
Lalu datanglah seekor naga menghampiri Lembah Manah. Matanya menyala merah, ada cakar di kakinya, dua di depan dan dua di belakang.
Panjang naga itu sekitar dua puluh meter, dengan ekor yang di penuhi bulu-bulu halus. Di antara kedua matanya, ada sebuah batu sebesar kelereng yang berkilau merah kekuning-kuningan.
“Lembah, jika kau mengalahkan naga itu dan menyerap Batu Merah Delima yang ada di antara kedua matanya, maka kekuatanmu akan bertambah diikuti dengan terbukanya portal lorong alam lelembut!” ucap Ki Gendon menjelaskan.
“Benarkah guru, emm, aku akan mencobanya, hehehe,” ujar Lembah Manah dengan senyum tipis di bibirnya.
Naga itu menyerang Lembah Manah, melayang mendekat dengan mengibaskan ekornya. Lembah Manah yang sudah siap sejak awal mampu menghindari serangan naga. Awalnya Lembah Manah hanya menghindari serangan naga, tetapi lama kelamaan serangan naga semakin membuatnya kerepotan.
Hampir saja Lembah Manah terkena kibasan ekornya, jika tidak melompat ke dinding jurang untuk menghindar. Satu jengkal ekor naga melewati depan wajahnya, dan membuat pemuda itu semakin bersemangat bertarung.
Sudah lebih dari lima belas menit mereka berdua saling bertukar jurus kanuragan satu sama lain. Naga lebih dominan menyerang, ketimbang Lembah Manah yang sibuk menghindar melompat ke segala arah.
“Coba kau arahkan pukulan di bagian dada kirinya!” perintah Ki Gendon yang menyaksikan pertarungan dua makhluk berbeda itu.
“Tapi guru, emm, aahhkk!”
Lembah Manah terkena kibasan ekor naga, pemuda itu lengah saat mendengar ucapan Ki Gendon, hingga tubuhnya terhempas mengenai batu dinding jurang.
“Hahaha, kau terlalu meremehkan naga itu hingga tenagamu terkuras. Ulur waktumu dan minumlah ramuan penambah tenaga!” perintah Ki Gendon yang langsung diiyakan oleh Lembah Manah. Beberapa saat berikutnya tenaganya kembali pulih.
“Sekarang buka aktivasi dua titik pusat tenaga dalammu dan serang di bagian dada kirinya!” ucap Ki Gendon memberi arahan kepada Lembah Manah.
“Aduh guru, ini terlalu sulit, naga ini terlalu besar!” kilah Lembah Manah sembari menghindari setiap serangan naga dan mencoba untuk mendekati area dada naga yang menjadi titik lemahnya.
“Bocah gendeng! Apa kamu mau mati kehabisan tenaga!” bentak Ki Gendon.
Lagi-lagi Lembah Manah terkena semprot dari Ki Gendon, bersamaan dengan terbukanya aktivasi dua titik pusat tenaga dalamnya.
BAM!
__ADS_1
Naga itu terkapar, terkena satu pukulan telak di bagian dada kirinya. Tangan kanan Lembah Manah mengeluarkan cahaya berwarna biru berkilau.
Pemuda itu sedikit tersenyum dengan memandangi tangannya sendiri, lalu mengarahkan tatapan matanya pada sang naga dan mendekati naga itu.
“Ampun pendekar, aku mengaku kalah!” ucap naga yang membuat Lembah Manah terkejut untuk beberapa saat.
Baru kali ini dia melihat makhluk seperti itu dan juga bisa berbicara bahasa manusia.
“Apa aku tak salah dengar Guru?” tanya Lembah Manah sembari menoleh ke arah Ki Gendon.
“Sepertinya naga itu berbicara padamu Lembah!” jawab Ki Gendon.
“Aku adalah Naga Maruta, dulu aku menjadi tunggangan dari Resi Kamananta!” ucap naga itu. “Namun saat beliau bertarung dengan Iblis Yaksha, beliau kalah telak dan melepaskanku ke jurang ini. Sejak saat itu aku tak mau lagi berhubungan dengan dunia luar!”
“Namun sepertinya aku berubah pikiran. Pendekar, aku melihat keunikan pada titik pusat tenaga dalammu karena berbeda dengan beberapa pendekar lain yang meminta kekuatan padaku. Kau akan menjadi pendekar yang hebat!” lanjut sang naga.
“Jadi, sebelum aku terjatuh ke jurang ini, sudah banyak pendekar yang sengaja mencarimu Maruta?” tanya Lembah Manah kepada Naga Maruta.
“Ya begitulah, mereka yang mengaku pendekar, tetapi menyalahgunakan kekuatan mereka untuk hal yang tidak baik. Aku tak sudi menyerahkan Batu Merah Delima ini ke tangan yang salah!” geram Naga Maruta.
“Sekarang ambillah Batu Merah Delima yang ada di antara kedua mataku ini, pendekar!” perintah Naga Maruta.
“Anu, tapi bagaimana caranya?” sahut Lembah Manah kebingungan.
“Seraplah dengan tenaga dalammu, nantinya batu ini akan terisap dan menjadi satu dengan tubuhmu. Apa kau sudah tahu kelebihan dari Batu Merah Delima?” tanya Naga Maruta kepada Lembah Manah.
“Tidak, emm, aku tidak tahu Maruta!” jawab Lembah Manah menggelengkan kepalanya.
“Hahaha, dasar anak yang polos!” umpat Naga Maruta.
“Siapa namamu pendekar?” tanya sang naga kepada Lembah Manah.
__ADS_1
“Emm, namaku Lembah, Lembah Manah!” sahut Lembah Manah tegas.
“Baiklah Lembah Manah, jika kau menyerap batu ini, maka kau bisa membuka tiga gerbang kehidupan!” jelas Naga Maruta.
“Apa! Tiga Gerbang Kehidupan!” Lembah Manah membelalakkan matanya.
“Ya, Tiga Gerbang Kehidupan. Dan seiring dengan datangnya kekuatan baru, maka akan tumbuh pula tanggung jawab yang besar untukmu, Lembah. Semoga kita bisa menjadi rekan!” tutup Naga Maruta.
Tiga Gerbang Kehidupan adalah kondisi dimana tubuh seorang pendekar mampu memaksimalkan fungsi beberapa anggota tubuhnya.
Gerbang yang pertama bernama Gerbang Kegelapan, yang memaksimalkan fungsi kecepatan kedua tangan. Yang kedua bernama Gerbang Kehidupan, yang memaksimalkan fungsi kedua kaki.
Dan yang ketiga bernama Gerbang Kematian, yang memaksimalkan fungsi kerja jantung dengan detak dua kali lebih cepat, tetapi efeknya bisa membuat pendekar itu lumpuh bahkan kematian.
“Kau harus tahu, Lembah. Dalam dunia kependekaran, ada tiga faktor yang menentukan seorang pendekar menjadi pemenang dalam sebuah pertarungan!” seru Naga Maruta kepada Lembah Manah yang masih tertegun.
“Yang pertama adalah stamina. Jika seorang pendekar memiliki stamina yang kuat, walaupun berduel dalam waktu yang lama dalam satu pertarungan. Bukan tidak mungkin pendekar itu akan menjadi pemenang!” lanjut Naga Maruta yang dibalas dengan anggukan kepala Lembah Manah.
“Yang kedua adalah teknik yang dimiliki. Jika seorang pendekar mempunyai beberapa jurus yang dikuasai, kemungkinan menang dalam pertarungan akan semakin besar!” sambung Naga Maruta.
“Dan yang ketiga adalah strategi. Jika seorang pendekar dengan jeli memperhatikan jurus lawan atau melihat celah kelemahan lawan, bahkan bisa merencanakan jurus apa yang akan dipakai selanjutnya dalam berduel, tentunya persentase kemenangan semakin besar!”
Lembah Manah terdiam memahami setiap apa yang dikatakan Naga Maruta. Stamina, teknik dan strategi bertarung menjadi modal baginya untuk mengarungi dunia persilatan yang sangat keras.
“Jadi jangan berkecil hati jika kau mendapat lawan yang memiliki tingkat ilmu kanuragan di atasmu!” tutup Naga Maruta.
Sementara itu, dari kejauhan Ki Gendon hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka berdua sembari mengelus-elus jenggotnya.
Lembah Manah mengikuti perintah sang naga. Pemuda itu mengalirkan tenaga dalam pada kedua tangannya, lalu mengarahkan ke Batu Merah Delima di antara kedua mata Naga Maruta.
Perlahan batu itu terangkat dari tempatnya dan terisap melebur menjadi satu dengan cahaya biru milik Lembah Manah yang masuk melalui kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, tubuh Lembah Manah merasakan sakit yang luar biasa. Persendiannya seakan terlepas, tulang dan ototnya semakin mengeras, hingga pemuda itu jatuh terkapar.
Namun, rasa sakit itu hanya berlangsung selama dua puluh detik saja dan efeknya, level kekuatan tubuhnya semakin meningkat.