekarang.
“Ada perlu apa kalian datang ke tempatku?” Empu Tulak memandangi para pendekar yang duduk di depannya.
“Jadi begini—!”
Kartala menceritakan maksud kedatangannya menemui kawan lamanya itu. Lokadenta yang sudah kelewat batas harus dihentikan. Dengan memohon izin terlebih dahulu kepada Empu Tulak, agar tidak menyinggung pria tua yang telah merawat muridnya itu.
“Aku sudah meminta bantuan pada anak muda itu!” Empu Tulak menunjuk Lembah Manah yang tengah mengambil air pada sumur samping pondokannya. “Aku yakin anak itu bisa menghentikan Lokadenta!”
“Memangnya siapa pemuda itu, Empu?” Darma Jaya yang penasaran dengan Lembah Manah menyela pembicaraan kedua orang tua itu.
“Dia adalah Lembah Manah!” sahut Empu Tulak mengelus jenggotnya. “Dia pengembara dari timur jauh dan hendak menuju Kadipaten Kotaraja!”
Empu Tulak menceritakan secara garis besar tentang Lembah Manah kepada para pendekar yang ada di depannya. Menurutnya, pemuda itu tidak jauh berbeda dengan dirinya sewaktu masih muda, suka mengembara dan membasmi kejahatan.
“Silakan tuan!” Lembah Manah menyodorkan beberapa ubi rebus dan teh hangat pada para tamu Empu Tulak, lalu pemuda itu hendak ke belakang untuk membereskan dapur.
Namun, Kartala mempersilakan Lembah Manah untuk ikut duduk bergabung dengan mereka. Kartala mengamati tubuh Lembah Manah, pria tua itu dapat merasakan bahwa pemuda di depannya hanya memiliki ilmu kanuragan tingkat Andhap.
“Apa!” Kartala mengerutkan keningnya. “Bagaimana mungkin pemuda rendahan ini ingin menghentikan Lokadenta!”
“Kau mungkin akan terkejut setelah melihat kemampuannya!” sahut Empu Tulak membela Lembah Manah, karena pria tua itu telah melihat sendiri kemampuan Lembah Manah ketika menyelamatkannya. “Jika kau ragu, kau bisa mengujinya!”
“Biarkan aku mencoba ilmu kanuragan anak muda ini, sesepuh!” Darma Jaya menyela pembicaraan dan beranjak dari tempat duduknya menuju pelataran halaman pondokan Empu Tulak yang diikuti Lembah Manah.
“Mohon bimbingan pendekar!” Lembah Manah menyilangkan tangan kanan di depan dada dan membungkukkan badannya.
__ADS_1
“Aku Darma Jaya!” seru Darma Jaya memperkenalkan dirinya. “Mohon maaf jika terlalu kasar!”
Darma Jaya memasang kuda-kuda, begitu juga Lembah Manah. Dengan satu gerakan, Darma Jaya melesat ke arah Lembah Manah menebaskan pedangnya. Kali ini hanya teknik berpedang, tanpa tenaga dalam, sebagai gertakan kepada Lembah Manah.
Namun, tanpa diduga oleh Darma Jaya, Lembah Manah dengan mudah menghindari setiap serangan Darma Jaya. Meski Darma Jaya telah mengerahkan semua teknik berpedangnya, tetapi tak bisa melukai Lembah Manah, bahkan tak mampu menyentuh sehelai rambutnya.
Cukup lama mereka berdua saling bertukar jurus, walau hanya tangan kosong, tetapi Lembah Manah mampu menahan setiap jurus berpedang Darma Jaya. Kini Darma Jaya memperlebar jarak dengan Lembah Manah.
“Pedang Sabayu!”
Satu cahaya putih melesat horizontal ke arah Lembah Manah. Dengan membuka Gerbang Kegelapan, kedua tangan Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam dan menangkis serangan Darma Jaya yang mengandung tenaga dalam.
Satu serangan itu berbelok arah dan mendarat tepat mengenai pohon di belakang Lembah Manah dan hancur seketika.
“Apa!” teriak para pendekar yang menyaksikan uji tanding keduanya.
Menyadari serangan pertama gagal, Darma Jaya mengerahkan lebih banyak tenaga dalam pada pedangnya. Lembah Manah tak mau kalah, tubuh pemuda itu tiba-tiba diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam, pertanda telah menggunakan Gerbang Kedua—Gerbang Kehidupan.
“Pedang Sabayu!”
Dengan gerakan zig-zag, pemuda itu menangkis serangan Darma Jaya dengan tangan kanan, tangan kiri, lalu dengan tangan kanannya lagi. Yang membuat serangan Darma Jaya berbelok arah mengenai pohon dan pohon itu hancur seketika.
Hingga pada satu kesempatan, Lembah Manah telah berada di belakang Darma Jaya dengan telapak tangan menempel punggung pemuda berpedang itu.
“Apa!” Kembali semua pendekar dibuat terkejut oleh kecepatan Lembah Manah.
“Aku tak menyangka seranganku dapat dipatahkan dengan mudah!” Darma Jaya memuji Lembah Manah. “Aku mengaku kalah, pende—!”
“Lembah Manah, panggil saja Lembah Manah!” Lembah Manah menyela perkataan Darma Jaya. “Kaulah pemenangnya saudara Darma Jaya. Kau memiliki apa yang tidak aku punya!”
__ADS_1
Darma Jaya berbalik badan membelalakkan matanya dan berkata, “apa itu, saudara Lembah?”
“Kau punya teknik pedang yang sangat mumpuni, sedangkan aku hanya petarung tangan kosong!” timpal Lembah Manah merendah. “Jika kau memiliki tenaga dalam yang lebih besar lagi, aku tak mungkin bisa menahan Jurus Pedang Sabayu milikmu!”
“Mengandalkan kecepatan untuk bertarung!” Kartala menyela pembicaraan mereka berdua. “Aku baru kali ini melihatnya, hahaha! Kau memang jeli Tulak!”
***
Keesokan harinya, para pendekar dari aliran putih yang dipimpin oleh Kartala berkumpul di halaman rumah Empu Tulak. Penyerangan segera dilakukan mengingat Lokadenta telah mengambil alih pemerintahan kadipaten.
Tidak terlalu banyak para pendekar yang tersisa, karena semua telah direkrut secara paksa oleh Lokadenta. Jika para pendekar itu mendengar rencana penyerangan ini, kemungkinan para pendekar aliran putih itu dengan senang hati bergabung dengan Kartala.
Penyerangan hanya dipusatkan pada Joglo Kadipaten, untuk keempat wilayah yang lain nantinya juga akan menyerah jika pemerintah pusat telah dikalahkan. Namun, semua itu tidak mudah mengingat Lokadenta merekrut banyak pendekar aliran hitam dan juga cambuk pusaka masih ditangannya.
“Kami meminta restu dari empu!” ucap mereka bersamaan.
“Aku berharap kalian bisa menghentikan anak itu!” sahut Empu Tulak.
Mereka berangkat menuju kadipaten secara beberapa tahap, agar tidak terlalu mencolok. Beberapa pendekar dibagi dalam kelompok kecil yang berisikan lima sampai sepuluh orang.
Kali ini Lembah Manah mendampingi Kartala pada barisan paling depan bersama beberapa pendekar aliran putih yang tersisa. Sementara Darma Jaya dan bawahannya, serta pendekar lainnya, baru berangkat selang beberapa saat.
Memasuki pintu gerbang ibukota kadipaten, rombongan Kartala dihadang oleh beberapa penjaga. Dalam waktu beberapa detik saja, Lembah Manah telah berhasil melumpuhkan tujuh penjaga gerbang, dengan berbagai cedera patah tulang.
“Apa!” seru para pendekar di belakang Kartala.
Mereka baru saja melihat gaya bertarung yang berbeda dengan kebanyakan pendekar. Memiliki kecepatan yang luar biasa, pemuda itu bahkan tak sampai membunuh lawannya. Hanya melumpuhkan dengan cara membuat lawannya cedera patah tulang.
“Kenapa kita tidak bunuh saja biadab ini!” ucap salah satu pendekar mendekati penjaga gerbang yang patah pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Jangan paman, meski mereka bertindak ceroboh, itu semata-mata hanya perintah dari Lokadenta!” sahut Lembah Manah.
“Kita tidak pernah tahu, jika mereka juga punya keluarga yang harus mereka nafkahi, punya orang-orang yang mereka sayangi!” lanjut pemuda itu. “Mungkin mereka melakukannya karena terpaksa atau takut, walau sebenarnya mereka bisa saja orang yang lebih baik dari kita!”