
Hadyan melemparkan putri kepala desa tepat di hadapan Kagendra yang berdiri di bawah sebuah pohon besar. Tampaknya Hadyan ingin segera mengakhiri dengan pertarungan dan mengambil Kitab Bunga milik Perguruan Anggrek Hitam.
Dengan gerakan cepat, Hadyan melesat ke arah Wanapati, Lembah Manah dan Nata yang berdiri berdampingan dan mendaratkan beberapa pukulan.
Mereka bertiga jatuh terkapar dengan mulut mengeluarkan darah. Wanapati bangkit dan menebaskan kapaknya, yang diikuti cahaya kuning melesat ke arah Hadyan. Dengan kibasan tangan kanannya, Hadyan menangkis serangan Wanapati dan menghancurkan serangan itu.
“Apa! Kuat sekali orang ini!” lirih Wanapati membelalakkan matanya.
Wanapati melempar kapaknya, lalu tangan kanannya seakan mengisyaratkan untuk mengendalikan kapak tersebut. Namun, dengan mudah Hadyan menghindari setiap serangan kapak Wanapati.
Dalam satu kesempatan, Hadyan melepaskan satu pukulan mengenai gagang kapak dan melesat ke arah pemiliknya. Kapak milik Wanapati meluncur dua kali lebih cepat dari serangannya, pemuda itu hampir tak bisa menghindari kapaknya sendiri.
Namun, sekelebat cahaya biru melesat cepat menghantam kapak milik Wanapati yang membuatnya tertancap pada pilar teras rumah kepala desa yang terbuat dari kayu.
“Lembah!” seru Wanapati.
Dengan gerakan cepat yang hanya tampak sekelebat cahaya biru, Lembah Manah menangkis lemparan kapak Wanapati sesaat sebelum kapak itu mengenai pemiliknya sendiri.
“Biarkan aku menghadapi orang ini, Wanapati!” sahut Lembah Manah berdiri di depan Wanapati.
Lembah Manah melesat ke arah Hadyan dengan kedua tangan dialiri tenaga dalam berwarna biru hendak meraih wajah lawannya. Namun, dengan mudah Hadyan menghindari setiap serangan Lembah Manah.
Hingga hari menjelang fajar, mereka masih bertarung, saling bertukar puluhan jurus dan beberapa kali beradu pukulan ataupun tendangan. Kadang Lembah Manah mendominasi serangan, kadang juga Hadyan memojokkan Lembah Manah.
“Gerbang Kedua! Terbukalah!”
Tubuh Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam, yang membuat serangannya lebih cepat dari sebelumnya. Lagi-lagi Hadyan mampu mengimbangi kecepatan Lembah Manah.
Dengan wajah yang sangat merendahkan, sesekali Hadyan menggaruk kepalanya sendiri.
Sial! Kuat sekali orang ini.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah berhasil mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat mengenai dagu Hadyan. Pemuda berambut putih itu terlempar beberapa langkah ke belakang dan berhenti setelah tubuhnya menghantam pohon besar tak jauh dari Kagendra.
Hadyan tak bergerak sedikit pun, dari mulutnya mengalir darah segar dan napasnya terhenti. Sepertinya Hadyan tewas.
“Orang ini tak akan mati dengan mudah!” ucap Kagendra dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
“Rawa Rontek!” teriak Hadyan.
“Apa!” seru Lembah Manah terkejut dan mundur beberapa langkah.
Tak hanya Lembah Manah, semua yang ada di depan kediaman kepala desa tertegun dengan jurus milik Hadyan. Rawa Rontek membuat penggunanya tidak bisa mati, meski telah dibunuh berkali-kali.
Hadyan berdiri dengan senyum di wajahnya, seakan meledek Lembah Manah yang tampak kesulitan menghadapi dirinya. Kini, terlintas dalam pikiran Lembah Manah untuk menggunakan Bola Alam Semesta.
Tak lama berselang, sebuah energi bola bening sebesar buah jeruk telah berada dalam cengkeraman tangan kanan Lembah Manah. Dan dengan menambahkan energi alam pada kedua kakinya, pemuda itu melesat ke arah Hadyan yang masih belum menyadari kedatangan Lembah Manah.
Satu serangan berhasil Lembah Manah daratkan pada perut Hadyan yang membuat pemuda berambut putih itu kembali terkapar dengan luka serius yang mungkin tak akan selamat jika diterima oleh pendekar tingkat Inggil sekalipun.
“Rawa Rontek!”
Kembali semua dibuat terkejut dengan jurus aneh milik Hadyan.
“Percuma saja! Kalian tidak akan mungkin bisa membunuhku! Aku kekal abadi. Hahaha!” teriak Hadyan membusungkan dadanya.
“Kampret! Selain kuat, orang ini bisa hidup kembali!” umpat Lembah Manah.
Pagi menjelang, mereka belum juga menyelesaikan pertarungan. Tenaga dalam Lembah Manah masih terjaga, begitu juga dengan Hadyan, pemuda berambut putih itu masih mengimbangi kecepatan Lembah Manah.
“Percuma saja kau bertarung denganku anak muda!” seru Hadyan menyepelekan Lembah Manah. “Lebih baik serahkan saja Kitab Bunga kepada kami!”
“Hoi! Bocah gendeng!”
Terdengar suara dalam relung kepala Lembah Manah yang tak lain adalah Ki Gendon. Lembah Manah duduk bersila dan memejamkan matanya untuk berinteraksi dengan sang guru.
“Hoi! Kenapa kau malah duduk! Apa kau mulai panik melawanku!” ledek Hadyan.
Lembah Manah tak memedulikan ocehan lawannya. Pemuda itu tetap berkonsentrasi agar komunikasinya dengan Ki Gendon tidak buyar dan terputus.
“Aku tahu kau kesulitan menghadapi Ajian Rawa Rontek!” ucap Ki Gendon.
“Benar guru! Bagaimana Lembah mengalahkannya!” sahut Lembah Manah.
“Bunuh dia! Sebelum dia bangkit, gantung jasadnya dan jangan sampai menyentuh tanah!” seru Ki Gendon yang langsung menghilang dari relung kepala Lembah Manah.
__ADS_1
“Apa! Tapi guru, Lembah tidak mungkin membu—!”
Lembah Manah tertegun sejenak dan bangkit sesaat setelah membuka matanya. Semula Lembah Manah tidak tega jika membunuh lawannya, tetapi ini dalam keadaan genting dan terpaksa.
Pemuda itu mempunyai rencana dan mulai menyampaikan maksudnya kepada Wanapati yang masih terdiam memegangi perutnya.
“Wanapati! Kemarilah!” pinta Lembah Manah.
Pemuda itu berbisik kepada Wanapati dan tak dimengerti oleh semua yang ada di tempat itu.
“Hoi! Apa kalian merahasiakan sesuatu! Apa aku boleh tahu itu!” seru Hadyan melihat Lembah Manah berbisik kepada Wanapati.
Lalu Wanapati mengangguk dan berpaling dari hadapan Lembah Manah. Pemuda itu berlari ke dalam rumah kepala desa untuk mencari seutas tali yang sekiranya kuat untuk menahan beban seberat Hadyan. Ya, mereka berdua berencana menggantung tubuh Hadyan seperti saran dari Ki Gendon.
“Apa yang mereka rencanakan!” lirih Nata mengerutkan keningnya.
“Gerbang Kedua! Terbukalah!”
Kembali tubuh Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Pemuda itu melesat ke arah Hadyan dan memancing pemuda berambut putih itu untuk mendekat ke arah pohon besar tak jauh dari kediaman kepala desa.
Hadyan masih bisa mengimbangi kecepatan Lembah Manah. Pemuda berambut putih itu benar-benar menjadi lawan yang tangguh bagi Lembah Manah, terlepas dari Jurus Rawa Rontek miliknya.
Jika saja Hadyan tak memiliki ajian itu, mungkin sudah tewas sejak awal terkena satu pukulan Lembah Manah.
Cukup lama mereka berdua saling bertukar jurus. Lembah Manah yang staminanya semakin terkuras, mencoba mengulur waktu dan menjaga jarak dengan Hadyan, untuk meminum ramuan penambah tenaga.
“Hoi! Apa yang kau minum. Bolehkah aku memintanya!” seru Hadyan.
Kini, Hadyan beralih memegang kendali. Pemuda berambut putih itu mencoba menyerang Lembah Manah dengan pukulan yang telah dialiri aura tenaga dalam berwarna hitam pada kedua tangannya. Gerakannya sangat cepat, hingga Lembah Manah sedikit kewalahan menghindari pukulan Hadyan.
Tak jarang Lembah Manah hampir terkena pukulan Hadyan, meski hanya embusan anginnya saja karena pergerakan Hadyan yang sangat cepat.
Ramuan penambah tenaga mulai bereaksi. Lembah Manah menangkis setiap serangan Hadyan dengan kedua tangan yang diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah melihat celah pertahanan yang terbuka pada bagian atas Hadyan.
Dengan gerakan cepat, Lembah Manah mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada dagu pemuda berambut putih itu.
__ADS_1